
Hanaria segera melihat ponselnya yang tiba-tiba berdering. Ia segera mengusapnya untuk mengangkatnya setelah melihat pada layar siapa yang sedang menelponnya.
"Hallo Fir," sapa Hanaria.
"Yang kak Hana minta beberapa hari yang lalu sudah aku dapatkan, dan telah aku kirimkan pada dokter Domianus tadi pagi sesuai pesan kak Hana," sahut Firlita dari seberang sambungan telepon.
"Terima kasih banyak ya Fir atas bantuanmu," ucap Hanaria sambil tersenyum lega.
"Sama-sama kak. Aku tutup dulu, takut ada yang mendengar pembicaraan kita," setelah berkata demikian Firlita langsung menutup sambungan teleponnya.
Hanaria menyimpan ponselnya kembali kedalam tas kerjanya lalu melirik sebentar kearah Willy yang sedang berkonsentrasi dengan lalu lintas yang ada didepannya.
"Tadi kau katakan mau membicarakan sesuatu padaku, katakanlah. Aku ingin mendengarnya," ucap Hanaria menatap kearah suaminya.
Willy mengulurkan tangan kirinya membuka laci dashboard mobilnya untuk mengambil sesuatu didalamnya, sementara tangan kanannya tetap memegang kemudi dan matanya tetap mengawasi lalu lintas dihadapannya.
"Ini, ambillah." Willy menyerahkan satu amplop putih menggunakan tangan kirinya dan segera disambut oleh Hanaria yang nampak penasaran.
"Untukku?" tanya Hanaria sambil memegang amplop ditangannya, ia menatap suaminya sebentar lalu memperhatikan tulisan namanya yang tertera diatas amplop putih itu.
"Iya, untukmu," sahut Willy.
"Ini dari kantor Polisi," lirih Hanaria, ia buru-buru membuka amplop itu dan mulai membaca kata demi kata dari lembaran surat yang ditujukan padanya dari Polres setempat.
"Sekretaris Morin melaporkanku karena telah memaksa dirinya menjadi seorang pendonor sumsum tulang belakang." terang Hanaria, begitu dirinya menyelesaikan membaca isi surat itu.
"Lalu bagaimana surat ini bisa ada ditanganmu?" tanya Hanaria.
"Sekretaris Morin yang memberikannya langsung padaku," sahut Willy.
"Sekretaris Morin?" tanya Hanaria memastikan.
__ADS_1
"Iya, sekretaris pribadiku itu," sahut Willy lagi dengan wajah geram. Hanaria terdiam mendengar jawaban suaminya. Ia tidak menduga sekretaris Morin melakukan hal itu padanya.
Sementara Willy juga ikut terdiam sambil tetap berkonsentrasi dalam menyetir. Ia kembali teringat saat sekretaris Morin masuk keruangannya sebelum istirahat makan siang.
Flashback On :
Tok! Tok! Tok!
"Masuklah," perintah Willy saat mendengar suara ketukan pintu diruang kerjanya.
Willy melirik sekilas saat sekretaris Morin masuk dan menutup pintu dengan rapat dibelakangnya. Ia kembali menunduk, memeriksa beberapa berkas sebelum ditanda-tangani olehnya, sementara itu sekretaris Morin datang mendekatinya.
"Willy!"
Mendengar namanya dipanggil secara tidak biasa oleh sekretaris pribadinya, Willy menghentikan sejenak kesibukannya. Ia mengangkat wajahnya, menatap sekretaris Morin yang sudah berdiri tepat dihadapannya.
Willy tidak mengatakan apapun, ia hanya menatap datar sekretaris Morin, menanti apa yang akan dilakukan sekretarisnya itu selanjutnya, nalurinya mengatakan ada yang tidak beres dengan sekretarisnya.
"Willy Moranno Agatsa," sekretaris Morin kembali menyebut nama CEO-nya itu tanpa embel-embel tuan didepannya sambil mengangkat sedikit dagunya dan tersenyum semanis mungkin membuat Willy yang melihatnya mendadak merasa mual.
Ucapan Willy terdengar bagai angin lalu saja baginya, bahkan wanita itu memajukan wajahnya hingga menyisakan jarak beberapa inchi saja dari wajah CEO-nya itu.
Willy menurunkan tangan kirinya perlahan kebawah mejanya tanpa disadari sekretaris Morin dan masuk kedalam saku jasnya untuk menekan panggilan darurat diponselnya.
"Tinggalkan saja isteri dusunmu itu dan menikahlah denganku. Bila tidak, aku akan benar-benar menjebloskannya kedalam penjara," gumam Sekretaris Morin bernada ancaman sambil mengelus puncak hidung Willy yang mancung itu menggunakan jari kelingkingnya.
Setelah selesai dengan ucapannya, sekretaris Morin lalu mengangkat satu tangannya yang lain keudara sambil memegang amplop putih dihadapan wajah Willy, "aku tidak main-main dengan ucapanku," ia lalu menjatuhkan amplop itu dengan bebas diatas meja kerja Willy sambil tertawa menyeringai, udara napasnya yang terasa panas menyapu wajah Willy, membuat bos-nya itu harus menahan napasnya beberapa saat atas ketidak nyamanan itu.
"Sebenarnya sudah lama aku ingin memecatmu, tapi belum mendapatkan moment yang tepat, karena aku mempertimbangkan permohonan ayahku, dan juga permintaan Hanaria untuk memberimu kesempatan memperbaiki diri."
"Sekarang kau sendiri yang sudah menunjukan jalannya padaku sekretaris Morin. Aku tidak mungkin membiarkanmu berkerja lagi disini, karena kau adalah pegawai gila, tidak waras, sinting, dan puncaknya, IDIOT," ucap Willy.
__ADS_1
"Sekarang juga, keluar dari ruanganku sebelum aku sendiri yang akan menyeretmu seperti sampah." ucap Willy lagi dengan menunjuk kearah pintu keluar.
"Tenang Willy, aku akan pergi. Tapi setelah itu, kau akan memohon dan memintaku untuk kembali padamu. Dan aku pastikan, aku akan kembali padamu." sahut sekretaris Morin penuh percaya diri.
"Hanaria, wanita dusun itu yang menjadi penghalang bagi kita untuk bersama. Tapi sebentar lagi, ia akan mendekam dibalik jeruji besi."
"Aku sengaja menjebaknya dengan cara menerima tawarannya untuk mau menjadi pendonor sumsum tulang belakang. Ternyata gaya sok baiknya itu adalah kebodohan fatal baginya," tawa sekretaris Morin terdengar menggema memenuhi ruang kerja Willy.
Tok! Tok! Tok!
Tawa sekretaris Morin langsung terhenti saat mendengar suara ketukan pintu, ia memundurkan wajahnya dari hadapan Willy lalu menegakan posisi berdirinya.
"Masuklah!" Perintah Willy dengan suara setengah berteriak menatap kearah pintu yang sedang diketuk, demikian pula dengan sekretaris Morin.
"Amankan dia!" perintah Willy lagi pada kedua security yang muncul didepan pintu yang telah terbuka.
"Baik tuan," sahut kedua security itu bersamaan lalu dengan sigap segera melangkah maju dan mencekal kedua tangan sekretaris Morin dan membawanya keluar dengan paksa.
"Willy! Kau tidak boleh memperlakukan aku seperti ini Willy! " teriak sekretatis Morin tidak terima sambil meronta-ronta seperti cacing kepanasan.
"Aku calon isterimu! Willy perintahkan mereka melepaskanku!" teriak sekretaris Morin semakin histeris, ia masih terus meronta untuk melepaskan dirinya dari kedua security itu.
Kedua security itu tidak menggubris apapun yang dikatakan oleh sekretaris Morin, mereka tetap meringkusnya dan membawanya paksa meninggalkan ruang kerja Willy.
"Security sialan! Keparat kalian! Aku calon isteri Willy Moranno Agatsa! Kalian akan menyesal memperlakukanku sangat buruk seperti ini!" suara teriakan sekretaris Morin masih terdengar riuh diluar, dan semakin menjauhi ruangan Willy.
"Sepertinya wanita itu sudah benar-benar gila," gumam Willy seraya melonggarkan dasinya, sungguh membuatnya benar-benar semakin merasa mual.
Ia meraih tissue dan mengusap puncak hidungnya yang telah disentuh oleh sekretaris Morin. Rasanya jijik membuatnya kini benar-benar ingin muntah.
Willy berlari ke kamar mandi yang ada didalam ruang peristirahatannya, hanya satu yang ingin ia lakukan saat ini, yaitu mandi. Ia harus segera membersihkan diri, tidak ingin sisa-sisa bekas sentuhan sekretaris Morin tertinggal sedikitpun pada bagian tubuhnya, walau itu hanya diujung hidungnya.
__ADS_1
Flashback Off :
...***...