HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
185. Menunggumu


__ADS_3

Hanaria mengerjap-ngerjapkan matanya, memandang heran saat menyadari ia terbangun dikamar yang bukan kamarnya dan Willy. Ia memiringkan kepalanya, melihat bayi Elvano sedang tertidur pulas diantara dirinya dan Firlita.


Hanaria tersenyum gemas melihat wajah lucu bayi Elvano yang tidur dengan mulut setengah terbuka menghadap dada ibunya.


Setelah diingat-ingat, ia baru menyadari bila semalam ia dan Firlita mengobrol sampai larut malam sambil menidurkan bayi Elvano yang rewel hingga tidak sadar keduanya ikut tertidur.


Hanaria buru-buru bangkit ketika mengingat sesuatu. Ya, janji pada suaminya yang ia lupakan karena tidak sengaja ketiduran bersama Firlita dan bayinya. Dengan hati-hati ia turun dari tempat tidur supaya Firlita dan bayinya tidak terganggu karena pergerakannya.


Setelah meninggalkan Firlita dan bayinya yang masih tertidur lelap dikamar lamanya, Hanaria segera masuk kekamarnya dengan perlahan.


Ia melihat Willy suaminya juga sudah tertidur lelap seorang diri diatas tempat tidur mereka. Hanaria membekap mulutnya dengan kedua tangannya, ketika dilihatnya jam dinding yang tergantung didinding kamar sudah menunjukan pukul lima pagi.


Dengan perasaan bersalah Hanaria mendekati Willy yang sedang tertidur. Diusapnya rambut suaminya yang rapi itu, dihirupnya aroma tubuh Willy yang selalu wangi dengan penuh perasaan beberapa saat lamanya.


Mengingat malam sudah menjelang pagi, Hanaria kembali turun dari tempat tidur dan segera membersihkan diri dikamar mandi. Selesai berpakaian ia meninggalkan kamar dan beranjak kedapur untuk menyiapkan sarapan pagi.


Beberapa saat kemudian, Hanaria sudah tenggelam dalam kesibukannya menyiapkan sarapan yang lebih banyak dari biasanya karena ada Firlita dan bayinya yang bersama mereka dirumah pagi itu.


Jam dinding didapur berdentang menunjukan pukul enam pagi, ketika Hanaria baru saja menyelesaikan kesibukan dapur dan menyiapkan semua sarapan diatas meja. Ia buru-buru kembali kekamar dan mendapatkan Willy masih berbaring diatas tempat tidur.


Hanaria menghampiri suaminya yang menatapnya sendu.


"Bangunlah, sudah pukul enam pagi, nanti kau terlambat kekantor," ujar Hanaria dengan senyum manisnya, didalam hatinya ia merasa sangat bersalah pada suaminya itu karena meninggalkannya tidur seorang diri tanpa sengaja.


"Aku, aku menunggumu sepanjang malam Hana," ucap Willy lirih. "Apakah kau lupa pada janji kita?" lanjutnya lagi, masih dengan wajah sendunya.


Melihat roman wajah suaminya, Hanaria semakin merasa bersalah. "Maafkan aku, aku tidak sengaja tertidur bersama Firlita dan bayinya dikamar sebelah," sahut Hanaria lirih.

__ADS_1


"Mendekatlah," Willy melambaikan tangannya, memberi isyarat agar isterinya itu datang mendekat padan0ya. Hanaria perlahan naik ketempat tidur, hatinya terasa berdebar.


"Berbaringlah disini, aku ingin memelukmu," ucap Willy lagi sambil menunjuk sisi kosong disebelahnya, Hanaria hanya menurut, ia meletakan kepalanya dilengan berotot suaminya, dan berbaring disana.


Willly memeluk erat tubuh langsing isterinya itu dengan penuh perasaan. "Hana, kau harus makan lebih banyak lagi, supaya tubuhmu tidak setipis ini," ujar Willy semakin mengeratkan pelukannya. Hanaria tidak menjawab, pelukan suaminya terasa nyaman dan menghanyutkan, membuat debaran-debaran didadanya semakin memacu adrenalinya.


"Aku merindukanmu Hana," bisik Willy lembut ditelinga isterinya itu. "Sepanjang malam aku menunggu dan memikirkanmu yang tidak kunjung kembali kekamar kita," imbunya lagi. Bulu-bulu halus di tengkuk Hanaria meremang ketika merasakan hembusan nafas Willy yang menyapu kulit lehernya saat ia tengah berbisik.


"Maafkan aku Willy, aku-, aghhh-, tidak sengaja ketiduran bersama Firlita-, agghhh-, dan bayinya," ujar Hanaria terputus-putus seraya mendesah, merasakan bibir suaminya itu mengecup lembut daun telinganya hingga turun keleher jenjangnya.


Tok! Tok! Tok!


"Kak Hana, tolong temani baby Elvano,.aku kebelet kekamar mandi kak!" Teriak Firlita didepan pintu dengan ketukan rusuhnya yang membuat sepasang suami isteri didalamnya itu spontan menghentikan kegiatan mereka.


"Maafkan aku-," ujar Hanaria ragu, ia menatap mata suaminya yang sudah berkabut. Willy tidak menjawab, ia hanya melepaskan pelukannya dari tubuh isterinya itu.


"Willy maafkan aku-, aku akan menemani baby Elvano sebentar. Nanti aku akan kembali lagi untuk menyiapkan pakaian kerjamu, lalu kita akan sarapan bersama," setelah berkata demikian, Hanaria turun dari tempat tidur. Willy masih tak berkata sepatah katapun, ia masih setia memunggungi Hanaria yang pergi meninggalkan kamar mereka untuk menemani bayi Firlita yang sedang berjemur di pekarangan rumah Hanaria.


"Cup, cup, cup sayang," Hanaria yang baru saja tiba didekat Bayi Elvano segera meraih bayi yang tengah menangis dikeretanya itu.


"Jangan menangis sayang, mamamu hanya pergi sebentar saja," bujuk Hanaria, ia menimang-nimang tubuh mungil itu dalam gendongannya.


"Sekarang ada bibi yang menemanimu, jangan takut lagi ya," ujar Hanaria masih terus menimang. Sepasang mata bayi laki-laki itu menatap wajah Hanaria yang terus menimangnya sambil melontarkan kata-kata bujukannya.


Sementara didepan pintu, sepasang mata laki-laki dewasa sedang memandang Hanaria dengan wajah kecewa dan cemburu pada bayi Elvano yang mendapat perhatian dari isterinya itu, setelah beberapa saat ia meninggalkan pemandangan itu, lalu kembali kekamarnya.


"Anak pintar," puji Hanaria, saat melihat bayi Elvano tidak menangis lagi didalam pelukannya.

__ADS_1


"Bibi akan meletakanmu lagi didalam kereta supaya sinar matahari bisa menghangatkan seluruh tubuhmu ya sayang," ujar Hanaria. Ia menurunkan bayi Elvano perlahan, membaringkannya kembali dengan hati-hati dalam kereta bayi.


Bayi itu hanya bergumam lirih sambil menggerak-gerakkan kaki dan tangannya bersamaan. Hanaria membuka kaitan kaning-kancing baju bayi Elvano supaya kulit bayi itu bisa terpapar langsung oleh sinar matahari pagi yang menyehatkan dan menghangatkan kulitnya.


"Kak Hana, aku sudah selesai," ujar Firlita yang baru saja tiba disamping Hanaria yang tengah menemani putranya


"Lihat Firlita, kulit bayi Elvano dan juga bola matanya sudah mulai tidak menguning lagi. Kau harus rajin menjemur putramu ini dibawah matahari pagi seperti ini," kata Hanaria.


"Iya kak, aku mengerti," sahut Firlita turut memperhatikan bayinya yang tengah menyusu ASI dari botol dot yang dipegang Hanaria.


"Berikan padaku kak, biarkan aku yang meneruskannya," ucap Firlita lagi sambil beralih tempat untuk menggantikan Hanaria mengasuh bayinya.


"Baiklah, pegang ini, jangan sampai terlepas, supaya baby Elvano tidak merasa terganggu." Hanaria melepaskan tangannya dari botol dot ASI yang dipegangnya setelah memastikan Firlita telah memegang botol ASI itu dengan erat.


"Willy?" Hanaria terpana. Saat berbalik, ia melihat Willy keluar dari pintu rumah dengan setelan jasnya yang sudah rapi menuju mobilnya.


"Willy, kau mau kemana?" tanya Hanaria segara menghampiri suaminya itu.


"Ke kantor," sahut Willy dingin dan singkat.


"Apakah kau sudah sarapan?" tanya Hanaria.


"Belum." sahut Willy lagi. Ia masuk ke mobilnya, lalu segera mengidupkan mesinnya.


"Willy, kau tidak boleh pergi sebelum sarapan," ucap Hanaria mengejar dikaca jendela mobil suaminya yang terbuka.


"Jangan khawatirkan aku. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Aku sedang buru-buru, ada meeting dikantor pagi ini." Sahut Willy tanpa melihat ke wajah isterinya. Setelah berkata demikian Willy menjalankan mobilnya perlahan keluar dari pekarangan rumah.

__ADS_1


Hanaria terpaku ditempatnya. Ia merasa bila suaminya itu telah kecewa pada sikapnya. Firlita yang turut menyaksikan hal itu merasa tidak enak hati.


__ADS_2