
"Memang gara - gara kau Hana, coba kau tidak ngumpet didalam, aku pasti tidak akan menarik - narik dirimu sampai menabrak pak Harison......" Sungut Norsa, ia merasa malu, apalagi teman - temannya yang lain ikut menertawai dirinya, termasuk Hanaria.
"Norsa, mulai sekarang..... kau tidak boleh memanggil temanmu itu hanya namanya saja saat dikantor, tapi 'IBU' atau lebih lengkapnya 'IBU WAKA DIVISI ARSITECTURE'. Kalau tidak, kalian pasti tahu akibatnya......." Ucap Harison mengingatkan.
Mendengar ujaran Harison ; Norsa, Shasie, Linda, dan Laras saling berpandangan. Bukannya menurut, mereka malah tertawa terbahak - bahak. Harison mengerutkan keningnya, apa yang lucu pada ucapannya, fikirnya.
"Ahhh.......! Sudahlah.......!" Kita makan dulu........! Udah laperrr nihhhh........!" Ucap Shasie sambil memegang perutnya, wajahnya terlihat memelas.
"Iya, Hana....... Aku juga laperrrrr........ Yuk, makan.........??" Linda ikut memegang perutnya.
"Aduuuuhhhh...... maaf beribu maaf ya para bestieku sayang...... aku sudah ada janji dengan temanku dari dusun, untuk makan siang bersamanya, dia sudah menungguku." Ucap Hanaria sambil menyatukan kedua tangannya didada, dan dengan sengaja membuat matanya berkedip - kedip seperti boneka.
"Owhhhhhh...... Gitu yaaa..... Udah jadi WAKA Divisi...... Kita - kita dilupain......." Wajah Laras langsung terlihat cemberut.
"Bukan gitu juga Laras sayangggg...... Aku janji, 'ntar sore pulang kerja, aku traktir kalian, gimana?? Kalau sekarang...... pleaseee...... beri aku waktu untuk nemanin temanku makan siang......... okey.......??" Hanaria memeluk punggung Laras, ia berusaha membujuk dengan gaya yang manis keempat sahabatnya itu. Kalau tidak, ia khawatir para gadis itu bisa memakan dirinya, disaat mereka sedang lapar seperti saat ini.
"Memang sepenting apa sih temanmu itu Hana.....??. laki - laki? atau perempuan?" Tanya Shasie penasaran, ia memperhatikan wajah Hanaria yang hanya mengulas senyumnya.
"Laki - laki......" Sahut Hanaria seadanya.
"Ganteng gak.......???!" Shasie semakin penasaran, sambil mendekati Hanaria.
"Mmmm....... Ganteng gak yaa......?? Ganteng juga sih......!" Sahut Hanaria jujur.
"Kalau begitu...... aku ikut denganmu Hana.......! Please....... Aku ikut yaa Hana........???? Pleasee.......??." Rengek Shasie, tangannya memegang erat tangan Hanaria.
"Baiklah........ Kalian bertiga, apa sekalian mau ikut juga seperti Shasie?" Tanya Hanaria pada Linda, Norsa, dan Laras.
"Ogahhh.......! Kasian temanmu itu Hana...... ! 'Ntar pulang dari makan siang, dia langsung bangkrut traktirin kita berlima." Ucap Linda sambil terkekeh. Laras dan Norsa pun ikut terkekeh bersamanya.
"Kau ada - ada saja Linda......" Mau tak mau Hanaria ikut terkekeh bersama teman - temannya itu.
"Shasie........ jangan makan banyak - banyak, kasian pemuda dari dusun itu...... ingat yaa.......! Lanjut Linda bersenda gurau.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, kami duluan ya.......?.Pak Harison, kami permisi......." Ucap Hanaria pada ketiga teman wanitanya itu, tidak lupa dirinya berpamitan juga dengan pak Harison yang masih ada disitu, memperhatikan kelakar para gadis - gadis yang menjadi bawahannya itu.
"Baiklah buu......." Saya juga pamit. Ucap pak Harison ingin bergegas.
"Jangan pergi sendiri pak, kami jjuga mau ikut bersama pak Harison, kita makan siang bareng." Ucap Laras, sambil dirinya menggamit Norsa, dan Linda bersamanya.
"Kalau kalian bertiga ikut denganku....... aku bisa - bisa bangkrut juga dibuat kalian......." Kelakar pemuda itu pada ketiga gadis yang bergerak hendak menyusulnya.
"Tenang saja pak Harison, kami cukup tau diri, kami akan bayar masing - masjng. Iyakan Linda dan Norsa??" Ucapnya sambil memandang kearah dua temannya itu.
"Iya bener........" Sahut Norsa dan Linda bersamaan.
"Ayo..... Lets go........" Ucap Harison lagi.
...***...
"Mas Rey........ kenalkan, ini Shasie....... teman kerjaku...." Ucap Hanaria, yang baru saja tiba.
"Reymon !" Ucap Reymon, sambil mengulurkan tangan, dan mengulas senyum tipisnya.
Reymon menatap wajah Shasie didepannya, yang hanya setinggi bahunya, pandangannya beralih pada tangannya yang masih digenggam erat oleh Shasie, tanpa ada tanda - tanda untuk dilepaskan.
" Ehemm........Ehemmm.............Shasie........ Apakah kau tidak lapar? Apa dengan menggenggam tangan mas Reymon, kau langsung merasa kenyang..... hmmm?? Tegur Hanaria, yang sejak tadi memperhatikan sikap Shasie yang terpesona pada sosok guru Sekola Dasar itu.
Shasie nampak gelagapan, ia segera melepaskan tangan pria tampan berkulit eksotik itu. Sebenarnya, hatinya sangat tidak rela, namun keadaan memaksa dirinya harus melepaskan, apa lagi Hanaria sudah berdehem berkali - kali. Ia harus menjaga image dirinya, seperti yang biasa ia lakukan.
"Heheee...... Maaf mas Rey......Saya tidak menyangka....... Ternyata pemuda dusun ada yang tampan juga........" Ucap Shasie kelepasan, membuat Hanaria melengos, mendengar ujaran temannya itu.
"Terima kasih....... nona..........." Reymon masih tersenyum tipis, wajahnya terlihat berpikir saat ingin menyebutkan nama gadis didepannya itu.
"Shasie...... panggil Shasie saja mas Rey, gak pake nonaaa..... sama seperti mas Rey memanggil Hana." Ucap Shasie lagi dengan nada manjanya.
"Ahhh...... Iyaaa....... Shasie....... Ayo silahkan duduk, Shasie...... Hana......." Reymon menarik kursi lebkh dulu untuk Shasie, dan mempersilahkan gadis itu duduk. Shasie berusaha tersenyum elegan pada pria yang membuat dirinya terbius oleh pesonanya.
__ADS_1
"Terima kasih mas tamphaaannn........." Ujar Shasie sambil duduk manis dikursi yang telah disediakan Reymon untuknya.
Hanaria hanya bisa menahan senyum melihat gaya Shasie yang sudah dihafalnya, ia lalu menarik kursi untuk dirinya sendiri, dan duduk disana dengan tenang.
"Ayo, kita pesan makanan dulu......." Reymon lalu memberikan daftar menu pada Hanaria dan Shasie.
"Mas Reymon saja yang pesan, aku ikut saja menunya mas Reymon......." Ucap Sahsie menatap wajah pria itu.
"Aduh...... Gimana ya....... Selera saya, selera orang dusun......takutnya nanti tidak sesuai dengan selera orang kota sepertimu Shasie........" Ucap Reymon dengan suara lembutnya. Jantung Shasie semakin berdebar tidak karuan mendengar cara bicara Reymon pada dirinya, sambil menatap lurus kematanya.
"Shasie....... mas Rey benar, sebaiknya, kau pilih sendiri makan siangmu, nanti kalau mas Rey yang pesan, dan kau tidak merasa cocok, gimana?? 'Ntar tidak dimakan......" Hanaria yang baru selesai menuliskan pesanannya dilembar pesanan, merasa sahabatnya itu terlalu banyak drama untuk menarik perhatian Reymon.
"Aku pasti memakannya ibu Waka....... kau tenang saja. Aku yakin akan pilihan menunya mas Rey, lagi pula aku juga mau merasakan seleranya pemuda dusun itu gimana......" Ucap Shasie tetap pada pendiriannya. Reymon berfikir sejenak, saat mendengarkan panggilan yang disematkan Shasie pada Hanaria.
"Terserah kau saja ya Shasie...... ingat, setelah ini, kita akan kembali kekantor untuk berkerja, jadi tidak ada alasan mencari makan siang lagi." Hanaria berusaha mengingatkan sahabatnya itu, ia tahu Shasie melakukan itu karena pikirannya hanya fokus pada Reymon saja, bukan menu makan siangnya.
"Mas Rey...... pesankan aku juga ya, yang sama persis dengan menu makanannya mas Rey, begitu juga dengan minumannya, juga sama dengan mas Rey." Ujar Shasie tanpa malu - malu lagi. Hanaria hanya menggeleng - gelengkan kepalanya, Shasie yang melihat bahasa tubuh Hanaria bersikap acuh, yang ada diotaknya, bagaimana caranya bisa mengenali pria itu lebih jauh lagi, dimulai dari selera makannya.
Reymon tidak membahasnya lagi, ia langsung memesan untuk dirinya dan juga untuk Shasie. Setelah selesai, dirinya memanggil pelayan, dan memberikan lembaran kertas pesanan dirinya, Shasie, dan Hanaria.
"Hana...... tolong ajarin mas untuk sharelock menggunakan ponsel mas ya......" Reymon meraih ponselnya dan menyerahkannya pada Hanaria. Belum sempat tangan Hanaria mencapai ponsel Reymon, tangan Shasie langsung menyambar tanpa permisi, membuat tangan Hanaria menggantung diudara yang hampa, karena ponsel Reymon sudah ada ditangan Shasie.
"Biar Shasie saja yang membantu mas Rey ya......." Ucap Shasie pura - pura tidak melihat aura wajah Hanaria yang tidak terbaca menatapnya. Ia menggeser kursinya merapat pada kursi Reymon. Tangannya dengan lincah memainkan ponsel milik Reymon, lalu menyimpan nomor dirinya disana dengan nama Shasie Manja, tanpa diminta sang pemilik ponsel.
"Mas Rey...... begini caranya......" Shasie memperlihatkan layar ponsel yang ada ditangannya pada Reymon. Ia lalu menunjukan cara pada pria yang duduk disebelahnya itu, membuka lewat WhatsApp, dan langsung mengirim ke nomor ponsel pribadinya, yang telah ia masukan diawal.
"Bagaimana? Mudah 'kan mas Rey......." Ucap Shasie sambil mengembalikan ponsel ditangannya pada Reymon.
"Iya...... terima kasih Shasie." Reymon lalu menerima ponselnya kembali dari tangan Shasie, sambil tetap mengulas senyumnya.
...•••...
...***Terima kasih buat readers yang sudah mampir dan meninggalkan like dan comennya....
__ADS_1
...Author sangat menghargainya, sebagai dukungan bagi author untuk lebih semangat lagi menulis. 😊🙏***...