
Ditengah sesenggukan Rosalia, Hanaria merasa terharu melihatnya, namun dirinya begitu tergoda ingin menggoda dokter cantik itu. "Kalau hati sudah tertancap panah cinta, suami orang lain disangka kekasih hati." ledeknya menjadi.
"Jangan meledekku seperti ini nona Hana, aku tahu dia Billy, bukan Willy suamimu," kekeuh Rosalia masih memandangi Billy yang tersenyum tipis melihat interaksi keduanya. Matanya memerah sambil menyeka air matanya dengan satu punggung tangannya yang lain.
"Sudahlah adik ipar, jangan menggodanya terus, tunggulah didepan," akhirnya Billy tak tahan membuka suaranya.
"Baiklah! Baiklah! Adik ipar kalian ini akan meninggalkan dua Kakak ipar yang sedang rindu berat," goda Hanaria lagi sambil berlalu keluar dari kamar menuju ruang tamu rawat inap VVIP Rosalia.
Mendengar perkataan Billy, seketika wajah sayu Rosalia berbinar, bersamaan dengan keluarnya Hanaria dari kamarnya, dokter cantik dengan wajahnya yang masih terlihat pucat itu mengumpulkan segenap kekuatannya untuk berdiri, tidak sabar mendekap Billy yang ia rindukan.
"Akh!" pekik Rosalia tertahan. Jarum infus terlepas bersamaan darah segarnya yang ikut mungucur keluar dari nadinya. Dengan sigap Billy gegas melakukan pertolongan pertama.
Walau bukan seorang tenaga medis, tapi Rosalia dapat melihat kepiawaian Billy menangini insiden kecil itu tanpa panik, tangan besarnya segera menekan sumber dar@h yang masih keluar lalu menutupnya cepat dengan perekat jarum infus yang tertinggal dipunggung tangan Rosalia.
Sesuai yang diharapkan, darah itu tidak keluar lagi. "Kau baik-baik saja?" Billy kembali mengulas senyum manisnya, menatap Rosalia yang tengah memandangi wajahnya.
"Heum, karena kau ada disini," manja Rosalia. Billy terkekeh, tanpa meminta izin ia meraih tubuh Rosalia, membawanya dalam dekapannya yang hangat.
__ADS_1
Untuk sesaat, keduanya saling mendekap erat sembari memejamkan mata, menyalurkan rasa rindu yang lama terpendam didalam dada. Tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka.
Sesekali Rosalia merasakan sentuhan bibir hangat Billy mendarat beberapa kali di pucuk rambutnya, membuat angan bahagianya kian terbuai. Suara detakan jantung laki-laki itupun kian jelas terdengar tidak berirama, serupa detak jantung dalam dadanya pula. Hanya mendengarnya saja membuat Rosalia tidak bisa berhenti untuk tersenyum.
Sangat mencintai, itu yang dirasakan Rosalia saat ini. Hanya bertemu, merasakan dekapan laki-laki pujaan hatinya itu saja sudah cukup mengembalikan semangat hidupnya yang hampir padam selama beberapa bulan terakhir ini. Begitu besarnya arti kehadiran laki-laki itu dalam hidupnya.
"Kau kurusan?" Billy sedikit merenggangkan pelukannya.
"B-benarkah?"
"Aku panaskan dulu supmu," Billy melepaskan dekapannya, mengambil bubur sup yang sudah dingin dari nakas yang diletakan Hanaria disana, sebelum adik iparnya itu meninggalkan mereka berdua sendiri.
Laki-laki itu memindahkan semua isi sup dari dalam mangkuk kedalam wadah pemanas listrik, ia meninggalkannya disana sampai sup itu akan kembali menghangat.
"Aku bersihkan noda darah ini dulu," Billy kembali mendekat, membawa tissue basah yang ia ambil dari atas meja.
"Kau biasa melakukan ini?" Rosalie memperhatikan Willy yang sedang membersihkan noda dar@h di punggung tangannya dengan hati-hati.
__ADS_1
"Iya, begitulah. Aku dan beberapa temanku sering membantu para team medis yang kewalahan menangani beberapa prajurit dan warga yang terluka saat dilapangan. Tidak banyak yang kami lakukan, hanya memasang dan mengganti cairan infus, membersihkan luka, dan memberi perban," terang Billy.
"Sudah selesai. " Billy memungut beberapa tissue kotor yang ia pergunakan membersihkan noda dar@h pada tangan dan beberapa bagian tubuh Rosalia lalu membuangnya kedalam tempat sampah dibawah ranjang pasien.
"Dimana mereka meletakan pakaian gantimu? Aku akan mengambilnya untukmu, lihat noda dar@hnya mengenai pakaianmu," tunjuk Billy pada bagian pinggang dan dada Rosalia.
"Disana," Rosalia menunjuk satu lemari pakaian dibawah layar monitor televisi. Billy gegas beranjak dan memilih satu setelan pakaian tidur dari dalam sana dan membawanya kembali pada Rosalia.
"Pakailah ini. Atau mau kubantu?"
"Iya, aku perlu bantuan membuka pakaian kotorku ini," seketika sepasang mata Billy membola mendengarnya.
Rosalia terkekeh sendiri. "Bercanda Billy, serius amat. Bukannya kamu yang duluan menawarkan bantuan?" perempuan itu kembali tergelak kecil. Billy yang kurang bicara akhirnya ikut terkekeh juga, menyadari bila dirinya memang menawarkan bantuan sebelumnya.
"Bergantilah dulu. Aku akan mengambil sup-mu. Pasti sudah panas." ujar Billy sambil berlalu, berusaha sebisa mungkin menghindari obrolan-obrolan yang membahayakan.
Bersambung...👉
__ADS_1