
"Iya nak Firlita...... kami juga senang kau ada disini. Jadi Hanaria ada yang menemani, tidak sendirian. Ayo, bangkitlah...... " Ucap ibu Muri lembut sambil membantu Firlita berdiri dari posisi bersujudnya.
"Terima kasih banyak bapak dan ibu..... boleh saya panggil bapak dan ibu sama seperti kak Hana memanggil?" Tanya Firlita agak ragu, takut permintaannya ditolak.
Ibu Muri tersenyum mendengar permintaan Firlita." Boleh saja nak Firlita, kau boleh memanggil kami apa saja, bila kau merasa nyaman memanggilnya. Iya kan yah....." Ujar ibu Muri sambil menoleh kearah suaminya yang duduk disebelahnya.
"Iya nak Firlita......" Sahut pak Muri menganggukan kepalanya,.menyetujui apa yang dikatakan isterinya.
...•••...
Moranno mengecup kening Yurina yang sedang memeluknya, saat ia baru saja turun dari mobilnya.
"Kau lelah suamiku.....??" Tanya Yurina.
"Tidak sayang...... aku hanya ingin mandi, tubuhku berasa lengket....." Sahut Moranno. Ia memeluk pinggang isterinya itu dan mengajaknya masuk kerumah.
Tin..... tin..... tin......
Mobil sport merah menyala memasuki halaman mansion mewah mereka dan berhenti tepat dibelakang mobil milik Moranno.
Yurina mengulas senyumnya saat pintu mobil dibelakang kemudi terbuka dan turun putranya yang dirindukannya. Willy segera menghampiri kedua orang tuannya yang selalu terlihat mesra saat berdua.
"Mommy......." Willy langsung memeluk dan mencium wajah ibunya tanpa memperdulikan ayahnya yang masih memeluk pinggang ibunya.
Moranno dan Yurina mendengus - denguskan hidung mereka saat tidak sengaja mencium aroma aneh dari tubuh putranya itu.
"Willy..... kau anggap apa keberadaan daddy disini? Apa kau tidak lihat tangan daddy sedang apa?" Tegur Moranno pada putranya itu.
"Salah daddy...... Sudah tahu putranya datang, masih saja memeluk mommy, memangnya mommy milik daddy saja. Ingat ya dad..... mommy bukan hanya milik daddy, tapi milik anak - anaknya juga. Daddy saja yang bertemu mommy setiap hari selalu merasa rindu, apalagi kami anak - anak mommy yang tidak setiap hari bertemu mommy....... " Sahut Willy dengan penjelasan panjang lebarnya.
"Bertambah hari..... daddy lihat kau semakin pandai mengomentari daddymu Willy......" Ucap Moranno menatap datar pada putranya, tangannya masih belum melepaskan pelukannya pada pinggang isterinya.
"Sesuai kebebasan berpendapat yang sering dgaungkan daddy dalam keluarga kita......" Sahut Willy lagi yang baru saja melepaskan pelukannya dari ibunya.
"Sudah..... berhenti berdebat dengan daddymu....... tumben kau kemari sayang...... pasti ada sesuatu yang penting." Ujar Yurina menatap wajah putranya itu.
"Mommy benar....... Willy kemari memang ada sesuatu yang sangat penting..... Ayo ikut kemobil Willy........" Ajak Willy sambil terburu - buru menuju mobilnya yang hanya beberapa langkah dari tempat mereka berdiri.
Yurina dan Moranno saling berpandangan, wajah serius Willy membuat keduanya penasaran lalu mengikuti Willy dari belakang, namun tangan Moranno masih belum mau melepaskan pelukannya dari pinggang isterinya itu.
Willy membuka bagasi belakang mobilnya. Aroma menyengat langsung berlomba keluar membuat Moranno dan Yurina mengibas - ngibaskan tangan mereka kehidungnya masing - masing.
Mata Yurina dan Moranno sama - sama terbelalak saat melihat bagasi mobil Willy dipenuhi dengan buah - buahan lokal.
__ADS_1
"Willy untuk apa buah - buahan sebanyak ini kau beli, apa kau mau berpesta buah......?" Tanya Yurina pada putranya.
"Willy tidak membelinya mom..... orang tuanya nona Hana yang memberikannya pada Willy, mereka membawanya dari dusun. Willy tidak enak menolaknya, takut mereka tersinggung." Jelas Willy sambil menatap tumpukan buah yang masih berada dibagasi.
Willy melambaikan tangannya pada pak Karso dan seorang pelayan laki - laki yang berada tidak jauh dari mereka. Dengan tergopoh - gopoh keduanya mendekati Willy yang telah memanggil mereka.
"Ada yang bisa kami bantu tuan muda??" Tanya pak Karso.
"Tolong turunkan semua buah - buahan itu dari dalam mobilku dan bawa semuanya kedapur. Setelah itu, tolong bawa mobilku kesalon mobil ya pak Karso, sampai semua bau - bauan itu hilang, aku hampir saja mabuk menciumnya disepanjang jalan menuju kemari." Ucap Willy.
"Mom..... aku menginap disini dulu, supaya bisa ikut daddy saat berangkat dan pulang berkerja selama mobilku masuk salon."
"Iya Willy..... mommy senang sekali...... gara - gara buah - buahan itu kau bisa menginap disini bersama kami. Pergilah kekamarmu dan segeralah mandi." Yurina menepuk punggung putranya dengan lembut, hatinya begitu senang karena putranya itu lebih banyak menghabiskan waktu istirahatnya diapartemennya dengan alasan untuk mandiri.
Sepeninggal Willy, Yurina kembali mengarahkan pandangannya pada buah - buahan yang diturunkan oleh pak Karso dan seorang pelayaan laki - laki yang membantunya. Bermacam - macam jenis buah - buahan ada dalam bagasi itu.
"Suamiku..... banyaknya buah - buahan lokal ini mengingatkanku pada mas Arta, anaknya bibi Nur yang tinggal didusun." Ucap Hanaria yang mengingat tentang keluarga pengasuh dari kedua putra kembarnya.
"Iya sayang...... Mas Arta juga rajin sekali membawa oleh - oleh buah - buhan lokal seperti ini bila berkunjung kerumah kita." Sahut Moranno turut mengingat keluarga pengasuh yang sudah mereka anggap seperti keluarga sendiri.
...•••...
"Banyak sekali makananya mom......" Willy yang baru tiba diruang makan memandang meja makan yang penuh dengan berbagai jenis makanan.
"Oma mana mom.... kok tidak ikut makan malam bersama kita?" Tanya Willy saat memperhatikan kursi neneknya yang kosong.
"Oma sedang ada janji makan malam diluar bersama salah satu temannya....." Sahut Yurina sambil mengambil piring.
"Suamiku..... kau mau kuambilkan yang mana??" Tanya Yurina pada Moranno.
" Salad ayam saja sayang...... " Pandangan Moranno tertuju pada salah satu menu masakan yang tersaji ditengah - tengah meja makan.
Yurina lalu mengambil apa yang diminta suaminya, dan memasukannya kedalam piring ditangannya.
"Ini suamiku......" Yurina meletakan piring yang telah diisinya dihadapan Moranno.
"Terima kasih sayang......" Moranno mulai menyendok makanan dalam piringnya dan mulai menikmatinya.
"Willy..... kau mau yang mana nak......" Tanya Yurina pada putranya itu yang sibuk menatap semua menu makanan diatas meja.
"Willy mau itu saja mom.....pisang rebus. semua menu makan malam dimeja ini bisa menambah berat badan. Willy sudah susah payah berdiet." Sahutnya pada sang ibu.
"Sesekali tidak mengapa Willy, seperti daddymu......Apalagi kau jarang 'kan makan malam bersama mommy dan daady...... semua menu ini dimasak khusus untukmu......" Ujar Yurina, ia tetap mengambil pisang rebus yang diminta putranya itu.
__ADS_1
"Daddy sih makan apa saja tidak masalah mommy..... Daddy 'kan sudah tua..... tidak perlu jaga body ....." Sahut Willy seenaknya.
"Uhuk.....uhuk....uhuk....." Moranno tiba - tiba tersedak mendengar ucapan putranya yang tidak mengunakan rem pada mulutnya.
"Minum dulu suamiku......" Yurina buru - buru memberikan segelas air putih pada suaminya.
"Willy..... tidak boleh begitu pada daddymu...... Apakah kau tidak tahu, daddy sempat menjadi atlet marathon saat masih di SMU."
"Tahu mom.... daddy sering cerita berulang - ulang pada Willy..... sampai - sampai Willy bosan mendengarnya." Pungkas Willy sambil menikmati pisang rebusnya.
"Willy, malam ini 'kan kau menginap dirumah ini. Besok pagi kau jangan telat bangun, daddy menantangmu untuk jogging lalu lanjut marathon, bagaimana??" Moranno yang sejak tadi diam akhirnya tidak tahan dengan ledekan putranya itu.
"Oke..... siapa takut......!!" Sahut Willy menyetujui. Ia menahan senyumnya saat berhasil memancing ayahnya. Yurina yang melihan roman wajah Willy sudah dapat menebak apa yang ada dalam kepala putranya itu, dirinya hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat suami dan putranya itu.
"Sayang..... tolong ambilkan salad buahnya ....." Moranno yang baru menyelesaikan makan malamnya kembali menunjuk mangkuk besar yang ada didekat istrinya.
Yurina segera mengambil mangkuk kecil dan mengisiya dengan salad buah yang diminta oleh suaminya.
"Ini suamiku......." Moranno menerima salad dari Yurina dan segera memakannya dengan nikmat.
"Enak dad.....??" Willy memperhatikan wajah ayahnya yang begitu menikmati apa yang dikunyahnya.
"Tentu saja, buatan mommymu selalu enak......" Sahut Moranno terus menyuapi salad dari mangkuk dihadapannya.
"Willy mau coba mommy......."
Yurina mengambil mangkuk dan mengisinya dengan salad buah dan memberikannya pada putranya. Willy buru - buru menyendok dan memakannya. Rasa buah segar dipadu dengan mayones begitu terasa lezat dilidah. Willy menghabiskan isi mangkuknya dalam sekejap.
"Tambah lagi mom......." Willy menyodorkan mangkuknya yang sudah kosong pada ibunya. Yurina segera mengisinya lagi dan memberikan mangkuk yang telah diisinya itu kembali pada Willy.
"Sepertinya kau sangat menyukai salad buahnya Willy....." Ujar Moranno.
"Mmm..... tentu saja dad..... enak sekali....." Sahut Willy terus menyuapi hingga hampir menghabiskan isi mangkuknya.
"Itulah buah - buahan yang kau bawa dari rumah nona Hana, yang hampir membuatmu mabuk saat mencium baunya yang menyengat." Ujar Moranno lagi.
"Uhuk..... uhuk..... uhuk....." Willy langsung tersedak mendengar ucapan ayahnya.
Yurina buru - buru mengambil air putih untuk putranya itu. " Ini cepatlah minum Willy......"
Willy cepat - cepat meneguk air putih yang diberikan ibunya untuk meredakan tenggorokannya yang tiba - tiba terasa gatal.
...•••...
__ADS_1