
"Kau Nyonya, cepatlah!" perintahnya, menunjuk dengan tongkat ditangannya. "Seseorang ingin bertemu denganmu," imbuhnya.
Dengan perasaan penuh tanya, nyonya Mingguana keluar dari jeruji besinya, mengikuti sang petugas yang menuju ruang tunggu tamu yang akan menemuinya.
"K-Kau," tenggorokan nyonya Mingguana serasa tercekat saat mengetahui siapa yang menjadi tamunya.
"Duduklah, tidak perlu pura-pura kaget begitu," datar nyonya Agatsa. "Baguslah, bila kau ingat padaku,, karena aku sudah lupa melihat rupamu." nyonya Agatsa menatap nyonya Mingguana yang kini telah duduk dihadapannya, ada perasaan prihatin disudut hatinya yang lain.
Sementara petugas lapas tetap berdiri dibelakang
"Apa berada didalam lapas terlalu berat sehingga sisa-sisa jejak keelegananmu yang selalu berpenampilan modis tidak sama sekali kutemukan lagi." ucap nyonya Agatsa masih memperhatikan nyonya Mingguana yang nampak tak suka mendengar ucapannya.
"Katakan, apa tujuanmu menemuiku? Apa kau kemari hanya untuk menghinaku saja? Heuh! Ternyata kau tidak cukup sibuk seperti yang pernah kudengar," datarnya pula.
Terdengar suara tawa puas dari mulut nyonya Agatsa, dan nyonya Mingguana hanya menanggapinya dingin.
"Kau benar aku memang sudah tidak punya pekerjaan lagi sekarang, waktunya menikmati hidup diusia tua. Semua perusahaan keluargaku sudah dihandle oleh putra dan cucuku, mereka semua berguna, tidak ada yang menjadi sampah masyarakat." sindirnya masih tertawa.
__ADS_1
"Seingatku, kita tidak pernah bersinggungan satu sama lain dalam menjalankan bisnis kita, lalu tanpa angin, tanpa hujan kau sekonyong-konyong datang mencercaku," ucap nyonya Mingguana masih menatap dingin.
"Berarti ingatanmu sangat jelek. Pantas saja kau bisa mendekam didalam jeruji besi bersama anak tunggal tidak bergunamu itu." cela nyonya Agatsa tanpa ampun.
"Cukup! Siapa yang memberimu hak bicara seperti itu tentangku dan putraku!" sentak nyonya Mingguana tak kuasa menahan amarah, segala hal menyangkut putranya akan selalu membuatnya cepat memberi respon.
Nyonya Agatsa kembali tertawa. "Menggelikan memang, perkataanmu itu sangat bo*oh! Kau tidak bisa menahan orang berbicara apapun tentangmu Nyonya. Diluaran sana, siapa yang menjaga nama baikmu? Tidak ada, mereka semua menghujatmu, seorang pecundang yang berakhir dipenjara."
Nyonya Mingguana mengepalkan kedua tinjunya dibawah meja dengan rahang yang mengeras. Rasa geram menyelimuti hatinya manakala wanita tua dihadapannya itu telah berani mengata-ngatai dirinya sesuka hatinya.
"Awalnya aku tidak percaya kalau kau berani memanfaatkan cucu mantuku, padahal kau sudah tahu kalau Hanaria adalah anggota keluarga Agatsa, kau sengaja melakukannya bukan?" sorot mata nyonya Agatsa menajam untuk beberapa saat, namun nyonya Mingguana hanya menyambutnya dengan sikap dingin.
"Tidak sampai disitu, cucu mantumu itu juga memaksa mengadopsi cucuku. Aku sebenarnya tidak menginginkan bayi itu. Bila ibunya saja bo*oh, putranya juga pasti sebo*oh ibunya," imbuhnya tanpa perasaan.
"Jadi sekalian saja aku membebani cucu mantumu yang sangat baik hati itu dengan perusahaan-perusahaan bermasalah itu. Aku memang sengaja melakukannya, sebagai akibat cucu mantumu memaksa putraku menikahi adiknya, melakukan apa yang tidak disukainya. Dan aku yakin, kau kemari karena masalah perusahaan itu mulai mencuat kepermukaan." ucapnya puas, dan kembali tersenyum jahat.
"Heum, sekarang aku mengerti setelah mendengar penuturanmu itu, ternyata Mahendra menjadi manusia jahat, karena ibunya juga jahat, dan pegawai-pegawaimu rata-rata memiliki sikap penipu karena pemimpinnya juga penipu," balas nyonya Agatsa tertawa mengejek.
__ADS_1
"K-kau!" nyonya Mingguana tersentak, tidak terima ucapan itu ditujukan padanya.
"Nyonya Mingguana Alhandra Liem, aku rasa cucu mantuku lebih pintar darimu." nyonya Agatsa menarik sedikit senyum diujung bibirnya.
"Pertama, dia mampu menjebloskanmu dan putramu kepenjara tanpa campur tangan kami karena kematian adik angkatnya yang disebabkan oleh putramu."
"Kedua, dia telah memulangkan ibu mertuamu ke rumah mewahmu, dan itu dilakukannya karena kebaikan hatinya yang sangat kau cela itu. Dia tidak tahu menahu apa yang pernah terjadi diantara kalian dimasa lalu," nyonya Agatsa kembali tertawa.
"Hanya ini tujuanku kemari, memberi tahu padamu, bila kau tidak bisa membalas sakit hatimu pada mendiang suamimu dan kedua orang tuannya atas apa yang pernah mereka lakukan padamu. Aku yakin, setelah mendengar ini, kau pasti akan semakin sulit tidur didalam jeruji besimu yang dingin itu." ia kembali terkekeh puas.
Wajah nyonya Mingguana semakin suram, berita yang ia dengar memang menyulut emosinya.
"Hanaria tidak boleh melakukan itu! Aku tidak bisa menerimanya!" pekiknya marah.
"Satu lagi, bila Hanaria sudah memasukanmu ke jeruji besi, aku pastikan bila dirimu tidak akan pernah keluar dari sana untuk menghirup udara bebas lagi." Nyonya Agatsa berdiri dan meraih tasnya.
"Aku pamit pulang, waktu besukku sudah habis." nyonya Agatsa melirik arloji dipergelangan tangannya, dengan raut tanpa beban ia meninggalkan tempat itu dengan perasaan puas, puas karena sudah membuat lawan cucu mantunya itu tersulut emosinya.
__ADS_1
Bersambung...👉