HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Fitting Gaun Pengantin


__ADS_3

"Dokter......! Tunggu dokter......!" Dengan setengah berlari, Hanaria segera menyusul dokter yang baru saja keluar dari ruang rawat Lania.


Sang dokter menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Hanaria yang menuju kearahnya, sambil membenarkan kacamata yang ia kenakan.


"Perkenalkan dokter, saya teman dokter Rosalia, dokter kandungan di rumah sakit Pemerintah ini. Saya juga teman kerja dari pak Paris, ayah dari Lania yang dirawat dirumah sakit ini." Ucap Hanaria yang sedikit ngos - ngosan sambil mengatur nafasnya.


Dokter itu memperhatikan Hanaria sejenak. "Iya nona, saya ingat, pak Paris juga menggunakan seragam yang sama seperti nona. Ada yang bisa saya bantu nona?" Tanya sang dokter.


"Bolehkah saya tahu, Lania sakit apa dokter? Saya melihat wajahnya pucat tadi pagi saat bertemu dengannya ditaman." Ucap Hanaria.


Dokter itu berfikir sejenak. "Sebenarnya, saya tidak boleh mengatakan penyakit pasien selain kepada keluarganya. Tapi, sampai sekarang, pak Paris tidak ada kabar setelah keberangkatannya tadi pagi. Lania membutuhkan donor sumsum tulang belakang, karena kanker darah yang dideritanya." Jelas sang dokter.


Hanaria langsung merasakan tubuhnya begitu lemas, setelah mendengar penjelasan dari sang dokter.


"Kasian sekali..... Lania masih terlalu kecil.... ." Lirih Hanaria.


"Apakah sudah ada pendonornya dokter?" Tanya Hanaria ingin tahu.


"Belum ada nona...... " Sahut dokter. Hanaria langsung termangu, ingatannya langsung melayang pada segala keteledoran pak Paris dalam pekerjaannya. Mungkinkah itu ada hubungannya dengan penyakit yang diderita oleh Lania putrinya, Hanaria membatin.


"Maaf nona, bila tidak ada yang anda tanyakan lagi, saya permisi untuk mengunjungi beberapa pasien lagi." Ucap sang dokter membuyarkan lamunan Hanaria.


"Baik dokter. Terima kasih banyak untuk informasinya, maaf...... sudah mengganggu waktu dokter." Sahut Hanaria sambil membungkuk hormat.


"Tidak masalah nona......" Sang dokter tersenyum tipis, lalu berbalik meninggalkan Hanaria yang kembali memikirkan penyakit Lania yang berat.


"Kak Hana......." Panggil Firlita dari depan pintu ruang rawat inapnya membuyarkan lamunan Hanaria.


"Kau sudah selesai.....? Ayo kita pulang sekarang....." Sahut Hanaria sambil datang mendekat, dan membantu membawakan barang - barang Firlita.


Keduanya berjalan beriringan menuju mobil yang sudah Hanaria parkir didekat ruang rawat inap Firlita. Dari gaya berjalannya, Firlita sudah terlihat keberatan membawa perutnya yang sudah semakin membesar, tinggal menghitung minggu lagi ia akan bersalin.


"Firlita, kita ke tempat kerjamu dulu ya, setelah itu baru pulang kerumah." Ucap Hanaria, saat mobil yang mereka kendarai melaju dijalan raya.


"Ada apa kak? Apakah nyonya Mexan mencariku?" Tanya Firlita sambil menoleh pada Hanaria yang sedang mengendalikan kemudi disebelahnya.


"Tidak..... Kakak ada janji dengan nyonya Yurina disana malam ini." Sahut Hanaria seperlunya saja.


"Ooo..... " Firlita mengangguk - anggukan kepalanya saja, dan kembali menatap kedepan, memperhatikan kepadatan lalu lintas yang menyebabkan macet.


Firlita merasakan Hanaria sedikit berbeda, namun ia enggan untuk bertanya, tidak biasanya kakak angkatnya itu sedikit bicara. Bahkan tidak menanyakan kabarnya seperti yang biasa ia lakukan.


"Kita sudah sampai....." Ucap Hanaria, setelah memarkirkan mobilnya dilahan parkir yang kosong.


Keduanya sama - sama membuka sabuk pengamannya masing - masing, lalu turun dari mobil. Hanaria melirik sebentar kearah mobil mewah dengan plat nomor polisi khusus milik keluarga Agatsa yang terparkir rapi didepan Salon dan butik milik nyonya Mexan.


"Selamat malam nona...... Silahkan masuk" Sapa security dengan hormat, sambil membuka pintu, saat Hanaria dan Firlita akan masuk.


"Terima kasih......" Sahut Hanaria tersenyum tipis, dan berlalu masuk bersama Firlita.


"Selamat malam nona...... Anda sudah ditunggu diruang nyonya Mexan......" Ucap salah satu pegawai wanita salon itu. Lalu berjalan lebih dulu menuju ruangan yang dituju.


Firlita menatap Hanaria, namun ia tidak bertanya walau penasaran atas perlakuan berbeda para pegawai ditempatnya berkerja pada kakak angkatnya itu.


Pegawai itu membuka pintu, dan kembali mempersilakan Hanaria dan Firlita masuk dengan sikap hormat kedalam ruangan.


"Kau sudah datang nona Hana....." Sambut Yurina dengan senyum ramahnya sambil berdiri dari duduknya, begitu pula dengan nyonya Mexan sebagai pemilik salon, saat dilihatnya Hanaria muncul didepan pintu bersama Firlita.


"Maafkan saya nyonya...... agak terlambat...... dan membuat nyonya menunggu..... Juga belum sempat berganti pakaian " Ucap Hanaria sambil membungkuk hornat.


"Tidak masalah..... Aku mengerti....." Sahut Yurina masih tersenyum lembut, sambil memperhatikan seragam kerja yang masih digunakan Hanaria.


"Bagaimana kalau kita langsung saja nyonya Mexan.......?" Yurina memandang kearah pemilik salon dan butik itu.


"Baik nyonya....... Ayo kita masuk ke ruang gaun pengantin." Nyonya Mexan berjalan lebih dulu dan membuka pintu yang ada disudut ruang kerjanya, diikuti oleh Yurina, Hanaria, dan Firlita.


Ruangan itu cukup luas, Firlita yang berkerja sebagai salah satu perias ditempat itu baru dua kali saja memasukinya.


"Nyonya Mexan, kami membutuhkan gaun pernikahan berwarna putih untuk pemberkatan nikah." Ucap Yurina sambil memasuki ruangan gaun pengantin.

__ADS_1


"Ini nyonya, boleh dipilih sesuai selera......" Nyonya Mexan menunjukan puluhan gaun pengantin berwarna putih yang dipajang didalam etalase ruangan itu.


Yurina menelusuri satu persatu gaun pengantin yang berada didalam etalase hingga bagian yang terakhir.


"Hana..... Kau ingin mengenakan gaun pengantin yang mana sayang?" Ucap Yurina menoleh pada Hanaria yang terpaku diujung etalase saat mereka baru masuk, lalu melangkah mendekati Hanaria yang masih diam ditempatnya berdiri.


Hanaria terperanjat mendengar panggilan Yurina padanya, debaran - debaran jantungnya tiba - tiba muncul begitu saja, perasaan aneh menjalar menelusuri setiap detak nadinya, lebih serasa menghangat dan berbunga - bunga. Panggilan itu serasa manis didengar oleh telinganya.


Firlita tidak kalah terperanjatnya, ia menatap Hanaria dan Yurina secara bergantian, dari tempatnya berdiri, namun ia tetap diam mematung untuk memperhatikan apa yang selanjutnya akan ia lihat.


"Hana...... kau baik - baik saja kan?" Tanya Yurina yang berjalan semakin mendekat kearahnya.


"Iya.....nyonya, .......saya baik - baik saja." Sahut Hanaria terdengar gugup.


"Panggil mommy saja sayang, sebentar lagj kau akan menjadi menantu mommy....." Ucap Yurina dengan suara lembutnya.


Hanaria langsung merasa semua sendi - sendi tubuhnya lemas. Sikap Yurina selama ini memang baik, dan ramah padanya. Tapi malam ini, sikap Yurina melebihi dari biasanya yang ia rasakan. Ada rasa bahagia yang tidak terkatakan dirasakannya dalam hati terdalamnya, saat mendapatkan perlakuan yang teramat manis itu.


Firlita yang mendengarnya semakin terperanjat, ia turut merasakan kebahagiaan itu, tapi ada rasa iri dilubuk hatinya, mengapa dirinya tidak seberuntung Hanaria, kakak angkatnya itu. Mendapatkan seorang ibu mertua yang sangat baik dan penyayang.


"Apakah saya pantas memanggil anda seperti itu nyonya.....?" Ucap Hanaria, masih dengan rasa gugupnya.


Nyonya Mexan yang sedari tadi mendengarkan dialog dua wanita yang sebentar lagi akan berstatus menjadi ibu mertua dan menantu itu langsung tersenyum menatap Yurina yang sudah lama menjadi langganan disalon dan butiknya itu.


"Melihat ini, saya mengingat masa muda nyonya Yurina dulu dengan nyonya besar." Ucap nyonya Mexan dengan senyumnya. Yurina ikut tersenyum, ia mengerti apa yang dimaksud nyonya Mexan akan perkataannya itu, ia kembali menatap kearah Hanaria yang agak malu menatap dirinya.


"Tentu saja Hana...... Kau memang harus memanggilku sama seperti Willy memanggilku." Sahut Yurina.


"Tapi saya malu..... dan sungkan pada anda nyonya......" Ucap Hanaria jujur.


"Kalau baru mungkin akan merasa malu dan sungkan, jadi mulai sekarang kau harus melatihnya Hana, nanti akan menjadi terbiasa." Sahut Yurina masih dengan nada lembut.


"Jadi..... Gaun pengantin mana yang akan kau kenakan dihari pemberkatan nikahmu Hana?" Yurina kembali ketopik awal, sambil melihat gaun - gaun pengantin yang ada dihadapannya.


"Tok..... tok..... tok......!" Terdengar suara ketukan pintu. Mereka saling berpandangan dan menatap kearah pintu.


"Mommy........! Adik ipar.......!" Hanaria terperanjat, saat melihat ibu mertuanya dan adik iparnya muncul didepan pintu ruang gaun pengantin.


"Maafkan saya nyonya Mexan, nyonya besar dan nyonya Margareth meminta untuk masuk." Ucap pegawai salon pada bosnya itu, ia berdiri dibelakang kedua wanita yang baru masuk.


"Tidak apa - apa....." Sahut nyonya Mexan pada pegawainya itu.


"Masuklah nyonya besar..... Nyonya Margareth......" Nyonya Mexan mempersilahkan.


Hanaria langsung berdiri menepi dan menempel pada dinding dibelakangnya sambil membungkuk hormat, ia hanya beberapa kali saja bertemu dengan nenek Willy itu, sedangkan dengan Margareth, baru pertama kali ia melihatnya.


Firlita yang duduk disudut ruanganpun segera berdiri dan ikut membungkuk hormat.


"Kakak ipar, mommy memaksa untuk kemari, makanya kuantar saja supaya tidak naik darah tingginya." Bisik Margareth sambil cipika dan cipiki pada Yurina. Yurina yang mendengarnya langsung tersenyum kecil dan menghampiri ibu mertuanya itu.


"Mommy beristirahat saja dirumah bersama Margareth, supaya tidak lelah, kan baru saja tiba di Indoneaia lagi." Ucap Yurina lembut sambil mencium punggung tangan ibu mertuanya.


"Aku tidak percaya pada pilihanmu menantuku..... Aku mau gaun pengantin yang terbaik buat calon isteri cucuku Willy, jadi aku yang harus memilihkan gaunnya." Ucap nyonya Agatsa datar seperti biasanya.


Yurina, Margareth, dan nyonya Mexan hanya tersenyum ringan sambil berpandangan satu sama lain. Mereka sudah sangat hafal dengan gaya bahasa wanita yang beruban itu.


Sementara Hanaria masih menempel ditempat ia berdiri, takut bergerak. Hal seperti inilah yang tidak ia inginkan, bertemu dengan para wanita yang bukan kelasnya itu, membuatnya canggung dan cemas.


Firlita tidak kalah canggungnya, ia bahkan tidak berani duduk kembali, walau kakinya sudah terasa penat membawa beban perutnya yang terasa berat.


"Hana sayang, kemarilah....." Panggil Yurina memandang kearah Hanaria. Hanaria melangkah mendekat, sulit sekali menghilangkan rasa gugupnya.


"Mommy...... ini Hanaria...... calon isterinya Willy....... dia juga berkerja di perusahaan Agatsa Properti Group, sebagai seorang Wakil Kepala Divisi Arsitectur." Yurina memperkenalkan calon menantunya itu.


"Aku sudah tahu......" Sahut nyonya Agatsa. Hanaria melirik sejenak kewajah nenek Willy itu, lalu menunduk kembali.


" Hana...... Ini neneknya Willy..... Kau boleh memanggilnya oma sama seperti Willy." Ucap Yurina, Hanaria langsung membungkuk hornat pada wanita lanjut usia itu. Sementara nyonya Agatsa menatap Hanaria dari ujung rambut sampai ujung kaki dan kembali lagi keatas.


"Hana..... ini...... Adik kembar dari ayah Willy, namanya Margareth, ibu dari Edrine, kau boleh memanggilnya bibi...." Ucap Yurina memperkenalkan adik kembar suaminya.

__ADS_1


Hanaria menatap sebentar kewajah Margareth, ia melihat ada senyuman diwajah wanita paruh baya itu, ia terlihat masih sangat cantik, dan lebih ramah dibandingkan ibunya. Wajahnya memang terlihat sangat mirip dengan Moranno, hanya saja ia seorang wanita. Hanaria lalu membungkuk hormat pula padanya.


"Nyonya Mexan, aku ingin gaun pengantin yang ini." Ucap Nyonya Agatsa yang sedari tadi melihat - lihat beberapa pilihan gaun pengantin.


"Baik nyonya......" Sahut nya Mexan. " Marry, Winnie......! Tolong ambilkan gaun yang diinginkan nyonya besar." Perintah nyonya Mexan pada dua pegawainya yang sudah bersiap didekat nyonya Agatsa.


"Hana....... Masuklah keruang ganti, kenakan gaun pengantinnya, apakah cocok dengan tubuhmu....." Ucap Yurina pada Hanaria yang berdiri disebelahnya.


"Baik nyonya......" Sahut Hanaria.


"Panggil mommy Hana......" Ucap Yurina mengingatkan.


"Iyaa mom.....my......." Ucap Hanaria canggung, sehingga terdengar lucu, membuat Yurina, Margareth, dan nyonya Mexan tersenyum menahan tawa.


Hanaria menyusul dua pegawai wanita itu yang lebih dulu masuk keruang ganti membawa gaun pengantin yang dipilih nyonya Agatsa.


Beberapa menit kemudian, Hanaria telah mengenakan gaun pengantin ditubuhnya. Rambutnya sudah disanggul seadanya oleh pegawai salon itu untuk memperlihatkan lehernya yang jenjang.


Semua pasang mata tertegun sesaat, termasuk Firlita, saat Hanaria dibantu dua pegawai butik itu keluar dari ruang ganti.


"Kau cantik sekali menggunakan gaun itu sayang....." Puji Yurina sambil tersenyum manis. Hanaria hanya tersenyum tipis, mendengar pujian calon ibu mertuanya itu. Ia berusaha menenangkan dirinya yang semakin gugup karena semua mata wanita terhormat itu menatap pada dirinya.


"Seleraku memang selalu bagus kan, memilih gaun pengantin......!" Ucap nyonya Agatsa sambil mendekati Hanaria, dan berputar mengelilingi gadis muda itu, sambil memperhatikan seluruh detail gaun pilihannya yang sudah melekat pada tubuh Hanaria.


"Nyonya besar benar...... Selera nyonya memang selalu luar biasa." Sahut nyonya Mexan ikut tersenyum bersama Yurina dan Margareth setelah mendengar ucapan nyonya Agatsa.


"Willy cucuku juga punya selera yang bagus memilih calon isteri. Calon isterinya juga cukup cantik, dan...... tinggi. Susu apa yang kau minum didusun sampai bisa sejangkung ini, eumm??" Tanya nyonya Agatsa pada Hanaria yang berdiri terpaku bagai patung. Ia sampai mendongakkan wajahnya menatap Hanaria yang lebih tinggi darinya.


"Kau tidak punya mulut??" Ucap nyonya Agatsa lagi, karena Hanaria lambat menjawab ucapannya.


"Kambing nyonya besar......" Hanaria akhirnya berhasil membuka mulutnya yang terasa kaku untuk menjawab pertanyaan dari nyonya Agatsa.


"Kambing??" Nyonya Agatsa sedikit kaget, langsung merasa mual mendengar jawaban Hanaria.


"Menjijikan.....! Apa tidak ada susu sapi atau susu lainnya, kok susu kambing....." Sungut nyonya Agatsa sambil menutup mulutnya menggunakan sapu tangan dari dalam tasnya.


Hanaria terdiam, ia merasa tidak enak. Yurina buru - buru menengahi.


"Oma tidak suka dengan susu kambing atau dagingnya, menurutnya terlalu amis, kau jangan salah faham, ataupun tersinggung ya Hana." Jelas Yurina. Hanaria hanya mengangguk pelan.


"Nyonya Mexan, tolong dibenerin bagian dadanya, supaya terlihat berisi, dia terlalu kurus." Lanjut nyonya Agatsa menatap dada Hanaria. Hanaria menelan salivanya, ternyata mulut Willy menurun dari neneknya, Hanaria membatin.


"Baik nyonya besar...... " Nyonya Mexan dengan sigap memberi tanda menggunakan alat bantu yang telah ia siapkan.


"Itu..... Gaun pengantin berwarna gold, turunkan juga......" Tunjuk nyonya Agatsa saat melihat satu warna yang memikat hatinya dari dalam etalase di seberang ia berdiri.


Marry dan Winnie dengan sigap mengambil gaun yang dimaksud nyonya Agatsa, lalu segera membawanya keruang ganti.


"Nyonya besar...... selain bagian dada, sepertinya bagian pinggang nona Hana juga perlu dirampingkan sesuai bentuk tubuhnya." Ucap nyonya Mexan sambil membenahi bagian pinggang yang ia sebut.


Nyonya Agatsa memperhatikan sejenak apa yang dilakukan nyonya Mexan. "Sudah..... cukup..... " Ucapnya kemudian, setelah ia melihat gaun pengantin berwarna putih itu sudah pas ditubuh Hanaria.


"Sekarang kau kenakan gaun berwarna gold yang aku pilih tadi......" Ucap nyonya Agatsa pada Hanaria. Hanaria hanya mengangguk pelan, lalu melangkah menuju kamar ganti diikuti nyonya Mexan yang akan membantunya mengganti gaun yang sudah ia beri tanda.


Setelah menunggu beberapa menit, Hanaria sudah kembali didampingi nyonya Mexan.


"Bagaimana nyonya besar??" Tanya nyonya Mexan pada nyonya Agatsa.


"Gaun ini sudah sangat pas ditubuhnya..... Bagaimana bisa?" Ucap nyonya Agatsa sambil berputar mengitari Hanaria yang berdiri ditengah - tengah mereka.


"Saya sudah membenarkannya didalam tadi nyonya......" Sahut nyonya Mexan.


"Oke..... sudah cukup......" Wajah nyonya Agatsa terlihat puas.


"Ingat nyonya Mexan, aku mau calon isteri cucuku ini terlihat cantik dan sempurna dipemberkatan nikah dan pestanya nanti. Kau tahu, aku tidak suka ada kekurangan, apalagi kesalahan, baik gaun maupun riasan lainnya."


"Baik nyonya besar......." Sahut nyonya Mexan. Sementara Yurina dan Margareth, keduanya hanya menuruti saja àpa yang sudah ditetapkan dan menjadi pilihan nyonya Agatsa.


...***...

__ADS_1


__ADS_2