HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
278. Vaksin


__ADS_3

Dengan langkah buru-burunya, Rosalia kembali keruangannya setelah makan siang bersama ayahnya, berharap laki-laki pujaan hatinya itu masih ada disana, walau ia sadar itu tidaklah mungkin dengan durasi istirahat jam makan siangnya yang cukup lama.


Rosalia menertawakan dirinya sendiri didalam hati dengan rasa pilu saat mendapatkan ruangannya kosong dan tidak ada Billy disana, menyakitkan memang.


Ia tahu maksud ayahnya baik, tapi itu terlalu berlebihan bila meninggalkan Billy yang menemuinya siang itu untuk makan siang dengan gaya arogan ayahnya.


Dengan wajah lesu Rosalia duduk dikursinya, memandangi lantai ubin dimana Billy dipaksa ayahnya push up disana satu jam yang lalu.


"Dokter, ini kotak cokelat Anda," suster jaga menghampirinya, dan meletakan diatas meja kotak cokelat yang dititipkan Rosalia sebelum padanya.


Rosalia memandang suster jaganya itu penuh tanya.


"Maafkan saya Dok, saya tidak sempat memberikannya pada tuan Billy, karena ada nyonya Hanaria datang membawa bayi-bayinya untuk di vaksin. Saat saya masuk, tuan Billy sudah tidak ada didalam," terang suster itu seolah mengerti arti tatapan Rosalia, ia merasa tak nyaman, karena amanat Rosalia tidak tersampaikan.


"Tidak apa-apa Sus," sahut Rosalia tersenyum hambar. "Berkas pasien operasi caesar sudah diantar pada bagian administrasi?" tanyanya, saat melihat berkas yang ia kerjakan sebelumnya sudah tidak ada diatas meja.


"Sudah Dok," sahut suster itu.


"Dimana nyonya Hanaria dan bayi-bayinya, persilahkan mereka masuk sekarang," ucap Rosalia, ia ingat bahwa hari ini memang jadwal bayi-bayi Hanaria untuk vaksin.


"Baik Dok," suster itu bergegas keluar, memanggil Hanaria yang menunggu ditaman rumah sakit bersama bayi-bayinya.


Tidak lama berselang.


"Selamat siang dokter cantik," sapa Hanaria sambil mendorong kereta Elvano memasuki ruangan, sementara bibi Salu dan bibi Sun mengikuti dari belakang dengan mendorong 2 kereta bayi kembarnya.


"Nona Hana bisa saja," Rosalia terkekeh beralih dari buket mawarnya yang ia taruh diatas lemari berkasnya yang hanya setinggi 120 sentimeter.


"Kalau saya cantik, pasti sudah laku seperti Nona Hana," sambung Rosalia lagi.

__ADS_1


"Wanita secantik Dokter bukannya tidak laku, tapi masih belum saja, masih menanti waktu, seperti sebuket mawar cantik itu, akan dipetik begitu masanya tiba," ucap Hanaria memandang pada buket mawar yang ditaruh Rosalia diatas lemari berkasnya.


Rosalia kembali terkekeh mendengar ucapan Hanaria, ia ikut memandang kearah buket bunganya, rasa sesak kembali terasa dalam dadanya manakala mengingat perlakukan ayahnya sejam yang lalu pada sang pemberi mawar itu.


Juga mengingat ketidak berdayaannya menghentikan perlakuan ayahnya pada Billy. Baru saja hatinya begitu bahagia menerima pernyataan Billy menitipkan hatinya padanya dan ajakan menikah yang tiba-tiba, namun segera terhempas begitu ayahnya datang dengan segala hukumannya.


"Bukankah mawar itu sangat cantik?" Rosalia seolah meminta dukungan pada Hanaria untuk menguatkan hatinya dalam melanjutkan aktifitasnya hari itu ditengah hatinya yang sedang merana akibat ulah ayahnya.


"Tentu saja, mawar segar itu sangat cantik, secantik Dokter. Pasti orang yang memberikannya sangat istimewa," ucap Hanaria beralih dari mawar itu pada Rosalia, dalam hatinya ia sudah bisa menebak bila itu adalah pemberian Billy kakak iparnya.


"Iya, Dia sangat istimewa," ucap Rosalia dengan senyum manisnya sambil membayangkan sosok Billy. Senyumnya kembali memudar dan berubah sedih, mengingat Billy yang mungkin belum makan siang.


"Sebentar Nona," Rosalia buru-buru mengambil tasnya dan mengeluarkan ponsel dari dalamnya. Untuk beberapa saat terlihat ia sibuk menelpon seseorang, tapi sepertinya tidak ada jawaban, dan itu tetap dilakukannya beberapa kali hingga akhirnya raut perempuan itu nampak lesu.


"Apa dokter baik-baik saja?" tanya Hanaria melihat perubahan raut dokter kandungannya itu.


"I-iya, saya baik Nona," Rosalia tergagap dan segera tersadar, ini adalah jam efektif kerjanya.


"Heum, mereka semua terlihat sehat," Rosalia tersenyum, memandangi wajah Elvano, Elnathan dan Jonathan yang memandangi dirinya sambil tertawa gembira.


"Kalian pasti minum ASI dan makannya banyak 'kan??" Rosalia begitu gemas melihat pipi-pipi gembil bayi-bayi gembul yang tidak berhenti berceloteh itu.


Hanaria ikut tersenyum memandangi interaksi Rosalia pada ketiga putranya, ia masih berdiri ditempatnya semula saat Rosalia memulai vaksinnya dengan dibantu dua perawat dan dua pengasuh bayinya.


Melihat kesigapan dokter cantik itu, Hanaria kembali teringat pada Billy, kakak iparnya, saat dirinya baru saja tiba diruang tunggu.


Flashback On :


Suasana ruang tunggu nampak sepi karena jam istirahat makan siang sudah tiba, setelah meminta bibi Salu dan bibi Sun duduk dikursi ruang tunggu menemani 3 putranya, Hanaria bergegas mendekati suster yang masih sibuk memeriksa buku daftat pasien dihari itu.

__ADS_1


"Suster, dokter Rosalia ada?"


Suster itu mendongakan wajahnya dari buku yang menjadi pokusnya, beralih pada Hanaria yang bertanya padanya.


"Dokter Rosalia baru saja keluar makan bersama ayahnya," terang suster itu. "Ada keperluan apa Nyonya?" tanyanya.


"Hari ini jadwal ketiga putra saya untuk vaksin Sus," ucap Hanaria.


"Sebentar Nyonya, saya periksa jadwalnya sebentar," suster itu lalu membuka satu buku lagi yang ada disisi mejanya, ia sudah sangat mengenali Hanaria karena wanita itu sudah sering melakukan pemeriksaan kesehatan dirinya dan bayi-bayinya mulai dari wanita itu mengandung hingga sekarang.


Sementara itu Hanaria melirik kedalam ruangan karena mendengar suara seseorang yang sangat dikenalnya sedang sibuk berhitung mundur dengan suara lantang didalam sana.


"Kakak ipar!" pekik Hanaria tertahan karena kaget. "Apa yang Kakak lakukan didalam?" Hanaria buru-buru meninggalkan suster yang masih memeriksa bukunya.


Suster itu sempat ikut kaget walau suara Hanaria tidak terlalu nyaring, tapi ia kembali melanjutkan pemeriksaan jadwalnya ketika melihat Hanaria masuk ke ruangan Rosalia.


"A-adik ipar?" Billy turut kaget saat mendengar suara Hanaria. Ia buru-buru berdiri walau masih tersisa 7 hitungan push up lagi.


"Apa yang Kakak Ipar lakukan sendirian disini?" Hanaria kembali mengulang pertanyaannya, raut penasarannya membuat Billy salah tingkah.


"Em, itu--, Kakak lagi melatih stamina sambil menunggu Rosalia." bohong Billy.


"Kakak permisi dulu ya, ada panggilan darurat," ucap Billy lagi memperlihatkan ponsel yang ia keluarkan dari sakunya dan segera bergegas pergi.


"Iya Kak," sahut Hanaria memandangi kepergian kakak iparnya itu. Ia merasa kakak iparnya itu sedang berbohong, mengingat suster petugas didepan mengatakan Rosalia baru saja keluar makan siang dengan ayahnya.


Mungkin saja apa yang kakak iparnya itu lakukan ada hubungannya dengan ayah dari dokter Rosalia, fikirnya. Bukan tanpa alasan dirinya berfikir demikian, karena saat dirumah sakit beberapa bulan lalu, ia pernah melihat langsung bagaimana ayah dokter Rosalia itu menendang kaki kakak iparnya itu dan memaksanya push up seperti yang ia lihat dilakukan kakak iparnya hari ini.


Flashback Off

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2