HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 42 Kisah Karangan


__ADS_3

"Tapi aku takut kak....." Wajah Firlita terlihat khawatir menatap Hanaria.


"Takut kenapa Fir.....??" Hanaria melihat kearah Firlita lalu kembali beralih pokus pada jalan didepannya. ia memang melihat ketakutan tergambar jelas diwajah gadis muda itu.


"Mahendra dia sekarang kasar padaku, tidak seperti dulu. Kak Hana kan sudah melihat bagaimana dia memperlakukanku dicafe itu." Firlita bergidik mengingat perlakuan kasar Mahendra padanya.


Hanaria terdiam. Ia memahami kenapa Firlita menjadi takut pada Mahendra. Ia menyaksikan sendiri, bagaimana Firlita yang sedang hamil muda terlempar keluar dari ruangan pria itu seperti barang rongsokan. Laki - laki itu memang berperangai kasar dan sangat buruk. Sebenarnya, pilihan untuk menikahkan Firlita dengan Mahendra terpaksa dilakukannya, Hanaria tidak ingin suatu hari nanti anak yang akan dilahirkan Firlita itu mengalami pembulian dari teman - temannya karena tidak memiliki seorang ayah, dan itu akan menyerang mentalnya dalam tumbuh kembangnya kelak.


"Firlita..... kak Hana tahu, ini sangatlah tidak mudah bagimu..... Tapi kau harus ingat Firlita, bayimu itu memerlukan sosok ayah dalam tumbuh kembangnya. Apakah kau sanggup menyaksikan kesedihannya setiap hari, saat oramg - orang disekitarnya menanyakan dimana ayahnya? Siapa ayahnya? Cukup dirimu Firlita, yang sudah melakukan kesalahan itu, menanggung beban akibat perbuatanmu yang telah salah langkah. Jangan biarkan anakmu menanggung beban yang sama. Dia tidak bersalah, dia berhak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya." Jelas Hanaria memberi pengertian.


"Kakak memang benar...... Tapi..... bagiamana kalau setelah menikah, dia tetap berlaku kasar padaku, bahkan tidak perduli pada anaknya yang ada dalam kandunganku ini kak.....??" Firlita masih merasa sangat takut membayangkan apa yang akan ia alami bila benar - benar menikah dengan Mahendra.


Hanaria mengambil napas dalam, lalu mengeluarkannya perlahan - lahan sambil tetap pokus pada kemudinya.


Ia sangat memahami kekuatiran yang dipikirkan Firlita saat bersama laki - laki gemblung itu. Hanaria merasa dirinya begitu kejam pada Firlita, bila memaksakan pernikahan yang harus terjadi diantara kedua insan yang sepertinya sudah lupa bila ada cinta yang pernah hadir dihati mereka masing - masing.


Cinta?? Mungkinkah saat itu adalah cinta yang ada dihati Mahendra dan Firlita, ataukah hanya nafsu birahi belaka yang menguasai saat kebodohan menguasai hati mereka yang terbuai.


Kini, yang tersisa hanya rasa benci dihati Mahendra yang bersikeras tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Sedangkan pada Firlita, yang tersisa hanya rasa takut yang disebabkan perlakuan kasar laki - laki itu. Sepertinya mereka lupa indahnya cinta yang mereka miliki saat mereka pernah bersama.


"Begini saja Firlita....." Hanaria membuyarkan lamunannya yang sedang ia pikirkan.


"Kita berdoa saja, supaya langkah yang kita pilih selanjutnya, adalah langkah yang tepat. Percayalah, Tuhan tidak akan mengiijinkan pencobaan yang terjadi pada kita melebihi kekuatan kita. Pasti ada jalan keluarnya. Yang penting, lakukan bagian kita dengan semampu kita. Dan Tuhan akan melakukan bagian- Nya sesuai dengan kasih dan kuasa-Nya." Ucap Hanaria mengakhiri kata - katanya. Ia memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya.

__ADS_1


Firlita masuk lebih dulu kedalam rumah, sedangkan Hanaria mengangkat barang - barang milik Firlita dan membawanya masuk kedalam kamar Firlita.


...•••...


Pagi itu saat hendak turun dari mobilnya, Hanaria melihat sapu tangan yang dipegang oleh Firlita tergeletak begitu saja dijok tempat Firlita duduk kemarin sore saat mereka pulang kerumah dari rumah sakit.


Diraihnya sapu tangan yang sudah bersih itu, lalu dibawanya turun, menuju bak sampah yang ada diujung parkiran pegawai. Sebelum sapu tangan biru bercorak lukisan pantai itu melayang menuju tempat pembuangan sampah, sebuah mobil sport merah yang tidak asing berhenti diparkiran khusus milik keluarga Agatsa.


Hanaria mengurungkan niatnya untuk membuang sapu tangan yang hampir saja akan menjadi sampah itu. Ia menunggu pemilik sport itu keluar dari mobilnya yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Setelah beberapa detik menunggu, pintu mobil sport merah itupun akhirnya terbuka lebar.


Kaki panjang berbalutkan celana panjang yang terlihat halus dan licin terjulur keluar dari belakang kemudi. Pria itu berdiri tegak disamping mobilnya membelakangi Hanaria. Ia merapikan pakaiannya sejenak yang sedikit berantakan.


Dari belakang saja, pria itu terlihat begitu rupawan dan mempesona dengan rambut pendeknya yang tertata rapi. Tengkuknya yang panjang memperlihatkan sedikit kulit lehernya yang putih yang tidak tertutup krah kemejanya. Walaupun sudah sering bertemu dan berbicara langsung, tidak dipungkiri, pesona penerus keluarga Agatsa itu mampu membuat Hanaria berdecak kagum didalam hatinya.


Willy hanya menatapnya datar, ia sudah terbiasa menerima tatapan penuh kekaguman dari para wanita yang diam - diam ataupun secara terang - terangan memperhatikan dirinya. Yah, mungkin pegawai wanitanya yang satu ini juga adalah salah satu dari sekian banyak pengagum beratnya, pikirnya sambil tersenyum sinis didalam hati. Ia menekan remot untuk mengunci mobilnya dan bergegas melangkah melewati Hanaria yang berdiri terpaku disamping pintu masuk lobby samping.


Hembusan angin menerpa wajah Hanaria, saat Willy melintas dihadapannya yang hanya berjarak beberapa inchi saja. Aroma parfum yang tidak asing di indera penciuman Hanaria membuat udara pagi itu terasa seperti dipegunungan yang menyegarkan.


Hanaria segera tersentak setelah beberapa detik berlalu, ia tiba - tiba teringat tujuan utamanya mengapa ia berdiri disamping pintu lobby itu menunggu sang majikan tampannya itu.


"Tuan muda.... tuan muda Willy...... mohon berhenti sebentar." Panggil Hanaria sambil berlari - lari kecil memasuki lobby samping mengejar sang majikan yang berhenti didepan pintu lift khusus pemilik perusahaan.

__ADS_1


Willy menghentikan langkahnya tepat didepan pintu lift yang akan ia masuki. Ia menoleh kearah Hanaria yang tergopoh - gopoh menghampirinya. Pegawai wanitanya itu, yang selalu menggendong tas ransel dibelakang punggungnya, dan menggunakan alas kaki sepatu cat, hampir menyamai tinggi tubuhnya, itulah sebabnya diawal pertemuan mereka, ia memanggil Hanaria dengan sebutan nona jangkung.


Willy menggerakkan kedua alisnya hingga terangkat keatas, tanpa mengeluarkan kata - kata, ia hanya menggunakan bahasa wajahnya saja.


"Ini sapu tangan milik tuan....." Hanaria menyodorkan sapu tangan berwarna biru bercorak lukisan pantai itu kepada Willy, saat ia sudah berdiri didekat sang majikannya itu.


Willy melihat kearah tangan Hanaria yang terulur padanya dengan sapu tangan ditangan kanannya. Ia mengernyitkan keningnya, sapu tangan itu tidak dikenalnya, ia menatap Hanaria penuh kecurigaan.


"Katakan padaku nona HANARIA, apa ini hanya modus. Caramu untuk dekat denganku?" Ucapnya datar melihat kewajah Hanaria yang tiba - tiba terbengong mendengar ucapannya.


"Modus??" Hanaria memikirkan arti ucapan sang majikan sambil memicingkan kedua matanya menatap CEOnya itu bingung.


"Iya modus..... kau menggunakan cara memberi sapu tangan padaku, yang entah dari mana kau memungutnya." Ucap Willy tanpa perasaan.


"Tuan muda jangan pura - pura lupa. Sapu tangan milik tuan ini, tuan berikan pada Firlita yang dahinya berdarah karena terjeduk pintu dicafe itu." Hanaria mengingatkan.


"Sudah aku katakan dengan sangat jelas kemarin padamu nona Hana, aku tidak pernah kecafe dalam satu bulan terakhir ini, apalagi bertemu denganmu dicafe itu.... apalagi sampai memberikan sapu tangan itu..... Sudah cukup menghayalnya nona. Bangun dari mimpimu, ini sudah pagi... dan waktunya untuk kita berkerja. Jangan berbicara omong kosong lagi nona. Jangan mengarang cerita seolah - olah aku turut berperan dalam kisah yang kau karang itu." Ucap Willy berusaha membuat pegawainya itu sadar dari angannya, hayalannya, mimpinya, dan apalah itu namanya.


"Ini bukan omong kosong tuan..... saya serius..... tidak ada maksud lain...." Hanaria masih bersikeras, ia merasa tidak mengarang cerita seperti yang dikatakan sang majikannya itu.


...•••...


♡♡♡ Terima kasih buat kakak pembaca yang telah berkenan meninggalkan like dan comennya. Author berusaha lebih semangat lagi up nya...😁😁🙏♡♡♡

__ADS_1


Yukz baca novel author yang satu ini 👇👇



__ADS_2