HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
250. Mules


__ADS_3

📞"Dokter Rosalia, aku memerlukan satu ambulan untuk membawa pak Aji dari rumah nyonya Mingguana. Sudah 4 hari ini beliau sakit dan tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Aku minta perawatan khusus dari rumah sakit," ucap Hanaria dari sambungan teleponnya.


📞"Baik nona Hana, segera akan kami kirimkan." sahut dokter Rosalia.diujung telepon.


Setelah menutup ponselnya, Hanaria kembali melangkah menuju gerbang sambil memegang perutnya dengan wajah meringis.


"Nona, maaf. Kami tidak ada biaya untuk membayar rumah sakit, itu sebabnya pak Aji tidak mau dibawa berobat," ucap bibi Narsih berterus terang, begitu Hanaria selesai berbicara ditelpon.


Hanaria membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan bibi Narsih masuk disebelah jok kemudi. Ia pun buru-buru masuk ke mobil dan melajukan kendaraannya dengan berbalik arah menuju rumah nyonya Mingguana.


"Harusnya bibi Narsih bicara padaku sebelumnya, sehingga pak Aji tidak separah itu. Untuk biaya perobatan jangan khawatirkan itu. Bukankah aku pernah mengatakan hal itu?'" ucap Hanaria sedikit menyesalkan, sementara pokusnya terus kedepan. Beruntungnya, rute lalu lintas dari panti sosial lansia menuju kediaman nyonya Mingguana tidak terlalu pada seperti rute-rute lainnya.


"Iya, saya ingat Nona memang pernah mengatakan itu pada kami. Tapi kami merasa tidak enak, karena nona Hanaria yang membayar gaji kami setelah nyonya Mingguana dipenjara." jujur wanita itu lagi.


"Mulai saat ini, jangan berfikir seperti itu lagi Bi. Untuk sekarang ini, akulah yang akan bertanggung jawab pada kalian, selama Elvano belum dewasa, aku hanya pemegang amanat saja. Apapun itu, sampaikan padaku, jangan sungkan," ujar Hanaria menatap bibi Narsih. Wajah Hanaria kembali meringis, ia tidak tahu kenapa perutnya semakin melilit. Ia mengusap perutnya pelan, supaya rasa nyeri itu mereda.


"B-baik Nona--" sahut bibi Narsih sembari mengangguk.


"Nona kenapa?" raut bibi Narsih nampak khawatir, ketika melihat wajah Hanaria nampak memucat dan keringat dingin merembes keluar dari dahi dan pelipisnya.


"Entahlah Bi, perut saya memang kadang mules semenjak tadi pagi, tapi dibawa ke toilet juga tidak BAB, malah hilang." ungkapnya dengan suara sedikit mendesis.


"Mungkin juga karena pengaruh kita terlalu banyak berdiri tadi dan berjalan mutar-mutar didalam panti," duga Hanaria, mengingat dirinya dan bibi Narsih yang cukup lama berbincang dengan ibu Maria tanpa duduk karena tidak ada kursi, lalu setelahnya mereka menuju ruang kantor perawat untuk menanyakan kondisi ibu Maria.


"Boleh saya menyentuh perut Nona," pamit bibi Narsih yang mulai curiga, ia melihat perut Hanaria yang terus saja bergerak-gerak dibalik dres lebarnya.

__ADS_1


"Boleh Bi," sahut Hanaria, dan ia masih tetap pokus pada kemudinya sambil menahan rasa nyeri yang kian menyerang.


Tangan bibi Narsih mulai menyentuh dengan pelan dan meraba lembut permukaan perut Hanaria. Kadang rasa geli menyergap, tatkala pergerakan bayi itu menyentuh tapak tangannya dan semakin bergolak mengikuti kemana arah tangan bi Narsih bergerak.


"Bayi Nona sangat aktif" ucap bibi Narsih sambil tertawa kecil, ia juga dapat merasakan perut sang Nona majikannya itu sangat kencang menandakan sang nona majikannya sedang mengalami kontraksi.


"Nona sepertinya akan melahirkan. Bagaimana kalau kita berhenti disini saja? Bisa bahaya bila Nona memaksa terus menyetir dengan kondisi seperti ini," bibi Narsih yang memang memiliki pengalaman merasakan bila posisi bayi sudah menuju jalan lahir hanya dari sentuhan tangannya.


"Tidak Bi, kita sebentar lagi sampai, tinggal sedikit lagi," Hanaria masih bersikeras. Rasa nyeri yang mendera terkadang hilang dan terkadang muncul silih berganti, itulah yang membuatnya terus menjalankan mobilnya.


Bila dirasanya rasa nyeri menyerang ia melambatkan laju mobilnya dan sedikit berkendara ditepi jalan, dan bila rasa nyeri itu mereda, ia kembali menambah kecepatannya. Begitulah yang ia lakukan berulang-ulang.


"Apakah Nona mengandung bayi kembar?" tanya bibi Narsih dengan raut ragu. Dari sentuhan tangannya ia dapat merasakan pergerakan dua bayi.


"Eum, Willy memang pernah bilang begitu. Tapi dokter tidak mengagmtakannya karena kami yang memintanya sebagai kejutan," sahut Hanaria.


Hanaria dengan sigap menepikan mobilnya ditepi jalan karena tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya, padahal bangunan rumah megah nyonya Mingguana sudah didepan mata, hanya tinggal berjarak kurang dari 100 meter saja.


"Aduh! Bagaimana ini?" bibi Narsih terlihat sangat panik, melihat Hanaria memeluk erat kemudi didepannya dengan mata terpejam dan tubuh yang gemetar.


"Tunggu sebentar Nona! Bibi akan mencari bantuan," serunya berusaha keluar dari mobil yang masih terkunci dan ia tidak tahu bagaimana cara untuk membukanya.


Uiiw! Uiiw! Uiiw!


Ditengah kepanikan itu, samar-samar terdengar sirene ambulan yang semakin mendekat. Bibi Narsih berharap bila itu adalah ambulan yang telah dipesan oleh Hanaria sebelumnya untuk pak Aji.

__ADS_1


Benar saja, ambulan itu berhenti tepat didepan pagar kokoh nyonya Mingguana. Security nampak bingung, dan tidak membukanya karena belum sempat dikabari oleh Hanaria maupun bibi Narsih.


"Nona, tolong bukakan saya pintu mobil. Saya tidak tahu caranya," ucap bi Narsih sedikit sungkan, takut permintaannya mengganggu Hanaria yang sedang kesakitan.


Tanpa menjawab, karena masih berperang dengan rasa sakit yang bergolak dalam perutnya, Hanaria langsung menekan remote mobilnya.


Ceklek!


"Terima kasih Nona," bibi Narsih segera berlari tergopoh-gopoh meninggalkan mobil Hanaria dengan tubuh tuanya, menghampiri ambulan yang masih menunggu didepan gerbang, sementara sirenenya terus saja berteriak mengudara, mengalihkan perhatian setiap pengendara yang lewat.


Tidak lama berselang, ambulan itu berbalik, mengarah dimana mobil Hanaria berada.


"Dengan sigap, dua perawat laki-laki, dan seorang perawat perempuan segera turun membawa brankar dan memindahkan tubuh Hanaria keatasnya lalu memasukannya lagi kedalam ambulan.


"Mas, ini untuk pak Aji bukan saya," ucap Hanaria yang sempat protes disela-sela rasa sakitnya.


"Nona benar. Tapi saat ini Nona harus cepat dibawa kerumah sakit karena sebentar lagi akan menjalani proses persalinan." terang perawat perempuan sembari memasang infus.


"Berikutnya, pihak rumah sakit akan mengirimkan ambulan lagi untuk pak Aji." imbuh perawat itu lagi.


Hanaria tidak berkomentar lagi, ia lebih berkonsentrasi menahan rasa nyeri yang semakin mendera seperti ingin buang air besar saja.


"Willy...." lirih Hanaria, disaat rasa nyeri yang terus mendera, wajah suaminya terlintas begitu saja dibenaknya.


"Apa itu nama suami Nona?" duga perawat wanita yang duduk didekatnya, Hanaria hanya mengangguk dengan tubuhnya yang terus gemetar menahan rasa nyeri yang semakin tidak tertahankan.

__ADS_1


"Nona yang kuat dan sabar ya, kita sebentar lagi sampai. Dan pihak rumah sakit juga akan memberitahu suami Nona juga," ucap perawat itu lagi. Tangannya mengusap bulir-bulir keringat yang semakin membanjiri wajah Hanaria dengan tisue yang telah disiapkan di ambulan itu.


Bersambung...👉


__ADS_2