
Willy memasuki kamar, ia memandang Hanaria yang sedang menangis memeluk selimut tebal milik bayi Elvano yang ia beli saat bayi itu baru sehari menginap diapartemen mereka dan tidak memiliki selimut hangat.
Drrtt. Drrtt. Drrtt.
Willy segera meraih ponsel yang bergetar dalam sakunya, ia melihat pada layar, ternyata ayahnya yang sedang menelpon.
"Willy, apa urusanmu sudah selesai?" tanya Moranno dari ujung sambungan telepon.
"Urusanku sudah selesai Dad, tinggal menunggu hasil putusan pengadilan saja." sahut Willy.
"Kalau begitu, lekaslah kembali kekantor. Ada klien yang ingin bertemu," ujar Moranno lagi.
"Maafkan aku Dad, aku belum bisa kembali, tolong Daddy saja yang meng-handle-nya. Hanaria tidak bisa ditinggal," sahut Willy dengan suara pelan sambil melirik Hanaria yang masih menangis memeluk dan menciumi selimut bayi Elvano ditepi pembaringan.
"Apa yang terjadi dengan menantu Daddy?" tanya Moranno khawatir, ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada menantunya dan kandungannya.
"Hanaria, dia baik-baik saja, begitu pula kandungannya. Ia sedang sedih karena bibi Narsih membawa bayi Elvano pulang," jelas Willy singkat.
Moranno langsung bernafas lega,"baiklah kalau begitu. Temani saja isterimu," Setelah berkata demikian Moranno menutup teleponnya.
Willy menyimpan kembali ponselnya kedalam saku. Ia mendekati Hanaria, lalu duduk disebelah isterinya, ditepi pembaringan, membawa tubuh isterinya itu masuk kedalam pelukannya sambil mengusap lembut punggungnya.
Untuk sesaat lamanya Willy membiarkan Hanaria larut dalam situasi hatinya, meratapi kepulangan bayi kecil Elvano yang sering kali mengganggunya.
Terus terang, kehadiran bayi Elvano sering membuat Willy kesal, karena acap kali membuatnya terpaksa harus menghentikan kesenangannya pada Hanaria saat bayi itu datang dengan tangisannya. Ya, tentu saja bayi itu mendapat perhatian dari isterinya, dan terpaksa ia yang harus mengalah.
__ADS_1
Antara sedih dan senang, mungkin itu yang sedang dirasakan Willy. Ia belum siap berbagi kasih sayang Hanaria dengan bayi yang akan mereka adopsi. Ia berharap saat bersama isterinya, tidak ada bandit kecil yang ia juluki seperti itu saat melihatnya.
Tapi kehadiran bayi Elvano, tanpa ia sadari, ternyata banyak memberi keceriaan didalam apartemennya. Hanaria yang sering cemberut karena bosan tinggal-diam dirumah, lebih banyak tersenyum dan tertawa saat mengasuh bayi mungil yang baru belajar makan-makanan lunak karena usianya sudah memasuki tujuh bulan, sehingga dalam beberapa hari, bayi itu terlihat lebih berisi, lebih ceria, dan lebih sehat dibandingkan hari pertama ia datang diapartemen itu.
Willy juga ingat, saat bayi itu suka naik keatas punggungnya, sambil menarik-narik rambut kepalanya, disaat dirinya pura-pura marah pada Hanaria yang tidak menghiraukannya, karena lebih banyak memperhatikan bayi itu.
Dengan suara tidak jelasnya, bayi itu akan berceloteh dengan riang hingga air liurnya terjatuh tanpa sengaja ketengkuk Willy, membuat dirinya jijik merasakan lendir yang meleleh turun kelehernya.
Belum lagi Willy merasa mual saat tiba-tiba bayi itu BAB tanpa permisi diranjang mereka. Masih banyak lagi hal-hal yang mengesalkan lainnya ditimbulkan oleh bayi itu.
Tapi Kini, hal-hal mengesalkan itu, tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang dirindukan oleh Willy saat bayi itu menghilang dengan tangisnya dibalik pintu lift yang tertutup bersama pengasuhnya bibi Narsih.
"Hana, aku tahu perasaanmu. Tapi kau harus ingat, ada bayi kita dalam kandunganmu," lirih Willy masih mengusap lembut punggung isterinya itu.
Hanaria tidak menjawab, ia masih saja sesenggukan, masih memeluk dan mencium selimut hangat milik bayi Elvano. Menghirup aroma tubuh bayi itu yang masih tertinggal disana.
"Elvano-, aku sayang padanya," ucap Hanaria dengan suara paraunya sambil menangis.
"Tapi bagaimana kita bisa mendapatkan hak asuh atas bayi itu? Persyaratan yang diajukan oleh nyonya Mingguana terlalu berat," keluh Hanaria. Tanpa menghiraukan kata-kata Willy yang menyuruhnya beristirahat.
"Aku bukanlah orang hebat yang bisa memimpin banyak perusahaan sekaligus. Aku tidak punya pengalaman hebat itu. Aku hanya bisa menjadi seorang pegawai. Ya, seorang pegawai arsitek dan pegawai marketing," keluh Hanaria lagi dengan putus asa.
Kini giliran Willy yang terdiam. Didalam hati, ia membenarkan apa yang dikatakan oleh isterinya itu, memang tidaklah mudah memimpin perusahaan. Satu perusahaan Agatsa Properti Group saja sudah membuat dirinya kadang kelimpungan bila tidak dibantu oleh ayahnya. Baru-baru ini saja ayahnya menambah dua Perusahaan keluarga lainnya yang harus ia pimpin, itupun masih bergerak dibidang jasa properti, sama dengan perusahaan induk yang sedang ia pegang sekarang.
Dirinya juga tidak tega, membiarkan Hanaria menyanggupi persyaratan nyonya Mingguana yang tidak masuk akal itu, apalagi sekarang isterinya itu sedang berbadan dua, tidak boleh terlalu lelah, tidak boleh stress. Itulah sebabnya ia sangat senang saat isterinya itu memutuskan untuk resign dari pekerjaannya.
__ADS_1
"Aku tahu, aku tahu nyonya Mingguana sengaja memberi persyaratan sulit itu padaku. Supaya aku tidak bisa mengadopsi bayi Elvano," sambung Hanaria lagi dan masih sesenggukan, membuyarkan lamunan Willy.
"Kasihan bayi Elvano, bayi yang malang, sama malangnya dengan ibunya," kembali Hanaria mengeluarkan unek-unek dihatinya yang terdengar sangat putus asa.
"Sudahlah Hana, kau tidak boleh larut dalam kesedihanmu. Itu tidak baik untuk kesehatanmu dan juga bayi yang sedang kau kandung," kata Willy mengingatkan.
"Kata-kata adalah doa. Bila kau memperkatakan hal yang baik, maka kebaikan itu akan datang padamu bila waktunya sudah tiba. Bila hal-hal buruk sering kau perkatakan, hal buruk yang tidak kau inginkan itu bisa datang walau kau tidak menginginkannya," kata Willy berusaha memberi kekuatan dan nasihat pada isterinya itu, hal itu memang sangat jarang ia lakukan.
"Aku mengenalmu sebagai orang yang tidak mudah menyerah dan putus asa, kau punya prinsip yang kuat, itulah salah satu alasanku setuju dengan ide mommy menikahimu." ungkap Willy rendah.
Hanaria menghentikan tangisnya, ia menatap wajah Willy disebelah wajahnya, "Apakah ini sekedar ucapan hiburan buatku supaya rasa sedihku berkurang?" tanyanya dengan mata sembabnya.
"Hmm. Sebenarnya iya." sahut Willy dengan senyum konyolnya.
"Iiiiihhh! Kau memang sangat menyebalkan!" Hanaria lalu memukul dada suaminya sekedarnya, tanpa tenaga dengan kedua tangannya. Bisa-bisanya, disaat ia sedang sedih, menangisi kepulangan bayi Elvano dengan pilu, suaminya itu malah mengajaknya bercanda.
Willy terkekeh mendapat pukulan tidak berarti dari isterinya itu. Ia kembali memeluk erat isterinya dengan penuh sayang. "Aku mencintaimu, benar-benar mencintaimu Hana," ucapnya penuh perasaan.
"Bohong! Kau pasti bohong lagi 'kan? Hanya untuk menghiburku 'kan?" ucap Hanaria pura-pura ketus.Ia tahu apa yang diucapkan suaminya itu keluar dari hatinya.
"Mau bukti?" tanya Willy masih mempererat dekapannya.
"Buktikan!" tantang Hanaria.
"Itu, dalam perutmu sudah ada buah cintaku, buah cinta kita, buah cinta diriku dan dirimu," ucap Willy sambil mencium pucuk rambut Hanaria lembut dan penuh perasaan.
__ADS_1
Bersambung...👉