HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 74 Perkataan Seumpama Doa


__ADS_3

"Shasie....... Kau serius...... Menyukai mas Reymon hanya dalam pandangan pertama?? Kau 'kan belum tahu siapa, dan bagaimana dirinya......" Ucap Hanaria.


"Iya Hana, aku serius...... Mas Reymon itu....... dia laki - laki yang tampan, dan terlihat lembut, dan aku yakin, dia pasti adalah pria yang baik juga. Aku akan berusaha mengenali dirinya. Kau sebagai tetangganya masa tidak menyadarinya, ada pria yang setampan itu didusunmu. Atau jangan - jangan..... kalian sedang berhubungan sekarang, dan kau menyembunyikannya......??" Ucap Shasie sambil memperhatikan wajah Hanaria menyelidik.


"Tidak Shasie, kami tidak memiliki hubungan apa - apa........ aku sudah menganggap mas Reymon itu seperti kakakku sendiri, dia memang orang yang baik. Hanya itu......." Sahut Hanaria.


"Kau bersungguh - sungguh Hana mengatakan itu??" Tanya Shasie memastikan.


"Hmm........" Hanaria menganggukan kepalanya.


"Yes......!!! Kalau begitu, aku gak akan ragu - ragu lagi mengejarnya Hana." Ucap Shasie penuh semangat, dengan wajahnya yang langsung berbinar.


"Lalu bagaimana kompetisimu dengan Linda dalam mengejar CEO idola kalian itu, apa kau sudah menyerah mendapatkannya, bukankah kau dan Linda tidak pernah menyia - nyiakan kesempatan untuk merebut perhatiannya." Ledek Hanaria sambil tertawa kecil, mengingat betapa getol - getolnya kedua sahabatnya itu berusaha mengambil perhatian Willy.


"Tuan muda Willy...... CEO ganteng itu terlalu jauh untukku jangkau Hana. Aku fikir, perkataanmu dulu memang benar Hana, bahwa dirinya pasti akan memilih wanita - wanita sekelasnya, buktinya...... aku dan Linda udah berdandan habis - habisan setiap hari kekantor, tapi tidak sedikitpun ia melirik kami, apalagi menyapa...... Wuiiiiihhhh !! Jauh sekali.....!! Tapi bila Linda masih berminat, biarlah....... supaya dirinya tidak banyak saingan. Aku sudah mendapat sasaran baru." Sahut Shasie.


"Terus...... Kalau mas Reymon....... Dia tinggalnya didusun lho Shasie, disana sangat sulit signal, apa kau sanggup hidup tanpa internet seperti itu. Mas Reymon seorang guru Sekolah Dasar, dirinya tidak mungkin ikut denganmu ke kota, yang ada kau yang akan ikut kedusun dengannya." Jelas Hanaria.


"Kalau itu...... aku fikirkan nanti saja Hana, sekaramg bagaimana caranya aku harus bisa membuat mas Reymon tertarik dulu padaku. Hana, kau duluan saja, aku mau berdandan dulu sebentar." Ujar Shasie.


"Kau yakin mau sendiri disini tanpa kutemani Shasie.....?" Tanya Hanaria.


"Iya Hana, kalau ada dirimu, aku tidak akan konsen memoles wajahku." Sahut Shasie.

__ADS_1


"Baiklah...... Tapi jangan lama - lama ya...... Jam makan siang sebentar lagi akan usai, kita harus kembali kekantor." Ucap Hanaria sambil melihat arlojinya.


Sepeninggal Hanaria, Shasie bubu - buru membersihkan wajahnya, dan mengeluarkan alat make -up yang selalu ia bawa kemana - mana didalam tasnya.


"Bagaimana keadaan Shasie Hana, kenapa kau sendiri kemari? Dimana temanmu itu?" Tanya Reymon, saat Hanaria kembali kemeja mereka.


"Sudah baikan mas, ia menyuruhku duluan saja kemari, masih ada hal yang akan ia lakukan disana." Sahut Hanaria sambil duduk dikursinya.


"Hana...... besok mas akan kembali kedusun? Apakah malam ini kita bisa makan malam bersama lagi seperti siang ini?" Reymon menatap wajah Hanaria, sambil melipat tangannya diatas meja.


Hanaria menatap Reymon sejenak, ia melihat wajah pria itu memandangnya dengan tatapan serius, seperti ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Hanaria sedikit kikuk, ditambah lagi saat ia mengingat pria itu sempat melamar dirinya, saat didusun beberapa waktu yang lalu.


"Maafkan aku mas Rey, sepertinya aku belum bisa, aku sudah ada janji dengan beberapa teman - temanku termasuk Shasie, mereka mengajakku makan malam, malam ini." Sahut Hanaria.


"Ohh begitu....... Tidak apa - apa, lain kali saja kalau begitu, kalau mas pas kekota lagi." Sahut Reymon dengan wajahnya yang bersahaja. Tidak lupa ia menyunggingkan senyum tipisnya, yang menunjukan dua lesung pipitnya yang manis. Hanaria turut tersenyum, keduanya saling berpandangan sesaat.


"Kau kenapa Hana? Apakah wajah mas terlihat menakutkan, sampai - sampai wajahmu setegang itu." Ucap Reymon, ia menatap wajah Hanaria, namun Hanaria masih diam sambil menatap wajah Willy yang sedari tadi memandangnya, tiba - tiba ia khawatir, jangan - jangan bosnya itu akan nelakukan tindakan yang sengaja mempermalukan dirinya dimuka umum.


Reymon yang masih menatap heran wajah Hanaria yang semakin tegang menatap kesatu arah dibelakangnya, dan segera membalikkan setengah tubuhnya, ia sedikit kaget, saat mendapatkan ada sesorang yang sudah berdiri dibelakangnya. Reymon bergegas berdiri, ia menatap wajah pria yang kini saling berhadapan dengannya.


"Mas Reymon....... pantas saja kuajak makan siang gak mau. Rupanya ada janji dengan pacarnya." Ucap Willy ceplos. Reymon langsung tertawa ringan saat mendengar ucapan asal yang keluar dari mulut Willy. Hanaria yang mendengar perbincangan kedua pria yang sedang berdiri itu sedikit bernafas lega, walau sempat merasa heran, karena keduanya terlihat akrab.


"Hana belum menjadi pacarnya mas Rey, tuan muda. Tapi.... semoga saja, perkataan tuan muda itu seumpama doa yang sebentar lagi akan terwujud, mas Rey selalu menunggunya." Ucap Reymon jujur.

__ADS_1


"Oh, jadi ini wanita yang membuat mas Rey belum mau menikah?" Tanya Willy, ia melihat kearah Hanaria sekilas. Hanaria langsung membuang muka, ia sangat muak melihat bosnya itu. Reymon tidak menjawab, dirinya hanya bisa tertawa mendengar perkataan Willy.


"Bukankah kalian satu kantor? Tapi kenapa seolah tidak saling mengenal?" Kata Reymon, ia menatap Willy dan Hanaria yang sama - sama acuh. Seingatnya, Hanaria adalah seorang arsitek di perusahaan milik keluarga Agatsa.


"Kami memang sekantor mas Rey, tapi tidak bisa bergaul akrab, tuan muda adalah bosnya, kalau pegawai biasa seperti saya melakukan kesalahan, pasti mendapatkan hukuman, atau setidaknya mendapatkan Surat Peringatan." Sindir Hanaria dengan wajah sinisnya, ia masih ingat benar dengan pelecehan yang dilakukan bosnya itu pagi tadi didalam lift.


Wajah Willy langsung merona, ia mengatupkan rahangnya, hingga memperlihatkan urat - urat wajahnya mengeras. Reymon merasakan ada perang dingin yang terjadi diantara Willy dan Hanaria.


"Ahh sampai lupa,...... bagaimana kalau kita duduk dulu, tuan muda memesan makanan, kita makan siang bersama." Reymon sengaja mengalihkan pembicaraan, ia berusaha mencairkan suasana yang menegang itu.


"Aku sudah makan mas Rey, aku mampir menemui mas Rey, karena Edrine masih ketoilet." Ujar Willy.


"Oh ada nona muda Edrine juga disini. Kapan nona muda Edrine tiba di Indonesia?" Tanya Reymon.


"Tadi pagi, bersama temannya. Edrine dan temannya itu akan magang beberapa bulan kedepan disini." Jelas Willy.


"Oh begitu...... tuan muda Edward gimana?"


"Edward..... dia tidak diperbolehkan nenek buyut kemana - mana, karena tidak ada yang mengantarkan nenek buyut, kalau pas mau keluar rumah." Willy terlihat tersenyum, ia ingat bagaimana frustrasinya spupunya itu, saat neneknya menjadikan dirinya anak rumahan.


"Nah...... itu Edrine......" Willy menunjuk seorang gadis yang terlihat begitu cantik, dengan kulit putih bersih Asia yang terlihat begitu bersinar, melangkah dengan senyum manisnya kearah mereka. Hanaria memandang gadis itu, lalu melihat dirinya sendiri yang berkulit sawo matang, sedikitpun ia tidak merasa rendah diri akan dirinya yang memiliki khas kulit Indonesia yang eksotik.


"Edrine....... ini mas Rey, kau ingatkan?" Ujar Willy, saat Edrine sudah berdiri didekat mereka.

__ADS_1


"Ingat....... Walau pernah bertemu beberapa kali saat masih kecil dulu, wajah mas Rey tidak terlalu banyak berubah, bahkan sekarang terlihat lebih tampan." Puji gadis itu, ia meraih punggung tangan Reymon lalu menciumnya.


"Nona muda Edrine bisa saja......." Sahut Reymon, masih mengulas senyumnya.


__ADS_2