
"Aku dan nona Hanaria...... kami tidak mempunyai hubungan apa - apa mas Rey. Hubungan kami hanya sebatas antara atasan dan bawahan saja, dan kami pun jarang ada hubungan kerja. Tapi mulai besok, kami akan lebih intens bertemu, karena nona Hanaria kemarin, sudah diangkat menjadi Wakil Kepala Divisi Arsitecture." Ucap Willy tenang. Reymon berfikir sejenak, lalu meraih cangkir teh yang tinggal setengahnya saja, hanya dengan dua kali tegukan, Reymon sudah menghabiskan isi cangkir tehnya.
"Mas rasa, ucapanmu dapat mas pegang tuan muda. itu tandanya mas bisa melanjutkan niat baik mas ini pada Hanaria, tetap berusaha mendapatkan hatinya. Semoga saja urusan mas bisa segera selesai didusun, jadi secepatnya bisa pindah kekota." Tutur Reymon, sambil membereskan piring dan cangkir tehnya, membawanya ke wastafel untuk dibersihkan.
"Maksud mas Rey? Mas Rey akan pindah kekota dalam waktu dekat?" Tanya Willy penasaran.
"Iya tuan muda, kebetulan ada rekomendasi dari sekolah untuk mas mengisi lowongan pekerjaan didinas pendidikan yang ada dikota ini, jadi mas terima saja. Semoga saja ini awal yang baik." Ucap Reymon, sambil memutar kran wastafel untuk membilas sabun dipiring dan cangkir yang ia bersihkan.
"Apa nona Hanaria sudah tahu?" Tanya Willy, sebenarnya ia ragu mengajukan pertanyaan itu, numun dirinya terpaksa harus melakukannya karena perasaan ingin tahunya terlampau besar.
"Belum sempat mas beritahu. Mas harap dengan pindahnya mas berkerja dikota ini, mas akan lebih dekat dengannya." Ungkap Reymon dengan senyum manisnya. Willy mengangguk - anggukkan kepalanya, sambil memainkan garfu dan pisau dipiringnya.
"Tuan muda......" Reymon kembali mendekati Willy yang masih duduk dimeja makan.
"Iya mas Rey......" Willy meletakkan pisau dan garfu yang sedang ia mainkan diatas piringnya, lalu memandang wajah Reymon yang sudah duduk kembali dihadapanya.
"Seingat mas, tadi tuan muda sempat mengatakan, bahwa antara tuan muda dan Hanaria akan lebih sering bertemu untuk urusan pekerjaan, karena jabatan barunya sebagai wakil kepala Divisi.....?" Ucap Reymon.
"Iya..... itu benar......." Sahut Willy membenarkan.
"Anggap ini suatu permintaan kecil mas pada tuan muda. Tolong, jagalah Hanaria untuk mas. Setelah kejadian beredarnya video antara tuan muda bersama Hanaria, mungkin Hanaria akan banyak menghadapi kesulitan, bisa jadi anggapan - anggapan miring dari rekan - rekan sekantornya, bahkan omongan - omongan yang tidak pantas akan ia terima kedepannya."
"Hal itu pasti tidak mudah buatnya tuan muda. Untung saja didusun kami belum ada listrik, sehingga kami bisa bebas menonton siaran televisi. Tuan muda bisa mengecek langsung, siaran televisi terbaru, ternyata para wartawan itu sudah mendapatkan berita tentang video yang berdurasi 6 detik itu." Willy terkesiap mendengar perkataan Reymon, ternyata pria itupun sudah mengetahui sampai sejauh itu.
__ADS_1
"Mas tidak bisa bayangkan, bila sampai kedua orang tua Hanaria mengetahui tentang video itu. Tuan muda tahu...... untuk menyekolahkan Hanaria, mereka harus merelakan beberapa bidang tanah sawahnya untuk dijual. Demi kemajuan Hanaria untuk mencapai cita - citanya menjadi seorang arsitek, orang tuanya merelakan putri kesayangannya itu untuk tinggal seorang diri tanpa pantauan mereka. Itu adalah pengorbanan yang besar dari orang dusun yang hidupnya sederhana. Mereka sekarang hanya hidup dari satu petak sawah, dan satu bidang kebun yang masih tersisa." Wajah Reymon nampak begitu sedih saat mengungkapkan tentang keluarga gadis pujaannya itu.
Willy masih terdiam, perkataan Reymon barusan begitu menyentuh hatinya. Ia tidak menyangka, perbuatannya kemarin pagi terhadap Hanaria akan berujung serumit ini. Bagaikan benang kusut, yang sangat sulit untuk diurai dan dirapikan.
"Tuan muda........." Panggil Reymon. Namun Willy masih sibuk dengan fikirannya sendiri, ia tidak mendengar, seolah - olah hanya raganya saja yang ada disana.
"Tuan muda........" Panggil Reymon lagi, ia menatap wajah Willy yang masih termenung.
"Tuan muda.......!" Panggil Reymon untuk ketiga kalinya, sambil menepuk pundak Willy pelan. Willy tergagap, ia langsung terjaga dari lamunannya, dan memandang Reymon yang sudah berdiri disampingnya.
"Iya...... mas Rey...... Maaf, saya tidak fokus." Ucapnya terbata - bata.
"Tidak apa - apa tuan muda....... sudah waktunya saya pamit, terima kasih untuk tumpangannya selama beberapa hari ini." Ucap Reymon, sambil tersenyum.
"Terima kasih tuan muda, saya sudah memesan travel, dan travelnya sudah menunggu didepan lobby." Ucap Reymon. Reymon lalu beranjak menuju ruang tamu, dimana kopernya sudah siap disana.
"Kalau mas Reymon kekota lagi, menginaplah disini, saya hanya sendiri, kalau ada mas, ada teman untuk mengobrol." Ujar Willy sambil mengikuti langkah Reymon menuju pintu.
"Tentu saja tuan muda. Sekali lagi terima kasih. Titip Hanaria ya tuan muda." Reymon menatap wajah Willy yang juga sedang menatapnya.
"Iya mas Rey...... saya akan berusaha menjaga calon kakak ipar saya......" Ucap Willy berusaha mencairkan suasana.
"Terima kasih........" Reymon tersenyum mendengar kalimat terakhir Willy yang menyentuh hingga kejantungnya. Bagaimana tidak, menikahi Hanaria itu impiannya sejak lama.
__ADS_1
Reymon segera melangkah menuju lift yang ada diujung koridor gedung apartemen. Willy menatap Reymon yang pergi menjauhi pintu apartemennya, sambil menyeret kopernya dengan tangan kanannya, hingga pria berprofesi sebagai guru itu memasuki lift.
Didalam lift, Reymon kembali mengingat akan obrolan panjangnya bersama Willy, mulai pagi - pagi buta hingga hari menjadi terang. Ia mendesah pelan, dirinya dapat merasakan, bahwa Willy tidak mengatakan secara lengkap, ada hal - hal yang sepertinya masih ia sembunyikan. "Tuan muda pasti mempunyai alasannya sendiri." Ucapnya didalam hati. Semuanya pasti akan terungkap dengan berjalannya waktu, fikirnya.
...***...
Willy menghempaskan tubuhnya diatas sofa tamunya, ia mengacak - acak rambutnya hingga berantakan tidak karuan. Semua obrolan panjangnya dengan Reymon kembali terngiang - ngiang ditelinganya.
Belum lagi hasil pertemuannya dengan kedua orang tuannya semalam, membuat fikirannya bertambah kusut saat mengingatnya.
Flashback :
"Kenapa kak Billy ada disini? Bukankah katanya ada tugas penting diperbatasan?" Tanya Willy heran, dia tidak menyangka, kakak kembarnya, yang sangat sulit ditemui juga ikut hadir dimalam itu.
"Tidak perlu heran, aku bisa berada dimana saja seperti siluman dalam waktu sekejap, kau pasti akan pening bila memikirkannya." Sahut Billy sambil menikmati camilan ringan yang disediakan oleh ibunya, Yurina.
"Tidak perlu basa - basi dan bertele - tele Willy, daddy tahu kau hanya ingin mengalihkan pembicaraan kita. Daddy, mommy, dan kakakmu Billy ingin mendengar pertanggung - jawabanmu atas kekacauan yang telah kau ciftakan hari ini. Prestasimu belum kau tunjukan dari awal daddy memberi kepercayaan padamu memimpin perusahaan dalam 4 bulan ini, kenapa kau sudah mencoreng namamu dengan begitu hebatnya. Kau tahu, dirimu itu tidak membawa namamu saja Willy.......! Tapi nama keluarga kita, keluarga Agatsa......! Apa kau tidak mengerti anak sableng........! Daddy sudah sering kali memperingatkanmu Willy.......!" Wajah Moranno memerah, suara bernada tingginya menggema memenuhi seluruh ruangan keluarga. Yurina mengelus lengan Moranno Agatsa, untuk menenangkan emosinya suaminya itu.
"Suamiku...... tenangkan dirimu, amarahmu itu tidak akan menyelesaikan masalah ini. Mari kita bicarakan semua ini dengan kepala dingin." Ucap Yurina, tangannya terus mengusap lengan suaminya itu.
"Willy...... mommy sudah dengar semuanya dari daddymu, perlakuanmu pada gadis itu memang adalah suatu yang tidak bisa dibenarkan, kau sudah melakukan pelecehan pada anak gadis orang Willy. Mommy tidak habis fikir kenapa kau bisa bertindak tidak beretika seperti itu, kau anak mommy, mommy mengenalmu dengan baik, mommy tidak percaya kalau kau bisa bertindak tidak bermoral seperti itu Willy. Tindakan sembronomu itu bukan hanya merugikan dirimu sendiri, tapi juga gadis itu Willy." Ujar Yurina, wajahnya nampak sangat kecewa pada putranya itu.
Willy menundukkan kepalanya dalam. Sang ibu, yang biasanya selalu berpihak padanya, membelanya dengan penuh keyakinan, kini berseberangan dengannya. Ia tahu, bila sampai ibunya ikut menyela perilakunya, berarti ia benar - benar telah melakukan kesalahan.
__ADS_1
"Willy, kau bisa lihat nantinya, akibat perbuatanmu itu, gadis itu pasti akan banyak mendapat celaan dari berbagai pihak. Mommy tidak tahu, apakah dirinya sanggup menanggungnya. Mommy mengatakan ini, karena mommy sudah pernah berada diposisi gadis itu. Sekalipun tidak bersalah, kami sebagai wanita, selalu dianggap bersalah, bodoh, memanfaatkan kesempatan untuk naik kelas jabatan, dan sebagainya.