
"Maafkan bila saya lancang untuk bertanya tuan......" Ucap tuan Doffy kembali membungkuk hormat.
"Katakan saja, apa yang ingin anda ketahui tuan Doffy....." Moranno menghentikan semua kegiatannya, wajahnya menatap datar pada pegawainya itu.
"Nonà Hana sudah berpamitan dengan seluruh pegawai yang ada di Divisi Arsitecture. Apakah itu artinya, tuan sudah menyetujui surat pengunduran dirinya?" Tanya tuan Doffy.
Moranno tertegun sejenak, lalu kembali menatap wajah tuan Doffy yang nampak sedih.
"Keputusan nona Hana tidak bisa ditawar tuan Doffy, ada hal yang membuatnya harus menerima pekerjaan barunýa itu." Sahut Moranno.
"Tapi itu tidak sesuai dengan pendidikan dan pengalaman kerjanya selama ini tuan....." Ucap tuan Doffy berusaha memprotes.
"Aku tahu tuan Doffy, tapi aku tidak bisa menahannya. Biarlah dirinya menyelesaikan hal yang memang harus ia selesaikan tuan. Mungkin, satu tahun lagi ia akan kembali berkerja disini." Sahut Moranno sambil menatap kearah luar jendela kaca.
"Apa maksud tuan dengan satu tahun lagi nona Hana akan kembali?" Tanya tuan Doffy meneliti wajah majikannya itu.
"Ia melakukan kontrak kerja selama satu tahun diperusahaan otomotif milik nyonya Mingguana." Jelas Moranno singkat.
"Nyonya Mingguana? Apakah tuan tidak khawatir calon menantu anda berkerja disana? Apakah tuan tidak tahu rumor tidak sedap tentang cara wanita itu menjalankan bisnisnya?" Wajah tuan Doffy nampak sedikit tegang saat mendengar nama majikan baru Hanaria.
"Awalnya aku merasa khawatir, sama seperti dirimu tuan Doffy. Namun setelah berbicara dengan nona Hana, aku percaya kalau dirinya tahu apa yang harus ia lakukan. Dan aku juga yakin, kalau nona Hana pasti sanggup menyelesaikan masa kontrak kerja satu tahunnya itu." Ucap Moranno menatap wajah tuan Doffy yang berdiri dihadapannya.
"Tok..... tok...... tok......" Kembali Moranno, tuan Doffy, sekretaris Morin dan asisten Rudi menoleh kearah pintu secara bersamaan, melihat siapa yang datang.
"Nona Hana, masuklah.......!" Ucap Moranno mempersilahkan, saat dilihatnya Hanaria berdiri didepan pintu.
Hanaria masuk sambil membungkuk hormat setelah berdiri dihadapan Moranno.
"Ada apa nona Hana?" Tanya Moranno menatap pegawai wanita yang sebentar lagi akan menjadi menantunya itu.
"Bolehkah saya berbicara hanya dengan tuan saja sebentar?" Ucap Hanaria dengan wajah sedikit menunduk.
"Tuan Doffy, asisten Rudi, dan sekretaris Morin.....! Tunggulah diluar sebentar." Perintah Moranno.
"Baik tuan......!" Ketiganya lalu membungkuk hormat dan segera keluar dari ruang kerja Willy.
"Apa yang ingin kau sampaikan nona Hana?" Tanya Moranno menatap datar Hanaria yang berdiri dihadapannya.
__ADS_1
"Tuan, dengan waktu yang begitu singkat, bagaimana keluarga saya didusun bisa menyambut kedatangan tuan dan keluarga, dan mempersiapkan upacara pernikahan dikampung? Apakah tidak perlu ditunda sampai semuanya siap dulu?" Ucap Hanaria berusaha mengulur waktu karena merasa belum memiliki persiapan apa - apa didusunnya.
"Apa yang sudah kita putuskan kemarin sudah tidak bisa ditunda nona Hana. Semua undangan sudah mulai dibagikan, bahkan semua rekan kerjamu di Divisi Arsitecture sudah menerima undangan pernikahanmu dengan putraku."
"Semuanya akan berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ku berikan padamu nona Hana. Lagi pula, Willy sudah mempersiapkan semua upacara pernikahan dikampung tepat seperti yang nona syaratkan di point 3 dan 4 permintaan itu." Jelas Moranno.
"Lalu bagaimana tempat penginapan tuan dan keluarga, bukankah itu juga harus dipersiapkan?" Tanya Hanaria lagi dengan wajah khawatir, ia sangat tahu kondisi didusunnya. Rumahnya yang terbilang kecil dan sederhana, tidak akan mampu menampung keluarga dari majikannya itu.
"Masalah itu..... Juga semuanya sudah dipersiapkan oleh Willy disana. Jadi nona Hana tidak perlu khawatir, dan tidak ada alasan lagi untuk mengundurkan jadwal upacara pernikahan kalian. Juga point 1 dan 2 akan segera diserahkan pada saat kita sudah tiba disana." Jelas Moranno lugas.
Hanaria kembali terdiam, ia bingung harus berkata apa lagi, selain terpaku ditempatnya berdiri dengan perasaan gugup.
...***...
Perjalanan panjang itu akhirnya tiba di dusun Rimba, dusun kelahiran Hanaria. Iring - iringan kedatangan rombongon Moranno menjadi perhatian dan tontonan para warga ditengah hari menjelang sore itu.
Sepanjang perjalanan memasuki dusun, warga berdiri didepan rumahnya masing - masing dengan wajah ceria sambil melambai - lambaikan tangannya kearah iring - iringan panjang, yang melitas didepan rumah mereka.
Hanaria merasakan situasi dusunnya nampak sedikit berbeda dibandingkan saat terakhir ia pulang beberapa bulan yang lalu. Lebih terlihat bersih dan rapi dari biasanya. Juga terlihat dekorasi - dekorasi kain warna - warni, dipasang pada tongkat - tongkat bambu yang melengkung sepanjang jalan kiri kanan yang mereka lalui.
"Warga disini ramah - ramah ya Hana......" Ucap Yurina memecah keheningan didalam mobil, yang duduk berdampingan dengan calon menantunya dicabin belakang, sementar Moranno duduk didepan bersama sopir pribadinya.
"Iya nyonya...... Didusun ini, memang seperti itu, para warga yang bertetanggaan sudah seperti keluarga.
"Panggil mommy Hana, bukan nyonya...... Bebrapa hari lagi, kau akan resmi menjadi isteri Willy....." Ucap Yurina mengingatkan, sambil menepuk - nepuk punggung tangan Hanaria yang ia raih kepangkuannya.
"Iya..... maaf mom....my......" Sahut Hanaria masih canggung. Sementara Moranno bersama sopirnya yang berada didepan masih setia dalam keheningan.
"Hmm..... pasti menyenangkan ya tinggal disini?" Ucap Yurina sambil tersenyum menoleh kearah Hanaria.
"Iya mommy......" Sahut Hanaria singkat, ia terlalu sungkan untuk bertutur kata panjang lebar pada calon ibu mertuanya itu, terlebih ada Moranno, calon ayah mertuanya yang duduk didepan, membuatnya bertambah sungkan.
Iring - iringan itu tiba - tiba berhenti.
"Ada apa?" Tanya Yurina sambil memperhatikan situasi sekitar.
"Sudah tiba didepan rumah saya nyonya...... mommy...." Ucap Hanaria, lalu buru - buru mengubah panggilannya, saat Yurina menatapnya. Ia membuka sambuk pengamannya, demikian juga dengan Yurina.
__ADS_1
Para Warga yang ada disekitaran rumah Hanaria menyaksikan Hanaria yang turun dari mobil, diikuti Yurina dan Moranno.
Pak Muri dan ibu Muri menyambut mereka dengan senyuman ramah di pekarangan rumah mereka yang berbahan kayu, dengan pagar yang sudah terbuka lebar.
Willy turun lebih dulu dari mobilnya yang berada pada iringan paling depan, dan langsung menghampiri kedua orang tua Hanaria itu sambil mencium punggung tangan mereka secara bergantian, lalu diikuti oleh Hanaria dibelakangnya.
Hanaria memperhatikan Willy sejenak, yang berdiri tidak jauh darinya. Dua minggu tidak melihat laki - laki itu, sepertinya ada perubahan pada warna kulitnya yang sedikit menggelap.
"Pak, bu..... perkenalkan ini daddy saya......" Ucap Willy memperkenalkan ayahnya sambil tersenyum.
"Moranno......" Ucap pria paruh baya itu dengan tersenyum sambil mengulurkan tangan terlebih dahulu pada ayah Hanaria.
"Muri......" Pak Muri segera menyambut tangan Moranno sambil membalas senyuman ayah dari Willy itu.
Selanjutnya Moranno menyalami ibu Muri sambil tetap tersenyum.
"Ini mommy saya......" Kembali Willy memperkenalkan ibunya pada pak Muri dan ibu Muri. Kembali para orang tua itu saling bersalaman.
"Bagaimana perjalanan tuan dan nyonya kemari.... pasti melelahkan karena perjalanan yang cukup jauh....." Ucap pak Muri pada calon besannya itu, seusai mereka berkenalan.
"Lumayan pak Muri...... Ini pertama kalinya saya berkunjung kemari. Beberapa kali ingin kemari untuk mengunjungi bibi Nur, tapi selalu saja ada halangan." Sahut Moranno, dengan senyum tipisnya.
"Bagaimana kalau kita masuk, dan mengobrol didalam." Pak Muri menawarkan.
"Terima kasih atas tawarannya pak Muri..... Nanti malam kami akan datang lagi kemari. Maklum, ada banyak anggota yang perlu diantar untuk beristirahat dulu. Jadi, kami mohon pamit dulu." Ucap Moranno sopan.
"Baiklah tuan dan nyonya......" Sahut pak Muri memaklumi sambil mempertahankan senyum ramah diwajahnya.
"Ini barang nona Hana......" Ucap pak Karso, sopir Moranno, menyerahkan koper milik Hanaria yang ia ambil dari bagasi belakang mobil.
"Terima kasih pak....." Ucap Hanaria.
"Baiklah kami pamit dulu...... " Ucap Moranno.
"Iya tuan....." Sahut pak Muri, sambil mengantarkan Moranno dan Yurina ke mobil diikuti oleh ibu Muri, isterinya.
Sementara Willy kembali ke mobilnya yang berada diiringan paling depan, tak sedikitpun ia menoleh pada Hanaria. Dan gadis itu tidak terlalu perduli pada sikap CEOnya itu.
__ADS_1