HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
234. Menuntut Kesetiaan


__ADS_3

Security yang berjaga dipintu gerbang membungkuk hormat saat melihat plat khusus pemilik perusahaan, tanpa tahu siapa yang ada dibelakang kemud mobil keluaran terbaru dari Mega Otomotif tempat mereka berkerja.


Hanaria kembali menginjakan kakinya untuk pertama kali di perusahaan Mega Otomotif, setelah beberapa bulan yang lalu ia sempat mengundurkan dirinya dari sana sebagai seorang pegawai marketing biasa.


Dengan langkah elegan dan busana seorang direksi, Hanaria berjalan dengan menegakkan kepalanya memandang lurus kedepan. Tiga pegawai resepsionis sempat tercengang melihat penampilan baru Hanaria, namun tidak seorangpun dari mereka yang menyapanya.


Begitu pula halnya dengan beberapa pegawai lainnya, yang mengenal Hanaria sebagai seorang pegawai marketing biasa ikut tercengang saat berpapasan dengannya, namun beberapa detik kemudian, setelah agak jauh melintas, mereka saling berbisik dan tertawa kecil satu dengan lainnya. Dan hal itu tidak lepas dari perhatian Hanaria.


"Kenapa pintu lifnya disegel?" tanya Hanaria pada security yang berjaga didepan lift.


"Lift ini hanya boleh digunakan oleh pemilik perusahaan ini. Dan Nona pasti tahu, nyonya Mingguana sekarang ada dimana. Itu sebabnya lift ini disegel," sahut sang security menyindir. Bukan rahasia lagi, seluruh pegawai sudah tahu penyebab bos besar mereka mendekam dipenjara.


"Nona Hana mau naik kelantai berapa?" tanya sang security sambil memperhatikan penampilan Hanaria dari atas kebawah hingga kembali lagi keatas, dan memang terlihat berbeda, tidak seperti saat dirinya masih berkerja sebagai seorang pegawai beberapa bulan yang lalu.


"Lantai dua belas," sahut Hanaria lugas.


"Lantai dua belas? Apa Nona ingin bertemu asisten David disana?" tanya security itu penuh selidik. Karena lantai yang dimaksud Hanaria adalah khusus digunakan untuk ruangan pemilik perusahaan, dan sekarang, yang berkantor disana hanya asisten David seorang diri.


"Hmm," gumam Hanaria sambil mengangguk pelan.


"Ada urusan apa Nona ingin bertemu asisten David?" tanya security itu lagi nampak penasaran.


"Pak security, alangkah baiknya kalau Anda tidak banyak bertanya, atau Anda akan menyesali akan sikap Anda yang banyak bicara," tegas Hanaria yang mulai gerah dengan sikap security yang mencurigainya.


"B--baik Nona,"ucap security itu sedikit canggung setelah mendengar ucapan tegas Hanaria padanya, ia lalu menahan lift yang akan tertutup, karena ada beberapa pegawai yang sudah masuk lebih dahulu kedalam.


"Maaf, liftnya masih cukup untuk satu orang," ujarnya lalu menekan angka dua belas sebelum menutupnya.


"Kenapa langsung dua belas? Kami berempat mau kelantai empat," protes seorang pegawai perempuan dengan menekukkan wajahnya menatap sang security.

__ADS_1


"Iya, kami bahkan ingin kelantai tiga," sahut dua orang pria hampir bersamaan.


"Maaf Nona-Nona dan mas-mas, Nona Hana mau kelantai dua belas, jadi saya menekan nomor dua belas tadi," sahut security memberi alasan.


"Ikuti mereka saja pak security, saya terakhir juga tidak masalah, karena tujuan saya memang lantai paling atas," ucap Hanaria tenang. Posisi berdirinya-pun berada dibelakang para pegawai itu, dan nyaris menempel di dinding lift.


Didalam lift, Hanaria hanya diam membisu mendengar obrolan tidak penting para pegawai itu membicarakan atasan mereka. Walau tidak tahu nama mereka satu persatu, namun Hanaria mengenali wajah-wajah mereka saat dirinya menjadi pegawai selama lima bulan disana.


Setelah semua pegawai itu sampai kelantai yang mereka tuju, security lalu menekan tombol angka dua belas. Tidak lama berselang terdengar bunyi lift dan pintu pun terbuka.


"Silahkan Nona," security menggeser dirinya lebih merapat kedinding, guna memberi ruang pada Hanaria untuk keluar.


Saat pintu hampir tertutup, security sempat keheranan saat mendengar sapaan tidak biasa asisten David pada Hanaria, dan melihat pria itu membungkuk hormat hingga tiga kali, sama persis seperti sikap hormatnya pada nyonya Mingguana saat menyambut sang majikannya itu setiap pagi.


"Mari Nona, saya antarkan ke ruang nyonya Mingguana," ujar asisten David setelah selesai memberikan sambutan selamat pagi pada sang majikan barunya.


"Hmm," kembali Hanaria hanya bergumam dan mengangguk ringan, ia segera mengikuti langkah asisten David menuju ruangan yang dimaksud pria itu.


"Asisten David, biarkan semuanya tetap seperti ini. Jangan biarkan seorangpun masuk kemari tanpa seijinku," ucap Hanaria datar.


"Baik Nona," patuh asisten David.


"Sekarang, antarkan aku ke ruangan yang telah aku minta kau siapkan,"


"Baik Nona," asisten David lalu bergeser dari tempat berdirinya, mempersilahkan Hanaria keluar lebih dulu dari dalam ruangan nyonya Mingguana. Setelah itu, ia pun turut keluar dan kembali menutup rapat dengan menguncinya.


"Mari Nona," Asisten David berjalan lebih dulu, menuju satu ruangan yang berseberangan dengan ruang kerja nyonya Mingguana, sesuai permintaan Hanaria beberapa hari yang lalu.


"Silahkan masuk Nona," kembali asisten David mempersilahkan, saat dirinya sudah berhasil membuka pintu ruangan baru untuk Hanaria.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Hanaria, ia melangkah masuk perlahan dan berhenti tidak jauh dari pintu, ia kembali menyapu seluruh isi ruangan dengan sekali pandangan. Rapi, bersih, dan juga terlihat mewah, walau tidak semewah ruangan nyonya Mingguana. Itu kesan yang ia temukan diruangan barunya.


"Lima menit lagi, meeting akan dimulai Nona. Dan bila sudah tidak ada yang Nona perlukan, saya pamit keluar," ucap asisiten David membungkuk hormat.


"Tunggu," Hanaria menghentikan langkah asisten David yang sudah membalikan tubuhnya untuk meninggalkan ruangan.


"Iya Nona," asisten David dengan sigap seperti biasa langsung berbalik menghadap kearah Hanaria.


"Aku tahu, kau sudah menjadi asisten pribadi nyonya Mingguana selama enam belas tahun, dan dikenal sangat setia padanya. Dan sekarang, aku sudah mengangkatmu menjadi asisten pribadiku, apa pendapatmu?" Hanaria menatap lekat wajah asisten David, menelisik setiap sisi raut wajah pria yang berusia empat puluh empat tahun itu.


"Sesuai surat perjanjian kerja yang saya tanda tangani diawal saya diterima berkerja sebagai seorang asisten. Saya dituntut setia pada pemilik perusahaan, bukan nama salah satu oknum. Karena sekarang pemilik perusahaan adalah Nona Hanaria, saya patut tunduk, patuh, dan setia pada Nona," jelas asisten David dengan tatapan yang bertumpu pada ujung sepatu Hanaria, sama seperti yang selalu ia lakukan saat berhadapan dengan nyonya Mingguana.


"Tunjukan surat yang kau sebut itu sekarang dihadapanku," pinta Hanaria.


"Baik Nona, mohon sabar menunggu, saya akan mengambilnya di arsip penyimpanan saya," setelah berkata demikian, asisten David membungkuk hormat lalu bergegas pergi.


Sepeninggal asisten David, Hanaria berjalan menuju meja kerjanya. Setelah memperhatikannya sejenak ia duduk disana dan menyandarkan punggungnya. Jujur saja, ia cukup tegang saat ini, tinggal tiga menit lagi, dirinya harus berada diruangan meeting. Apakah dirinya mampu melewati hari pertamanya yang terasa sangat berat?


Beberapa kali Hanaria harus mengambil napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan oksigen baru, lalu menghembuskannya perlahan-lahan lewat mulutnya yang setengah terbuka, hingga akhirnya terdengar ketukan pintu.


"Masuk!" perintah Hanaria saat melihat asisten David yang mengetuk walau pintu ruangannya tidak tertutup.


Asisten David mendekat, lalu memberikan lembaran usang yang ia bawa ditangannya pada Hanaria, "Ini Nona."


Hanaria segera menerima lembaran kertas usang itu dan mulai memperhatikan kata demi kata secara teliti hingga kata terakhir dan coretan tanda tangan yang dibubuhkan oleh nyonya Mingguana dan asisten David di bagian bawah lembaran itu.


"Dan aku pun, menuntut kesetiaanmu asisten David," tegas Hanaria sambil mengembalikan surat perjanjian kerja itu.


"Berikan aku coppy-nya setelah meeting hari ini selesai," imbuh Hanaria sambil berdiri dan bersiap menuju ruang meeting bersama asisten David.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2