
"Kenapa sih kau tidak percaya? Hmm?" Willy menjepit daun telinga Hanaria dengan kedua bibirnya, ia merasa gemes karena isterinya itu menyangsikan perkataannya yang telah ia ucapkan dengan sepenuh hati.
"Bukan tidak percaya, aku kan hanya bertanya," kilah Hanaria sambil tertawa sendiri, ia merasa geli atas perlakuan Willy. "Ayo, kita turun. Aku sudah lapar," ajak Hanaria sambil melepaskan dirinya dari pelukan Willy.
Willy ikut keluar, keduanya lalu masuk kedalam lift yang tidak jauh dari tempat mobil mereka diparkir.
"Kau ingatkan saat pertama kali mommy menyuruhku memberikan semua kartu-kartu itu padamu dengan gaya memaksanya," ucap Willy saat keduanya sudah didalam lift, tidak biasanya lift kosong, hanya mereka berdua saja hingga bebas melanjutkan obrolannya sebelumnya.
"Iya, aku ingat," sahut Hanaria seraya menyandarkan punggungnya pada dada suaminya, hari itu ia merasa sangat lelah untuk berdiri, mungkin bawaan dirinya yang sedang mengandung, juga rasa lapar yang hampir tidak tertahankan.
"Jadi kau bisa lihatkan, aturan keluarga Agatsa yang mewajibkan para suami memberikan kepercayaan penuh pada para isteri dalam memegang kendali keuangan suaminya, menjadikan pria beristeri di keluarga Agatsa adalah suami-suami setia dan penyayang isteri," ucapnya dengan rasa bangga.
Hanaria hanya bisa tersenyum mendengar celoteh suaminya itu. Yang dikatakannya memang benar, Hanaria teringat pada ayah mertuannya yang begitu menyayangi dan mencintai ibu mertuanya, begitu pulà halnya dengan paman Harry, juga sama, sangat menyayangi dan mencintai bibi Margareth.
Hanaria rasa bukan hanya karena pengelolaan dana dalam rumah tangga yang dipercayakan pada para isteri mereka yang menjadikan keluaga besar Agatsa harmonis, tapi keluarga itu rata-rata memang memiliki karakter yang baik sejauh yang ia tahu. Didalam hatinya, Hanaria sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga besar suaminya.
"Willy," lirih Hanaria.
"Iya, ada apa?" sahut Willy yang berdiri dibelakang sambil memeluk isterinya yang menyandarkan punggungnya padanya.
"Aku bersyukur kau mau menjadi suamiku, padahal waktu itu kau kan belum mencintaiku?" lirih Hanaria lagi, ia teringat dimasa-masa awal dimana dirinya dan Willy sama-sama menolak pernikahan yang menjadi ide dari ibu suaminya itu. Willy tertegun sesaat, ketika perkataan isterinya didengar oleh telinganya lalu terekam diotaknya hingga membuat hatinya menghangat.
"Aku juga, bersyukur karena kau mau menjadi isteriku, Hana," balasnya seraya mengeratkan pelukannya, ia mencium lembut pucuk rambut isterinya, lift serasa milik berdua.
"Kau tidak tahu saja, kalau sebenarnya aku sudah mulai mencintaimu saat kita belum menikah dulu," kata Willy jujur.
"Apa? Kau serius?" Hanaria sedikit terkejut, ia tidak percaya akan pengakuan Willy. Karena dirinya sama sekali tidak melihat tanda-tanda itu pada sikap Willy kala itu. Ia membalikkan tubuhnya menatap wajah suaminya untuk menemukan kejujuran disana, jujur saja hatinya tambah berbunga-bunga, tidak menduga suaminya ternyata menikahinya karena benar-benar mencintainya.
"Kau memang sangat menyebalkan! Kau memang tidak pernah serius!" pukul Hanaria kesal bercampur gemes saat Willy memperlihatkan wajah konyol dengan bola matanya dibuat juling.
"Aduh! Tidak sakit!" ledek Willy sambil tertawa ringan.
"Kau juga, kenapa harus memperhatikan detail sudut wajahku begitu teliti. Apa kau lupa kalau aku belum mandi, bisa saja ada debu yang menempel diwajahku, atau apalah itu sehingga mengurangi pesonaku saat kau memandangku," kata Willy masih menggoda isterinya.
__ADS_1
"Jangan lakukan itu lagi! Apa kau mau anak kita yang sedang ku kandung ini juling seperti yang kau tunjukan tadi," ucap Hanaria lagi masih merasa kesal.
Ting! Tong!
Hanaria segera keluar dari lift dengan langkah kaki panjangnya.
"Hana! tunggu Hana!" panggil Willy yang terburu-buru mengejarnya dari belakang.
"Itu cuma mitos, kau tidak boleh mempercayainya ya," pinta Wiilly seraya meraih pergelangan tangan Hanaria. Walau agak kesulitan mengejar, tapi akhirnya ia mampu mensejajarkan langkahnya dengan isterinya itu.
"Aku tidak mau bola mata anakku juling," katanya cemas. Hanaria tidak menyahut, dalam hati ia ingin tertawa melihat kecemasan diwajah suaminya itu. Tentu saja dirinya pun tidak mau mempercayai hal seperti itu, dan ia pun berharap bila anak mereka lahir kelak tidak bermasalah apapun, baik fisik maupun mentalnya.
"Siapa itu?" tanya Hanaria, saat melihat seseorang sedang berdiri didepan unit apartemen milik mereka dari kejauhan. Willy turut memperhatikan sejenak.
"Oh, sepertinya kurir pengantar makanan. Tadi aku memesannya saat menunggumu yang tengah sibuk kebut-kebutan tadi," kata Willy yang tidak berniat menyindir, namun tetap saja wajah Hanaria bersemu merah mendengar perkataan Willy yang blak-blakan itu, memang seharusnya dirinya tidak boleh test drive dengan cara yang ia lakukan seperti pada lintasan di Mega Otomotif kurang lebih beberapa jam yang lalu.
"Saya yang memesan makanan itu Bang," kata Willy, saat dirinya dan Hanaria sudah berada didekat sang kurir.
"Hana, dompetku sudah kosong," kata Willy tersenyum polos memberi kode minta dibayarkan.
"Berapa Bang?" tanya Hanaria seraya mengambil dompet dari dalam tasnya.
"Lima ratus tujuh puluh delapan ribu rupiah Nona," sahut sang kurir.
"Ini Bang," Hanaria menyodorkan uang kertas pecahan seratus ribuan enam lembar pada sang kurir.
"Maaf Nona, boleh minta uang pas saja?" katanya sopan.
"Kembaliannya buat Abang saja," kata Hanaria tersenyum tipis.
"Tapi-," sang kurir merasa tidak enak.
"Isteri saya ikhlas kok Bang," kata Willy ikut berbicara.
__ADS_1
"Baiklah. Terima kasih banyak Tuan dan Nona. Saya permisi dulu." pamitnya dengan sedikit membungkukan tubuhnya.
"Sama-sama," sahut Willy dan Hanaria bersamaan. Keduanya lalu masuk ke apartemen setelah sang kurir meninggalkan mereka.
...***...
Willy tersenyum senang melihat Hanaria yang makan dengan lahap. Ia sudah tidak heran lagi saat melihat isterinya itu makan tiga kali lipat dari porsi makannya.
Semenjak mereka pulang dari dokter kandungan beberapa waktu lalu, selera makan Hanaria memang sangat baik. Hanya saja di pagi hari, isterinya itu harus buru-buru ketoilet untuk memuntahkan makanan yang ia makan semalan, hanya sisanya saja, karena sebagian sudah dicerna oleh tubuhnya.
"Willy, tadi siang aku ke rumah sakit, karena Lania dioperasi sejak subuh," kata Hanaria membuka pembicaraan saat keduanya sudah masuk ke kamar tidur.
"Bagaimana hasil operasi sahabat kecilmu itu?" tanya Willy, seraya membantu Hanaria naik ke tempat tidur, lalu menyelimutinya dengan selimut tebal yang sudah tersedia.
"Baik, tinggal menunggu pemulihan," sahut Hanaria singkat.
"Syukurlah kalau begitu, aku turut senang. Jadi, kau tidak perlu kepikiran lagi dengan kesehatan sahabat kecilmu itu," ujar Willy ikut masuk kedalam selimut.
Hanaria memiringkan tubuhnya menghadap suaminya, lalu memandangnya cukup lama.
"Ada apa? Seperrinya ada sesuatu yang ingin kau katakan," kata Willy menebak.
"Aku bertemu dengan bayi Elvano dirumah sakit," wajah Hanaria langsung berubah sedih saat menyebut nama bayi itu. Willy yang melihat kesedihan di wajah isterinya segera bergeser mendekat lalu merengkuhnya masuk kedalam pelukan. Tangannya membelai lembut rambut tebal dan panjang isterinya itu.
"Apa yang membuatmu sedih Hana?" lirih Willy.
"Bayi Elvano sakit." suara Hanaria terdengar parau, berusaha menguasai emosi kesedihan dalam dadanya. Willy yang mendengarnya terus mengusap lembut rambut isterinya itu dengan perasaan sayang.
"Bolehkah aku mengadopsi bayi Elvano menjadi anak kita?" kata Hanaria tiba-tiba meminta ijin.
"Uhuukk! Uhuukk!" Willy langsung tersedak dengan salivanya sendiri setelah mendengar permintaan isterinya itu.
Bersambung...👉
__ADS_1