
"Willy, stop!" Hanaria menahan kepala suaminya yang menyeruduk kesana-kemari, serupa banteng yang lepas saja.
"Kenapa?" tanya Willy seolah tidak perduli, kepalanya masih menyeruduk hingga akhirnya sedikit tenang dan betah disuatu tempat yang hangat.
"Dengar dulu suara itu," ucap Hanaria memaksa suaminya untuk memasang pendengarannya dengan baik. Mau tidak mau Willy menurut, ia memasang telinganya, mendengarkan apa yang sebelumnya tidak ia dengar.
Hooaarrr! Hooaarr!
"Bayi? Bagaimana mungkin ada bayi didalam apartemen kita?" Willy mengerutkan keningnya, lalu mengangkat wajahnya, pandangannya langsung mengedar mencari dari mana sumber suara.
"Aku juga tidak tahu," kata Hanaria sambil mendorong dada suaminya.
Willy kembali mempertajam pendengarannya, "Sepertinya dari luar kamar," gumamnya. Ia bangkit dari tubuh Hanaria dan diikuti oleh isterinya itu.
Sementara Willy bergegas menuju pintu untuk membukanya, Hanaria buru-buru mengambil pakaian bersih dan longgarnya dari dalam lemari pakaian.
"Maaf Tuan, saya sedang menenangkannya," kata bibi Salu merasa tidak enak ketika melihat Willy muncul diruang keluarga.
Willy tidak menjawab, ia terus mendekat untuk melihat bayi siapa yang berani-beraninya menggagalkan acara gotong-gotongan dirinya bersama Hanaria disiang bolong begini.
"Hhhh! Sudah kuduga, ternyata ini memang bayi si pria gila itu!" sentak Willy frustrasi sambil menjambak rambutnya sendiri saat melihat wajah bayi dalam gendongan bibi Salu.
"Willy, jangan bicara seperti itu tentang ayahnya," tegur Hanaria yang baru keluar dari kamar dan datang mendekat.
Bibi Salu sempat terkaget mendengar hentakan Willy, begitu pula dengan bayi yang ada dalam gendongannya, hingga tangis bayi itu semakin menjadi-jadi, membuat suasana ruang keluarga semakin riuh dengan suara tangisannya.
"Aduhh, kasihan-,"Hanaria yang hafal suara bayi itu segera menghampirinya.
"Berikan bayi Elvano padaku Bibi," Hanaria segera mengulurkan tangannya, lalu dengan hati-hati mengambil alih bayi Elvano dari gendongan bibi Salu.
"Cup, cup sayang. Jangan menangis lagi ya, ada Mommy disini," bujuk Hanaria dengan penuh kasih sayang sambil menimang dan membuai bayi Elvano dengan lembut didalam gendongannya.
"M-mommy," ucap Willy dengan raut kaget.
"Iya, Mommy. Bayi Elvano akan memanggilku seperti itu, dia 'kan akan menjadi anak kita juga Willy," kata Hanaria terus menimang untuk menenangkan tangis bayi Elvano.
__ADS_1
"Bibi Salu, mana bibi Narsih?" tanya Hanaria yang mencari keberadaan pengasuh bayi Elvano sekaligus asisten rumah tangga keluarga nyonya Mingguana itu.
"Tadi buru-buru pergi lagi Nona. Katanya, tukang kebun mereka tiba-tiba saja terjatuh tidak sadarkan diri dihalaman rumah saat menyiram tanaman tadi pagi,"
"Sudah dibawa kerumah sakit, tapi tidak ada yang mengurusnya. Itu sebabnya bayi Elvano ini dibawa kemari," jelas bibi Salu.
"Kalau begitu bibi Salu bawa barang-barang Elvano kedalam kamar kami, nanti aku yang mengurusnya, bibi boleh mengerjakan hal lainnya," ucap Hanaria sambil terus menimang.
"Apa?! Bayi Elvano akan mengungsi didalam kamar kita juga?" tanya Willy kaget.
"Iya, memangnya dimana lagi," sahut Hanaria santai, lalu berlalu menuju kamar.
Willy tidak percaya apa yang telah didengarnya. Ia menyusul masuk, sementara bibi Salu buru-buru keluar kamar setelah membawa tas pakaian bayi itu dan meletakkannya disamping lemari pakaian.
"Han, Hana. Tidak bisa begitu. Anak pria gila itu akan terganggu bila bersama kita didalam kamar ini, bahkan lebih tepatnya dia akan mengganggu kita Hana," kejar Willy lalu duduk ditepi tempat tidur tepat disebelah Hanaria yang sedang memberikan botol susu pada bayi Elvano yang mulai tenang, tidak menangis seperti sebelumnya.
"Berhentilah mengatai ayah Elvano seperti itu Willy, kalau kau tidak suka pada laki-laki itu, cukup tidak menyebut namanya saja diantara kita" tegur Hanaria lagi.
"Baiklah, kau benar Hana. Pria gila itu memang tidak layak disebut-sebut lagi, diingat-ingat saja tidak pantas," kata Willy menimpali dalam geramnya.
Hanaria dan Willy saling berpandangan, keduanya lumayan kaget saat bayi mungil yang agak kurus itu melempar botol dot-nya yang belum habis kelantai ubin.
"Lihat kan? Jiwa gila ayahnya menurun padanya," kata Willy menatap serius wajah Hanaria.
"Kau terlalu berlebihan Willy. Semua bayi ya begitu, membuang apa saja ditangannya, mungkin saja karena merasa terganggu karena percakapan kita mengusik dirinya yang ingin ketenangan," jelas Hanaria memberi pengertian.
"Bukan dia yang merasa terganggu Hana, tapi kita-lah yang sudah terganggu karena kehadirannya disini," sahut Willy masih tak terima.
"Agghh! Geli Elvano," Hanaria tertawa kecil saat bayi Elvano merapatkan wajah mungilnya sambil mencari-cari sesuatu dengan mulutnya.
"Berhenti bandit kecil! Aku akan menjewer telinga merahmu itu! Kecil-kecil sudah berani berbuat nakal pada isteriku," Willy menahan wajah bayi Elvano supaya tidak menempel pada dada Hanaria, ia merasa sangat gemes melihat tingkah polah bayi Elvano yang semakin liar didada isterinya itu.
"Willy, Elvano hanya seorang bayi, hal ini memang biasa dilakukan oleh bayi seusiannya, dia mungkin ingin menyusu," desah Hanaria yang tidak habis fikir dengan ucapan-ucapan Willy, seolah-olah Elvano adalah pria dewasa saja seperti dirinya.
"Apa?! Menyusu?! Tidak boleh! Itu punyaku!" protes Willy semakin tidak terima.
__ADS_1
"Dan kau Hana, tidak boleh membelanya terus. Berikan dia padaku, biar bibi Salu saja yang mengurusnya,"
Hanaria segera menghindar, ia tidak membiarkan Willy menyentuh bayi Elvano, apalagi sampai membawanya pergi kepada bibi Salu, hingga membuatnya terlentang diatas pembaringan dan bayi Elvano yang ada diatasnya langsung memeluknya erat takut terlepas.
Sementara bayi Elvano yang diperebutkan mendapat peluang saat kancing baju Hanaria bagian atas terbuka. Bayi mungil itu menyingkapkan pembungkus benda kenyal milik Hanaria dan dengan mudah menemukan pucuk dada yang ia cari.
"Agghh, Elvano sayang, kau membuat mommy geli. Belum ada ASI yang bisa kau susui nak," Hanaria tertawa geli merasakan sesapan mulut bayi mungil itu pada pucuk dadanya.
"Oh, rupanya kau ingin bersaing denganku bandit kecil," entah apa yang dipikirkan Willy saat ini, anehnya ia merasa tertantang oleh seorang bayi mungil, yang bahkan belum cukup usia untuk makan-makanan yang lunak selain minum susu.
"Willy! Hentikan! Apa yang kau lakukan!" Pekik Hanaria kaget, suaminya itu, ternyata ikut menyusu didalam daster lebarnya.
"Cepat keluar dari sana! Kau bisa merobek bajuku Willy!" Pekik Hanaria lagi sambil mendorong kepala Willy dengan satu tangannya agar menjauh dari dadanya, sementara tangan satunya lagi memeluk erat bayi Elvano supaya tidak terjatuh bebas dari atas dadanya akibat kepala Willy yang dengan sengaja berusaha menyingkirkan rival menyusunya itu.
Willy tidak perduli, ia tetap menyesap sambil sedikit menggigit didalam sana walau Hanaria sudah menjerit- jerit kegelian sambil mendorong kepalanya.
"Tolong! Bibi Salu!" Teriak Hanaria, saat dirinya sudah tidak sanggup lagi menangani dua bayi itu.
Dengan langkah tergogoh-gopoh, bibi Salu segera memasuki kamar majikannya, saat mendengar nona majikannya berteriak-teriak berulang kali memanggil namanya.
Langkah bibi Salu terhenti, ia terpaku sesaat ketika melihat pemandangan yang tidak biasa, sambil membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. Nona majikannya sedang diserang dua pria beda usia yang sedang memperebutkan pucuk-pucuk dadanya.
"Bibi! Cepat kemari!" Panggil Hanaria dengan napasnya yang memburu.
Bibi Salu kembali bergegas, ia meraih tubuh mungil bayi Elvano dari dada sang Nona majikan hingga pria kecil itu menangis meraung-raung dalam dekapannya.
"Beri Elvano susu lagi, dia pasti masih haus," ucap Hanaria tersendat-sendat.
Tanpa menunggu aba-aba untuk kedua kalinya, bibi Salu segera membawa bayi Elvano keluar dan menutup pintu dibelakangnya. Pasalnya, posisi tuan majikannya yang meringkuk dibalik daster sang Nona majikan sudah membuat bibi Salu panas dingin melihatnya.
"Den Elvano, kau ada-ada saja. Baru sehari kau disini, tapi sudah membuat ulah dengan Tuan. Ingat Den, Nona Hana hanya milik tuan Willy," ucap bibi Salu dengan senyumnya, ia menenangkan bayi mungil itu sambil menuang susu kedalam botol dot-nya.
Sesekali bibi Salu harus menahan nafasnya, saat suara-suara yang sudah tidak asing lagi ditelinganya mulai terdengar bersahut-sahutan didalam kamar sana, dengan irama tinggi-rendahnya yang tak beraturan, sesuai selera dan perasaan sang empunya suara.
Bersambung...👉
__ADS_1