
Hanaria baru saja tiba dikantornya saat terdengar suara notifikasi masuk diponselnya berdenting berkali-kali. Ia segera memeriksanya, mungkin saja itu pesan penting yang harus segera ia baca.
Saat berhasil membuka pesan, Hanaria terperangah, melihat saldo salah satu rekening milik Willy yang fantastis, padahal baru saja kemarin saldo itu bersisa lima digit saat terakhir ia membayar semua tagihan-tagihan atas nama suaminya, termasuk membayar bahan bangunan dan ongkos para tukang yang membangun mansion di kampungnya sesuai permintaannya dahulu.
"Satu, dua, tiga, empat,..... dua belas, banyak sekali," gumam Hanaria seorang diri menghitung digit angka yang tertera di saldo rekening Willy. "Suamiku itu ternyata banyak sekali pundi-pundi rupiahnya, "gumam Hanaria lagi saat melihat detail pemasukan dari saldo total yang masuk kerekening suaminya itu.
"Permisi Nona Hanaria, ada telepon dari kantor polisi. Anda bisa mengangkatnya langsung," ucap salah satu pegawai menghampiri Hanaria dimejanya, yang tengah pokus memperhatikan ponselnya dengan wajah tegang.
"Baiklah, terima kasih," Hanaria segera mengangkat gagang telepon diatas mejanya yang telah tersambung.
"Hallo, selamat siang, dengan saya Hanaria," sapa Hanaria.
"Selamat siang Nona Hanaria, saya June Charlos, yang tadi Nona telepon. Nyonya Mingguana sudah siap menerima telepon Anda, saya akan sambungkan sekarang," ucap suara pria diseberang sambungan telepon.
__ADS_1
"Baik Pak June, terima kasih," ucap Hanaria seraya menunggu sesaat.
"Halllo-, ada perlu apa menelponku." terdengar suara datar seorang wanita dari seberang sambungan telepon, menggantikan suara pria yang berbicara dengan Hanaria sebelumnya.
"Selamat siang Nyonya, apa kabar Anda hari ini?" tanya Hanaria membuka pembicaraan.
"Tidak perlu basa -basi, katakan apa yang kau inginkan," kata suara wanita itu masih terdengar datar.
Hanaria terdiam sejenak, amarahnya memang belum mereda karena kematian Firlita yang disebabkan Mahanedra, namun kondisi bayi Elvano yang sedang sakit dirumah sakit membuatnya mengesampingkan geramnya yang masih bercokol didadanya.
"Apa perduliku? Ibu bayi itu sudah menyebabkan aku dan putraku mendekam dibalik jeruji sialan itu," ujar nyonya Mingguana masih dengan suara datarnya. "Dan hingga kini, kami sengaja tidak membuatkan akte kelahiran bayi itu,"
Hanaria meradang, ia tidak menyangka seusia bayi Elvano belum memiliki akte kelahiran, dan Firlita semasa hidupnya-pun tidak mengatakan apa-apa tentang hal itu.
__ADS_1
"Manusia berhati batu. Tidak sedikitpun Nyonya merasa bersalah atas apa yang dilakukan putra Nyonya yang biadab itu pada mendiang Firlita," geram Hanaria dengan suara rendah, ia berusaha menekan volume suaranya.
"Terserah kau mau bicara apa, saya sudah tidak perduli lagi," gumam nyonya Mingguana nyaris tidak terdengar.
"Sayang sekali! Ya, sungguh sayang sekali! Kasihan bayi Elvano dan Lania, mereka anak-anak yang malang, memiliki ayah dan nenek yang tidak punya hati," ucap Hanaria geram seraya membuang napasnya kasar
"Anak-anak itu sama seperti ibu mereka yang sebatang kara, yang satu ditinggal mati oleh ibunya, dan yang satu lagi ditinggal ibunya masuk penjara. Masa depannya gelap. Lalu ayah dan neneknya akan membusuk dipenjara seumur hidupnya, dan harta benda yang Nyonya bangga-banggakan itu, yang Nyonya timbun selama ini, itu akan diberikan pada negara, yayasan sosial dan semacamnya, karena tidak ada ahli waris yang bisa menerimanya. Dan saya bebas, bebas dari perjanjian kita selama ini, saya akan melepaskan pekerjaan saya dengan segera dalam waktu dekat," Setelah mengeluarkan semua uneg-uneg dihatinya, Hanaria lalu memutuskan sambungan telepon dengan perasaan penuh kekesalan. Apa yang telah dilakukannya selama ini, hanya sia-sia belaka. Serasa usaha menjaring angin.
Sementara dikantor polisi, nyonya Mingguana masih menempelkan gagang telepon didaun telinganya. Serasa ada yang hilang diruang hatinya. Ia sudah berulang-ulang kali jatuh dan bangun dengan susah payah, dan dengan kekuatannya sendiri. Akankah semuanya hilang sekejap, seakan disapu angin tanpa bersisa. Begitu juga pewarisnya, penerus keluarganya sudah tidak ada lagi selain Mahendra, bila dirinya tidak memikirkan bayi Elvano dan Lania.
"Nyonya, waktu Anda sudah habis," kata seorang petugas menperingatkan, memudarkan lamunannya.
"Kami akan membawa Anda kembal," Karena tidak ada sahutan, petugas itu langsung membantu nyonya Mingguana untuk meletakkan gagang teleponnya kembali, dan memapahnya untuk berdiri lalu membawanya kembali ketempatnya.
__ADS_1
Bersambung...👉