
"Tapi nyonya...... Saya tidak hamil...... tuan muda tidak berbuat apa - apa pada saya...... Jadi tuan muda tidak perlu menikahi saya untuk bertanggung jawab. Dan itu juga sudah saya katakan dikantor polisi. Jadi kesaksian saya tidak memberatkan tuan muda." Ucap Hanaria dalam kebingungannya, wajahnya mendadak pucat.
Yurina dan Moranno saling berpandangan, keduanya melihat ada ketakutan pada roman wajah gadis itu, saat dikatakan akan menikah dengan Willy putra mereka.
"Apa yang kau lakukan pada nona Hana, sampai dirinya terlihat takut seperti itu.....?" Bisik Moranno pada putranya dengan tatapan tajam.
"Aku sudah menceritakan semuanya pada daddy dan mommy, tidak ada yang aku sembunyikan....." Willy balas berbisik, ia tahu ayahnya masih kesal padanya sejak semalam.
"Walau anda tidak hamil nona Hana...... tapi Willy sudah menyentuh nona secara berlebihan......" Yurina tidak mau memperjelas ucapannya, ia hanya mengisyaratkan dengan kedua jemari tangannya yang menguncup seolah - olah seperti unggas saling mematuk, membuat wajah Willy dan Hanaria merah merona melihatnya.
"Orang - orang diluar sana, sudah berpikir yang tidak - tidak tentang kalian berdua, akibat adanya video itu. Untuk itu, kalian memang harus menikah, tidak ada jalan lain." Pungkas Yurina, namun tetap dengan suara lembutnya.
"Nyonya...... Saya hanya orang biasa, orang dusun, saya tidak biasa dengan kehidupan keluarga Agatsa, saya khawatir akan mempermalukan keluarga tuan dan nyonya nantinya, saya mohon......" Ucap Hanaria bersungguh - sungguh, dengan wajah sedikit menunduk, tidak berani menatap wajah Moranno dan Yurina.
"Kau gadis yang pintar...... Kami yakin kau bisa belajar pelan - pelan......" Ucap Yurina meyakinkan Hanaria.
"Tapi..... Bagaimana pernikahan bisa terjadi bila tidak saling menyukai nyonya...... Kami..... sering bertengkar bila bertemu, tuan muda sepertinya sangat tidak menyukai saya, dia sering memperlakukan saya tidak baik....." Ucap Hanaria jujur, mengatakan apa yang ia rasakan selama ini.
Willy yang duduk dipojokan sontak menatap Hanaria dan ibunya secara bergantian, membuat Yurina langsung memelototkan matanya pada putranya itu, supaya tidak berucap sepatah katapun, cukup mendengarkan saja.
"Bukankah cinta juga diperlukan dalam pernikahan nyonya. Tuan muda tidak mencintai saya, demikian juga sebaliknya dengan saya." Hanaria berusaha menyampaikan apa yang ada dalam pemikirannya.
"Sekarang mungkin belum, tapi berjalannya waktu saat kalian bersama, cinta itu akan tumbuh. Dan Willy, dia sudah siap menikah denganmu. Benarkan Willy?" Yurina mengalihkan pandangannya pada putranya lagi, yang masih duduk dipojokan, berusaha patuh pada perintah ayah ibunya sebelum mereka ketempat itu.
Willy yang ditanya hanya menganggukan kepalanya, membenarkan apa yang dikatakan ibunya dengan wajah tanpa ekspresi.
__ADS_1
Sementara Hanaria sudah tidak bisa berkata apa - apa lagi, dirinya bingung harus mengatakan apa, karena semua alasannya sudah ia kemukakan namun selalu bisa disanggah oleh Yurina.
"Bolehkah saya diberi waktu satu minggu untuk memikirkan hal ini dengan matang tuan dan nyonya, karena ini tidak mudah buat saya." Ujar Hanaria akhirnya,, kepalanya sudah tidak bisa berfikir jernih.
Yurina memandang kearah Moranno sejenak, dan dibalas anggukan oleh suaminya itu, yang sedari tadi turut mendengarkan apa yang sedang dibicarakan antara isterinya dan Hanaria.
"Baiklah..... Kami setuju nona Hana, fikirkanlah pembahasan kita malam ini baik - baik. Semuanya ini kami lakukan untuk kebaikan kita semua. Kami tidak menginginkan dirimu dirugikan karena masalah yang telah ditimbulkan putra kami Willy. Kami juga tidak ingin orang tuamu sampai malu karena masalah ini." Ucap Yurina berusaha mengambil jalan yang terbaik, sambil mengulas senyum tipisnya.
"Iya nyonya, saya mengerti......." Sahut Hanaria lirih.
...***...
Hanaria berjalan lesu memasuki rumahnya. Malam sudah menunjukan pukul 11.20. Hanaria membuka pintu kamarnya dan langsung masuk kekamar mandi, mengguyur seluruh tubuhnya untuk menenangkan fikirannya.
Dirinya begitu dilema, banyak hal yang akan berubah bila ia harus menerima pernikahan itu. Dan untuk semua perubahan itu, Hanaria belum siap untuk menerimanya, apa lagi melakoninya.
Hanaria segera menghentikan mandi tengah malamnya. Ia buru - buru mengenakan handuk yang biasa ia kenakan hanya diatas dada hingga sebatas lututnya.
"Firlita......? Kau belum tidur?" Ucap Hanaria, saat ia membuka pintu kamarnya, dan melihat Firlita berdiri didepan pintu dan menatapnya dengan wajah penuh tanya.
"Sudah tertidur beberapa menit yang lalu, tapi terbangun lagi, mendengar suara gemericik air dikamar mandi kakak. Tidak biasanya kakak mandi tengah malam begini. Paling hanya membasuh wajah, kaki, dan tangan saja bila pulang bepergian selarut ini." Ucap Firlita sambil mengekor Hanaria masuk kekamarnya dan duduk ditepi tempat tidur.
Hanaria tidak menjawab, ia mengambil pakaian tidur dari dalam lemari pakaiannya, mengenakannya dihadapan Firlita, dan setelah selesai langsung duduk ditepi tempat tidur, berdekatan dengan Firlita.
"Mau ku buatkan teh kak?" Tanya Firlita kemudian.
__ADS_1
"Tidak usah Fir..... Kakak tidak sedang ingin minum....." Lirih Hanaria, wajahnya sudah terlihat lebih segar, namun fikirannya masih terasa kusut. Ia menatap wajah Firlita yang teduh dan lembut, mengulas senyum tipisnya pada adik angkatnya itu,
"Bisa beri aku satu pelukan?" Lirih Hanaria lagi, masih dengan senyum tipisnya. Tanpa diminta untuk kedua kalinya, Firlita langsung memeluk erat tubuh Hanaria yang jauh lebih besar dari tubuhnya.
Hanaria ikut memeluk erat tubuh mungil Firlita, begitu erat, hingga Firlita dapat merasakan ada sesuatu yang berat yang sedang difikirkan wanita yang sudah ia anggkap kakaknya itu.
"Bila kak Hana berkenan, berbagilah apa yang sedang kakak risaukan itu, semoga saja, setelah kakak bercertita, beban berat yang kakak pikul itu sedikit lebih ringan." Ucap Firlita masih memeluk erat.
"Mungkin aku tidak bisa banyak membantu kak, setidaknya, aku bisa menjadi pendengar yang baik, supaya saat berbagi cerita denganku, energi negative yang kak Hana rasakan saat ini bisa lebih berkurang." Imbuhnya lagi.
Hanaria melonggarkan pelukannya dari tubuh Firlita, demikian pula dengan wanita mungil itu. Ia memperhatikan Hanaria membenarkan letak duduknya di tepi tempat tidur.
"Kita bernasib sama Fir.... Sama - sama harus menikah dalam waktu yang dekat." Ucap Hanaria memulai pembicaraannya.
" Kakak akan menikah?! Dengan siapa?!" Firlita terlihat kaget, karena dirinya tidak pernah melihat kakak angkatnya itu sedang menjalin hubungan, atau dekat dengan seorang pria manapun selama beberapa bulan dirinya tinggal bersama kakaknya itu.
"Tuan muda Willy." Sahut Hanaria singkat.
"Apa?? Tuan muda Willy......?!! Wah, selamat ya kak, kakak memang luar biasa, kakak pantas mendapatkan pria tampan dan sekeren tuan muda Willy, aku jadi iri......!!."
Hanaria melongo sambil mengernyitkan dahinya, ia tidak menduga bila reaksi Firlita akan bertolak belakang dengan apa yang sedang ia fikirkan. Firlita begitu girang mendengar kabar dirinya akan menikah.
Dimana yang salah? Fikir Hanaria didalam hati. Mungkinkah dirinya yang kurang bersyukur akan dinikahkan dengan pria kaya, rebutan kaum hawa, tampan dan keren seperti kata Firlita, atau karena Firlita saja yang tidak tahu sifat asli Willy yang buruk itu. "Aku tidak mungkin tertipu." Ucapnya didalam hati.
"Firlita....... Dengarkan kakak baik - baik......" Ucap Hanaria, saat melihat Firlita yang masih begitu girangnya.
__ADS_1
Hanaria mulai menyampaikan kisahnya yang cukup panjang pada Firlita, dimulai pertemuan awal dirinya dengan Willy diwaktu yang tidak tepat, hingga pemanggilan oleh kantor polisi, karena ada laporan dari masyarakat yang merasa terganggu atas pemberitaan dan penyebaran video dirinya dan Willy yang hanya berdurasi 6 detik itu.
Firlita yang mendengar cerita yang begitu terperinci disampaikan Hanaria, akhirnya dapat memahami, mengapa Hanaria bersikap demikian, merasa pernikahan itu adalah suatu beban yang berat.