HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 64 Tangisan


__ADS_3

"Hana...... " Hanaria menoleh saat sang ayah menyebut namanya.


"Iya ayah......." Sahut Hanaria memandang wajah ayahnya yang terlihat serius.


"Mengenai pembicaraan kita semalam...... ayah harap kau memikirkannya kembali. Ingat Hana, kau sudah memimpikan menjadi seorang arsitek, dan sekarang kau sudah meraihnya dengan bekerja di perusahaan Agatsa Properti Group sebagai arsitek disana. Dan kemarin, kau baru saja menyelesaikan S2 arsitekmu nak, ayah.... dan juga ibumu..... kami berdua sangat bangga padamu." Pak Muri mendesah sejenak lalu mulai melanjutkan lagi.


"Ayah tidak melarangmu untuk membantunya, tapi jangan sampai kau mengorbankan impianmu selama ini, apa lagi dirimu nak. Kau berhak memutuskan yang terbaik untuk hidupmu Hana." Sambung pak Muri menasehati.


Hanaria termangu memikirkan apa yang ayahnya katakan. Selama ini, ayah dan ibunya lah yang selalu menjadi penasehat dirinya. Memberi dukungan dan selalu mendoakannya.


"Iya ayah..... Hanaria akan memikirkannya ulang......" Sahut Hanaria akhirnya. "Terima kasih ayah....." Hanaria tersenyum memandang ayahnya.


Pak Muri mengusap punggung putrinya. Wajahnya menggambarkan kekhawatiran yang teramat sangat pada anak perempuannya itu. Ingin rasanya ia membawa putrinya itu pulang kedusun, namun itu tidak mungkin ia lakukan. Putrinya sudah dewasa, sudah tahu memilah mana yang baik ataupun yang buruk untuk dirinya.


Pria lanjut usia itu hanya bisa berdoa dan berharap pada Yang Maha Kuasa, supaya putri kesayangannya itu selalu medapatkan yang terbaik dalam hidupnya.


Tin..... tin.... tin....


"Sepertinya......, travelnya sudah datang ayah.... ibu..... " Ujar Hanaria seraya berdiri menuju pintu depan.


Ibu Muri segera menyelesaikan sarapannya yang tinggal sedikit lagi, sementara pak Muri buru - buru menyusul Hanaria sambil membawa barang - barang keteras rumah.


"Sudah sarapan mas?" Tanya Hanaria, saat dirinya baru saja membuka pagar rumahnya sembari mengulas senyum.


"Sudah mbak Hana....." Sahut sang driver itu sopan disertai dengan senyuman.


"Kirain belum mas...... kalau belum sarapan didalam dulu......" Ucap Hanaria menawarkan.


"Sudah mbak..... isteri saya sudah bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan, supaya saya tidak telat mengantarkan pelanggan." Sahut sang driver lagi sambil membantu menaikkan barang - barang bawaan orang tua Hanaria dibagasi belakang.


"Sudah semua ayah, apakah tidak ada yang tertinggal?" Tanya Hanaria memastikan.


"Ada......" Sahut pak Muri sambil mendekati Hanaria.


"Apa itu??" Hanaria menoleh kiri - kanan, tapi ia tidak melihat satu barangpun yang tercecer dilantai maupun dikursi kayu didepan teras.


Pak Muri tersenyum menatap putrinya itu." Putri ayah...." Ucap pak Muri sambil mengembangkan kedua tangannya.


Tanpa komando, Hanaria langsung menghambur masuk kedalam pelukan ayahnya." Hana pikir beneran ada yang tertinggal........" Hanaria langsung terisak. Perasaannya mendadak melow. Setelah orang tuanya kembali ke dusun, mungkin lama mereka tidak bisa bertemu seperti ini.

__ADS_1


Pak Muri membelai rambut putrinya dengan lembut. Dadanya terasa sesak, bukan karena perpisahan itu, tapi obrolan dirinya dan isterinya dengan putrinya itu semalam.


"Sudah S2 kok cengeng??" Gurau pak Muri tersenyum, sambil melonggarkan pelukannya pada putrinya itu. Ia berusaha menyembunyikan perasaan khawatir yang ada dalam hatinya.


"Apa hubungannya cengeng dengan S2 ayah?" Hanaria yang merasa diledek segera meraih tissue untuk mengeringkan air matanya.


"Nggak ada sih......" Sahut ayah Hanaria masih tersenyum.


Hanaria lalu beralih memeluk ibunya, dirinya kembali menangis sedih. Ibu Muri mengusap - usap punggung putrinya lembut. Ia sebenarnya juga tidak rela membiarkan Hanaria seorang diri tinggal dikota. Sama seperti suaminya, ibu Muri sangat mengkhawatirkan Hanaria, perbincangan mereka semalam selalu mengganggu pikirannya hingga pagi ini.


"Hana..... jaga dirimu baik - baik ya nak..... ibu, dan ayahmu percaya padamu. Kau adalah perempuan yang bijak. Kau pasti tau, langkah tepat apa yang harus kau ambil." Ucap ibu Muri memberi nasihat.


"Iya bu.... terima kasih....." Hanaria melepaskan pelukannya sambil mengusap air matanya. Firlita yang menyaksiakan perpisahan Hanaria dan kedua orang tuanya ikut terharu dan turut menitikan air mata.


Firlita buru - buru menghampiri pak Muri dan mencium punggung tangannya.


"Hati - hati dijalan ya ayah....." Ucap Firlita seraya mengulas senyum.


"Terima kasih nak Firlita..... kau juga, jaga dirimu baik - baik ya nak." Pesan pak Muri disertai senyum hangatnya.


Firlita tersenyum, ia beralih menghanpiri ibu Muri dan mencium punggung tangannya.


"Iya, terima kasih nak Firlita..... jaga kesehatanmu, juga kesehatan bayi dalam kandunganmu nak. Jangan keasikan bekerja jadi lupa waktu makan dan beristirahat." Ibu Muri berpesan.


"Iya bu......"


Pak Muri dan ibu Muri segera naik kemobil. "Mbak Hana, mbak Firlita.... kami berangkat dulu....." Pamit sang driver sopan.


"Iya mas..... hati - hati dijalan....." Sahut Hanaria diikuti Firlita, sambil melambaikan tangan.


Pak Muri dan ibu Muri juga ikut melambaikan tangan hingga mobil mereka menjauh.


"Kak Hana..... aku berangkat duluan ya....." Pamit Firlita sambil melangkah menuju motor matic yang terparkir digarasi.


"Kakak akan mengantarkanmu Firlita.....!" Seru Hanaria.


Firlita menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap kearah Hanaria.


"Kak Hana juga 'kan akan berangkat berkerja pagi ini?" Ucap Firlita bingung.

__ADS_1


"Iya..... sekalian mengantarkanmu. Kakak ingin melihat tempat kerjamu yang baru. Boleh 'kan??" Ujar Hanaria sambil tersenyum.


Firlita tersenyum sambil menganggukkan kepalanya girang. "Iya boleh kak......"


Setelah mengunci pintu rumahnya, Hanaria segera masuk kemobilnya disusul oleh Firlita yang duduk disebelahnya.


"Pasang sabuk pengamanmu Fir....." Ucap Hanaria mengingatkan.


Mobil Hanaria merayap lambat, keluar dari halaman rumahnya.


Setelah menutup pintu pagar rumahnya dengan rapat, Hanaria kembali duduk dibelakang kemudi dan mulai menjalankan mobilnya dengan perlahan.


"Kak Hana......" Panggil Firlita. ia menatap wajah Hanaria yang tengah pokus mengemudi.


Hanaria membunyikan klaksonnya dua kali saat melewati pos jaga digerbang kompleks perumahannya, lalu melajukan mobilnya dijalan raya dengan kecepatan sedang.


"Iya Fir..... ada apa.....?"Sahut Hanaria kemudian dan melirik sekilas pada Firlita yang masih menatapnya.


"Terima kasih karena kakak mau mengantarkanku berkerja dihari pertama. Kakak sangat baik....." Ucap Firlita sambil tersenyum tipis.


"Sama - sama Fir..... Kakak hanya ingin memastikan saja, bahwa tempatmu berkerja adalah tempat yang aman bagi perempuan hamil sepertimu....." Sahut Hanaria.


"Kak Hana......" Firlita nampak sedikit ragu meneruskan kalimatnya..


"Katakan saja apa yang ada didalam hatimu Fir, kakak akan mendengar sambil menyetir." Ujar Hanaria yang menangkap keraguan dari nada suara Firlita.


"Aku....... sudah mendengar semua apa yang kakak perbincangkan dengan ayah dan ibu semalam....." Ungkap Firlita. Hanaria tiba - tiba menginjakkan rem kakinya tanpa sadar membuat dahi keduanya hampir saja membentur dashboard mobil bila tidak menggunakan sabuk pengaman.


"Upshhh..... maafkan kakak...... kakak tidak sengaja." Untung saja lalu lintas lagi sepi pagi itu, sehingga tidak terjadi kecelakaan.


"Akulah yang salah kak, ..... kak Hana pasti terkejut mendengarkan perkataanku tadi bukan......" Ucap Firlita merasa bersalah.


Hanaria tidak menjawab, ia kembali menjalankan mobilnya yang sempat terhenti akibat rem mendadak. Dirinya memang terkejut saat mengetahui Firlita mendengar semua perbincangannya bersama kedua orang tuanya. Dari wajahnya, Hanaria nampak menyesal, mengapa dirinya harus membahas hal itu diruang tamu bersama kedua orang tuanya, bukannya didalam kamarnya.


"Sudah cukup kak Hana.....! Kak Hana tidak perlu berkorban sebesar itu untukku..... aku tidak akan memaafkan diriku...... aku yang bersalah..... kenapa kak Hana yang harus menanggungnya......!" Firlita sudah tidak dapat menahan gejolak dihatinya, ia menangis sejadi - jadinya ditempat duduknya.


Hanaria tidak bereaksi..... ia tetap pokus pada kemudi dan jalan yang ada dihadapannya. Ia membiarkan Firlita meluapkan perasaannya sekian menit lamanya.


Hanya terdengar isak tangis Firlita yang memenuhi kabin mobil itu. Hanaria seolah memberi ruang untuk Firlita menumpahkan isi hatinya lewat tangisan tanpa mengusiknya sedikitpun.

__ADS_1


...•••...


__ADS_2