HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
231. Menipu Atau Memeras?


__ADS_3

...❤❤****SAPAAN PENULIS ❤❤...


...(Indah Sosilawati ⚘ Dewi Payang)...


Hai, Para Pembaca Terhormat👋🙏👋


Novel ini OTW menuju TAMAT, dibuat konflik dipenghujung cerita, mulai di episode kemarin (keputusan Hanaria).


Kita akan lihat di episode-episode selanjutnya, bagamana cara Hanaria akan menyelesaikan konfliknya, tentu saja dibantu oleh orang-orang terkasih yang mendukungnya. Ada Willy (suami), Moranno (ayah mertua), Billy (saudara kembar Willy sebagai seorang polisi).


Penulis berusaha membuat konflik yang ringan saja.


Terima kasih untuk Para Pembaca yang sudah membaca Novel HANARIA WANITA SEJUTA RASAKU sampai sejauh ini.


Bagi Penulis, komentar Para Pembaca SANGAT MEMBANTU Penulis untuk berkreasi disini.


Bila berkenan, Para Pembaca boleh memberi komentar sesuai KATA HATI Pembaca pada setiap episodenya, apapun itu, bentuk rasa bahagia misalnya, amarah, kecewa, kekesalan, dan lainnya lagi. Penulis akan menerimanya dengan hati terbuka.


Penulis pun pada awalnya adalah seorang Pembaca SEJATI di beberapa karya Novel author lainnya. Sebagai penikmat kisah, menyimak setiap alurnya, dan akhirnya turut menulis disini.


Salam dari Penulis untuk semua Pembaca Terhormat. Kurang dan lebihnya Penulis mohon maaf🙏.


Semoga selalu sehat, semangat, dan dilimpahkan dengan berkat dan rahmat. 🙏🙏🙏


...*****...


...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...


Nyonya Mingguana menatap lembaran kertas ditangannya, wajahnya nampak suram dengan bola mata serasa ingin melompat keluar dari wadahnya.


"Apa kau ingin menipuku Nona Hana?" tanya nyonya Mingguana datar, berusaha mengendalikan diri dan menahan amarah yang serasa sudah ingin meledak.


"Oh, atau kau memang ingin memerasku? Kau bermimpi! Anak kemaren sore seperti dirimu mau memperalatku dengan persyaratan KONYOL-mu ini!" tuduh nyonya Mingguana geram sambil mengibarkan lembaran kertas putih milik Hanaria ditangannya lalu menjatuhkannya bebas melayang diudara dan akhirnya terdampar dilantai tidak jauh dari sepasang kakinya, Hanaria, dan asisten David dimana mereka sedang duduk.


Willy mengepalkan kedua tangannya, rasanya ingin sekali dirinya menyumpal mulut wanita paruh baya itu, yang seenaknya mengatai isterinya semaunya.


Moranno menarik tangan putranya yang sudah berdiri, hendak masuk keruangan khusus dimana ada Hanaria, nyonya Mingguana dan asisten David saja disana.


"Biarkan Hanaria melakukan bagiannya, jangan ganggu dia," ucap Moranno sambil menatap layar laptop dihadapannya.


Satu kamera tersembunyi sengaja dipasang oleh Willy disela-sela bros Hanaria yang terpasang di bagian dada jas gelap isterinya itu, supaya ia dapat memonitor semua yang sedang terjadi didalam dari ruangan yang ada disebelahnya.

__ADS_1


"Tapi Dad-," Willy berusaha tetap berdiri dari duduknya.


"Tidak usah protes! Duduk!" Perintah Moranno dengan tatapan tak ingin dibantah.


Tanpa bicara lagi, Willy menurut, kembali duduk disisi ayahnya dan kembali memperhatikan apa yang ada dilayar laptopnya.


"Kau fikir setelah menjadi seorang Nona muda didalam keluarga Agatsa, lalu kau bisa dengan mudah menguasai harta milikku? Kau bermimpi! Ya, kau bermimpi," nyonya Mingguana mulai tertawa tidak jelas, padahal dirinya sedang tidak bahagia, segala kerumitan hidup sedang bercampur baur dikepalanya saat itu.


Hanaria tidak ikut tertawa, hanya tersenyum malas melihat mantan bos-nya itu. Sementara asisten David hanya duduk diam dan mendengar kata demi kata dari sang majikan dan siap menuliskan pada buku agendanya, apa yang menjadi kesepakatan antara Nyonya-nya dan Hanaria.


"Terserah Nyonya saja. Saya baru akan menerima persyaratan dari Nyonya Mingguana mengenai pengadopsian bayi Elvano, bila syarat yang telah saya tulis dilembaran kertas itu sudah Nyonya setujui dan tanda tangani didepan notaris dan lawyer saya," Hanaria berdiri, merapikan pakaiannya, dan berniat mengakhiri pertemuan itu.


"Nona Hana, kau mau kemana? Kita belum selesai," tegur nyonya Mingguana tidak suka, ketika melihat Hanaria ingin meninggalkan tempat itu begitu saja.


"Tentu saja pulang," sahut Hanaria santai dengan membalikan tubuhnya


"Tapi kita belum selesai," protes nyonya Mingguana kembali kesal.


"Mohon maaf, saya tidak bisa duduk menunggu jawaban Nyonya. Masih banyak hal yang harus saya lakukan. Bila satu kali dua puluh empat jam, Nyonya masih belum bisa menjawab, saya anggap Nyonya tidak menyetujui persyaratan saya. Maka kita sudah tidak punya urusan lagi." kata Hanaria masih berdiri di dekat kursinya tanpa berbalik melihat kearah nyonya Mingguana.


"Apa itu artinya pengadopsian bayi Elvano olehmu juga ikut gagal?" tanya nyonya Mingguana dengan menyunggingkan senyum ejekan, walau ia tahu Hanaria tidak melihatnya.


"Aku tahu kau pura-pura kuat," nyonya Mingguana masih pada mode senyum mengejeknya. "Bagaimana bila kau tahu kalau bayi mendiang adikmu itu sedang sekarat dirumah sakit sekarang?" pancing nyonya Mingguana.


Detak jantung Hanaria serasa berhenti berdenyut, ia berusaha mengatur nafasnya yang serasa sesak tiba-tiba, bayi malang itu, begitu menyita perhatiannya. Beberapa detik kemudian ia sudah bisa menguasai perasaannya.


Hanaria membalikkan tubuhnya, menatap datar nyonya Mingguana yang masih menunjukan senyum jahatnya


"Aku sudah tahu nona Hana, seperti kau sangat menyayangi mendiang Firlita, adikmu, demikian pula kau menyayangi putranya Elvano," ucap nyonya Mingguana merasa menang.


"Jadi, ikuti saja permainanku. Tidak perlu banyak permintaan. Atau kau ingin, bayi itupun akan menyusul ibunya ke alam baka," nyonya Mingguana kembali tertawa diakhir ucapannya, ia tahu Hanaria akan kembali menjadi kaki tangannya dan tidak akan pernah lepas darinya.


"Mungkin lebih baik bayi Elvano menyusul ibunya. Dari pada hidup menderita karena ulah neneknya sendiri," balas Hanaria dengan wajah dibuat setenang mungkin.


"Mendiang Firlita, dia bukan adik kandungku Nyonya," Hanaria tersenyum saat melihat raut kaget diwajah mantan majikannya itu.


"Nyonya boleh perintahkan orang-orang kepercayaan Nyonya.untuk memeriksakan kebenaranya,"


"Hanya alasan kemanusiaan, saya membantu dan menyayangi mendiang Firlita selama ini, begitu pula dengan bayi Elvano putranya,"


"Bila bayi itu harus menyusul mendiang ibunya, itu artinya, Nyonya sudah tidak memiliki penerus lagi, hanya berhenti pada tuan Mahendra yang sedang mendekam didalam penjara hingga seumur hidupnya," hati Hanaria seakan teriris saat menyebut nama bayi malang itu, namun dirinya tidak ingin menunjukannya.

__ADS_1


"Dan perusahaan-perusahaan Nyonya itu, yang sudah Nyonya bangun dengan peluh dan air mata, siapa yang akan menikmatinya? Orang lain? Karena bayi Elvano, penerus Nyonya akan menyusul mendiang ibunya, seperti yang Nyonya katakan." Setelah berkata panjang lebar, Hanaria membalikan tubuhnya lalu pergi tanpa berpamitan.


Nyonya Mingguana mengepalkan tangannya lalu meninju alas meja dihadapannya dengan sekuat tenaga hingga berdarah, rahangnya nampak mengatup kuat menahan rasa kesalnya, kali ini ia merasa sangat sulit menundukan Hanaria.


"Asisten David!" panggil nyonya Mingguana dengan pandangan masih menatap tajam pada pintu dimana Hanaria keluar dan menghilang.


"I-iya Nyonya," sahut asisyen David tergagap.


"Bacakan ulang persyaratan bodoh perempuan itu!" perintahnya dengan suara meninggi.


"B-baik Nyonya," asisten David bergeser dari kursinya lalu berjongkok, memungut lembaran kertas berisi tulisan tangan Hanaria yang sengaja dijatuhkan kelantai oleh majikannya itu sebelumnya.


"Point satu," asisten David mulai membacakan tulisan tangan Hanaria pada lembaran yang ada ditangannya sambil berdiri disamping nyonya Mingguana.


"Semua daftar nama masing-masing perusahaan milik nyonya Mingguana Alhandra Liem akan dinotariskan dan dipindah tangankan pada Hanaria untuk sementara waktu, sampai bayi Elvano cukup usia untuk menerima tanggung jawab sebagai ahli waris,"


"Dasar perempuan munafik, dia benar-benar ingin menguasai semua hartaku,"timpal nyonya Mingguana geram, walau sebelumnya dirinya sudah membacanya. "Lanjutkan lagi!" perintah nyonya Mingguana lagi.


"Point dua," asisten David kembali melanjutkan bacaannya sesuai perintah sang majikan.


"Semua pegawai perusahaan milik Nyonya Mingguana Alhandra Liem, hanya tunduk dan patuh pada perintah Hanaria saja, begitu pula dengan pemiliknya dan ahli warisnya." ucap asisten David mengakhiri apa yang telah ia baca.


Tok! Tok! Tok!


Nyonya Mingguana dan asisten David sama-sama menatap kearah pintu, seorang petugas lapas melangkah masuk mendekati mereka.


"Nyonya, waktu Anda sudah habis. Silahkan kembali ketempat Anda," ucap petugas lapas tegas.


"Baik Pak," sahut nyonya Mingguana lalu segera berdiri dari duduknya, dan menoleh pada asisten David yang ikut berdiri bersamanya.


"Jujur saja, aku sangat BENCI mengatakan ini, turuti saja persyaratan perempuan bodoh dan aneh itu. Setidaknya, dia hanya menguasainya sampai Elvano cukup usia untuk menerima tanggung jawabnya sebagai penerus keluargaku," gumamnya pada asisten David.


"Aku tidak tahu, apakah aku masih bisa menghirup udara bebas diluar sana dengan kondisi kesehatanku yang semakin menurun," ucap nyonya Mingguana yang tiba-tiba merasa sedih.


"Nyonya, apa perlu saya menyeret Anda, supaya lebih cepat keluar dari sini," kata sang petugas yang tidak sabar menunggu.


"T-tidak perlu Pak," sahut nyonya Mingguana bergegas.


Asisten David hanya bisa memandang prihatin pada sang majikannya itu yang berlalu pergi dari ruangan itu mendahuluinya.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2