HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
141. Tiba Dirumah


__ADS_3

"Hana, bangun." Willy menyentuh tangan Hanaria yang masih tertidur pulas dijok mobil yang telah direndahkan. Namun Hanaria masih tetap tertidur, bahkan semakin pulas.


"Hana, bangun." Willy kembali berusaha membangunkan isterinya itu sambil terus menggerak-gerakan lengannya lebih kencang. Namun Hanaria masih belum juga terbangun


Willy memperhatikan wajah pulas Hanaria, sebenarnya ia merasa kasihan membangunkannya namun dirinya dan Hanaria sama-sama belum makan malam karena saat memasuki kota, malam sudah sangat larut.


Tak! Tak! Tak!


Terdengar ketukan dikaca jendela mobil, Willy menoleh, ia melihat ayah dan ibunya sudah berada disamping mobil sambil mengintip kedalam mobilnya.


Willy segera menurunkan kaca jendela mobilnya.


"Kenapa mommy dan daddy mengintip, tidak sopan tahu," ucap Willy melihat wajah kedua orang tuanya.


"Willy, mulutmu memang perlu daddy isolasi. Asal saja kalau bicara pada orang tua," tegur Moranno hampir emosi bila tangan Yurina tidak mengelus lembut lengannya.


"Suamiku, sudahlah. Willy tidak bermaksud seperti itu, jangan mudah marah, ingat kita sudah punya menantu dan sebentar punya cucu," kata Yurina menenangkan Moranno.


Moranno hanya menghela nafas mendengar ucapan Yurina, ia kembali menatap Willy yang tengah sibuk membangunkan Hanaria.


"Willy, kau suami macam apa? Kau tidak lihat isterimu itu kelelahan karena perjalanan jauh, kenapa tidak kau bopong saja dia kekamar kalian?" ujar Moranno lagi.


"Daddy sih enak ngomong begitu, punya isteri seperti mommy." sambil melihat wajah ibu dan ayah-nya.


"Nih Willy, punya isteri hampir sama tingginya dengan Willy, tubuhnya berat amat dad," ucap Willy bernada keluhan dengan wajah serius.


Walau tidak lucu sama sekali, Moranno dan Yurina hampir saja meledakan tawa mereka mendengar perkataan Willy yang sangat konyol, namun keduanya berusaha dengan sekuat tenaga menahannya sambil membulatkan mata dengan kompak menatap wajah Willy dengan geram.


"Dasar, tidak tahu bersyukur!" Yurina langsung menjewer telinga Willy, membuat putranya itu meringis kesakitan.


"Aduh, sakit mom, maafkan Willy mom," ungkap Willy memelas, tubuhnya sampai ikut terangkat mengikuti tarikan tangan Yurina yang sengaja memutar telinga putranya dengan keras.


"Ini upah untuk mulutmu Willy, bagaimana kalau isterimu sampai mendengar ucapanmu tadi," ucap Yurina merasa gemes karena putranya itu sering asal saat bicara.


"Sumpah! Willy tidak akan mengulanginya lagi, Willy janji!" ungkap Willy sambil menunjukkan dua jarinya keudara.


"Sungguh?" Tantang Yurina.

__ADS_1


"Sungguh mom," kata Willy dengan dua jari yang masih teracung keudara.


"Baiklah." Yurina akhirnya melepaskan jari- jemari lentiknya dari daun telinga putranya.


"Perih mom," ucap Willy. Ia mengusap-usap telinganya yang memerah.


"Cepat, bawa isterimu keatas, ini sudah semakin larut, lihat dia sudah meringkuk kedinginan," kata Yurina merasa kasihan saat melihat Hanaria melengkungkan tubuhnya dijok mobil.


Willy keluar dari mobilnya, menuju pintu samping disebelah Hanaria. Ia membuka sabuk pengaman dari tubuh Hanaria dengan hati-hati.


"Lihat mom, walau kita cukup berisik didekatnya, dia masih tidak bangun-bangun juga, gendang telinganya tebal amat," celoteh Willy lagi.


"Willy?!" Yurina mendelikan matanya menatap wajah putranya.


"Sorry mom, lupa," ucap Willy dengan wajah cengir kuda-nya.


Willy merangkul tubuh Hanaria dan mulai mengangkatnya dengan kedua tangannya. Benar saja, Yurina dan Moranno sampai menahan nafas melihat Willy yang hampir tidak bisa mengangkat tubuh isterinya itu.


"Tuh 'kan dad, Hanaria memang kurus, tapi tulang-tulangnya itu sangat berat," ucap Willy dengan wajah memerah, menahan bobot tubuh Hanaria dalam gendongannya.


"Dasar kau saja yang kurang berolah-raga Willy. Lalu, bagaimana caranya kau membopong Hana saat itu, sebelum ia menjadi isterimu," ucap Moranno sambil memandang Willy yang dengan susah payah membawa Hanaria keluar dari mobilnya.


"Kalau begitu, biarkan daddy membantumu," ucap Moranno sengaja menggoda putranya.


Willy seketika menghentikan langkah kakinya menatap kesal kearah Moranno ayah-nya.


"Mommy, jaga daddy! Willy tidak akan membiarkan satu pria-pun menyentuh isteri Willy," kata Willy dengan wajah tidak sukanya. Ia lalu pergi dengan langkah cepatnya membawa Hanaria dalam gendongannya menuju lift.


Yurina dan Moranno menatap kepergian Willy sambil tersenyum kecil satu sama lain.


"Suamiku, kenapa cara bicara Willy menular padamu," tegur Yurina pada Moranno.


"Aku hanya ingin melihat reaksi Willy saja sayang," sahut Moranno memberi alasan atas apa yang telah ia katakan pada putra-nya itu.


"Kau lihat 'kan bagaimana dirinya langsung memiliki tenaga ekstra membopong isterinya kekamarnya. Aku yakin, dia sudah mulai mencintai Hanaria tanpa ia sadari." ucap Moranno yakin.


"Tapi ucapanmu sangat keterlaluan suamiku," kata Yurina menatap wajah suaminya lekat.

__ADS_1


"Terdengar memang seperti itu sayang, tapi kau tahu seperti apa hatiku padamu isteriku," Moranno merasa takut isterinya itu salah faham.


"Aku mengerti maksudmu suamiku. Aku hanya khawatir bila Hanaria mendengarnya, nanti menantu kita itu bisa salah faham pada kita." ujar Yurina mengemukakan kekhawatirannya.


"Aku tidak ingin apa yang dilakukan Willy dan Billy terulang lagi, kasian Hanaria." imbuh Yurina.


"Iya aku mengerti, maafkan aku sayang." ucap Moranno sambil mendekati isterinya itu.


"Ayo kita kembali kekamar," ajak Moranno sambil meraih tangan Yurina untuk membawanya masuk kerumah.


"Aku juga mau dibopong seperti Hanaria, kau sudah lama tidak membopongku dari bawah sini sampai kekamar kita suamiku," pinta Yurina, membuat wajah Moranno langsung berubah.


"Kenapa? Tidak sanggup?" ucap Yurina dengan senyum menggoda.


"Siapa bilang tidak sanggup?!" ucap Moranno gengsi, ia segera meraih tubuh Yurina dan membopongnya dengan kedua tangannya, hingga wajahnya memerah menahan bobot tubuh isterinya itu, yang sudah lebih berisi dibandingkan saat mereka baru menikah dua puluh tujuh tahun silam.


*


Willy buru-buru mendorong pintu kamarnya dan segera masuk, lalu menutup dengan satu kakinya. Hanaria yang ada dalam gendongannya terasa semakin berat membuat tangannya sudah terasa kram.


Setelah membaringkan tubuh Hanaria dengan sangat hati-hati diranjang luasnya, Willy langsung menghempaskan tubuhnya begitu saja disisi Hanaria.


Rasa lelah tidak terkira menghinggapi tubuh Willy, membuat dirinya sudah tidak sanggup lagi untuk bangkit sekedar membasuh kaki, tangan, dan wajahnya seperti yang biasa ia lakukan setelah pulang dari berpergian.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk! Tidak dikunci!" seru Willy dari tempat tidurnya dengan mata terpejam.


"Maaf tuan muda, nyonya Yurina meminta saya membawakan teh panas didalam termos, buah, dan camilan untuk tuan muda dan nona," kata bibi Nani sambil berjalan masuk lebih dalam.


"Taruh saja dinakas ya Bi," sahut Willy tanpa membuka matanya.


"Baik tuan muda," bibi Nani melakukan sesuai apa yang dikatakan Willy.


"Maaf tuan muda, saya akan membantu melepaskan sepatu tuan muda dan nona bila diperkenankan," ucap bi Nani minta persetujuan, saat melihat Willy kelelahan dan Hanaria sudah tertidur lelap.


"Tidak perlu Bi, terima kasih. Biar saya saja yang melakukannya sendiri. Bibi boleh pergi sekarang," sahut Willy, matanya begitu berat untuk dibuka.

__ADS_1


"Baik tuan, saya permisi," kata bibi Nani sambil tetap membungkuk hormat, walau majikannya itu tidak membuka matanya karena kantuk bercampur lelah.


*


__ADS_2