HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Menang Tender


__ADS_3

"Maaf ya Fir...... Kita terrlalu lama dibutik nyonya Mexan tadi. Kau pasti sangat lelah, seharusnya kak Hana mengantarkanmu pulang duluan, baru kebutik." Ucap Hanaria, setelah keduanya meninggalkan salon dan butik milik nyonya Mexan.


"Tidak apa - apa kak Hana...... Aku justru senang bisa ikut malam ini. Aku bisa melihat keluarga tuan muda Willy, ternyata mereka orang yang baik dan ramah walau kaya, hanya neneknya tuan muda saja terlihat agak judes dan perkataan yang keluar dari mulutnya sering pedes." Ungkap Firlita memberi penilaian.


"Aku...... merasa iri pada kak Hana.... bisa mendapatkan suami setampan tuan muda Willy, mertua yang lembut dan penuh kasih sayang, bahkan bibi dan neneknya juga bersikap baik pada kak Hana. Sedangkan aku..... tidak beruntung memiliki suami. Mahendra, dia memang tampan, tapi sangat kasar padaku, juga ibu mertuaku itu, dia tidak menganggapku seperti menantu. Aku hanya dijadikan alat mendapatkan kak Hana." Ucap Firlita. Pandangannya menerawang menatap lalu lintas dihadapannya dengan suara lesu.


"Apa maksudmu Firlita? Mengatakan kalau kau dijadikan alat oleh ibu mertuamu untuk mendapatkanku." Tanya Hanaria, ia menatap sekilas kewajah Firlita yang duduk disebelahnya, lalu kembali fokus pada jalan didepannya.


"Aku mendengar sendiri perbincangan antara Mahendra dan ibunya didepan pintu kamarku, setelah kakak pulang mengantarkanku dihari pertama aku pindah kerumah mereka." Sahut Firlita.


"Apa yang kau dengar waktu itu Firlita?" Tanya Hanaria.


"Mahendra tidak ingin aku tinggal disana, tapi ibunya tetap bersikeras. Karena menurut ibu mertuaku, bila aku disana, kak Hana akan mudah ia kendalikan." Ucap Firlita polos.


Hanaria terdiam, ia mencerna apa yang dikatakan Firlita.


"Kak Hana..... Sebentar lagi kakak akan menikah, aku tidak mungkin tinggal bersama kakak lagi bukan?" Ungkap Firlita dengan wajah sedihnya.


Hanaria menoleh kearah Firlita, dari hatinya ia merasa sedih melihat adik angkatnya itu.


"Setelah menikah kak Hana akan tinggal seminggu dirumah kak Hana, dan seminggu kemudian diapartemen tuan muda sesuai persyaratan yang kakak ajukan dipoint 5 dan 6."


"Apa maksud kakak dengan persyaratan dan point - point itu?" Tanya Firlita tidak mengerti.


"Oh.... maaf, itu permintaan kakak pada mereka, Lupakan saja." Ucap Hanaria yang bingung cara menjelaskannya pada Firlita.

__ADS_1


"Tapi dari tuan Moranno, tadi pagi memberikan persyaratan pula pada kak Hana, setelah menikah dari dusun, kakak harus tinggal 1 minggu dirumah besar mereka sampai dilangsungkan pesta pernikahan dikota ini. Selama dirumah besar mereka, kak Hana akan diajari tata kehidupan keluarga mereka. Dan itu sudah terjadwal, semuanya ada didalam tas ransel kak Hana ini." Ucap Hanaria.


"Ternyata tidak mudah ya kak, masuk kedalam keluarga mereka, kita harus menyesuaikan diri dengan aturan dan segala tata cara keluarga mereka." Ucap Firlita menatap Hanaria dari tempat duduknya.


"Iya Fir..... Itu sudah resiko dalam suatu pernikahan. Dan setiap keluarga memiliki tata cara dan kebiasaannya masing - masing. Kita yang masuk harus bisa menyesuaikan diri, dan berusaha membawa diri kita sebaik mungkin. Tidak bisa bersikap sesuka kita. Bila ingin aturan sendiri, kita harus tinggal dirumah yang berbeda, tapi juga tidak boleh semau - maunya kita. Karena kita sudah tidak sendiri. Kita sudah berdua, dua manusia yang menjadi satu dalam satu ikatan pernikahan. Harus saling menjaga, menghargai, menghormati, dan lainnya....." Ucap Hanaria dengan begitu lancarnya.


"Dari perkataan kak Hana, aku bisa melihat kak Hana sangat siap dalam pernikahan ini." Hanaria tertawa kecil mendengar perkataan Firlita.


"Apa kak Hana terlihat seperti itu?" Tanya Hanaria sambil menghentikan tawanya.


"Iya..... Apakah kak Hana telah jatuh cinta pada tuan muda Willy?" Hanaria kembali tertawa kecil mendengar pertanyaan Firlita.


"Untuk saat ini belum Fir. Entahlah, kapan itu bisa terjadi....." Sahut Hanaria ringan.


"Sungguh?? Apa semudah itu Firlita.....?? Hanya melihat wajahnya kau sudah tertarik??" Hanaria merasa sedikit aneh mendengar perkataan Firlita.


"Maksudku..... Wajah tuan muda yang tampan itu..... menjadi daya tarik tersendiri buat para wanita untuk menyukainya kak, bukan aku saja, yah mungkin saja teman - teman kakak dikantor juga banyak menyukai tuan muda....." Sahut Firlita kebingungan memberi penjelasan pada Hanaria.


Perkataan Firlita memang ada benarnya, batin Hanaria. Ia teringat akan teman - temannya yang begitu menyukai tuan mudanya itu, bahkan hampir semua wanita muda dikantor tempatnya berkerja berusaha mendapatkan perhatian pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.


Tapi dirinya tidak, bahkan hampir setiap mereka bertemu, ada saja hal yang menjadi alasan mereka berdebat dan diakhiri pertengkaran. Apa ada yang salah pada dirinya? Hanaria membatin.


...***...


Hanaria, Edrine, tuan Doffy, Moranno, dan asisten Rudi baru saja selesai menikmati makan siang di hotel Mega Surya. Kini saatnya mereka menunggu acara selanjutnya.

__ADS_1


Ketua panitia tender tampil ke podium, untuk membacakan pengumuman pemenang tender hari itu.


Hanaria yang sudah sering mengikuti undangan tender bersama para atasannya itu tetap merasa gugup setiap kali menanti hasil pengumuman.


Ia berusaha menyibukkan dirinya, untuk menghilangkan kegugupannya dengan membaca berbagai komik lucu yang sering ia persiapkan setiap mengikuti acara tender.


Tidak terasa, sudah ratusan buku komik yang menjadi koleksinya hingga ia memiliki perpustakaan mini dirumahnya untuk mengumpulkan buku - buku komiknya, selain dari buku arsitek, konstruksi, dan buku - buku penunjang lainnya.


"Pemenang tender proyek 'Perumahan Elite' dikota ini dimenangkan oleh...... Perusahaan AGATSA PROPERTI GROUP yang telah dipresentasikan oleh nona HANARIA......." Pengumuman yang terdengar menggema itu, mendapat sambutan hangat dan meriah dari seluruh hadirin yang diundang diacara itu, semua mata mengarah pada posisi dimana para undangan dari perusahaan Agatsa Properti Group duduk.


"Dan untuk pemenang yang sudah diumumkan, kami mengundang tuan MORANNO, sebagai Dirut dari perusahaan AGATSA PROPERTI GROUP untuk tampil keatas podium." Ucap ketua panitia tender dari atas podium.


Moranno bangkit dari duduknya, setiap langkah kakinya disorot oleh semua mata peserta yang hadir hingga diatas podium. Ya, perusahaan miliknya, sudah biasa memenangkan setiap tender yang diadakan.


"Kak Hana memang hebat......!" Ucap Edrine pada guru sekaligus dosen privatenya itu, sementara Moranno menyampaikan pidatonya didepan.


Hanaria hanya tersenyum tipis. "Bukan aku, tapi kau nona Edrine. Kau yang membuat rancangan dan perhitungannya, aku hanya mempresentasekannya saja." Sahut Hanaria dengan suara pelannya supaya tidak didengar oleh peserta dimeja lain.


"Rancangan dan perhitungan itu, kak Hana yang mengajariku, memberiku note - note khusus, sehingga aku tinggal menjiplaknya saja." Ujar Edrine lagi.


"Walau aku mengajarimu, tapi kau menangkapnya lebih dari yang kuajarkan......" Sahut Hanaria tidak mau mau kalah merendah.


Asisten Rudi dan tuan Doffy tersenyum mendengar dialog antara Hanaria dan Edrine, sementara Moranno masih belum selesai dengan pidatonya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2