
Hati Sekretaris Morin begitu bahagia karena kembali di panggil tuan besarnya, Moranno. Mungkin ia akan tahu jawabannya sebentar lagi mengapa wajah Hanaria terlihat sangat berbeban berat, saat ia ada didalam ruangkan sang Dirut nanti.
Sekretaris Morin membungkuk hormat, saat dirinya sudah berdiri dihadapan meja kerja Moranno. "Tuan memanggil saya?" Tanyanya dengan sopan.
"Iya...... Aku memerlukan kau membuat dua undangan pernikahan." Sahut Moranno datar, sama datarnya dengan tatapannya.
"Undangan pernikahan?? Siapa yang akan menikah tuan?" Tanya sekretaris Morin memberanikan diri menatap wajah Moranno dan asisten Rudi yang duduk tidak jauh dari meja kerja Moranno.
"Baru saja kita membahasnya beberapa jam yang lalu. Apakah kau sudah lupa sekretaris Morin?" Ucap Moranno masih dengan nada datarnya.
"Ma..... Maafkan saya tuan......" Sekretaris Morin tergagap dan merasa malu.
"Apakah maksud tuan adalah undangan pernikahan nona Hanaria dan tuan muda Willy?" Tanya sekretaris Morin lagi dan sedikit menduga, berharap dugaannya meleset.
"Benar! Untung kau masih ingat. Kalau tidak, aku akan memutasikanmu ke Divisi lain dikantor ini." Ucap Moranno masih datar.
Deg.....
Jantung sekretaris Morin hampir saja terhenti, mendengar ucapan Moranno. Mengapa nasibnya semalang ini? Sungguh apes dirinya hari ini! Membuat undangan pernikahan laki - laki yang menjadi harapannya dimasa depan.
Sekretaris Morin semakin menundukkan kepalanya, supaya majikannya itu tidak melihat ada buliran yang mengembang dikedua pelupuk matanya yang hampir saja terjatuh.
"Buatkan satu undangan pernikahan nona Hanaria dan Willy yang bertempat didusun kelahiran nona Hanaria, dan satu undangan lagi disalah satu hotel ternama dikota ini satu minggu kemudian."
"Untuk undangan pernikahan yang didusun, hanya untuk keluarga dan sahabat - sahabat terdekat dari kedua calon pengantin."
"Dan untuk undangan pernikahan dikota ini, Buatkan untuk seluruh pemegang saham, para direksi, semua perusahaan yang terikat kontrak kerja dengan perusahaan kita, seluruh pegawai perusahaan induk Agatsa Properti Group, dan 24 anak cabang perusahan Agatsa Group yang tersebar dikota - kota negeri ini."
"Besok siang, aku harus sudah melihat undangan - undangan itu sudah siap, dan ada diruang kerja putraku Willy. Jadi aku memberimu waktu hanya 24 jam kerja dari sekaramg. Apakah kau sanggup melakukannya sekretaris Morin? Bila tidak, aku bisa mencari penggantimu." Tegas Moranno.
"Saya siap tuan." Sahut Morin sigap.
"Bagus! Mulai kerjakan sekarang. Mengenai waktu pelaksanaan dan lain sebagainya, kau bisa menghubungi asisten Rudi. Ingat, jangan ada yang terlupakan. Aku tidak akan mentolerir sedikitpun kesalahan yang terjadi dalam pernikahan putraku Willy dengan nona Hanaria. Kau mengerti sekretaris Morin?" Tekan Moranno lagi.
"Mengerti tuan....." Sahut sekretaris Morin masih menunduk.
"Baiklah...... Kau sudah boleh pergi....." Ucap Moranno, sambil menyandarkan punggungnya pada kursi kerja dibelakangnya.
Sekeretaris Morin memberi sikap hormat lalu bergegas keluar dari ruang kerja Moranno. Ternyata wajahnya saat masuk sudah berubah 180 derajat saat keluar, sudah tidak ada senyuman diwajah cantiknya.
Kebahagiaan yang ia rasakan saat melihat beban berat di wajah Hanaria, kenapa tiba - tiba berubah menyedihkan seperti ini. Wanita itu sudah tidak bisa menggambarkan kesedihan hatinya, hancur, luluh, sakit, dan ada dendam disana.
...***...
"Nona Stefhany mana?" Tanya Hanaria, saat tidak melihat teman magang Edrine yang biasanya selalu bersamanya.
"Stefhany sakit perut tadi pagi, sepertinya gangguan pencernaan....." Sahut Edrine, saat keduanya sama - sama memasuki lift pegawai yang sepi, karena hanya mereka berdua saja yang pulang paling belakang sore itu, karena mempersiapkan bahan presentasi untuk esok harinya.
"Sudah kedokter?" Tanya Hanaria yang berdiri bersisian dengan Edrine didalam lift menuju lantai dasar.
"Dokter Herman sudah memeriksanya, dan diberi obat. Jadi hari ini Stefhany disuruh beristirahat saja dulu dirumah." Sahut Edrine.
__ADS_1
"Ting - tong......!" Lift pegawai yang membawa Hanaria dan Edrine terbuka dilantai dasar.
"Apakah aku boleh ikut kak Hana pulang? Kalau tidak merepotkan tentunya......." Tanya Edrine kemudian, sambil melangkah keluar dari lift pegawai mengikuti Hanaria.
"Boleh, Dimana kau tinggal nona Edrine, sampai sekarang aku tidak mengetahuinya." Ucap Hanaria, sambil berjalan beriiringan, ia menyesuaikan langkah kakinya dengan langkah kaki Edrine yang lebih pendek dari langkahnya.
"Satu bangunan dengan apartemen kak Willy?" Sahut Edrine.
"Kebetulan tujuannya satu arah dengan rumah sakit Pemerintah, aku mau kesana untuk menjemput adikku." Hanaria menekan kunci mobilnya, lalu segera masuk dan duduk dibelakang kemudi, diikuti Edrine yang duduk disebelahnya.
Setelah selesai memasang sabuk pengamannya, Hanaria mulai menghidupkan mesin mobilnya. Mobil yang dikemudikannya merayap perlahan meninggalkan lahan parkir pegawai yang sudah kosong.
Bebepa cleaning service terlihat lalu lalang diarea gedung perkantoran untuk melaksanakan tugas mereka.
"Kenapa nona Edrine tidak tinggal bersama tuan Moranno dan nyonya Yurina saja?" Tanya Hanaria. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, terkadang harus menginjak rem, karena situasi lalu lintas masih cukup ramai.
"Kasian Stefhany kalau tinggal sendiri diapartemen kak..... Saat kuajak tinggal bersama dirumah besar paman dan bibi, Stefhany tidak mau." Sahut Edrine sambil memperhatikan lalu lintas yang padat dihadapannya.
"Ngomong - ngomong...... nona Edrine tahu tuan muda Willy kemana? Dua minggu belakangan ini aku tidak melihatnya?" Tanya Hanaria memancing.
"Eumm...... Aku......" Edrine nampak ragu untuk mengatakan yang sebenarnya, mengingat ancaman kakak sepupunya itu.
"Kenapa? Nona Edrine sepertinya terlihat ragu?" Ucap Hanaria melirik sebentar kearah Edrine yang duduk disampingnya.
"Tidak kak, aku tidak ragu..... Aku juga tidak tahu kalau kak Willy kemana selama dua minggu ini. Mungkin tuan Doffy tahu kak....." Sahut Edrine berkelit.
"Menurut tuan Doffy, tuan muda sedang mengunjungi beberapa proyek yang sedang berjalan diluar kota. Tapi menurut tuan Moranno tadi pagi, saat ia memanggilku keruangannya, tuan muda Willy sedang berada didusun kelahiranku? Menurut nona Edrine, siapa yang berbicara benar? Tuan Doffy, atau tuan Moranno?" Hanaria melemparkan pertanyaannya pada Edrine, sambil melirik dengan ekor matanya untuk mengetahui ekspresi gadis disebelahnya itu.
"Itu.... kak..... Yang benar adalah paman Moranno. Maafkan aku kak..... Sudah berbohong." Sahut Edrine yang tidak mampu melanjutkan kebohongannya lagi. Hanaria langsung tersenyum tipis saat melihat wajah Edrine yang sedikit canggung padanya.
"Tidak apa - apa nona Edrine, aku hanya ingin memastikan saja, bahwa tuan muda benar - benar berada didusun kelahiranku atau tidak. Karena kedua orang tuaku juga tidak mengatakannya, walau dalam dua hari sekali, kami selalu saling bertukar kabar satu sama lain lewat telepon." Sahut Hanaria masih tersenyum tipis.
"Kedua orang tua kakak juga tidak memberi tahu kalau kak Willy ada disana?" Edrine menatap kearah Hanaria yang sedang fokus pada kemudinya.
"Iya, tadi siang aku sudah coba menghubungi kedua orang tuaku, namun belum bisa, mungkin mereka sedang sibuk berkerja disawah."
"Apakah kau tahu tentang kabar pernikahanku dengan tuan muda Willy?" Tanya Hanaria selanjutnya. Edrine semakin canggung, ia merasa bingung, harus menjawab yang sebenarnya atau berbohong lagi.
"Katakan saja dengan jujur nona Edrine, tidak perlu menutup - nutupi. Sejujurnya, saat ini, aku juga sedang butuh teman bicara." Ucap Hanaria datar.
Edrine memperhatikan wajah Hanaria dari samping saja, ia dapat melihat suatu beban berat tergambar diwajah wanita yang sudah menjadi dosen privatenya yang belum genap satu bulan ini.
"Aku tahu kak..... Bibi Yurina yang memberitahuku semalam saat aku berkunjung kerumah besar mereka. Aku disuruh bersiap juga untuk ikut kedusun kakak lusa." Sahut Edrine jujur.
"Apa nona Edrine juga tahu apa alasan kami menikah?" Lanjut Hanaria.
"Iya kak aku tahu, bibi Yurina juga yang memberitahuku....." Sahut Edrine hati - hati sambil menganggukan kepalanya pelan.
"Sebenarnya aku sudah berusaha supaya lepas dari pernikahan yang tidak seimbang ini. Aku tidak pernah membayangkan menjadi menantu dalam keluarga besar kalian nona Edrine. Kami dari keluarga dusun yang sederhana." Ungkap Hanaria memulai kembali obrolannya.
"Itulah sebabnya aku membuat persyaratan yang tidak masuk akal itu supaya baik tuan muda, maupun kedua orang tuanya merasa tidak suka padaku, ilfil padaku, mengganggapku matre, dan lain sebagainya yang buruk. Tapi malah sebaliknya yang terjadi." Ucap Hanaria datar. Dan pandangannya tetap fokus memperhatikan jalan didepannya.
__ADS_1
"Aku bingung, harus berkata apa pada ayah dan ibuku nanti. Mereka tidak tahu kalau aku membuat persyaratan dan permintaan gila itu. Mereka pasti sangat marah padaku." Edrine dapat melihat wajah Hanaria yang khawatir.
" Itu karena aku fikir tuan muda Willy tidak akan menyanggupinya walau aku tahu mereka mampu melakukannya. Karena siapa aku ?? Aku bukan siapa - siapa nona Edrine. Aku hanya perempuan dusun. Jadi aku fikir mereka tidak akan mau melakukannya, ternyata diluar dugaanku."
"Dan sekarang, aku tidak punya kesempatan untuk menjelaskan pada kedua orang tuaku, mereka pasti salah faham padaku nona Edrine." Kepala Hanaria langsung berdenyut saat mengatakan hal itu.
"Bagaimana kalau malam ini saja kak Hana menelpon kedua orang tuanya kak Hana?" Edrine membantu memberikan ide.
"Setelah menjemput Firlita, aku harus ikut nyonya Yurina memfitting gaun pengantin malam ini, besok kita akan menghadiri undangan tender, lusanya kita akan berangkat kedusun. Memang malam sebelum berangkat masih bisa menelpon, tapi pembahasan sepenting ini, kalau tidak dicari waktu yang baik akan menambah buruk keadaan." Keluh Hanaria.
"Iya kak Hana benar...... " Edrine ikut kasihan pada Hanaria.
"Aku hanya bisa berharap semuanya akan baik - baik saja. Semoga ayah dan ibuku tidak salah faham padaku." Ucap Hanaria terlihat lesu.
"Amin..... Aku mendokan yang terbaik juga buat kak Hana juga buat kak Willy." Edrine turut mengucapkan harapan dan doanya.
"Sebenarnya, keluarga besar kami tidak memandang kelas dalam memilih seorang menantu. Bila paman dan bibi seakan ngotot, supaya kak Hana menikah dengan kak Willy, pasti ada sesuatu yang istimewa pada diri kak Hana, terlepas dari kasus penyebaran video itu."
"Jadi kak Hana jangan berfikir kalau pernikahan kak Hana dan kak Willy tidak seimbang" Ucap Edrine sambil memperlihatkan senyum manisnya.
"Apakah nona Edrine mengatakan itu hanya untuk menghiburku?" Ucap Hanaria datar. Ia masih larut dalam rasa kalutnya.
"Tidak kak Hana, aku mengatakan hal yang sebenarnya." Ucap Edrine segera menyanggah.
"Bisakah nona Edrine katakan padaku tentang tuan muda Willy. Misalnya makanan apa yang tuan muda suka, dan tidak suka. Berapa pacarnya? Hobby? Atau apa saja yang nona tau tentang tuan muda, beliau kan kakak sepupu nona? Nona pasti banyak tahu tentangnya."
"Yang terutama..... Bagaimana membedakan antara tuan muda Willy dan tuan muda Billy kakaknya? Saya takut salah nantinya nona. Terus terang saya banyak tidak tahu tentang tuan muda." Ucap Hanaria.
Saat Hanaria menanyakan semuanya itu, Edrine memperhatikan wajah Hanaria yang serius, dan terlihat bersungguh - sungguh ingin tahu tentang pria yang menjadi calon suaminya itu.
Senyum Edrine mendadak terbit, dan ia berusaha menahan senyumnya, tapi tidak berhasil. Hanaria yang melihat senyum Edrine merasa sedikit terganggu, pasti adik sepupu Willy itu salah faham atas semua pertanyaannya barusan, fikir Hanaria menduga.
"Apa yang nona Edrine fikirkan? Jangan salah faham, aku hanya tidak ingin menjadi seperti orang bodoh dihadapan tuan muda, karena tidak tahu apa - apa tentangnya." Ucap Hanaria, ia berusaha meyakinkan Edrine untuk tidak berfikir yang bukan - bukan.
Edrine semakin tidak bisa menahan senyumnya, bahkan ia sampai tertawa kecil membuat Hanaria menoleh sejenak padanya, lalu kembali menatap kearah jalan didepannya, dan tetap fokus pada kemudinya.
"Kenapa nona tertawa? Apa ada yang terdengar lucu dari pertanyaan saya nona?" Tanya Hanaria datar, dan sedikit merasa bingung pada Edrine.
"Tidak ada yang lucu kak Hana. Hanya saja..... aku merasa kak Hana sebentar lagi akan jatuh cinta pada kak Willy." Ungkap Edrine masih berusaha menahan tawanya supaya tidak meledak dan menyinggung perasaan Hanaria.
"Jatuh cinta?..... Tidak, aku dan tuan Willy, kami berdua sama - sama tidak saling cinta. Pernikahan ini terjadi karena kesalah fahaman saja nona." Ucapnya berusaha meluruskan pemikiran anak magang asuhannya itu.
"Itu awal tanda - tanda akan jatuh cinta kak Hana. Pepatah mengatakan 'tak kenal makanya tak sayang', kalau sudah kenal kak Hana pasti akan sayang pada kak Willy nantinya." Ucap Edrine lagi dengan senyumnya yang semakin tidak bisa ia tahan.
"Terserah nona Edrine saja, tapi tolong beritahu padaku tentang yang kutanyakan tadi...." Hanaria tidak mau berdebat lebih lanjut. Ia hanya fokus, bagaimana dirinya harus tahu tentang Willy dari sepupunya itu, supaya ia tidak dipermalukan saat berada ditengah - tengah keluarga besar Agatsa nantinya.
"Yang banyak tahu tentang kak Willy dan kak Billy sebenarnya adalah kak Rosalia, kak Hana....." Ucap Edrine.
"Dokter Rosalia maksudnya?" Hanaria memastikan.
"Iya..... kak Rosalia, dokter kandungan yang berkerja dirumah sakit pemerintah." Sahut Edrine membenarkan.
__ADS_1