HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 18 Mengujungi Sekolah Dasar


__ADS_3

"Tapi ibu sudah makan tadi pagi Hana....." Tolak ibu Muri.


"Ibu memang harus sering - sering makan walau sedikit supaya cepat pulih....bukan kah dokter mengatakan seperti itu saat ibu berobat di puskesmas bersama ayah." Jelas Yurina.


"Baiklah....." Ibu Muri tidak membantah lagi. Hanaria memapah ibunya menuju dapur.


...•••...


"Hana..... kapan datang?" Seorang pria berpakaian seragam guru menyapa dengan senyum hangatnya, sambil berdiri didepan pintu kelas.


"Sudah tiga hari ini mas.... mas Rey mengajar disini juga?" Tanya Hanaria turut tersenyum hangat, sambil memperhatikan pakaian dinas guru yang dikenakan pria itu.


"Iya Hana, ......kembali laptop." Tawa Reymon renyah.


"Mengabdi pada ibu pertiwi, dan bersedia ditempatkan dimana saja. Ternyata mas ditempatkan disekolah ini, dikampung kita sendiri." Lanjutnya.


"Syukurlah mas, berarti masih bisa berkumpul dengan keluarga." Hanaria ikut tertawa renyah.


"Sekarang tinggal dimana mas?" Hanaria kembali bertanya.


"Masih dirumah dinas bersama ayah. Tunggu punya pasangan baru pindah." Ucap Reymon masih mengulas senyumnya.


"Oh, saya pikir mas sudah menikah. Karena yang saya dengar, hampir semua pria dan wanita dikampung kita sudah pada menikah diusia seperti kita." Sahut Hanaria memandang pria yang berusia beberapa tahun diatasnya itu.


"Belum.... Saya masih menunggu seseorang? Yang juga belum menikah seperti saya.... Dan seseorang yang saya sebut itu pasti mengingatnya, saat terakhir saya katàkan bahwa saya akan menunggunya sampai kapanpun, kecuali dia sudah menikah dengan pria lain."


Hanaria sedikit canggung mendengar ucapan Reymon, pria itu masih menatapnya seolah menanti jawaban darinya.


"Semoga saja orang yang mas Rey sebut itu masih mengingatnya, kalau tidak bisa bahaya, bisa kebablasan nanti nunggunya mas?" Canda Hanaria sambil tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana ketegangan yang sempat tercifta diantara keduanya. Reymon terpaksa ikut tertawa, ia tahu gadis itu berusaha menghindar.

__ADS_1


"Oya, apa kabarmu datang kemari Hana?" Tanya Reymon kemudian.


"Aku ingin bertemu pak guru Arta..... beliau ada?"


"Ayah.... ada dikantornya, ayo aku antar....." Reymon menawarkan diri.


"Tidak perlu mas, mas Rey bisa lanjut mengajar. Saya tidak mungkin tersesat menuju ruang kepala sekolah." Kelakar Hanaria. Ia lalu bergegas meninggalkan Reymon yang memandang dirinya melangkah menjauh menuju ruang kepala sekolah.


Sambil berjalan, Hanaria memperhatikan keadaan bangunan sekolah itu, tidak banyak berubah, masih seperti tiga belas tahun yang lalu. Hanya taman sekolah sudah tertata lebih rapi.


Diujung koridor sekolah, Hanaria berbelok kearah kanan, ia berhenti sejenak didepan pintu ruang kepala sekolah yang terbuka lebar. Terlihat seorang pria seumuran ayahnya, begitu sibuk dengan kegiatan tulis menulis diatas mejanya sambil melihat satu buku besar depannya, sesekali ia membenarkan letak kacamatanya.


Tok.... tok.... tok....


Pria yang sedang sibuk dengan pekerjaannya mendongakkan wajahnya menoleh kearah pintu sambil membenarkan kembali letak kacamatanya.


"Hanaa........??!" Pria berumur itu langsung berdiri saat melihat siapa yang sedang mengetuk pintu kantornya. Hanaria mengembangkan senyumnya lalu masuk.


"Ayo duduklah Hana..... Apa kabarmu nak Hana datang kemari?"Tanya Pak Arta. Ia duduk kembali dikursinya setelah mempersilahkan Hana duduk didepan meja kerjanya.


"Kabar baik pak guru..... Saya kemari untuk mengantarkan ini....." Hanaria mengeluarkan amplop cokelat bertali merah, lalu menyerahkannya pada pak guru Arta.


"Apa ini Hana?" Pak guru Arta menerima amplop yang diserahkan Hanaria lalu membukanya. Perlahan dikeluarkannya beberapa lembaran kertas dari dalam amplop itu.


"Huuahhh........Ini luar biasa bagus Hana......" Pak guru Arta begitu terpesona melihat gambar yang ada dilembaran - lembaran yang telah ia keluarkan dari amplop.


Satu demi satu diperhatikannya dengan mata terbuka lebar dan mulut yang ikut sedikit terbuka.


Pada lembaran pertama dilihatnya site plan dari luas sebelas ribu meter persegi tanah yang ia miliki. Pengaturan tata letak bangunan, berpadu dengan taman hias, kebun - kebun, dan beberapa petak sawah.

__ADS_1


Lembar kedua, ketiga, dan keempat pak Arta melihat gambar denah bangunan utama disertai perspektif eksterior dan interiornya. dilengkapi dengan detail bangunan.


Lembar keempat nampak gambar bangunan - bangunan pendukung seperti gasebo, kursi taman dan detail gambarnya.


Lembar kelima hingga lembar kesebelas adalah perhitungan Rencana Anggaran Biaya yang diperlukan dalam membuat seluruh pembangunan dalam luasan tanah yang mencapai sebelas ribu meter persegi itu.


Wajah pak guru Arta nampak begitu puas melihat gambar yang telah ia pesan pada mantan anak didiknya itu.


"Bukankah baru kemarin bapak menyerahkan ukuran - ukurannya pada ayahmu tapi kok sebentar sekali kau mengerjakannya nak Hana, apakah kau lembur semalam?" Tanya pak Arta memandang Hanaria yang duduk dihadapannya.


"Tidak pak guru. Keadaan kampung kita yang hening dimalam hari membantu saya lebih berkonsentrasi mengerjakannya sehingga cepat selesai." Ucap Hanaria mengulas senyum.


"Berapa biayanya ini.... Arsitek Hanaria Muri......??" Kelakar Pak guru Arta sambil tertawa menunjukkan beberapa lembar design gambar ditangannya yang telah dibuat oleh Hanaria.


"GRATIS......!!! Pak guru Arta sudah membayarnya saat menjadi wali kelas saya dulu. Ini hadiah dari saya yang pernah menjadi murid bapak di sekolah ini." Balas Yurina ikut berkelakar dengan guru yang pernah mengajarnya saat ia menjadi murid di sekolah tersebut.


"Benarkah......??" Tanya pak guru Arta tidak percaya.


"Hmm...." Hanaria mengangguk pasti.


"Tidak boleh begitu nak Hana, bapak punya teman guru dikota, ia membuat rumah pribadi dan menggunakan jasa seorang arsitek untuk membuat gambar hanya rumah tinggal saja, dan nilainya sekian rupiah. Apakah nak Hana berpikir bapak tidak mampu membayar jasa nak Hana??" Ucap pak guru Arta masih dengan nada berkelakar.


"Bukan itu maksud saya pak guru..... Saya hanya ingin memberi suatu hadiah yang belum pernah bisa saya berikan pada bapak, seperti kata saya sebelumnya tadi. Mohon diterima ya pak....." Sahut Hanaria.


"Selain itu saya sangat merindukan sekolah ini. Masih segar dalam ingatan saya, saat pak guru menjadi guru wali kelas saya. Disinilah saya mengenyam pendidikan dan mendapat ilmu. Saat itu, saya masih belum bisa apa - apa. Berbekal ilmu yang saya terima dari bapak dan ibu guru disini, saya bisa melanjutkan hingga perguruan tinggi, sehingga saya bisa bermanfaat, setidaknya untuk diri sendiri." Ucap Hanaria kembali mengenang saat dirinya masih menjadi salah satu murid di Sekolah Dasar Negeri itu.


"Kami juga sebagai guru, sangat senang memiliki murid seperti dirimu nak Hana, kau adalah salah satu anak didik di sekolah ini yang membuat kami merasa bangga." Ucap pak guru Arta terharu.


"Sekarang bagaimana kalau nak Hana bapak ajak menemui anak - anak supaya mereka termotivasi untuk lebih giat belajar dan meraih cita - cita seperti apa yang mereka inginkan." Ajak pak guru Arta yang sudah menjabat sebagai kepala sekolah di Sekolah Dasar itu.

__ADS_1


"Apakah saya pantas pak guru, karena saya tidak sehebat seperti yang bapak pikirkan. Saya masih belum menjadi siapa - siapa....." Ucap Hanaria merasa sungkan.


"Kau pantas nak Hana.....Ayo...." Pak guru Arya berdiri, lalu keluar mengajak Hanaria bersamanya menuju ruang kelas terdekat dari kantornya.


__ADS_2