HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
172. Hari Pertama Kerja


__ADS_3

"Maafkan kami tuan Willy, saya akan instruksikan segera pada manajemen," sahut nyonya Mingguana dari seberang sambungan telepon.


"Terlalu lama menunggu nyonya, belasan mobil sudah membludak dibelakang mobil saya, ini akan mengganggu lalu lintas umum dijalan raya," ketus Willy.


"Sepertinya nyonya memang sangat hobi membuat kekacauan dan kemacetan yang tidak penting," sindir Willy tajam.


"Baik tuan Willy, tolong berikan ponsel yang anda pegang ini pada security-nya," pinta nyonya Mingguana terpaksa merendahkan gengsi-nya pada Willy.


"Anda berani memerintah saya nyonya?" suara Willy terdengar meninggi , membuat Hanaria yang sedari tadi memperhatikan suaminya itu langsung menyentuh lengannya supaya tidak marah-marah didepan umum.


"Anda cukup memerintahkan security Anda saja, karena saya sudah mengaktifkan mode loudspeaker. Saya tidak mengiijinkan satu orang-pun menyentuh ponsel isteri saya, apalagi sekelas security Anda nyonya," imbuh Willy dengan nada kesalnya.


Security yang mendengar ucapan Willy pada nyonya Mingguana menahan nafasnya, selama berkerja bertahun-tahun diperusahaan tambang milik nyonya Mingguana, hingga dimutasi ke perusahaan otomotif ini, baru kali ini ia mendengar ada orang yang berani bicara demikian pada majikannya seperti yang baru ia dengar.


"Baik maafkan saya tuan Willy." sahut nyonya Mingguana tidak mau memperpanjang masalah.


"Security! Biarkan tuan Willy dan nona Hanaria masuk! " perintah nyonya Mingguana dengan marahnya. Dari nada suaranya, wanita itu sangat kesal karena pagi-pagi ia sudah diperhadapkan dengan Willly yang membuat harinya terasa tidak menyenangkan.


"Satu lagi, ambil gaji terakhirmu dikasir!" ucap nyonya Mingguana mengakhiri teleponnya.


Wajah sang security langsung berubah pucat dan menyedihkan, ia tidak menyangka pagi-pagi mendengarkan pemecatan tidak hormat pada dirinya dari sang majikan, padahal ia sudah menjalankan tugasnya sesuai aturan manajemnya.


"Silahkan masuk tuan Willy," ucap security itu berubah sopan dan melembut, tidak seperti sebelumnya. Ia berusaha bersikap hormat di penghujung tugasnya.


"Bila Anda tidak mengenal kami, seharusnya Anda meminta kartu identitas dan memberi pemberitahuan pada pihak manajemen Anda. Bukannya tidak memperbolehkan kami masuk hanya karena plat mobil tidak terdaftar. Tanggung sendiri akibatnya," ucap Willy menimpali, ia masih kesal pada sang security, lalu menjalankan mobilnya melintas pos jaga. Security lainnya yang menyaksikan semuanya itu hanya bisa berdiam diri ditempatnya masing-masing.


Hanaria yang duduk disamping kemudi Willy, meneguk salivanya saat menyaksikan semuanya itu, ia tidak berani membuka suaranya, takut menerima imbasnya ketika melihat Willy menunjukan jiwa CEO-nya didepan para security itu.


Sementara mobil-mobil para petinggi perusahaan Mega Otomotif yang mengantri panjang dibelakang ikut berjalan pelan dan melintas di pos jaga mengikuti mobil Willy dari belakang, semuanya tidak ada yang berani membunyikan klakson walau merasa perjalanan mereka memasuki area kantor sempat tersendat.

__ADS_1


Willy yang masih kesal memarkirkan mobilnya tepat didepan lobi kantor. Seorang security lainnya yang melihatnya segera mendekat untuk memberi teguran, supaya mobil Willy tidak mengganggu para pegawai yang akan masuk ke lobi, namun walkie talkie yang sedang digenggam security itu memberi informasi yang membuatnya mengurungkan niatnya. Security itu hanya bisa memandang Willy yang mengenakan kacamata gelapnya dan Hanaria, turun dari mobil sambil membungkukan tubuhnya memberi hormat.


"Selamat pagi, dan selamat datang tuan Willy dan Nona Hanaria di kantor perusahaan Mega Otonotif," sapa salah satu resepsionis tersenyum ramah saat melihat Hanaria dan Willy memasuki lobi kantor itu, sementara dua resepsionis lainnya ikut berdiri dan tersenyum menyambut kedatangan kedua tamu perusahaan yang pagi itu menjadi pusat perhatian satu gedung kantor perusahaan Mega Otomotif berlantai tiga belas itu.


Hanaria membalas senyuman pegawai resepsionis itu dan berhenti sejenak dihadapan mejanya.


"Dimana saya bisa bertemu nyonya Mingguana Nona?" tanya Hanaria pada pegawai resepsionis yang berdiri dibelakang mejanya menyambut kedatangan Hanaria dan Willy.


"Silahkan naik kelantai dua belas menggunakan lift owner nona Hanaria. Nyonya Mingguana sudah menunggu Anda diruangannya," kata resepsionis itu memberi informasi.


"Terima kasih Nona," sahut Hanaria. Ia beranjak dari tempat itu diikuti Willy yang berada disampingnya. Sekilas lewat ekor matanya, Hanaria melihat pandangan kedua resepsionis lainnya itu memandang kearah suaminya dengan tatapan terpana.


Bagi Hanaria, itu bukan hal baru yang membuatnya cemburu, ia sudah terbiasa melihat pemandangan seperti itu diperusahaan suaminya. Ia tidak merasa heran, karena teman satu gank-nya juga sering terpesona saat melihat Willy melintas dihadapan mereka.


Ting! Tong!


Suara lift terbuka, setelah sepersekian menit ia dan Willy berdiri saling mematung didalam lift owner itu. Keduanya keluar dan disambut senyuman ramah seorang pria.


David mendorong knop pintu yang dipegangnya dengan perlahan hingga terbuka penuh. Seorang wanita paruh gaya, dengan gaya elegan dan terlihat masih cantik, duduk dikursi kebesarannya.


Wanita itu langsung berdiri dibelakang mejanya, saat melihat Hanaria dan Willy muncul didepan pintu bersama David, asisten pribadinya.


"Nona Hana, tuan muda Willy selamat datang di Mega Otomotif," sambut nyonya Mingguana ramah.


"Mari duduklah dulu." Nyonya Mingguana mengajak sepasang suami isteri itu untuk duduk disofa tamu.


"Mau minum apa nona dan tuan muda Willy?" kata nyonya Mingguana menawarkan dengan sikap ramahnya, ia berusaha menjadi tuan rumah yang baik.


"Tidak, terima kasih Nyonya," tolak Willy datar. Ia mendudukkan tubuhnya tepat disisi Hanaria isterinya, lalu melepaskan kacamata gelapnya dan mencantolkannya dikantong depan kemejanya.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Semua pasang mata menatap kearah pintu yang diketuk dari luar. Asisten David yang masih berdiri dibelakang daun pintu lalu membuka pintu itu.


Seorang wanita berpostur tinggi langsing berpenampilan seksi dengan kostum kurang bahannya, masuk dengan langkah lemah gemulainya, sambil menebarkan senyum lebarnya, ia langsung menghampiri nyonya Mingguana ditempat duduknya.


"Bibi," wanita seksi itu mencium dan memeluk nyonya Mingguana dengan gaya yang dibuat manja.


"Syukurlah kau sudah tiba di Indonesia sayang," ucap nyonya Mingguana tersenyum senang.


"Ayo, aku akan memperkenalkanmu dengan pegawai baruku dan suaminya," imbuh nyonya Mingguana sambil berdiri.


"Nona Hanaria, perkenalkan ini Lucy Amnaella, model product Mega Otomotif, ia berasal dari Singapura," kata nyonya Mingguana memperkenalkan dengan senyum penuh arti.


"Lucy," wanita seksi itu menyebutkan namanya sambil mengulurkan tangannya kepada Hanaria didepannya.


Degg!


Otak Hanaria langsung berkerja, membawa ingatannya pada nama gadis yang pernah Willy sebut sebagai gadis yang pernah dekat dengan suaminya itu.


"Hanaria," isteri Willy itu juga menyebutkan namanya dengan tenang dan santai sambil menyambut uluran tangan Lucy yang ingin berjabatan tangan dengannya.


"Senang bertemu dengan Anda, nona Hanaria," ungkapnya dengan suara yang lumayan fasih berbahasa Indonesia.


"Terima kasih," sahut Hanaria singkat, ia merasa dirinya harus menjaga jarak dengan wanita yang terlihat baik, namun licik menurut penilaian awalnya.


Lucy yang baru melepaskan tangannya dari tangan Hanaria segera beralih pada Willy yang duduk disebelah Hanaria.


"Oh my dear, i miss you," ungkap Lucy menghambur pada Willy, membuat Hanaria hanya bisa ternganga melihat adegan tidak terduga itu.

__ADS_1


Belum sempat tubuh Lucy menyentuh tubuhnya, Willy langsung bergerak refleks menghindar, membuat Lucy yang tanpa mengerem tubuhnya langsung tersungkur dilantai, dibawah kursi sofa tamu.


__ADS_2