
Hanaria menyandarkan punggungnya dikursi tunggu pagi itu. Rasa lelah masih sangat terasa, pasalnya dua hari belakangan ini, dirinya terlampau sibuk keluar masuk rumah sakit hingga kantor polisi. Mengurus pemakaman Firlita dan berlanjut memberi kesaksian atas pelaporan tindak pidana yang menyebabkan meninggalnya adik angkatnya itu.
"Nona, ini hasil test DNA yang Anda minta beberapa hari yang lalu lewat mendiang nona Firlita," dokter Domianus menyerahkan amplop berwarna putih yang baru ia ambil dari dalam lemari dibelakang meja kerjanya.
Hanaria menerima amplop yang disodorkan sang dokter. Sebelum membukanya, ia memejamkan matanya sesaat , menaikan doa dengan harapan hasil test DNA yang tertera didalamnya memang menunjukan hubungan anak dan ayah.
Perlahan tangan Hanaria mengambil kertas putih dari dalam amplopnya, membuka lebar dan mulai memperhatikan kata demi kata dengan hati yang berdebar.
Willy yang duduk pada kursi yang bersebelahan dengan Hanaria tidak turut melihat isi kertas putih itu. Dirinya lebih tertarik memperhatikan roman wajah isterinya yang berubah dari detik ke detik dalam memperhatikan tulisan pada kertas ditangannya itu.
"Apa hasilnya sesuai dengan apa yang kau harapkan?" tanya Willy penasaran, saat dilihatnya wajah Hanaria tersenyum senang.
"Heum. Iya, tentu saja," sahut Hanaria membalas tatapan suaminya sekilas, lalu segera beralih menatap dokter Domianus yang tengah duduk dibelakang mejanya.
"Terima kasih banyak dokter Domianus atas bantuan Anda, saya permisi dulu dan akan membawa ini ke kantor polisi pagi ini," ucap Hanaria seraya berdiri dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan sang dokter.
"Sama-sama Nona, semoga bermanfaat," sahut dokter sambil menerima uluran tangan Hanaria dan bergantian dengan Willy setelahnya.
Dokter Domianus menatap kepergian sepasang suami-isteri itu seraya mendesah pelan. Polemik yang sedang dihadapi Hanaria merupakan salah satu problema yang sering ia jumpai pada para pasien dan keluarganya.
Sebagai seorang dokter, ia berharap para pasien dan keluarganya mendapat jalan keluar yang terbaik. Dokter Domianus membenarkan kacamatanya, ia memperhatikan tabletnya, kembali memeriksa ulang jadwalnya untuk semua pasien yang sedang dalam penanganannya.
...***...
"Hana, apakah kau yakin mengurus semuanya sendiri disini tanpa diriku?" Willy menatap Hanaria yang tengah melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya. Ia berharap isterinya itu menahannya disana. Mereka baru saja tiba dihalaman parkir kantor polisi.
"Jangan khawatir, aku bisa Willy. Sudah dua hari kau meninggalkan pekerjaanmu. Nanti pekerjaanmu akan semakin menumpuk, apalagi sekarang kau belum mendapatkan sekretaris baru menggantikan sekretaris Morin," kata Hanaria mengingatkan.
__ADS_1
"Iya, aku tahu itu, tapi masih banyak para pegawai yang lain yang bisa aku andalkan disana, sedangkan kau disini seorang diri, aku tidak tega meninggalkanmu mengurus semuanya sendiri," kata Willy meyakinkan Hanaria supaya ia masih diijinkan membantu dan menemani isterinya itu.
"Aku tidak sendiri, disini ada kakak ipar yang kapan saja siap memberi pertolongan," sanggah Hanaria mulai bersiap keluar dari mobil.
"Jadi kau mulai mengandalkan pria lain selain suamimu ini?" Willy memanyunkan wajahnya hingga terlihat bukan dirinya yang selalu percaya diri.
"Tunggu, apakah kau sedang cemburu dengan kakakmu sendiri? tanya Hanaria dengan senyum diwajahnya, melihat raut cemberut Willy yang dibuat-buat.
"Kak Billy itu bukan pria lain, tapi dia kakakmu dan kakak iparku juga. Sudahlah, kau harus cepat berangkat ke kantor, ini sudah jam sembilan, kau bahkan sudah terlambat satu jam," ucap Hanaria pada suaminya yang masih menekukkan wajahnya karena tidak suka disuruh pergi oleh isterinya.
"Baiklah kalau begitu maumu Hana. Beri aku satu pelukan hangat untuk menguatkan hatiku sepanjang hari ini," pinta Willy.
Hanaria spontan memutar bola matanya, "bukankah kalimat yang kau ucapkan itu seharusnya aku yang mengatakannya?" kata Hanaria dengan suara gemesnya.
Willy terkekeh, isterinya memang benar, apa yang barusan ia katakan seharusnya itu dikatakan oleh isterinya yang nyata-nyatanya sedang menghadapi perkara yang berurusan dengan hukum.
"Baiklah, mendekatlah. Aku akan memberi pelukan hangat seperti yang kau minta," ucap Hanaria mengalah, karena dirinya sudah buru-buru akan bertemu pihak berwajib untuk menyelesaikan semua urusannya.
Hanaria melonggarkan sedikit pelukannya, saat merasakan tangan nakal Willy menelusup masuk kesela-sela kancing bajunya dan mendarat disalah satu milik kenyalnya.
"Kau ini nakal sekali Willy, sempat-sempatnya melakukan itu disaat kita berdua sama-sama sedang terburu-buru," protes Hanaria dengan raut kesal sambil mencubit tangan nakal suaminya.
Willy kembali terkekeh saat kelakuan usilnya ditegur isterinya. "Yah, mau bagaimana lagi Hana, karena setelah kurang lebih sembilan bulan kedepan, aku tidak bisa sebebas ini lagi," sahut Willy beralasan.
"Maksudmu?" tanya Hanaria sambil membenarkan kancing bajunya yang sempat terlepas akibat ulah suaminya.
"Aku akan berebut dengan bayi kita. Dan aku bisa menduga, kalau aku akan selalu kalah dan di nomor duakan saat itu tiba," ujarnya dengan wajah serius.
__ADS_1
Hanaria langsung tergelak, bagaimana mungkin suaminya itu bisa berpikir sampai jauh kesana, "Bagaiman kau bisa tahu kalau kejadiannya akan seperti itu jadinya?" tanya Hanaria masih tergelak.
"Aku pernah beberapa kali memergoki kumpulan para pegawai pria dikantor yang sudah berkeluarga membahas hal itu disela-sela makan siang," sahut Willy serius, sambil mengingat saat awal dirinya bergabung di Perusahaan milik keluarganya ketika ia baru saja pulang dari luar negeri menyelesaikan studinya.
"Apakah nantinya aku sudah jarang kau lirik bila bayi kita lahir?" lanjut Willy lagi dengan bersungguh-sungguh.
"Tergantung, kalau bayinya sama sepertimu, yang suka mencari perhatian ibunya, mungkin saja aku akan lebih sering menghabiskan waktuku dengan bayi kita itu," kata Hanaria ikut serius namun ia ingin tertawa melihat Willy yang terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Bayi kita pasti tidak menyusahkan kita," kata Willy yang akhirnya membuka mulutnya dengan penuh keyakinan, setelah sempat terdiam sambil mengulas senyum diwajahnya memikirkan khayalannya yang sudah jauh berada didepan sana saat bayi mereka itu lahir.
"Bagaimana kau bisa seyakin itu?" tanya Hanaria lagi.
"Tentu saja aku yakin, karena bayi kita yang akan lahir nanti adalah bayi perempuan, yang akan mewarisi sifat ibunya, tidak bandel, tidak suka usil, tenang, manis, dan penyayang," kata Willy dengan tatapan menerawang kemasa depan.
"Kalau yang lahir adalah bayi laki-laki bagaimana?" tanya Hanaria.
"Pasti perempuan, lihat saja nanti," sahut Willy lagi seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.
"Iya Willy aku mengerti, tapi bagaimana kalau yang lahir adalah bayi laki-laki?" tanya Hanaria dengan nada penuh penekanan, jujur saja bila dirinya sangat penasaran, ingin tahu tanggapan suaminya itu.
"Kalau bayi laki-laki ya?" tanya Willy mengulang ucapan Hanaria.
"Iya, kalau bayi kita laki-laki bagaimana?" Hanaria menatap wajah suaminya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. Ia yakin, pasti jawaban yang tidak terduga keluar dari mulut suaminya itu.
"Kalau bayi kita laki-laki-, ya kita antar saja kerumah Daddy, biar oma-nya saja yang merawat dan mendidiknya." ujar Willy yang baru saja mendapat ide itu dikepalanya.
Hanaria langsung membulatkan matanya mendengar jawaban suaminya yang memang tidak terduga itu.
__ADS_1
"Kata Mommy, saat aku bayi, Mommg memerlukan dua pengasuh untuk merawatku, berbeda dengan kak Billy. Aku takut bayi laki-laki kita seperti diriku dulu saat masih bayi, kita pasti akan kewalahan menanganinya" lanjut Willy merasa ngeri, tatkala mengingat cerita ibunya.
...***...