
Willy menikmati makan siangnya dengan sangat hati - hati, jangan sampai ia ketulangan dihadapan kedua orang tua Hanaria itu. Sayur daun pepaya dan bunganya, membuat Willy hampir saja memuntahkannya karena rasa pahit yang luar biasa dilidahnya.
Ia memang tidak suka makan sayur. Ia terbiasa makan daging ayam, atau daging merah lainnya. Ia jarang sekali makan ikan untuk menghindari duri - duri yang terdapat didalam daging ikan.
Untuk memenuhi asupan sayuran bagi tubuhnya, Willy lebih memilih untuk mengkonsumsi suplemen herbal dan vitamin.
"Ditambah lagi makanannya nak Willy" Ucap pak Muri kembali menawarkan, sambil mendekatkan bekal makanan kehadapan Willy yang dilihatnya hanya makan sedikit.
"Sudah kenyang pak......" Sambil memegang perutnya seolah - olah kenyang. Kedua orang tua Hanaria itu hanya tersenyum, mereka tahu bahwa anak muda itu hanya berpura - pura kenyang saja.
Pak Muri dan Willy kembali melanjutkan obrolan mereka setelah usai makan siang. Sementara ibu Muri membersihkan peralatan makan yang telah mereka gunakan didapur kecil pondok itu.
Ibu Muri kembali ikut bergabung dalam perbincangan antara suaminya dan Willy beberapa saat lamanya hingga matahari mulai condong kearah barat.
"Bagaimana? Kita turun ketengah sawah lagi bu?" Tanya pak Muri pada isterinya, saat melihat jam dinding dipondok kecil mereka yang telah menunjukan pukul 3 sore.
"Iya pak......" Sahut ibu Muri dan segera bersiap.
"Saya boleh ikut pak.... bu.....?" Tanya Willy tiba - tiba. Pak Muri dan Ibu Muri saling berpandangan satu sama lain.
"Ah, nak Willy, senangnya bercanda sedari tadi." Ucap pak Muri sambil terkekeh, lalu memasang seraung dikepalanya, demikian juga ibu Muri segera memasang seraung.
"Saya tidak bercanda pak...... Saya mau belajar menanam padi, setidaknya membantu bapak dan ibu membawa semaian padi itu ketengah sawah." Ucap Willy ikut menuruni tangga teras.
__ADS_1
Pak Muri dan isterinya kembali saling pandang. Lalu keduanya melihat kearah Willy. Anak muda itu terlihat terlalu bersih dan rapi bila harus ikut masuk kelumpur sawah fikir mereka didalam hati.
"Nak Willy, nanti pakaian mu yang bersih itu akan menjadi kotor terkena cipratan lumpur. Dan kulitmu itu akan mengitam terkena sinar matahari nak. Petani seperti kami kerjanya ya seperti ini, dibawah terik matahari, dan bermain dengan lumpur yang kotor." Sanggah ibu Muri.
"Tidak apa bu..... Saya mau belajar...... Hitung - hitung mengisi waktu liburan saya." Ucap Willy memberi alasan agar diijinkan ikut oleh kedua orang tua Hanaria itu.
"Ambilkan satu seraung lagi bu, untuk nak Willy......." Pinta pak Muri. Ibu Muri kembali naik kepondok, tidak lama ia keluar lagi dan membawa satu seraung, dan mengenakannya pada Willy.
"Bagaimana? Apa saya sudah cocok jadi petani?" Ucap Willy, seraya membenarkan seraung yang ia kenakan. Pak Muri dan isterinya hanya tertawa kecil, sambil menggeleng - gelengkan kepala mereka melihat Willy yang ingin sekali berpenampilan seperti petani.
"Ayo nak Willy......." Pak Muri lalu berjalan lebih dulu menuju pematang sawah, sambil membawa semaian benih padi dikedua tangannya. Willy yang mengekor dari belakang pun ikut mengambil semaian benih padi. Hampir saja ia tidak sanggup mengangkatnya, karena hanya menggunakan setengah tenaganya, karena difikirnya ringan.
"Berat ya nak Willy.......?" Ucap ibu Muri sambil tertawa kecil dari belakang
"Iya bu..... Kelihatanya tadi ringan......" Sahut Willy sambil terus berjalan mengikuti pak Muri dibelakangnya.
"Nak Willy tidak usah turun. Tunggu saja disana." Ucap ibu Muri lagi. Willy yang sudah kepalang basah mengatakan ingin belajar tentu saja malu bila tidak melakukan seperti apa yang ia katakan. Apa lagi dalam hal ini, ià memiliki alasan khusus untuk tetap melakukannya walaupun hatinya sangat menolak mengerjakan pekerjaan yang terlihat sangat kotor itu.
Untung saja Willy membawa masker disaku celana pendeknya. Dengan menahan rasa ingin muntahnya ia buru - buru memasang masker pada wajahnya, supaya bau lumpur yang mengerikan itu bisa tercium samar - samar olehnya. Ia melepas sepatu cat putih yang ia kenakan, dan meninggalkannya diatas pematang sawah.
Willy memaksakan diri untuk turun. Begitu kakinya menyentuh lumpur, ia merasa sangat geli hingga membuat tubuhnya menjadi oleng. " Bruugghh." Ia terjatuh menimpa lumpur yang membuatnya bertambah jijik. Baju dan celananya sudah berubah warnah, cokelat kehitaman. Willy berusaha keras menahan mual yang melandanya.
Pak Muri yang mendengar suara Willy terjatuh segera datang menghampiri untuk menolongnya.
__ADS_1
" Aduh, nak Willy jadi kotor....... Biar kami saja, kasian nak Willy." Ucap pak Muri sambil membantu menegakkan pria muda itu untuk berdiri.
"Tidak apa - apa pak...... Kalau tidak kotor, tidak belajar 'kan?" Ucap Willy yang berusaha menutup rasa malunya dihadapan kedua orang tua Hanaria itu.
"Huuhh...... Payah sekali diriku...... hal seperti ini saja aku tak bisa, terlihat mudah, ternyata sulit." Batin Willy, sambil berusaha tersenyum menatap kedua orang tua Hanaria, yang juga menatapnya dengan rasa iba.
"Beginikah caranya??" Tanya Willy kemudian, sambil mencucukkan benih padi ditangannya kedalam lumpur yang telah dialur.
Pak Muri dan ibu Muri melihat hasil kerja Willy yang membantu mereka. Tampak benih padi yang ditanamnya ada yang berdiri tegak sebagian, ada yang miring, dan bahkan ada yang rebah dan menempel pada genangan lumpur.
Pak Muri dan ibu Muri segera mendekati Willy, dan membenarkan yang miring dan rebah agar menjadi tegak, tanpa banyak bicara, keduanya hanya tersenyum, memaklumi apa yang dilakukan Willy.
"Maafkan saya pak...... bu....... " Willy merasa tidak enak, saat melihat pak Muri dan ibu Muri memperbaiki pekerjaannya yang tidak beres.
"Tidak apa - apa nak Willy...... Wajar saja, kan masih belajar......" Ucap Pak Muri sambil tertawa kecil. Ia dan isterinya itu cukup tekesan dengan apa yang dilakukan Willy. Anak muda itu, yang sudah punya segalanya karena kekayaan orang tuanya, tapi mau belajar pada mereka yang orang dusun biasa.
"Pak Muri.......?! Ada yang bantuin ya pak.....?!." Seru seorang warga saat melewati sawah pak Muri sambil membawa semaian benih padinya menuju sawahnya yang berada disebelah sawah pak Muri.
"Iya pak......." Sahut pak Muri sambil tersenyum ramah.
"Yang bantuin ganteng amat pak Muri......!!" Seru seorang ibu yang tengah menanam benih padi bersama beberapa ibu - ibu yang lain disawah sèbelah selatan sawah pak Muri, sambil tertawa satu sama lain.
Demikianlah suasana yang terjadi ditengah sawah para warga sore itu. Willy yang ikut turun kesawah pak Muri dan ibu Muri menjadi pusat perhatian. Dari awal, mereka sudah memperhatikan anak muda itu, apa yang dilakukannya hingga ia terjatuh mebjadi hiburan mereka.
__ADS_1
"Besok....... Saya ikut belajar lagi ya pak..... bu.....?" Pinta Willy, saat hari sudah terlalu sore dan tiba saatnya mereka akan pulang. Kedua orang tua Hanaria kembali berpandangan. Namun keduanya tetap menganggukan kepala tanda setuju. Walau esok harinya, mereka akan kembali memperbaiki pekerjaan Willy yang sedang belajar itu.
...***...