HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
136. Malu


__ADS_3

Setelah berpandangan satu sama lain, Moranno akhirnya mendorong pintu bilik pengantin. Begitu pintu bilik terbuka, keadaan didalam bilik yang cukup sempit itu sudah berantakan tidak karuan, bantal - bantal pengantin berserakan dilantai. Dan ranjang pengantin sudah rubuh dengan kelambu yang menutupinya.


Rasa was - was membuat Moranno dan pak Muri segera masuk dan berusaha mencari Willy dan Hanaria dibalik kelambu pengantin mereka. Bagaimana mungkin ranjang mereka sampai rubuh tidak berbentuk seperti itu.


Sementara yang lainnya hanya bisa berdiri didepan pintu, karena tidak mungkin mereka semua masuk dalam ruangan bilik yang sempit seperti itu.


"Hana......??!!" Pak Muri terperanjat, saat dirinya dan Moranno berhasil membuka kelambu dengan susah payah dan melihat posisi putrinya berada diatas suaminya.


"Cepat berdiri.....! Apa yangbkalian lakukan Hana? Kenapa kalian berdua sampai merubuhkan ranjang pengantin kalian....?!" Ujar pak Muri sambil membantu Hanaria bangkit dari atas suaminya. Wajahnya memerah, bukan karena marah, tapi lebih merasa malu, bagaimana mungkin putrinya kedapatan lebih agresif dari suaminya.


Dengan susah payah Hanaria berusaha bangkit dari atas tubuh Willy, sambil menyibak kain kelambu yang masih melilit kakinya dan Willy.


"Ini tidak seperti yang ayah lihat, kami tidak melakukannya ayah...... Ranjangnya saja yang tidak kokoh." Dalih Hanaria, setelah ia berhasil berdiri. Ia pun merasa sangat malu, gara - gara bertengkar dengan Willy hingga terjadi insiden itu. Dan orang - orang pasti akan salah paham akan rubuhnya ranjang pengantin mereka.


Hanaria menatap Willy yang masih berbaring diranjang mereka yang rubuh dengan tubuh bagian atasnya yang masih telanjang, ia mengedip - ngedipkan matanya meminta Willy membantunya memberi penjelasan.


Willy mengulurkan satu tangannya, supaya Hanaria membantunya untuk bangkit. Hanaria terpaksa melakukannya dengan wajah cemberut. Ia menarik tangan Willy yang terulur dan membantunya untuk segera bangkit.


Willy yang berhasil bangkit langsung dengan sengaja menarik lengan Hanaria hingga isterinya itu masuk kedalam pelukannya.


"Iya ayah, Hanaria sudah tidak sabar memberikan cucu, jadi aku terpaksa meladeninya." Ucap Willy sambil tersenyum tipis membuat Hanaria ternganga mendengar kebohongan pria yang sudah menjadi suaminya itu.


Ia berusaha melepaskan pelukan Willy dari tubuhnya, namun suaminya itu semakin erat memeluk pinggangnya dengan satu tangannya supaya tidak terlepas sambil melirik dengan ekor matanya ke arah Reymon yang sedari tadi mengawasi mereka, berdiri didepan pintu bersama Billy.


Moranno yang sejak tadi diam dan memperhatikan pakaian Hanaria yang masih lengkap dan hanya baju bagian atas putranya saja yang terbuka, dapat menilai bahwa tidak terjadi apa - apa seperti yang dikatakan putranya itu. Ia yakin, mereka berdua pasti bertengkar lagi, apa lagi dilihatnya tidak ada yang patah dari papan - papan ranjang pengantin itu.


"Tidak apa - apa pak Muri, biasa anak muda." Ucap Moranno pada pak Muri besannya sambil tersenyum.


"Willy, mana bajumu? Cepat kenakan!" Ucap Moranno menatap Willy tajam.


"Didalam sana dad..... Willy sulit menemukannya." Tunjuk Willy kearah ranjang pengantinnya yang masih amburadul.

__ADS_1


"Cepat ambil......! Tidak sopan seperti itu......!" Perintah Moranno.


"Tapi dad.......!" Moranno langsung memelototkan kedua matanya menatap wajah putra bandelnya itu yang berusaha membantah perkataannya.


"Oke..... oke..... Peace dad..... Willy segera ambil......" Willy mengalah sambil mengunjukan dua jarinya keudara, bila ayahnya sudah bereaksi demikian.


"Tubuhku sedikit sakit ayah, terbentur papan - papan yang terlepas itu." Ucap Hanaria sambil meringis kesakitan.


"Kalau begitu, kalian keluarlah dari sini, ayah dan yang lainnya akan membereskan tempat ini." Ucap pak Muri memapah putrinya yang baru melepaskan dirinya dari pelukan suaminya.


"Tapi aku malu ayah....." Lirih Hanaria pada ayahnya.


" Malu kenapa Hana?" Tanya pak Muri sambil berjalan bersama putrinya itu menuju pintu.


"Ya..... Tentang kejadian barusan, orang - orang pasti berfikir yang bukan - bukan tentangku....."Wajah Hanaria memerah, ia sangat tahu situasi didusunnya, hal - hal yang dianggap tidak pantas pun bisa dijadikan bahan guyonan.


"Kenapa harus malu, kita berduakan sudah menjadi suami isteri, itu kan hal yang biasa, semua pengantin baru juga melakukan hal yang sama." Celetuk Willy dari belakang Hanaria dan ayah mertuanya itu, sambil membalut tubuhnya dengan sprei yang ia tarik sembarang karena tidak menemukan kemejanya.


"Uppss....! Sorry dad.....! Peace dad....!" Willy kembali mengatupkan mulutnya dengan rapat.


Kepala dusun dan para tetua kampung yang berdiri dimuara bilik pengantin hanya bisa tersenyum simpul melihat tingkah Willy yang tanpa beban, berbanding terbalik dengan Hanaria yang merundukkan tubuhnya menahan rasa malu.


Hanya Reymon saja yang tidak tersenyum, ia sangat mengenal Hanaria, gadis itu tidak pernah bersikap aneh - aneh selama ini. Ini semua pasti ulah suaminya itu, batin Reymon sambil menatap Hanaria yang masih menunduk melewati dirinya dan orang - orang yang ada dimuara pintu bilik pengantin itu.


"Kau tidak apa - apa Hana sayang?" Tanya Yurina khawatir, saat melihat Hanaria dan Willy keluar dari bilik pengantin. Ia dan ibu Muri segera menghampiri anak dan menantu mereka.


"Tidak apa - apa mom..... Tubuh Hana saja yang terasa sakit....." Keluh Hanaria sambil meringis.


"Sebaiknya kau dan nak Willy menginap dirumah saja malam ini Hana, biar kami saja yang disini bersama warga lainnya. Di dapur ada bahan - bahan jamu ditempat biasa, kau bisa mengolahnya untukmu dan suamimu. Supaya tubuh kalian berdua tidak sakit lagi karena kejadian tadi." Ucap ibu Muri pada putrinya.


"Iya Hana, ibumu benar....." Sahut Yurina ikut bicara.

__ADS_1


"Baiklah mom......bu..... Hana dan...... tuan muda Willy akan pulang kerumah saja....." Sahut Hanaria lirih, ia masih merasa malu, apa lagi saat melihat sebagian ibu, - ibu berbisik - bisik sambil tersenyum - senyum satu sama lain melihat kearahnya dan Willy.


"Hana, mommy sarankan mulai sekarang kau sudah memanggil suamimu bukan dengan sebutan itu lagi" Ucap Yurina pada menantunya itu sambil menggerakkan dagunya.


"Iya mom......." Sahut Hanaria mengiyakan, ia meraih tangan Yurina lalu mencium punggung tangan ibu mertuanya untuk berpamitan, lalu mencium tangan ibunya juga. Hal itu diikuti pula oleh Willy yang berdiri disebelahnya.


Hanaria dan Willy segera berlalu melewati beberapa warga yang sedari tadi terus memperhatikan mereka.


"Nak Hana.... wajar saja ranjang pengantin kalian sampai rubuh bila pengantin prianya setampan suamimu itu....." Ujar salah satu ibu - ibu yang sedang dilewati Hanaria dan Willy sambil terkekeh, disambut kekehan oleh ibu - ibu lainnya.


Hanaria tidak bisa menjawab ucapan para ibu - ibu yang menggoda dirinya, ia berusaha menyembunyikan wajahnya dibahu Willy yang sama tinggi dengannya.


Willy hanya bersikap santai, ia bahkan membuka sprei penutup tubuhnya, dan meraih pinggang Hanaria dan memeluknya sambil menyelimuti wajah Hanaria yang berjalan disampingnya.


"Kami permisi dulu bu....., mau melanjutkan malam pertama kami dirumah saja....." Pamit Willy dengan sikap sopan pada para ibu- ibu yang semakin tergelak oleh ucapannya.


"Berhati - hatilah nak Willy, supaya tidak rubuh lagi..... dirumah nak Hana juga ranjangnya terbuat dari kayu." Seloroh seorang ibu lainnya lagi sambil tergelak. Willy ikut terkekeh mendengar sahutan dari salah satu ibu - ibu itu.


Walau hanya dua minggu Willy pernah berada didusun itu, tapi dirinya bisa mengenal dengan baik para warga yang ada disana, apapun yang mereka katakan hanya sebatas menggoda saja karena merasa senang pada keberadaannya.


"Apa yang kau lakukan?" Bisik Hanaria yang tidak menduga Willy melakukan hal itu didepan semua orang.


"Supaya kau tidak merasa malu karena wajahmu terlihat......"


"Wajahku memang bisa kau sembunyikan seperti ini, tapi rasa malu itu tidak bisa hilang." Ujar Hanaria dari balik sprei.


"Sudah, diamlah....... peluk aku yang erat, nanti kau terjatuh karena tidak melihat jalan." Ucap Willy memperingatkan.


Hanaria menurut, ia sudah lelah berdebat. Setelah ia fikirkan ulang, apa yang telah terjadi padanya bersama Willy selama ini adalah buah dari perdebatan dan pertengkarannya dengan Willy.


Ia menghirup aroma tubuh Willy yang tidak sengaja menghanyutkan imajinasinya, dan mengalihkan perhatiannya dari suara - suara sebagian warga yang berusaha menggoda keduanya dari insiden ranjang pengantin yang rubuh itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2