
"Mau kemana Willy?" tanya Yurina ketika dilihatnya Willy beranjak dari duduknya dengan wajah lesu.
"Pulang Mom," sahutnya sambil melangkah menuju pintu keluar.
"Untuk apa pulang, bukankah dirumah tidak ada Hanaria?" ujar Yurina lagi, didalam hati ia sebenarnya merasa kasihan pada putranya itu.
Willy menghentikan langkahnya, ia berbalik menatap ibunya dengan raut sendu. "Mungkin saja Hanaria sudah pulang Mom, aku tidak ingin dia mencariku seperti malam kemarin," sahut Willy berharap.
"Tidur saja disini Willy, dikamarmu yang ada dilantai atas, Hanaria pasti tidak akan pulang malam ini kerumah kalian," ujar Yurina lagi.
"Bagaimana Mommy bisa seyakin itu? Apakah Hana telah menghubungi Mommy?" Willy menatap wajah ibunya, berharap mendapat jawaban yang melegakan hatinya.
"Tidak, Mommy hanya berfikir dari pada kau sendirian dirumah kalian, lebih baik kau menginap saja disini malam ini. Tapi terserah padamu, bila mau pulang, pulanglah. Jangan lupa tutup pintunya kalau keluar kamar," kata Yurina. Setelah berkata demikian ia pun turut beranjak dari dudduknya dan naik ketempat tidur menyusul suaminya yang sudah lebih dulu berada disana.
"Willy pulang dulu Mom, Dad," pamitnya lesu lalu berbalik, melangkah keluar dan menutup pintu dengan rapat dibelakangnya.
Bukannya pulang seperti katanya, dengan langkah gontai, Willy menuju lantai atas menuju kamarnya, rasa lelah, bingung berbaur jadi satu, membuatnya ingin merebahkan diri sejenak untuk beristirahat, setelah itu ia berniat akan mencari Hanaria lagi, walau belum tahu tujuannya kemana.
Willy mendorong kenop pintu perlahan, temaram lampu tidur hanya memperlihatkan bayang-bayang didalam kamar lamanya. Aroma wangi yang ia kenal menabrak indera penciumannya, namun Willy segera menepis pikirannya, tidak mungkin Hanaria bisa tiba-tiba ada disini, batinnya. Mungkin dirinya terlalu memikirkan isterinya yang menghilang itu sehingga berhalusinasi mencium aroma parfum yang biasa Hanaria gunakan.
Willy menutup rapat pintu kamar tanpa menguncinya, karena ia berfikir hanya berbaring sebentar saja hingga kepenatannya hilang.
Dengan langkah malas, Willy menuju tempat tidur dan segera ingin memeluk gulingnya yang tergeletak diatas kasur empuknya. Tapi guling itu terlalu aneh, tidak seperti biasanya, terlalu panjang menyerupai ukuran tubuh manusia, batin Willy lagi. Ah, mungkin saja pengaruh dirinya terlalu lelah fikir Willy lalu menghempaskan tubuhnya begitu saja keatas tempat tidurnya dan sengaja melanggar guling anehnya.
"Agghhh!"
Willy tersentak, ia membulatkan matanya mendengar gulingnya mengeluarkan suara manusia, ia memiringkan tubuhnya, memandang gulingnya yang memiliki wajah manusia.
__ADS_1
"Sakit sekali," rintih suara wanita yang sangat dikenalnya.
"H-Hana?! I-ini kau?" seketika Willy menyergap tubuh Hanaria yang masih berbaring terlentang menghadap langit-langit kamar.
"Tanganku, tanganku sakit sekali," Hanaria masih merintih dengan mata sedikit terbuka, nyawanya belum sepenuhnya terkumpul karena mendadak terbangun akibat ulah Willy yang menindih tangan kanannya.
"M-maafkan aku, aku fikir kau guling," sahut Willy semakin menyergap erat, khawatir bila Hanaria hanya ada dalam ilusinya saja. Rasa kantuk karena lelahnya seketika menguap begitu saja, ketika tahu yang dalam dekapannya adalah benar-benar Hanaria, isterinya yang telah dicari-carinya.
"Apa kau tidak bisa membedakan tubuh manusia dengan guling?" sungut Hanaria sambil mengusap pergelangan tangannya yang masih terasa nyeri.
"Maafkan aku Hana, aku tidak fokus, karena khawatir memikirkanmu yang tidak pulang-pulang," kata Willy memandang wajah isterinya.
"Sini aku lihat," Willy meraih tangan Hanaria dan memeriksanya, "apa disini sakitnya?" tanya Willy sedikit menekan pergelangan tangan isterinya itu.
"Iya-, aghhh-, jangan kencang-kecang," rintih Hanaria pelan, " biarkan saja, nanti juga hilang sendiri rasa sakitnya," Hanaria menarik tangannya dari genggaman Willy.
"Mungkin," sahut Hanaria singkat. Ia terdiam sejenak, membiarkan Willy semakin erat memeluknya. Ia merasakan puncak hidung suaminya itu menyentuh puncak rambutnya dengan lembut.
Seketika Hanaria tersadar akan apa yang membuatnya sampai menginap dirumah mertuanya malam ini," lepaskan pelukanmu, dan jangan menyentuhku lagi, aku masih kesal dan marah pada ulahmu siang tadi," Hanaria mendorong tubuh Willy yang sedang memeluknya erat.
"Tolong maafkan aku, aku yang salah, aku suami yang tidak bisa menjaga perasaan isteriku." Ujar Willy sembari merengkuh kembali tubuh Hanaria dan membawanya masuk kedalam pelukannya.
"Aku janji-, janji untuk tidak bercanda hal-hal yang serupa tadi siang Hana," ungkap Willy dengan penuh penyesalan.
"Apa janjimu itu bisa kupegang?" tanya Hanaria dengan wajah manyunnya.
"Tentu saja, aku tidak akan ingkar. Ini janji seorang suami sejati," sahut Willy serius. Hanaria mendadak tertawa kecil, merasa geli mendengar perkataan suaminya yang jarang berbicara dengan nada serius, sukanya gebanyol hingga membuatnya sering merasa sebel dibuatnya.
__ADS_1
"Kau tidak cocok menggombal Willy. Iya, sangat tidak cocok," Hanaria semakin tertawa.
"Apakah kau tidak percaya pada janji seorang suami sejati sepertiku?" tanya Willy masih dengan nada seriusnya ketika mendengar tawa dan perkataan isterinya itu.
"Tergantung, kita lihat saja apakah ucapanmu sesuai dengan tindakanmu," sahut Hanaria masih tertawa kecil.
"Tergantung?" Willy mengulang kata isterinya dengan fikiran usil yang kembali merasuk otak nakalnya.
"Iya tergantung. Apakah kau sudah mengantuk hingga tidak mendengar jelas perkataanku?" ujar Hanaria turut mengulang ucapannya yang diulang oleh Willy.
"Apakah yang tergantung itu ada hubungannya dengan sesuatu yang selalu menggantung dibawah sana?"ucap Willy sambil tersenyum sendiri, pelukannya semakin ia pererat pada tubuh Hanaria yang kini berbaring memunggunginya.
"Menggantung dibawah sana?" Kini gantian Hanaria yang mengulang kalimat terakhir yang diucapkan Willy sambil memikirkan apa yang dimaksud suaminya itu.
"Iya yang menggantung dibawah sana," tegas Willy semakin tersenyum lebar membayangkan reaksi Hanaria bila tahu maksud nakalnya.
"Apakah kau sungguh-sungguh tidak dapat merasakannya?" kata Willy seraya dengan sengaja menyundul-nyundulkan sesuatu yang mengeras dibawah sana.
Hanaria berfikir sejenak, mencoba mencerna perkataan Willy padanya," Dasar otak mesum! itu tidak nyambung Willy!" teriak Hanaria gemes, yang akhirnya memahami perkataan suaminya itu ketika merasakan sesuatu yang menjulur dan dengan sengaja didorong suaminya menabrak bokongnya berkali-kali.
Willy yang mendengar teriakan Hanaria langsung tertawa puas.
"Perkataanmu memang tidak bisa dipegang Willy, baru saja kau mengucapkan janjimu sebagai suami sejati untuk tidak akan bercanda lagi hal-hal seperti itu, sekarang kau sudah memulainya lagi," protes Hanaria berusaha melepaskan diri dari suaminya.
"Jangan marah lagi, aku hanya bercanda padamu, tapi tidak pada orang lain Hana," kata Willy yang tidak mau melepaskan pelukannya, ia berusaha menghentikan sisa-sisa tawanya.
"Sama saja," sahut Hanaria sambil terus meronta melepaskan diri.
__ADS_1
"Itu berbeda Hana, aku tidak bisa tidak bercanda padamu. Rasanya-, setiap melihat dirimu dan mendengar ucapanmu, kau seakan selalu memberiku ide baru yang tidak sempat aku fikirkan sebelumnya," kata Willy berusaha mendiamkan isterinya yang tengah memberontak dalam dekapannya.