HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 115 Presentase


__ADS_3

"Sama - sama nona Hana." Sahut Dokter Rosalia sambil tersenyum tipis memandang wajah Hanaria yang terlihat lelah.


"Nona Hana, alangkah baiknya bila anda mengatakan perihal Firlita ini pada kedua orang tua kalian, supaya mereka juga tahu dan tidak merasa khawatir. Maaf, bukan saya mau turut campur dalam urusan keluarga nona." Ucap dokter Rosalia memberi saran.


"Sebenarnya...... Firlita itu bukan anak orang tua saya dok." Ucap Hanaria menatap wajah dokter cantik dihadapannya itu dengan wajah sedih.


"Apa maksud nona Hana?" Tanya Dokter Rosalia dengan wajah tidak mengerti.


"Firlita, dia anak yatim piatu.Awalnya saya mengenalnya, saat ia mencari kost - kostan murah. Waktu itu dia masih sangat belia, berusia 16 tahun, tidak selesai sekolah menengah atas karena terbentur biaya. Harus membiayai hidupnya sendiri."


"Karena kasihan, saya mengajaknya tinggal dikost yang saya sewa. Saya membebaskannya untuk tidak ikut membayar, tapi dia tidak mau. Tetap ikut membayar dengan gajinya yang kecil." Ucap Hanaria dengan senyum tipis sambil mengingat masa lalunya bersama Firlita.


"Saya menyukainya, kami menjadi sahabat, ya sudah seperti kakak beradik. Dia anak yang baik, penurut, lembut, tidak banyak gaya, hidup apa adanya." Imbuh Hanaria sambil tersenyum.


"Saat saya membeli rumah sederhana, saya mengajaknya ikut pindah bersama saya, tapi ia tidak mau. Dengan alasan, jarak tempuh antara rumah yang saya beli itu jauh dari tempat kerjanya."


"Hingga suatu hari, ia datang kerumah saya sambil menangis dan mengatakan dia sedang hamil. Sekalipun ia bukan adik kandung saya, bumi serasa runtuh saat mendengar musibah itu."


"Ditambah lagi, laki - laki itu tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Akibat kehamilannya, dia harus diusir ibu kost, lalu dipecat dari pekerjaannya, membuat saya harus menolong dan melindunginya, karena dia tidak punya siapa - siapa dokter." Ucap Hanaria lagi, dengan wajah berubah muram.


"Saya fikir, Firlita adalah adik kandung nona Hana, karena melihat nona begitu menyayangi dan membelanya. Tapi saat saya mendengar cerita nona, walau singkat, saya dapat mengerti mengapa anda sangat menyayangi dan bertindak untuk selalu melindungi nona Firlita." Ucap dokter Rosalia dengan senyumannya.


"Sepertinya malam sudah semakin larut nona Hana. Apakah anda tetap menginap disini untuk menemani adik anda, atau akan pulang?" Tanya dokter Rosalia sambil melirik arloji ditangannya.


"Saya akan menginap disini dokter." Sahut Hanaria.

__ADS_1


"Apakah perlu saya antar?" Tanya dokter Rosalia lagi menawarkan.


"Tidak perlu dok..... Saya bisa bertanya pada perawat yang bertugas diruang informasi saja. Dokter pulang saja. Terima kasih banyak karena sudah banyak membantu Firlita dok." Sahut Hanaria.


"Sama - sama nona Hana...... Saya duluan ya......" Pamit dokter Rosalia. Keduanya berpisah didepan pintu ruang kerja dokter Rosalia.


...***...


Moranno menatap layar proyektor dihadapannya, memperhatikan Edrine yang sedang mempresentasekan hasil design yang telah ia kerjakan selama 14 hari yang lalu. Ia memperlihatkan design 2D dan 3D Perumahan Elite yang dalam dua hari lagi akan ditenderkan dihotel Mega Surya.


"Perlihatkan rencana anggaran biayanya juga." Pinta Moranno setelah Edrine menyelesaikan presentase design gambarnya.


Kembali Edrine menampilkan apa yang diminta oleh Moranno. Ia mulai menampilkan bahan - bahan yang akan digunakan dalam membangun Perumahan Elite itu beserta harga pasar terkini secara detail, dalam waktu yang amat singkat. Hal itu membuat Moranno tidak percaya bila itu dilakukan oleh seorang anak magang.


"Luar biasa.......!" Puji Moranno puas, setelah Edrine menyelesaikan presentasenya dihadapan dirinya dan para pegawai Divisi Arsitecture lainnya.


"Dua hari lagi, kita akan mengikuti undangan tender di Hotel Mega Surya untuk Perumahan Elite dikota ini. Saya sangat setuju dengan presentase yang telah dilakukan oleh nona Edrine, itulah yang akan kita tampilkan disana nanti, tolong dipersiapkan segala sesuatunya tuan Doffy, anda yang bertanggung jawab dalam hal ini." Ucap Moranno memandang kearah tuan Doffy.


"Baik tuan....." Sahut tuan Doffy menyanggupi.


"Saya rasa pertemuan kita hari ini cukup. Untuk jadwal - jadwal tender lainnya silahkan dipersiapkan dengan baik dan sempurna, seperti yang telah dilakukan nona Edrine tadi."


"Yang lain boleh kembali berkerja. Untuk tuan Doffy dan nona Hanaria, saya minta untuk bertahan, ada yang perlu kita bicarakan."


"Sekretaris Morin, persiapkan rapat direksi setelah makan siang." Ucap Moranno menatap sekretaris pribadi putranya itu.

__ADS_1


" Baik tuan......" Sekretaris Morin berdiri dari duduknya, lalu membungkuk hormat, diikuti oleh semua pegawai yang ikut pertemuan rapat pagi itu. Setelahnya mereka masing - masing keluar dengan tertib dari ruang rapat itu.


"Nona Hana...... Saya memberi apresiasi pada anda yang bisa mengajari anak magang dalam waktu yang begitu singkat bisa sehebat itu." Ucap Moranno dengan nada memuji, setelah semua pegawai lainnya keluar dari ruangan itu.


"Nona Edrine memang anak magang yang pandai tuan, saya hanya mengajarinya sedikit, namun ia bisa menangkap semuanya tanpa ada yang terlewatkan." Sahut Hanaria merendah.


Moranno tersenyum mendengar ucapan Hanaria. Dalam waktu hampir empat tahun Hanaria berkerja menjadi pegawainya sebagai seorang arsitek, sudah membuatnya cukup mengenal dan tahu karakter dan prestasi yang diukir oleh pegawai yang bakal menjadi calon menantunya itu.


"Saat tender di Hotel Mega Surya dua hari lagi, saya harap nona Hana lah yang akan mempresentasekan semuanya itu, karena nona Hana yang sudah dikenal dari perusahaan kita, Agatsa Properti Group." Ucap Moranno menatap wajah Hanaria.


"Nona Edrine, dia masih seorang anak magang. Bahkan ditengah puluhan perusahaan yang diundang nanti, saya khawatir dirinya akan gugup. Ini mungkin pengalaman yang pertama kali buatnya nona Hana." Tambah Moranno.


"Sebelumnya saya mohon maaf jika tuan tidak berkenan. Bukan saya menolak. Ini kesempatan yang sangat baik menurut saya untuk nona Edrine menunjukan kemampuannya dihadapan orang banyak."


"Bila dilihat mentalnya, nona Edrine tidak diragukan. Beberapa hari lalu saya membuka link kampus dimana nona Edrine dan nona Stefhany belajar. Ternyata nona Edrine giat dalam kegiatan organisasi kampus selain belajar, sehingga ia menjadi salah satu orator andalan dikampusnya."


"Jadi, untuk ilmu arsitek, orasi..... jika dipadukan menjadi satu..... tuan bisa melihat dari hasil presentase yang sudah dilakukan nona Edrine yang telah kita lihat bersama hari ini." Jelas Hanaria panjang lebar.


"Apa kau yakin nona Hana??" Moranno memastikan.


"Sangat yakin tuan.... Mari kita lihat salah satu cuplikan orasi nona Edrine dari link kampusnya yang sempat saya tonton." Hanaria lalu mengetik dengan cekatan dengan jari jemarinya diatas keyboard laptopnya.


Setelah menemukan link yang ia cari, Hanaria langsung menampilkan salah satu orasi Edrine yang sempat ia lihat sebelumnya dilayar proyektor dengan durasi 5 menit.


Moranno, asisten Rudi yang duduk disamping tuannya, juga tuan Doffy memperhatikan dengan penuh minat, cuplikan orasi Edrine yang berapi - api dihadapan ribuan mahasiswa dialam terbuka.

__ADS_1


Moranno tertegun, ia seperti melihat Margareth adiknya dicuplikan video yang ditampilkan Hanaria dilayar proyektor. Mendadak ia merindukan adiknya itu. Ya, Edrine keponakannya itu mewarisi karakter ibunya yang pemberani dan suka berorganisasi.


__ADS_2