HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
184. Pengganggu


__ADS_3

"Kita semua, mulai dari Para Petinggi hingga cleaning Service adalah marketing nyata yang bisa dilihat oleh para calon customer, bila kita bisa dengan bangga menggunakan product Perusahaan sendiri, bukan product Perusahaan lain."


"Sebagai seorang pegawai marketing, saya tantang Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya untuk menggunakan product Mega Otomotif." ucap Hanaria lantang dan berani.


"Siapa dirimu Nona? Berani berkata seperti itu pada kami," kata tuan Rudolf tidak suka, menatap tajam pada Hanaria yang tetap bersikap tenang.


"Nona Hanaria adalah pegawai Marketing di Perusahaan ini, dan wajar bila dirinya melakukan hal itu sebagai seorang marketing," bela nyonya Mingguana.


"Caranya yang tidak tepat Nyonya, terkesan memaksa!" ucap tuan Rudolf meninggikan suaranya.


"Kalau mau Perusahaan ini tetap bertahan, kita memang harus dipaksa tuan Rudolf Bong!" Sahut nyonya Mingguana tidak kalah meninggikan suaranya.


"Kalau saja saya tidak membeli Perusahaan ini, tentu saja Mega Otomotif hanya tinggal nama, bila ada didalam tangan orang-orang seperti kalian!" sentak nyonya Mingguana masih meninggikan suaranya.


"Nona Hanaria, selesaikan presentasimu, waktumu tinggal empat menit lagi," ucap nyonya Mingguana menurunkan nada suaranya.


"Silahkan Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya kembali memperhatikan layar monitor Anda masing-masing," ucap Hanaria tenang disela-sela suasana yang sempat sedikit memanas.


Hanaria mulai menampilkan satu desain mobil terbaru yang memperlihatkan desain gambar 2D, 3D, hingga menampilkan 4D dilayar monitor.


Nyonya Mingguana menatap wajah Para Petinggi di Perusahaannya itu yang terpana memandang hasil desain Hanaria, sama halnya dengan dirinya dan asisten David saat pertama kali melihatnya. Namun hal itu tidak berlangsung lama, wajah-wajah itu kembali menampilkan senyum mengejek, lebih tepatnya lagi meremehkan.


"Hhhh, seperti yang saya katakan diawal, setiap kali pertemuan penting kita, Nyonya Mingguana memang selalu menampilkan lelucon yang tidak lucu," kata tuan Rudolf dengan senyum merendahkan.


"Anda benar tuan Rudolf Bong, seorang arsitek bangungan bermimpi menjadi seorang desainer mobil mewah. Sungguh menggelikan," kekeh nyonya Miasa Laura, tawanya menggema, sengaja ia perdengarkan. Sebagian besar peserta rapat itu ikut tertawa bersamanya.


"Nona Hanaria, apakah kau tau, selisih satu sentimeter saja, bangunan gedung yang kau desain bisa rubuh menjadi puing-puing tidak berguna?" ungkap nyonya Miasa Laura masih tertawa.


"Apa lagi mendesain satu unit mobil mewah yang kerumitannya lebih tinggi, melebihi mendesain satu unit rumah, bila selisih nol koma sekian-sekian milimeter saja, bisa menyebabkan mobil yang kau desain hanya teronggok menjadi barang rongsokan yang tidak berguna," kata nyonya Miasa Laura yang memang mengerti tentang otomotif.


"Nyonya Miasa Laura, saya sangat mengerti hal itu. Dan saya sudah membawa desain ini pada engineer-nya. Saya berharap, dengan adanya desain baru yang dikhususkan untuk Para Petinggi Perusahaan ini, bisa meningkatkan penjualan Mega Otomotif," sahut Hanaria yang tidak merasa terpengaruh pada perkataan nyonya Miasa Laura yang meragukan kemampuannya.

__ADS_1


"Bermimpilah Nona!" celetuk nyonya Miasa Laura lagi masih tertawa.


"Nona Hanaria, saya berminat dengan desainmu. Saya harap dalam waktu dekat saya bisa melihat fisiknya dan menggunakannya. Jangan kecewakan saya," Potong nyonya Maigna Orine tiba-tiba, membuat sebagian besar peserta rapat itu langsung menghentikan tawa mereka.


"Saya juga Nona Hana," ucap nyonya Mingguana turut memesan, sambil menatap para petinggi lainnya yang masih setia memandang rendah pada Hanaria.


...***...


"Ini semua kau yang masak Willy?" Hanaria menatap menu makan malam yang tersaji diatas meja. Perutnya yang lapar semakin merasa lapar melihat menu kesukaannya.


"Iya," sahut Willy sambil memasukan nasi dan lauk-pauk yang ada dipiring saji kedalam piring yang ada ditangannya.


"Ini untukmu," Willy meletakan piring yang ada ditangannya tepat dihadapan Hanaria.


"Makan yang banyak," imbuhnya lagi sambil tersenyum penuh arti menatap isterinya itu.


"Terima kasih," sahut Hanaria. Ia mulai menyuapkan makanan dari piringnya kedalam mulutnya. Sambil mengunyah Hanaria menikmati rasa lezat ikan kakap kukus yang terasa lembut didalam mulutnya.


Hanaria tidak langsung menjawab, ia menyelesaikan kunyahannya lalu menelannya. "Enak, sangat enak," sahut Hanaria kembali menyuapi dirinya sendiri dengan semangat karena lapar.


"Syukurlah kalau kau suka, ini semua tidak gratis, kau harus membayarnya, karena aku sudah memasaknya dengan segenap kemampuanku," ucap Willy, ia kembali tersenyum penuh arti, lalu menyuapi dirinya sendiri dengan steik daging yang ia cocol kedalam saus.


Hanaria ikut tersenyum," Tidak masalah, bukankah aku akan membayarmu dengan uangmu sendiri," kata Hanaria membalas senyuman suaminya itu." Bukankah semua kartumu ada padaku?" imbuhnya lagi dengan senyum kemenangan.


"Bukan dengan uang Hana, tapi dengan BAYI, sesuai janji kita berdua tadi pagi," ucap Willy sambil mengerlingkan matanya dan tersenyum menggoda.


"Uhukk! Uhukk! Uhukk!"


Willy segera meraih gelas air putih dan menyodorkannya pada isterinya itu," minumlah Hana, aku sudah tahu kau pasti tersedak mendengarnya," ucap Willy masih tersenyum menggoda.


Hanaria buru-buru meneguk isi gelas yang diberikan suaminya itu untuk meredakan batuknya. Setelah gelasnya kosong, ia lalu meletakkannya kembali diatas meja.

__ADS_1


"M-membayar dengan, dengan bayi?" ucap Hanaria terbata-bata.


"Iya, kita akan membuat bayi bersama. Kau tidak lupa kan janji kita tadi pagi? Sekarang kau harus makan yang banyak supaya punya energi yang cukup," Willy kembali mengambil beberapa menu diatas meja dan memasukannya kedalam piring Hanaria yang sudah kosong.


"Tapi-," Hanaria ingin protes saat melihat Willy menambah porsi kedalam piringnya, karena perutnya sudah terlalu kenyang memakan sepiring nasi dan lauk pauk yang sudah Willy masukan saat diawal mereka makan malam.


"Tidak ada tap-tapian, kau sudah tidak bisa menghindar lagi Hana. Pernikahan kita sudah hampir dua bulan, sudah waktunya kita membuat bayi," tegas Willy yang salah faham, ia berfikir Hanaria akan melakukan penolakan lagi.


Tok! Tok! Tok!


Hanaria dan Willy sama-sama terdiam, keduanya saling berpandangan saat mendengar suara ketukan pintu.


"Biar aku saja," kata Willy menahan Hanaria, ketika isterinya itu akan bangkit untuk membukakan pintu.


"Habiskan makananmu," ucap Willy lagi sambil bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya buat sang tamu tidak diundang.


"Selamat malam tuan muda," sapa Firlita sambil menggendong bayi Elvano.


"Firlita, kau kemari dengan siapa malam-malam begini?" tanya Willy sambil melihat kesana kemari karena tidak ada seorangpun diluar selain Firlita dan putranya.


"Sendiri tuan muda," sahut Firlita. Willy berfikir sejenak, walau ia tidak suka akan kedatangan Firlita diwaktu yang salah, tapi dirinya juga tidak tega mengusirnya dengan cepat sebelum mempersilahkannya masuk.


"Masuklah," Willy mempersilahkan. Firlita masuk, dan tidak lupa menutup pintu dan menguncinya dengan rapat.


"Siapa yang datang?" tanya Hanaria saat Willy kembali kemeja makan. Willy tidak menjawab, ia hanya menunjuk dengan ibu jari kirinya mengarah kebelakang punggungnya lewat pundak tingginya.


Pandangan Hanaria mengikuti arah ibu jari suaminya, dan melihat Firlita sedang melangkah masuk sambil tersenyum seraya mendekati mereka.


Willy buru-buru menghabiskan jus-nya lalu mendekati Hanaria sambil berbisik ditelinganya.


"Aku duluan kekamar, jangan lupa agenda kita malam ini, proses membuat bayi. Jangan berlama-lama bersama pengganggu itu," setelah berkata demikian, Willy buru-buru berlalu pergi meninggalkan Hanaria dengan wajah yang merona.

__ADS_1


...***...


__ADS_2