HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
198. Usaha Mencapai Target Penjualan


__ADS_3

Sesuai jadwal dan janjinya pada nyonya Mingguana, pagi itu Hanaria berangkat bersama manager Antonio menuju area tambang milik nyonya Mingguana yang kini telah menjadi majikannya.


Sepanjang jalan sepi menuju area tambang, Manager Antonio tidak henti-hentinya menjerit ketakutan sambil berpegangan kencang pada handle kabin mobil dan apapun yang ia anggap kuat didalam kabin mobil itu.


Bagaimana tidak, Hanaria mengemudikan mobil tambang begitu kencang, seolah ban mobil tidak berpijak pada jalan tanah yang hanya dialasi batu kerikil yang berhamburan saat mobilnya melintas diatasnya, sedangkan debu jalanan mengepul dibelakangnya hingga menghalangi jarak pandangan bagi pengendara yang ada dibelakangmya.


Hanya sesekali saja Hanaria memelankan laju mobilnya saat melintas dipersimpangan jalan tambang atau di pos jaga security sambil menurunkan kaca jendela mobil disampingnya, lalu menaikannya kembali setelah melintas.


Para pekerja tambang yang menjalankan alat-alat beratnya menghentikan kegiatannya sejenak dan menepi kebahu jalan, saat para pengawas memberi berita dan perintah lewat radio walkie-talkie bahwa pegawai kepercayaan bis besarnya sedang melintas diarea kerja mereka.


Hanaria yang menyebabkan semuanya itu hanya bersikap santai dan berusaha sabar mendengar umpatan demi umpatan yang terlontar dari mulut manager Antonio padanya. Tidak lama berselang, ia menghentikan kendarannya dengan menginjak rem kakinya dengan tiba-tiba membuat manager Antonio kembali mengumpat kesal.


"Kita sudah sampai," kata Hanaria datar sambil melepas sabuk pengaman yang meliliti tubuhnya, ia melirik atasannya yang masih berpegangan erat pada handle kabin diatas kepala bagian kirinya. Pria paruh baya itu terlihat mengatur napasnya yang kembang-kempis.


"Apa ini caramu untuk balas dendam padaku nona Hana? Kau bisa membunuhku!" geram manager Antonio melirik tajam bawahannya yang seakan sengaja melakukan tindakan itu padanya.


"Bukankah tempo hari aku sudah minta maaf padamu?!" tambahnya lagi masih bernada kesal.


"Saya bukan tipe pendendam manager Antonio, saya hanya ingin memacu adrenaline kita sebagai seorang marketing," Hanaria menatap lekat wajah manager Antonio yang masih terlihat pucat akibat perbuatanya yang mengemudikan kendaraan tambang dengan kecepatan penuh


"Apa hubungannya pekerjaan kita sebagai seorang marketing dengan kebut-kebutan diarea tambang bagai orang kesetanan," sungut manager Antonio masih dengan wajah kesalnya.


"Tentu saja ada manager Antonio. Ingat, target penjualan kita setiap bulannya sekitar empat puluh unit alat berat, sembilan ratus unit mobil, dan dua ribu empat ratus unit sepeda motor. Dan saya harap target itu bisa terpenuhi bulan ini, kalau tidak-" Hanaria sengaja menggantung ucapannya.

__ADS_1


"Kalau tidak kenapa?" tanya manager Antonio setengah acuh sambil membuka sabuk pengaman yang masih melekat pada tubuhnya.


"Karier Anda akan berakhir bulan ini manager Antonio." sahut Hanaria lugas.


Manager Antonio menatap Hanaria, ia tahu bahwa bawahannya itu bukan sedang menakut-nakuti dirinya, karena apa yang dikatakan Hanaria sesuai dengan ucapan nyonya Mingguana beberapa hari yang lalu saat ia dipanggil menghadap majikan barunya itu.


"Dan bukan Anda saja tapi saya juga manager Antonio, kita sama-sama akan berakhir disini, dibulan ini," imbuh Hanaria sambil mengayunkan telapak tangannya keudara dan mengarah melintang pada batang leher jenjangnya sendiri.


"Anda juga Nona? Bukankah Anda adalah orang kepercayaannya nyonya Mingguana? Tidak mungkin Nyonya juga tega menghabisi Anda Nona," ucap manager Antonio dengan nada tidak percaya mendengar perkataan bawahannya itu.


Hanaria tersenyum hambar mendengar ucapan atasannya itu, mereka tidak tahu saja bila sebenarnya hubungan dirinya dengan nyonya Mingguana tidak sebaik dan sedekat yang mereka pikirkan.


"Saya rasa kita cukup memenuhi tujuh puluh persen saja dari target itu Nona Hana. Karena tidak mungkin target sebanyak itu dapat kita penuhi, itu terlalu banyak," ucap manager Antonio pesimis, karena selama menjabat sebagai manager marketing, tidak pernah satu kalipun dari target yang ditentukan pada manajemennya sanggup ia penuhi. Tujuh puluh persen itu sudah nilai tertinggi yang pernah ia capai selama ini, batinnya.


"Manager Antonio, saya dididik di Perusahaan Agatsa Propèrti Group, harus bisa mencapai target yang telah ditentukan setiap bulannya bila ingin Perusahaan ditempat kita berkerja bisa maju," sahut Hanaria sambil mematikan mesin mobil tambangnya.


"Apakah maksud nona Hana kita harus mampu menjual delapan puluh unit alat berat, seribu delapan ratus unit mobil, dan empat ribu delapan ratus unit sepeda motor," tanya Manager Antonio memastikan perkataan bawahannya itu dengan menambahnya dua kali lipat dari target penjualan yang ia tahu.


"Anda benar manager Antonio," sahut Hanaria.


"Huhh, itu tidak masuk akal," ucap manager Antonio semakin pesimis.


Hanaria memandang atasannya itu dengan pandangan tak mengerti," Anda seorang Manager Marketing, seharusnya meniliki jiwa optimis bukan sebaliknya." ucap Hanaria Heran.

__ADS_1


"Anda tidak perlu mengajari saya nona Hana. Tapi target itu terlalu tinggi, apa lagi target yang saya sebutkan terakhir tadi, itu hanya MIMPI, itu hanya MIMPI," sahut manager Antonio memberi penekanan pada ucapannya.


"Itu bukan mimpi manager Antonio, saya yakin kita bisa, yang penting bisa berkerjasama dalam pekerjaan yang Anda katakan MIMPI ini," sela Hanaria menanggapi kepesimisan atasannya itu.


"Itulah sebabnya saya membawa Anda berlari kencang dalam perjalanan tadi, untuk memacu adrenalin Anda Manager Antonio. Mulai sekarang, Anda harus mempersiapkan diri, karena saya tidak akan berkerja dengan pelan dan santai seperti yang biasa Anda lakukan."


"Saya akan memaksa Anda berlari kencang dalam pekerjaan ini, demi mencapai target kedua yang harus kita capai," kata Hanaria penuh semangat dan berapi-api.


"Tunggu! Disini siapa yang menjadi bawahan dan siapa atasannya Nona? Anda bicara seakan-akan Anda-lah atasannya," kata manager Antonio tidak terima.


"Tentu saja Anda atasannya Manager Antonio. Tapi atasan seperti Anda yang terlalu santai dan pesimis harus saya paksa berkerja lebih keras," tandas Hanaria, membuat atasannya itu tidak bisa berkata apa-apa lagi walau hanya untuk menyela.


"Sekarang kita turun menemui para pegawai itu yang telah menunggu kita dari tadi," tunjuk Hanaria menggunakan wajahnya pada jejeran para pegawai tambang yang telah berbaris rapi dihalaman luas kantor Perusahaan tambang milik nyonya Mingguana.


Manager Antonio terpaksa menuruti perkataan Hanaria yang menjadi bawahannya itu untuk keluar dari mobil, walau didalam hatinya ia belum selesai mencerna semua perkataan yang ia terima seolah dirinya-lah yang menjadi bawahan pegawai yang terbilang baru di Perusahaan tempatnya berkerja.


"Selamat pagi Nona Hanaria," sapa seorang pria paruh baya sambil membungkuk hormat diikuti oleh ratusan pria yang mengenakan seragam rompi berwarna magenta.


"Selamat pagi," sahut Hanaria menatap datar pada pria itu, sementara manager Antonio berdiri disampingnya dan sedikit mundur dibelakang Hanaria, entah mengapa dirinya melakukan hal itu. Hanaria yang melihatnya tidak terlalu mempermasalahkan akan apa yang dilakukan atasannya itu.


"Perkenalkan, saya manager Jhonsie Lung, nyonya Mingguana telah memberitahu saya, bila nona Hana akan berkunjung kemari," lanjut sang Manajer lapangan Perusahaan tambang milik nyonya Mingguana itu dengan ramah.


"Silahkan masuk Nona, mari kita mengobrol didalam," ucap manager Jhonsie mempersilahkan dengan hormat.

__ADS_1


Hanaria tidak menjawab, ia langsung melangkah lebih dulu memasuki perkantoran tambang bersama manager lapangan itu lalu diikuti oleh manager Antonio dan pegawai berseragam rompi magenta itu.


...***...


__ADS_2