HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 60 Marathon


__ADS_3

Willy sudah mandi keringat. Namun dirinya harus menyelesaikan tiga putaran lagi, supaya genap 42 kilo meter jarak lari yang harus ia tempuh.


Mansion, kediaman keluarga Agatsa yang memiliki luas 3000 meter persegi menjadi acuan bagi ayah dan putranya itu. Moranno sudah beberapa menit yang lalu menyelesaikan lari marathonnya, ia duduk bersantai ditaman samping bersama Yurina sambil mengeringkan keringatnya yang bercucuran menggunakan handuk kecil yang menggantung dilehernya.


Bibi Nani mengantarkan seteko teh dan beberapa potong roti untuk sarapan pagi itu.


"Tinggal dua putaran lagi sayang......! kau pasti bisa.....!" Teriak Yurina saat putranya itu melintas didekat mereka. Pagi itu Yurina tidak ikut berlari marathon, dirinya hanya berjoging saja. Namun ia kebagian menjadi penghitung jarak lari untuk suami dan putranya itu.


Willy sudah terlihat sempoyongan, membuat ayahnya tertawa. "Kalau kau tidak sanggup, menyerahlah Willy......! Daddy tidak akan memaksamu menjadi seorang atlet seperti daddy dulu......!" Ledek Moranno pada putranya itu.


Willy pura - pura tidak mendengar. Mana mungkin dirinya menyerah, bisa - bisa ia akan menjadi bahan olok - olokan ayahnya itu untuk berhari - hari lamanya. Dengan sekuat tenaga, dan dengan sisa - sisa kekuatan yang masih ia miliki, Willy terus berlari seorang diri menyelesaikan enam kilo meter lagi.


Setelah beberapa menit berlalu, terlihat Willy kembali melintas. "Satu putaran lagi sayang.....! Kau putra mommy yang hebat.....!" Kembali Yurina memberi semangat pada Willy, sementara Moranno terus tersenyum melihat tingkah putranya yang memaksakan diri untuk tetap berlari.


Tidak semua orang dapat melakukan lari marathon yang merupakan nomor lari jarak jauh yang terbilang berat bila tidak terlatih melakukannya.


Dan akhirnya, setelah beberapa menit berlalu Willy datang dan langsung terkapar diatas rerumputan didekat kedua orang tuanya sedang sarapan.


Yurina datang menghampiri putranya itu sambil membawa sebotol air mineral.


Dengan cepat Willy meraih botol mineral yang diberikan oleh ibunya. Hanya beberapa teguk saja, isi dari botol mineral itu sudah berpindah kedalam tubuhnya.


Wajah Willy bahkan hingga ketubuhnya berubah memerah. Keringat yang keluar dari tubuhnya bukan berupa air lagi, tetapi lebih menyerupai lendir. Willy berusaha mengatur napasnya yang ngos - ngosan. Ia tidak mampu bangkit untuk beberapa saat lamanya. Ia membiarkan dirinya terlentang diatas rerumputan dengan mata terpejam sambil terus mengatur napasnya yang mulai teratur. Waktu sudah menunjukan pukul 6.40 wita.


Setelah merasa lebih baik, Willy berusaha bangkit. Namun karena tubuhnya terlalu lelah, beberapa kali ia kembali tersungkur.


Sampai akhirya, satu tangan kokoh dan berotot terulur padanya. Tangan itu tidak mirip dengan tangan ayahnya. Willy menatap sang pemilik tangan kokoh itu dengan mata terbelalak.


"Kak Billy...... ?!"


"Ayo cepat bangkit.....! jangan sepeti orang loyo saja anak muda, enerjiklah......!" Ujar sang pemilik tangan yang terulur untuk membantunya.


Willy akhirnya meraih tangan Billy dan segera berdiri tegak.

__ADS_1


"Kapan kakak datang?" Tanya Willy. Keduanya lalu menghampiri kedua orang tuannya yang sedang duduk sarapan sambil mengulas senyum menyambut mereka.


"Baru saja......" Sahut Billy singkat.


"Ayo..... kita sarapan Billy..... Willy......" Yurina menuangkan teh kedalam dua cangkir kosong lalu meletakan dihadapan kedua putranya itu.


"Terima kasih mommy......" Ucap Bilky dan Willy secara bersamaan.


"Star jam berapa marathonnya tadi dad......??" Tanya Billy pada ayahnya.


"Empat pagi....." Sahut Moranno.


"Kapan - kapan, kasih tahu Billy ya dad, Billy juga mau ikut."


"Boleh saja Billy..... hari ini khusus jadwal daddy memberi adikmu itu pelajaran. Bagaimana Willy?" Tanya Moranno pada putranya yang masih terlihat begitu lelah.


"Iya..... Iya..... Willy ngaku kalah..... dan sesuai perjanjian, Willy janji bakalan patuh pada aturan - aturan daddy..... apa daddy puas??" Sungut Willy.


"Bagaimana kabarmu Billy? Tidak biasanya pagi - pagi begini kau sudah ada disini. Kau selalu saja sibuk dengan tugas - tugasmu itu....." Tanya Moranno beralih pada putra sulungnya itu sambil menyesap tehnya.


"Mau numpang sarapan......! Lagi berhemat.....!" Ucap Billy asal sambil tertawa ringan dan menyesap tehnya.


"Apakah gajimu kurang sayang?" Tanya Yurina, dirinya agak khawatir mendengar ucapan putranya itu.


Billy terkekeh, ia lalu meraih tangan ibunya dan menciumnya dengan lembut. "Tentu saja tidak mommy, aku cuma bercanda. Mana mungkin negara menggajiku tidak sebanding dengan tugas - tugas berat yang harus kubayar dengan nyawaku." Sahutnya masih terkekeh.


"Aku kemari sekalian ingin berpamitan. Dalam beberapa hari kedepan, aku akan lebih sering berada diperbatasan, ada banyak masalah yang harus aku selesaikan bersama teamku disana. Jika ingin menghubungiku, cukup lewat pesan saja, aku akan lebih sering menonaktifkan poselku selama bertugas." Jelasnya. Billy mengunyah roti yang telah diolesi selai oleh Yurina.


Baik Moranno, Yurina, maupun Willy, mereka tudak bertanya tentang tugas yang Billy maksudkan. Karena mereka sudah sangat memahami bahwa Billy sangat menjaga kerahasiaan tugas yang dirinya emban selama ini.


"Willy...... makan rotimu....." Ujar Yurina sambil menunjuk roti yang ada dihadapan putranya itu.


"Tidak mau mommy...... Pagi ini, Willy mau sarapan yang berat - berat. Energi Willy sudah habis untuk marathon bersama daddy tadi. Kalau sarapan ini saja, Willy pasti tidak konsentrasi berkerja hari ini." Sahut Willy sambil menjauhkan piring roti dari hadapannya.

__ADS_1


"Katanya kau berdiet, dan tidak mau seperti daddy yang makan apa saja...." Ucap Moranno sambil tersenyum menggoda.


"Dietnya dilupakan saja...... pokoknya Willy mau makan - makanan yang berat untuk sarapan pagi ini. Titik. Sekarang Willy mau mandi dulu." Willy lalu berdiri dan pergi tanpa permisi.


Moranno, Yurina, dan Billy tertawa bersamaan saat melihat Willy yang pergi meninggalkan meja dimana mereka sedang duduk sarapan bersama.


"Billy, kau jangan pergi dulu ya nak, mommy akan membuatkan sarapan spesial untuk kita bersama. Kau mau makan apa? Nanti akan mommy buatkan......." Ujar Yurina sebelum meninggalkan meja dimana mereka sedang duduk.


"Terserah mommy saja, Billy pasti makan apa saja yang mommy masak." Ujar Billy sambil memakan roti yang sempat di singkirkan oleh Willy.


"Baiklah...... Kalau kau mau sarapan apa suamiku?" Tanya Yurina beralih pada Moranno yang duduk disampingnya.


"Sama seperti Billy sayang, apa saja boleh. Lagi pula, daddy sudah sarapan roti ini tadi." Moranno menunjuk sisa roti panggang yang belum dihabisaknnya.


Yurina segera bergegas menuju dapur, meningalkan Moranno dan Billy yang masih melanjutkan perbincangan mereka.


...•••...


Willy memang tidak main - main dengan ucapannya. Pagi itu, ia sarapan begitu lahap, berbanding terbalik dengan makan malam yang hanya menghabiskan dua biji pisang rebus.


Satu ekor ayam bakar tinggal tulang belulangnya saja didalam piringnya. Beberapa piring sayuran tumis juga ludes dihadapannya.


Yurina, Moranno, dan Billy memang baru kali ini melihat porsi makan Willy yang tidak biasa. Mulut mereka sama - sama ternganga dengan tatapan mata sedikit terbelalak menyaksikan Willy yang menikmati sarapan paginya tanpa menoleh kiri kanan. Dalam hati mereka berpikir apakah benar yang memakan habis sarapan - sarapan itu adalah Willy.


"Willy..... kau rakus sekali...... Hampir saja kami tidak kebagian akibat ulahmu, apakah kau tidak melihat kalau kami juga ada disini untuk sarapan, bukan hanya untuk menontonmu yang sedang makan." Ujar Billy sambil mengambil daging lada hitam yang dimasak oleh ibunya.


"Apa yang kumakan ini..... semuanya sudah ku request. Iya kan mom?" Sahut Willy yang meminta dukungan dari Yurina ibunya.


"Iya...... Willy memang sudah minta mommy memasakan ayam bakarnya dan sayur - sauran itu." Tukas Yurina sambil melanjutkan sarapannya.


"Jadi..... Daddy dan kak Billy harus rela memakan apa yang ada itu saja." Lanjut Willy sambil menghabiskan jus dalam gelas jumbonya.


...•••...

__ADS_1


__ADS_2