
Pintu ruangan kerja Willy di dorong dengan kasar dari luar hingga terbuka lebar., Moranno dan dokter Herman terkesiap, mereka berdiri terpaku didepan pintu, dan saling berpandangan satu sama lain, dengan tatapan yang tak terbaca, saat melihat pemandangan tidak biasa dihadapan mereka dalam ruang kerja Willy.
Moranno yang tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, dengan sigap melangkah masuk, lalu mencengkram kerah baju Willy dan menarik putranya itu dengan kasar agar menjauhi tubuh Hanaria.
"Willy!!! Apa yang kau lakukan???!!! Memalukan!!!" Wajah Moranno merah padam, ia sangat marah dan merasa sangat malu atas perbuatan putranya, yang melakukan perbuatan tidak senonoh dikantornya, bahkan disaat orang - orang sedang sibuk berkerja.
"Kumohon daddy......! Willy sedang membantu nona Hana yang kesulitan bernafas!" Willy menahan tangan ayahnya yang menarik dasinya hingga lehernya terasa hampir tercekik.
Mendengar perkataan putranya, Moranno melirik sekilas kearah Hanaria yang terbaring lemas dikursi sofa. Ia melonggarkan pegangannya dari kerah baju putranya.
"Apa yang terjadi padanya?? Kau apakan nona Hana, sampai kondisinya jadi seperti itu??" Moranno kembali menarik dasi putranya itu semakin kencang hingga Willy merasakan lehernya tercekat dan terbatuk - batuk.
"Tuan...... sabar tuan...... Lepaskan tuan muda dulu. Kita belum tahu duduk perkaranya...... lebih baik kita segera memberi bantuan pada nona Hana, nanti baru kita urus bila memang ada masalah." Ucap Dokter Herman yang berdiri dibelakang Moranno, dan menepuk - nepuk pundak majikannya, untuk menyabarkannya.
Moranno lalu melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju dan dasi putranya itu. Willy segera melonggarkan dasinya, sambil mengerak - gerakan lehernya kekiri dan kekanan berulang ulang, sambil mengambil nafas yang hampir putus.
"Willy memberi nafas buatan pada nona Hana, karena alat oksigen belum datang daddy." Willy berusaha memberi penjelasan pada ayahnya, akan apa yang ia telah lakukan pada Hanaria.
"Baiklah.....! cepat lakukan lagi.....!" Perintah Moranno, saat ia melihat kondisi Hanaria memang seperti yang dikatakan oleh Willy putranya.
Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, Willy kembali memberikan nafas buatannya pada Hanaria. Ia menempelkan mulutnya pada mulut Hanaria dan jarinya menjepit hidung Hanaria hingga memerah. Setelah berulang - ulang kali dilakukan, dan disaksikan oleh Moranno dan dokter Herman, akhirnya, dada Hanaria terlihat naik turun, dan ia mulai bernafas hingga terbatuk - batuk ditempat ia berbaring.
Setelah berhasil membantu Hanaria bernafas lagi, Willy segera menyingkir dari dekat Hanaria. Ia merasa takut pada ayahnya, yang sejak tadi menatap wajahnya dengan tatapan garang.
Dokter Herman dengan sigap memeriksa keadaan Hanaria, sementara Moranno memperhatikan keadaan Hanaria, yang nampak kusut, dengan seragamnya yang kotor karena debu, dari tempat dirinya berdiri.
__ADS_1
"Ini minumannya dokter......." Willy buru - buru menyodorkan segelas air putih, dan segera disambut oleh dokter Herman.
"Nona Hana..... minumlah ini..... supaya anda lebih tenang....." Ucap Dokter Herman, sambil membantu Hanaria untuk duduk, dan memberinya minum dengan sangat hati - hati. Hanaria ikut memegang gelas ditangan dokter Herman, dan meneguknya sedikit demi sedikit hingga habis. Dokter Herman meletakan gelas kosong ditangannya keatas meja tamu.
"Nona Hana, apa yang telah terjadi padamu?" Tanya Moranno dengan tidak sabar, ia sangat penasaran, karena kondisi Hanaria, pegawai perempuannya itu, terlihat seperti habis dianiaya seseorang.
"Tuan Moranno..... biarkan nona Hana berisrirahat dulu, sampai ia menjadi tenang, setelah itu, tuan boleh bertanya apapun, yang hendak tuan ketahui dari nona Hana." Jelas dokter Herman memberi saran.
"Nona Hana, beristirahatlah dulu...." Ucap dokter Herman, ia membantu Hanaria untuk berbaring kembali. Hanaria hanya menganggukan kepalanya, ia tidak berkata apa - apa, kepalanya masih terasa pusing. Yang ia butuhkan saat ini, adalah merebahkan dirinya untuk beristirahat. Kejadian beberapa menit lalu pada dirinya, masih terbayang - bayang, dan terus bermain - main dikepalanya.
Driiit...... Driiiit....... Driiit......
Ponsel Moranno bergetar didalam sakunya, ia segera meraihnya, dan mengangkatnya saat melihat tuan Doffy yang menelponnya.
"Ada apa tuan Doffy?" Tanya Moranno, sesaat setelah dirinya mengangkat telepon pegawainya itu.
"Tunda saja dulu acaranya hingga 1 jam lagi tuan Doffy, nona Hana ada diruangan tuan muda Willy, dia sedang dirawat dokter Herman dulu." Jelas Moranno.
"Nona Hana ada diruang tuan muda Willy......?? Syukurlah kalau begitu tuan........ Baik tuan, saya akan menundanya hingga 1 jam kemudian....." Tuan Doffy memutuskan sambungan teleponnya.
Willy yang mendengar percakapan ayahnya ditelepon dengan tuan Doffy tiba - tiba teringat sesuatu. Dengan tergesa gesa, Willy menuju pintu ruang kerjanya yang masih terbuka.
"Mau kemana Willy?!" Tanya Moranno, saat melihat putranya itu melangkah menuju pintu.
"Keluar sebentar daddy, ada sesuatu yang tertinggal." Sahut Willy, ia lalu segera pergi, dan menutup pintu kerjanya dengan rapat. Moranno menatap bayangan putranya yang telah menghilang dibalik pintu.
__ADS_1
Tok....tok......tok......!! Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Masuklah!!!" Ujar Moranno sambil menatap daun pintu yang didorong dari luar.
"Maaf tuan...... saya mengantarkan tabung oksigen yang dipesan oleh tuan muda Willy." Ucap seorang cleaning service dari depan pintu. Moranno melihat kerah dokter Herman untuk minta tanggapan darinya.
"Nona Hana sudah tidak memerlukan tabung oksigen lagi tuan Moranno....." Ujar dokter Herman, yang seakan mengerti akan arti tatapan Moranno yang ditujukan padanya.
"Bawa saja tabung oksigennya kembali....." Ucap Moranno pada pegawai cleaning servicenya itu.
'Baik tuan....." Cleaning service itu kembali membungkuk hormat, lalu berbalik dan menutup pintu ruang kerja Willy dengan rapat.
Willy akhirnya datang, dan menenteng tas ransel ditanganya. Moranno memperhatikan putranya itu, dengan rasa curiga, ia mengenal tas ransel yang ditenteng Willy. Ya, tas ransel itu milik Hanaria, hanya gadis itu yang setiap berangkat berkerja selalu menggunakan tas ransel, tidak seperti pegawai - pegawai perempuannya yang lain, menggunakan tas - tas mahal dan branded.
"Dokter, bagaimana kondisi nona Hanaria?" Tanya Moranno, saat dokter Herman baru saja membersihkan tangannya diwastafel, dan menghampiri dirinya yang sedang menyandarkan tubuhnya diujung meja Willy, putranya.
"Kondisi nona Hana baik - baik saja tuan Moranno, tidak ada masalah dengan kesehatannya, dan ia tidak mengidap penyakit asma juga tuan. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Jelas dokter Herman.
"Mengenai bibir dan lidah nona Hanaria yang terlihat membengkak itu....." Dokter Herman menjedah ucapanya, ia mengalihkan tatapannya kearah Willy sejenak, yang tengah duduk mematung dikursi, dibelakang mejanya, lalu mengalihkan pandangannya lagi pada Moranno, yang masih berdiri menyandarkan tubuhnya diujung meja putranya.
"Menurut saya, itu bukan gigitan sebangsa hewan tuan..... " Lanjut dokter Herman memperjelas.
Mendengar perkataan dokter Herman, Moranno langsung berdiri tegak, memperbaiki posisi berdirinya dihadapan dokter Herman, dan sedikit menghadap kearah Willy yang masih duduk dibelakang mejanya.
...***Terima kasih buat readers yang sudah mampir dan meninggalkan like dan comennya....
__ADS_1
...Author sangat menghargainya sebagai dukungan bagi author untuk lebih semangat lagi menulis. 😊🙏***...