
"Kak Rosalia sahabatan dengan kak Willy dan kak Billy sejak bayi." Ucap Edrine lagi.
"Memang ada sahabatan seperti itu? Baru tahu." Ucap Hanaria melirik wajah Edrine disebelahnya.
"Ada, mereka contohnya....." Sahut Edrine lagi.
"Jadi apa yang nona tahu tentang tuan muda Willy?"
"Kalau membedakan antara kak Willy dan kak Billy..... Kulit kak Willy lebih terang, lebih putih, dan lebih bersih dibandingkan kak Billy yang sering diluar ruangan karena profesi kak Billy sebagai inteligen."
"Kak Willy lebih wangi, dan selalu menjaga penampilannya dibanding kak Billy. Makanya setiap 2 kali dalam sebulan, ia selalu melakukan perawatan disalon."
"Selain itu, ditangan kanan kak Billy ada tanda lahir sebesar telur ayam, yang tidak dimiliki kak Willy. Sepertinya, hanya itu yang kutahu bedanya kak Hana?"
"Lalu makanannya?" Tanya Hanaria lagi.
"Suka makan daging ayam, daging merah. Tidak suka ikan, makanan pedas, pedesnya dikit aja kak ya, jangan banyak - banyak, terus tidak suka sayuran, apalagi yang pahit. Sering alergi makanan seafood." Jelas Edrine dengan wajah yang terlihat sedang berfikir.
"Terus pacarnya ada berapa?" Tanya Hanaria tanpa sadar. Edrine kembali tersenyum geli melihat wajah Hanaria yang seakan kepo urusan pribadi kakak sepupunya itu.
"Sudah..... Dijawab saja, tidak usah berfikir macam - macam nona Edrine" Ucap Hanaria yang melihat gelagat Edrine yang ingin meledeknya.
"Aku juga heran, kenapa pacarnya kak Willy cuma satu saja, sudah itu, pake dicampakan segala sama pacarnya itu. Padahal kak Willy itu ganteng, tampan, keren, macho juga...... Banyak kok gadis - gadis yang menyukainya saat ia kuliah diluar negeri. Sampai - sampai mommy ku sering mengusir para gadis itu yang tidak tahu malu datang apelin kak Willy......" Ucap Edrine mengernyitkan kedua alisnya dengan wajah bingung sambil mengingat kejadian dirumahnya waktu di Singapura saat Willy tinggal bersama mereka.
Tawa Hanaria langsung meledak mendengar ucapan Edrine.
"Apa yang membuat kak Hana tertawa?" Tanya Edrine yang merasa tidak ada yang lucu dari ucapannya.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin pria keren, macho seperti yang nona katakan itu bisa dicampakan begitu saja oleh gadisnya, sungguh tidak masuk akal, pasti ada yang salah pada kakak mu itu, maaf ya Edrine......" Ucap Hanaria tertawa puas. Rupanya Willy yang katanya digandrungi banyak wanita cantik itu, ternyata pernah dicampakan oleh wanita. Sungguh menyedihkan, pikirnya.
"Kak Hana sepertinya senang dan bahagia mendengar kak Willy dicampakan??" Tanya Edrine heran, dia tidak pernah melihat Hanaria seperti itu.
"Kalau senang sih iya, tapi kalau bahagia sih tidak..... Kita kan tidak boleh merasa bahagia diatas penderitaan orang lain nona Hana." Sahut Hanaria sok bijak. Edrine hanya mengangguk - anggukan kepalanya mendengar ucapan sang dosen privatenya itu.
"Itu artinya kak Hana tidak pernah dicampakan seorang laki - laki?" Tanya Edrine penasaran, jiwa keponya mendadak menguasainya.
"Oh jelas.......! Tidak ada laki - laki yang bisa mencampakanku begitu saja.......!" Ucap Hanaria bangga.
Mata Edrine seketika membola. "Wahh......! Kak Hana hebat sekali.....! Aku saja belum selesai S1 udah dua kali diputusin cowok, tapi kak Hana tidak pernah, ini luar biasa. Sepertinya kak Hana saja yang begitu." Ucap Edrine merasa kagum. Hanaria yang mendengar ucapan Edrine tersenyum senang.
"Kalau begitu, kak Hana ya yang mencampakan para pria - pria itu?" Tanya Edrine, ia yakin, calon kakak iparnya itu pasti sudah banyak memiliki para mantan.
"Tidak pernah juga....." Sahut Hanaria santai, pandangannya tetap fokus pada jalan didepannya.
"Mencampakan tidak pernah, dan dicampakan pria juga tidak pernah..... Edrine kok jadi bingung kak..... " Edrine menatap lekat wajah Hanaria yang terus fokus pada jalan didepannya.
"Tidak usah bingung nona Edrine, guru dan dosen privatemu ini tidak pernah punya pacar......! Makanya tidak pernah mencampakan ataupun dicampakkan " Sahut Hanaria keceplosan.
"Serius.....?!!" Sorot mata Edrine seolah tak percaya.
"Serius......!!" Hanaria menimpali sambil tersenyum bangga.
"Satupun belum pernah punya pacar??!" Edrine masih memastikan.
"Iya...... Nona Edrine...... belum pernah punya pacar...... Kok tidak percaya sih, guru dan dosenmu ini pantang berbohong......" Sahut Hanaria masih dengan senyumannya.
__ADS_1
"Kak Hana nih ya.... Ternyata jomblo akut rupanya......" Gelak Edrine tiba - tiba. Hanaria langsung mendelik, telinganya serasa tidak nyaman mendengar ucapan dan tawa Edrine yang memenuhi kabin mobilnya.
"Masih mendingan kak Willy, punya satu pacar, walau pernah dicampakan oleh pacarnya. Nah, kak Hana tidak pernah punya pacar sampai seumur gini, benar - benar jomblo akut kak, salut Edrine sama kak Hana......." Edrine masih tergelak, ia tidak sadar Hanaria yang mengemudikan mobilnya sudah memasang mode wajah kesal.
"Nona Edrine...... Apakah kau sadar.... Sudah mengata - ngatai calon kakak iparmu, eumm??" Mata Hanaria memicing, kedua alisnya tertarik merapat kebawah, hingga membentuk garis vertikal diantara alis dan kelopak matanya.
Mendengar ucapan Hanaria, Edrine langsung membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Namun rasa gelinya masih belum pupus, sehingga meskipun mulutnya sudah dibekap oleh tangannya sendiri ia masih saja tergelak hingga perutnya terasa sakit.
"Owhh..... Masih belum puas mentertawaiku ya....... Maafkan aku bila untuk pertama kalinya aku harus menurunkan penumpang disembarang tempat." Hanaria nampak semakin kesal melihat Edrine yang masih tertawa seperti orang yang digelitik saja.
"Iya stop disini saja kak.....! Turunkan aku disini saja.....!" Ucap Edrine sambil melihat bangunan apartemennya yang menjulang.
"Aku bercanda saja nona Edrine, tidak mungkin aku setega itu menurunkanmu disembarang tempat kalau belum tiba diapartemenmu." Sergah Hanaria masih menjalankan mobilnya.
"Ini sudah sampai kak..... itu apartemenya. Aku berhenti disini saja, tidak usah masuk, kak Hana kan mau langsung ke rumah sakit untuk menjemput adik kak Hana." Ucap Edrine sambil menunjuk gedung apartemen disisi kiri jalan yang mereka lalui. Hanaria lalu menepikan mobilnya perlahan, didekat pos jaga security.
"Kak Hana, maafkan aku ya..... Aku tidak sengaja mengatai kak Hana tadi......" Ucap Edrine bersungguh - sungguh, setelah ia berhasil menghentikan tawanya.
"Tidak masalah...... Tapi jangan kau ceritakan ini pada kakakmu itu, dia juga pasti akan menertawaiku sepertimu nona. Kalau nona Edrine yang menertawaiku, aku masih bisa menahan diri. Tapi bila kakak nona sampai menertawaiku gara - gara jomblo itu, aku pastikan ia akan menerima pukulan mautku." Ucap Hanaria bersungguh - sungguh.
"Tenang saja kak..... Aku tidak akan ember...... Ok, terima kasih ya kak, aku sudah diberikan tumpangan." Ucap Edrine sambil melepaskan sabuk pengaman yang meliliti tubuhnya.
"Sama - sama..... Salam buat nona Stefhany...... Semoga dia cepat sembuh dan dapat turun kekantor lagi." Ucap Hanaria sambil tersenyum tipis.
"Baiklah kak.... Bye......" Edrine keluar dan kembali menutup pintu dengan rapat.
Hanaria lalu melajukan mobilnya menuju rumah sakit pemerintah yang tidak jauh lagi.
__ADS_1
...***...