
"Hana, kau sudah bangun?" Willy yang baru membuka pintu ruang kerjanya langsung mendekati Hanaria yang sedang mengatur sajian makan siang dimeja sofa.
"Sudah," sahut Hanaria singkat.
"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Willy sambil memeluk pinggang Hanaria dari belakang dan mencium aroma tubuh isterinya itu.
"Apa maksudmu?" tanya Hanaria membiarkan Willy memeluknya pinggangnya, tangannya masih sibuk mengatur sajian makan siang yang sebentar kelar.
"Apa disini masih sakit?" Tangan nakal Willy menggrayangi paha isterinya hingga kepangkalnya, dan bertengger disana, menempel di pembungkus segitiga isterinya, membuat Hanaria mencubitnya kencang.
"Aduh!" ringis Willy, namun tangannya masih pada posisinya.
"Mulutmu sudah membantuku menjawab pertanyaanmu sendiri Willy, sekarang jauhkan tangan nakalmu itu dari sana, atau pukulan karateku akan melumpuhkannya," ancam Hanaria.
"Baiklah," sahut Willy patuh, walau dengan terpaksa, ia menarik tangannya yang sebenarnya masih betah bertengger diarea sana.
"Cuci tanganmu, kita makan siang sekarang," perintah Hanaria tanpa menoleh kearah Willy yang ada dibelakangnya.
Tanpa bantahan, Willy langsung menuju toilet yang ada didalam kamar peristirahatannya.
Ia berhenti sejenak disisi tempat tidur ketika melihat ranjang mereka masih berantakan. Willy meraih selimut tebal yang tergulung dan merapikannya.
Wajah tampannya langsung tersenyum saat melihat noda merah bercampur cairan sedikit kental disprei putih itu. Ia segara menariknya dari sana dan menggantinya dengan sprei yang baru dari lemari.
Biasanya para cleaning service yang akan membereskannya, namun kali ini dirinya harus melakukannya sendiri, tidak ingin hasil maha karya dirinya dan Hanaria dilihat oleh orang lain.
Setelah membersihkan tangannya, Willy segera kembali menemui Hanaria untuk makan siang bersama.
"Lama sekali?" kata Hanaria pada Willy yang melangkah kearahnya.
"Iya, tadi aku membereskan sprei yang bernoda itu, khawatir dilihat oleh para cleaning service yang biasa membersihkan tempat ini," ujar Willy sambil mendudukkan dirinya disamping isterinya.
"Maafkan aku, tadi saat terbangun aku buru-buru mandi lalu menyiapkan makan siang ini, aku khawatir kau kelaparan setelah meeting kalian. Rencananya setelah makan siang aku baru akan membereskannya," ucap Hanaria merasa tak enak.
"Tidak masalah, bukankah kekacauan kamar itu akibat perbuatan kita berdua? Jadi wajar bila aku membantumu," ujar Willy.
__ADS_1
"Terima kasih telah mengkhawatirkan aku," ucap Willy lagi seraya tersenyum, wajahnya mendekat ke wajah Hanaria yang duduk disebelahnya.
Hanaria diam tak bergerak, ia tahu apa yang akan suaminya itu lakukan padanya, pasti ingin memulainya lagi.
Tok! Tok! Tok!
Gerakan Willy terhenti, ia menatap wajah Hanaria yang tersenyum lega mendengar suara ketukan pintu.
"Siapa manusia pengganggu itu, aku akan ********** kalau dia datang tidak membawa kabar penting," geram Willy seraya berdiri.
"Hana, tutup itu," kata Willy menunjuk paha mulus isterinya yang terekspos karena menggunakan rok mininya.
"Menggunakan apa?" tanya Hanaria kebingungan sambil menoleh kekiri dan kanannya.
Willy berfikir sebentar. "Handuk kimonomu dilemari kamar." sahutnya kemudian lalu berbalik menuju pintu. Sementara Hanaria buru-buru masuk kekamarnya untuk mengambil handuk kimononya, dan kembali lagi kekursi sofa.
"Lama sekali," omel Moranno yang muncul didepan pintu ketika Willy telah berhasil membuka pintu ruang kerjanya.
"Daddy?!" Willy sedikit terkejut, tidak biasanya ayahnya itu mampir keruang kerjanya dijam istirahat makan siang. Biasanya ayahnya itu selalu bergabung bersama asisten pribadinya.
"Kenapa? Apa Daddy tidak boleh kemari menemuimu, heuh!" Moranno menatap putranya menyelidik.
"Tidak tepat bagaimana? Daddy mau makan siang bersama kalian," ucap Moranno seraya memasuki ruang kerja putranya.
"Willy apa-apa'an kau ini, berani-beraninya melakukan hal mesum dikantor ini, pada jam sibuk kerja pula. Apa tidak bisa menunggu sampai dirumah?" kata Moranno yang sedari tadi menahan diri untuk menumpahkan apa yang ada dalam hatinya pada putranya yang tengah menutup pintu dengan rapat dibelakangnya.
"Tenyata kebandelanmu itu masih belum terkikis setelah kau menikah. Malah tambah menjadi," omel Moranno menatap lekat wajah putranya yang nampak biasa saja.
"Itu bukan salah Willy Dad, menantu Daddy saja yang menyerangku kemari, jadi aku tidak bisa menolak," sahutnya santai sambil berlalu menuju ke kursi sofa.
"Omong kosong, tidak ada seorang wanita yang menyerang pria duluan Willy. Mommy-mu tidak seperti itu," kata Moranno tidak percaya seraya membalikkan tubuhnya mengikuti Willy ke sofa.
Uhuuk! Uhuuk! Uhuukk!
Hanaria langsung terbatuk-batuk mendengar perkataan ayah mertuanya itu, pipinya langsung memerah menahan malu, namun ia tetap berusaha tenang duduk dikursinya.
__ADS_1
"Ada Dad, menantu Daddy ini contohnya," sahut Willy sambil melirik wajah Hanaria yang telah merona, ia sengaja berkata demikian, bukan untuk mempermalukan isterinya, tapi ia suka saja melihat wajah Hanaria yang memerah, terlihat lebih menggemaskan.
Hanaria yang merasa malu mencubit paha Willy yang baru duduk disebelahnya seraya berbisik, "Willy, aku akan membalasmu-," geram Hanaria.
Moranno yang baru menyadari ucapannya membuat malu menantunya segera mengatupkan mulutnya rapat.
"Silahkan duduk Dad, kita makan siang sama-sama," ucap Hanaria dengan sikap sopannya, bias wajahnya masih menunjukan rasa malunya pada sang ayah mertuanya yang mengetahui kelakuannya dari ujaran suami banyolnya itu.
Moranno lalu duduk disofa berhadapan dengan anak dan menantunya, sambil memperhatikan Hanaria yang memasukan makanan sesuai yang ia tunjuk pada piring saji yang ada diatas meja.
"Daddy bisa lihatkan buktinya. Dileher menantu Daddy tidak ada kissmark seperti yang ada pada leherku," celoteh Willy lagi ditengah-tengah mereka menikmati makan siangnya.
"Willy, tidak sopan membahas yang bukan-bukan saat sedang makan," tegur Moranno menatap tajam wajah putranya.
"Iya maaf Dad," sahut Willy dengan wajah cengengesan.
Sementara Hanaria yang mendengar percakapan antara ayah mertua dan suaminya itu, hanya bisa berdiam diri, namun didalam kepalanya ia sudah menyiapkan banyak ide untuk membalas semua banyolan suaminya itu nanti.
Selesai makan siang, Moranno sempat memberi pujian pada makanan lezat yang disiapkan oleh menantunya sebelum ia berpamitan.
"Willy, kau jangan sampai terlambat lagi datang keruang pertemuan setelah ini," kata Moranno mengingatkan putranya.
"Ok, siap Dad," sahut Willy mengantarkan ayahnya ke depan pintu ruang kerjanya.
"Dan ingat," Moranno melirik sekilas kearah Hanaria yang tengah membereskan peralatan makan siang yang kotor. Setelah itu, ia memelankan suaranya dengan setengah berbisik supaya tidak didengar oleh menantunya.
"Kalian tidak boleh melakukan 'mantab-mantab' itu dikantor, tidak enak diketahui oleh para pegawai," kata Moranno serius.
"Hanaria isteriku, kata Daddy kau tidak boleh menyerangku lagi untuk melakukan 'mantab-mantab' dikantor! Tidak enak didengar Para Pegawai!" Kata Willy setengah berteriak pada isterinya.
"I-iya Dad, maafkan Hana," sahut Hanaria malu bukan kepalang pada sang ayah mertuanya itu. ia kembali melanjutkan beres-beresnya yang belum kelar dengan wajah semakin memerah.
"Willy!" Moranno menjewer daun telinga kanan putranya, ia teramat gemes pada putranya itu, sebenarnya ia tahu bahwa Willy hanya suka mengerjai isterinya itu.
Tapi sebagai orang tua, dirinya harus menjaga sikap dan wibawa sebagai orang tua dihadapan menantunya itu.
__ADS_1
"Aduh sakit Dad, ampuni Willy Dad," ringis Willy.
"Itu upah ke usilanmu, kau tau kan kalau Daddy mengatakan itu hanya padamu, bukan kepada isterimu," Moranno semakin menambah kekuatan jarinya menjepit daun telinga putranya yang sudah beristeri dan seorang CEO itu.