
Hanaria terbangun dari tidurnya, saat mendengar ketukan pintu dikamarnya, sambil menggeliat-geliat kesana kemari ditempat tidurnya. Ia langsung teringat bila semalam dirinya tidur bersama Willy.
Lalu dimana suaminya itu? batinya. Pembaringan disebelahnya sudah terlihat rapi. Apakah dirinya sedang bermimpi?
Hanaria bangkit dari ranjangnya dan berjalan terseok - seok menuju pintu untuk melihat siapa yang mengganggu tidurnya pagi - pagi begini.
"Kak Jonly?! Apaan sih pagi-pagi sudah ganggu?" Gerutu Hanaria tiba-tiba kesal melihat wajah kakaknya yang nyengir didepan pintu.
"Duh, yang udah malam pertama bangun kesiangan." Ledek Jonly dengan ekspresi wajah dibuat seimut mungkin untuk menggoda adiknya itu.
"Apa?! Bangun kesiangan?!" Hanaria nampak terkejut, ia kembali melongokan kepalanya kedalam kamarnya dan melihat jarum jam didinding kamarnya sudah menunjukan hampir pukul 8 pagi. Hanaria langsung kalang-kabut hendak berlari kekamar mandi, namun ditahan oleh kakaknya itu.
"Mau ngapain? Mertuamu dan rombongannya sudah berangkat satu jam yang lalu setelah sarapan pagi di Lamin." Ujar Jonly, seakan tahu apa yang ada dalam fikiran adik perempuannya itu.
"Hah?! Lalu Willy?! Apa dia sudah pergi juga?" Tanya Hanaria.
Jonly kembali tersenyum meledek. "Cie, nanyanya langsung kesuaminya, bukan yang lain. Tenang saja, dia tidak ikut, aku lihat tadi dia lagi bantu para warga beres-beres di Lamin." Sambil terkekeh. Wajah Hanaria langsung bersemu merah.
"Sudah! Jangan menggodaku terus. Apa maksud kak Jonly datang kemari?" Tanya Hanaria, ia berusaha mengalihkan pembicaraannya.
Jonly langsung menggeser tubuhnya sedikit, memperlihatkan dua bayi lucu dibelakangnya, yang ada dalam keretanya masing - masing sambil menatap Hanaria lekat.
Hanaria yang sudah menduga maksud kedatangan kakaknya, langsung menghentak-hentakan kakinya dilantai papan dengan kesal hingga mengeluarkan bunyi gaduh dan membuat bayi Randi menangis karena kaget.
"Cup, cup, sayang..... Maafkan bibi ya sayang." Hanaria langsung berjongkok, berusaha mendiamkan bayi Randi dengan menggendongnya.
"Hana, kakak titip Mizha dan Randi dulu ya, ibunya tidak enak badan, masih mual-mual dan muntah terus pagi ini. Siang nanti, kau boleh mengantar mereka pulang menemui ibunya. Kakak mau berangkat kerja dulu, semua kebutuhan bayi- bayi kakak ada didalam tas ini." Ujar Jonly, ia menyempatkan mencium Mizha dan Randi lalu terburu - buru pergi meninggalkan bayi-bayinya itu pada Hanaria adiknya.
Hanaria hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan kakaknya. Namun hatinya merasa sangat iba melihat dua bayi itu yang memerlukan dirinya untuk mengasuh mereka.
__ADS_1
Randi akhirnya berhenti menangis. Bayi yang belum genap berusia tiga bulan itu menatap wajah Hanaria yang sedang menggendongnya sambil berusaha meraba - raba wajah Hanaria dengan kedua tangan mungilnya.
Sementara Mizha yang duduk dikeretanya menarik- narik ujung baju tidur Hanaria sambil berceloteh dengan bahasa yang belum bisa dimengerti oleh bibinya itu.
"Randi, bibi taruh dikereta lagi ya, bibi akan membawa kalian berdua berjemur dihalaman." Ucap Hanaria sambil membaringkan bayi Randi dikeretanya. Ia lalu mendorong kereta dua bayi itu menuju teras depan rumahnya.
Pagi itu, Hanaria terlihat sibuk mengurus bayi Mizha dan bayi Randi seorang diri sambil berjemur dibawah matahari pagi didepan rumahnya.
Ia segera memberikan Mizha botol dot susunya yang sudah disiapkan oleh orang tuamya dari rumah sebelum menitipkan keduanya. Mizha yang memang haus langsung menyedot botol dotnya sambil bersandar pada sandaran keretanya, dan memeluk boneka yang dihadiahkan Hanaria saat kakaknya kekota waktu itu.
"Hana!"
Hanaria langsung menoleh dan melihat Shasie berdiri didepan pintu pagar rumahnya bersama Reymon.
"Shasie?! Mas Rey, ayo masuk, dorong saja pagarnya." Ujar Hanaria mempersilahkan. Ia masih duduk dikursi panjang sambil mendampingi kedua keponakannya itu bermain.
"Belajar punya bayi ya? Bayi siapa ini?" Tanya Shasie, sambil tersenyum memandangi kedua bayi itu dan menoel - noel hidung bayi Randi dengan gemes didalam kereta nya.
"Ini bayi-bayi kakakku Jonly Shasie, ia menitipkannya padaku karena buru-buru berangkat berkerja pagi ini." Sahut Hanaria.
"Kau tidak ikut rombongan pulang Shasie?" Tanya Hanaria melihat kearah sahabatnya itu, saat menyadari Shasie masih ada didusunnya.
"Siang ini Hana, aku sudah memesan travel. Aku sengaja ingin bertandang kerumahmu dulu sebelum pulang, karena tadi tidak melihatmu mengantarkan rombongan mertuamu pulang." Ujar Shasie masih menoel-noel hidung Randi dengan gemes.
"Kalian mau minum apa? Aku buatkan." Tanya Hana menawarkan, lalu berdiri dari duduknya.
"Tidak perlu Hana, aku sudah minum dan sarapan bersama di Lamin tadi." Tolak Shasie, ia beralih pada Mizha dan menggendong bayi gembul yang berusia hampir dua tahun itu.
"Mas Rey, mau minum apa?" Hanaria beralih pada Reymon yang sedari tadi lebih banyak diam dan mendengarkan saja perbincangannya dengan Shasie.
__ADS_1
"Terima kasih Hana, aku juga sudah minum dan sarapan bersama Shasie di Lamin." Ucap Reymon menolak dengan halus.
"Apakah kalian berdua sudah jadian?" Tanya Hanaria curiga, ia memperhatikan wajah Shasie dan Reymon secara bergantian.
"Sampai sekarang aku masih menunggu jawaban mas Reymon Hana, padahal aku sudah tidak sabar menjadi pengantin baru sepertimu." Sahut Shasie blak-blakan, sambil melirik kearah Reymon yang hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Shasie.
Hanaria ikut tersenyum mendengar ucapan Shasie, sahabatnya itu memang selalu apa adanya, berbeda dengan Reymon yang selalu menjaga sikapnya disetiap kesempatan.
"Mas Rey, aku bisa minta tolong?" Tanya Hanaria, saat dirinya tiba - tiba teringat permintaan Willy semalam.
"Apa yang bisa mas tolong Hana?" Reymon balik bertanya sambil memandangi Hanaria.
"Tolong sembelihkan ayam yang ada didalam kandang mas? Ayah belum pulang, aku tidak berani menyembelihnya seorang diri." Sahut Hanaria.
"Iya, ya, kalau mau makan daging ayam harus menyembelih dulu, berbeda dengan dikota, bisa kepasar tradisional atau ke super market untuk membeli yang sudah dibersihkan." Ujar Shasie ikut berkomentar.
"Ayo kalau begitu, tunjukan pada mas, ayam yang mana mau kau sembelih." Sahut Reymon bersedia.
"Shasie, aku titip Mizha dan Randi sebentar ya." Pinta Hanaria pada sahabatnya itu.
"Oke...." Sahut Shasie menyanggupi. Ia lalu mencium Mizha yang masih ada dalam gendongannya dengan gemas.
Reymon mengikuti Hanaria dari belakang menuju kandang ayam yang berada dibelakang rumah. Ia memperhatikan Hanaria yang masuk kedalam kandang ayam milik orang tuanya, dan berusaha menangkap seekor unggas yang berlari kesana kemari menghindari Hanaria.
Reymon tersenyum melihat perjuangan Hanaria didalam kandang, ia sengaja tidak membantunya untuk menangkap salah satu dari unggas-ungas itu, dengan tujuan bisa berlama-lama memperhatikan wanita yang pernah sangat ia cintai, bahkan rela menunggunya hingga ditinggal nikah.
Sampai sekarang, cintanya itu masih ada. Tidak mudah memang mengikhlaskan perasaanya terkubur begitu saja terhadap Hanaria. Tapi dirinya harus menepati janjinya yang pernah ia ucapkan pada Hanaria, bahwa ia tidak akan mengharapkan cinta Hanaria lagi, bila gadis itu sudah benar-benar menikah dengan laki- laki pilihannya.
Serasa ada yang hilang disudut hatinya, saat menyaksikan Hanaria bersanding dengan Willy dipelaminan. Reymon memang tidak pernah memaksakan cintanya pada gadis itu, dan penantiannya yang sia- sia juga tidak pernah ia sesali.
__ADS_1