HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 79 Ungkapan Hati Reymon


__ADS_3

Pagi - pagi buta, Willy sudah terbangun. Ia segera masuk kekamar mandi untuk membersihkan dirinya. Saat keluar dari kamarnya, ia mencium aroma roti bakar berasal dari dapurnya.


"Mas Rey sudah bangun??" Tanya Willy sambil mendekati Reymon, saat melihatnya sudah sibuk didapur dipagi buta itu, ia melirik arloji ditangannya, waktu baru menunjukan pukul 04.50 pagi.


"Iya...... mas sengaja bangun pagi - pagi sekali, untuk membuatkan kita sarapan. Karena hari ini, mas akan kembali ke dusun. Ayo, kemarilah tuan muda, kita sarapan sama - sama......." Ajak Reymon, ia menata roti bakar didalam piring saji, meletakan garfu dan juga pisau didalamnya. Reymon menarik kursi, dan mempersilahkan Willy duduk.


"Terima kasih mas Rey........"Willy duduk dikursi yang telah disediakan Reymon untuknya. Reymon meletakan satu piring roti bakar yang telah ia tata dengan baik, lalu meletakkannya dihadapan Willy beserta teh panas disamping piringnya.


""Aku tidak terbiasa sarapan terlalu pagi mas Rey......" Ucap Willy lagi, sambil menatap roti bakar dan teh panas yang sedang mengepul dihadapannya.


"Mas juga tidak terbiasa sarapan terlalu pagi tuan muda, apalagi dipagi - pagi buta seperti ini. Terkadang, kita harus melakukannya, karena suatu alasan. Misalnya, berpergian jauh seperti mas hari ini." Ucap Reymon sambil tersenyum tipis, menunjukan lesung pipit dikedua belahan pipinya. Sebagai sesama pria, Willy mengakui, bila pria yang duduk dihadapnnya memang memiliki paras yang cukup tampan dengan kulit eksotiknya.


Willy menatap sekilas wajah tenang milik Reymon dihadapannya. Ia lalu meraih teh yang masih panas itu, lalu menyesapnya dengan hati - hati, lalu meletakkan kembali cangkir tehnya diatas meja, disisi piring roti bakarnya.


"Semalam, mas pergi makan malam bersama Shasie, sahabatnya Hanaria." Ucap Reymon membuka obrolannya. Pandangan matanya tetap fokus pada secangkir teh dihadapannya, sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya. Udara dipagi itu memang terasa sangat dingin.

__ADS_1


Willy memperhatikan wajah Reymon yang sedang tidak menatap kearahnya. Pria itu, yang lebih tua sembilan tahun darinya, menarik napas dalam, sebelum melanjutkan perkataannya.


"Sebenarnya Shasie dan Hanaria, dan ketiga sahabatnya yang lain sudah janjian makan malam bersama, namun karena Hanaria kurang enak badan, mereka membatalkan acara makan malamnya. Jadi, Shasie mengubungiku, untuk bertemu denganku." Lanjut Reymon lagi, pandangan masih ia arahkan pada cangkir teh panas yang mengeluarkan uap diatasnya.


"Mas.......... berusaha menghubungi Hanaria setelah mendapat kabar dari Shasie. Teleponku tidak diangkatnya, dan pesan - pesan WhatsApp ku juga tidak dibacanya hingga pagi ini. Terus terang, mas merasa khawatir padanya." Willy kembali menyesap teh panasnya dengan hati - hati, sambil menyimak setiap perkataan Reymon yang mengalir bagaikan air yang tenang itu.


"Hanaria memang tidak pernah mau mèmberitahu dimana alamat tempat tinggalnya pada mas. Dan mas juga sudah meminta pada Shasie untuk memberitahu mas alamat rumahnya, tapi Shasie tidak mau mengatakannya pada mas, karena dilarang oleh Hanaria." Reymon kembali mendesah. Ia menegakkan kepalanya, menatap lurus kebola mata Willy yang duduk berhadapan dengannya. Willy berusaha tetap menerima tatapan Reymon, tatapan yang seolah menembus hingga kejantungnya.


"Tuan muda, saya telah melihat...... video tuan muda yang sedang menggendong Hanaria masuk kedalam ruang kerja tuan muda, yang berdurasi 6 detik itu." Degg......! Willy langsung merasa gugup, namun ia tetap berusaha setenang mungkin dihadapan Reymon.


"Mas sangat mengenal Hanaria, bukan untuk satu atau dua hari saja. Saat dirinya masih bayi, mas sudah berusia 9 tahun, walau berbeda usia, kami bergaul akrab, sampai sekarang, dia seperti adikku sendiri."


"Itulah sebabnya, mas lebih mempercayai Hanaria, dari pada video, ataupun tulisan caption itu. Hanaria tidak mungkin melakukan apa yang dituduhkan pembuat video maupun caption itu. Apa yang terlihat di video itu, atau yang diterangkan caption itu, belum tentu mewakili kejadian yang sebenarnya." Ucap Reymon dengan penuh keyakinan.


"Saat bertemu dengan tuan muda direstoran tadi siang, sebenarnya mas ingin mengungkapkan perasaan mas padanya untuk kesekian kalinya, namun Hanaria mengajak Shasie bersamanya. Kemudian mas berusaha mengajaknya bertemu malam ini, tapi ia sudah lebih dulu ada janji bersama teman - temannya."

__ADS_1


"Mas sangat serius dengannya tuan muda. Bahkan, mas sudah melamarnya secara resmi dihadapan kedua orang tua kami, sayangnya ditolak." Reymon kembali menyunggingkan senyum getir dibibirnya. Lalu melanjutkan kembali perkataannya.


"Walaupun demikian, mas belum mau menyerah, sebelum Hanaria menjadi milik orang lain." Willy masih menatap wajah Reymon yang bertutur dengan jelas, dengan sikap yang tetap tenang. Ia dapat melihat kesungguhan dari setiap kata yang keluar dari mulut Reymon. Pria berumur itu terlihat memang sangat mencintai Hanaria, pegawainya.


Reymon meraih cangkir tehnya yang sudah tidak terlalu panas, ia meneguknya beberapa kali, lalu meletakkannya kembali diatas meja. Roti bakar yang ada dihadapannya, segera ia potong menjadi beberapa bagian, dan segera memasukannya kedalam mulutnya menggunakan garfu.


Willy turut memakan roti bakarnya. Walau sebenarnya dirinya belum ingin sarapan, tapi keberadaanya dimeja makan pagi itu, saat mendengarkan perkataan Reymon tentang Hanaria, membuat dirinya akhirnya harus ikut memakan roti bakar yang ada dihadapannya.


"Bukan tanpa alasan, mas menyampaikan semuanya ini pada tuan muda." Suara Reymon kembali terdengar, setelah dirinya menghabiskan sarapan paginya. Willy kembali menatap Reymon, yang juga sedang menatapnya dengan pandangan tidak biasa. Ia menunggu Reymon berucap dengan perasaan yang mulai tidak menentu.


"Adakah sesuatu yang telah terjadi antara tuan muda dan Hanaria?" Pertanyaan Reymon terdengar menyentak, Willy merasakan kegugupan yang luar biasa menyerang dirinya, walau ia berusaha bersikap tenang dan biasa - bisa saja.


"Apa yang membuat mas Rey berfikir demikian?" Willy balas bertanya, ia berusaha menutupi kegugupannya, dan berharap tidak salah berucap sepatah katapun, karena hal itu bisa saja membuat segalanya akan menjadi semakin rumit.


"Pakaian yang Hanaria kenakan waktu makan siang tadi, sama dengan pakaian yang ada didalam video berdurasi 6 detik itu. Dan pada saat kita bertemu, tuan muda dan Hanaria seperti tidak saling mengenal, padahal gadis itu selalu bersikap ramah pada semua orang, dirinya tidak pernah memandang bulu. Pandangannya saat menatap tuan muda terkesan ada rasa takut? Semua itu membawa mas pada satu titik pertanyaan, apakah ada sesuatu yang telah terjadi, antara tuan muda dan Hanaria?" Reymon kembali mengulang pertanyaannya sebelumnya, kali ini pria berkumis tipis itu lebih menekankan ucapannya.

__ADS_1


Willy berfikir sejenak, sementara Reymon terus menatapnya lekat, menanti jawaban kejujuran dari mulut pria yang pernah diasuh oleh neneknya saat masih bayi hingga kanak - kanak.


__ADS_2