HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 109 Pendekatan Dengan Calon Mertua


__ADS_3

Disinilah Willy sekarang berada. Telah tiga hari ini ia berada didusun Rimba. Tempat kelahiran Hanaria, dan selama tiga hari berrurut - turut juga ia mengikuti pak guru Arta, ayah Reymon kekebunnya yang bersebelahan dengan sawah milik pak Muri, ayah Hanaria.


Pak guru Arta hanya bisa tersenyum geli, saat melihat Willy terus mengawasi pak Muri dan ibu Muri yang berkerja disawah, dibawah terik matahari dari kejauhan.


Pria tua yang beberapa bulan lagi akan pensiun dari pekerjaannya sebagai seorang guru dan kepala sekolah SD di dusun Rimba itu mengisi waktu luangnya dengan bercocok tanam dikebun, sambil mengawasi pekerjaan tukang yang sedang membangun rumah tinggalnya setelah pensiun nanti. Sedangkan isterinya berada dirumah untuk menemani ibunya yang sudah tua dan sulit berjalan.


Pak Arta mendekati Willy, pemuda itu nampak terkejut saat punggungnya disentuh seaeorang, ia lalu menoleh kearah pak Arta yang sedang menatapnya dengan tersenyum.


Ia sudah mengetahui tujuan Willy, melalui penjelasan Moranno lewat telepon beberapa hari yang lalu saat Reymon mengantarkan dirinya keatas bukit, karena disana saja yang ada sinyal atau jaringan untuk menelpon.


Mantan majikan ibunya, yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri itu meminta bantuannya untuk mewujudkan misi putra keduanya itu.


"Apa yang sedang kau perhatikan nak Willy? Kenapa kau tidak menemui mereka saja disana? Hmm?" Tanya pak Arta dalam senyumnya. Willy ikut tersenyum.


"Takut mengganggu pekerjaan mereka paman, mereka terlihat sangat sibuk......." Ujarnya sambil menatap kearah persawahan dimana kedua orang tua Hanaria tengah menanam semaian padi di alur sawah yang sudah disediakan.


"Sampai kapan kau akan memperhatikan mereka nak? Ini sudah hari ketiga kau ikut dengan paman, dan hanya melihat mereka dari kejauhan. Mereka pasti sangat senang bila kau menghampiri mereka. Bukankah kau sudah pernah bertemu dengan kedua orang tua Hanaria itu, saat mereka berkunjung kekota." Ucap pak Arta berusaha memberi dukungan dan dorongan.


"Kenapa ya paman? Aku kok sungkan bertemu mereka kali ini. Tidak seperti sebelumnya......" Willy menatap wajah pak Arta, berharap ada penjelasan dari yang ia tanyakan. Pak Arta yang ditanya langsung terkekeh, lalu menuangkan teh dari ceret ke dalam dua gelas yang telah ia siapkan.


"Dulu, paman pernah muda juga sepertimu nak Willy. Saat mendekati bibimu, paman juga berusaha mendekati ayah dan ibunya. Rasanya itu...... disini, jantung ini berpacu lebih cepat, takut keberadaan paman ditolak saat pertama kali bertemu. Karena belum mengenal dan tahu bagaimana mereka nanti akan bersikap pada paman." Tutur pak Arta sambil menunjuk dadanya sendiri, lalu meletakan satu gelas teh dihadapan Willy, dan mempersilahkan pemuda itu minum


"Tapi syukurlah, paman bisa diterima baik oleh kedua orang tua bibimu, yang kini sudah menjadi mertua paman." Imbuk Pak Arta sambil menyesap teh panasnya sedikit demi sedikit.

__ADS_1


"Berbekal kau pernah bertemu mereka, sekarang cobalah kembali bersua. Percayalah pada paman, kau tidak akan gugup lagi." Kembali pak Arta memberi dukungan dan semangat.


"Lihat..... Mereka sudah kembali kegubuknya, bagaimana kalau kau kesana saja sekarang, mengobrol atau apa sajalah, supaya bisa dekat dengan mereka." Willy kembali memperhatikan kedua orang tua Hanaria yang berjalan pulang dari tengah sawah menuju pondok mereka yang berada dipinggir sawah.


Willy segera meneguk teh dihadapannya dan menghabiskannya walau masih cukup panas.


"Aku kesana dulu ya paman? Tidak apa - apakan aku tinggal paman sendiri disini?"


"Pergilah...... Paman sudah biasa sendiri. Tidak apa - apa......" Sahut pak Arta masih dengan senyumnya. Wlly berdiri, mencium punggung tangan pak Arta dan segera meninggalkan pondok milik pak Arta itu dengan langkah ringannya, menuju pondok pak Muri dan isterinya yang hanya berjarak puluhan meter saja.


"Selamat siang pak..... ibu......." Sapa Willy, begitu dirinya tiba didepan pondok pak Muri dan ibu Muri, sambil mengulas senyumnya.


Kedua orang tua Hanaria yang sedang mengaso diteras pondok, sambil memandang hamparan sawah yang belum selesai ditanami menatap kearah Willy. Memperhatikan sejenak siapa yang sedang mengunjungi mereka diwaktu istirahat siang itu.


Begitu pak Muri dan ibu Muri mengingat wajah Willy yang pernah mereka lihat, keduanya serempak tersenyum ramah. " Nak Willy??" Ucap keduanya bersamaan.


"Mari.... Mari..... Ayo naik kemari nak Willy......" Pak Muri mempersilahkan Willy untuk naik kepondok mereka.


Willy segera menaiki tangga yang hanya setinggi pinggangnya saja. Ia langsung mencium punggung tangan Pak Muri lalu ibu Muri dan duduk.disisi keduanya.


"Kapan nak Willy tiba didusun ini?" Tanya Pak Muri menatap kearah Willy dengan senyum tipisnya.


"Sudah tiga hari saya ada disini pak...... Berlibur dirumah paman Arta." Jelas Willy.

__ADS_1


" Oh...... Bapak memang mendengar dari para tetangga, bahwa ada keluarga pak guru Arta yang datang dari kota, orangnya ganteng dan putih. Ternyata yang mereka maksud itu nak Willy rupanya." Tutur pak Muri sambil tersenyum


"Ah Bapak bisa saja...... " Ucap Willy merasa malu mendengar pujian dari ayah Hanaria.


"Iya benarkan bu, para tetangga bilang begitu?" Ucap pak Muri pada isterinya yang sedang menuangkan teh didalam cangkir teh.


"Iya nak Willy, para tetangga memang bilang begitu. Di dusun kami ini, bila ada orang baru datang, dari ujung keujung, semua tetangga pada tahu." Sahut ibu Muri membenarkan.


"Selain itu, biasanya banyak warga dusun yang akan bertandang untuk bersilahturahmi, itulah keramahan yang dimiliki dari warga yang ada didusun ini nak....." Tambah ibu Muri lagi.


Pantas saja, beberapa hari ini, mulai awal dirinya datang hingga sekarang banyak orang yang bertamu dan ingin mengobrol dengannya, fikir Willy didalam hati.


"Ayo diminum nak Willy......" Ibu Muri meletakan secangkir teh dihadapan Willy, lalu meletakan pula dihadapan suaminya.


"Jadi merepotkan bu...... Tadi sudah minum teh juga dipondok paman Arta." Ucap Willy.


" Hanya sekedar teh kok nak Willy, tidak merepotkan. Di tempatnya pak guru Arta memang sudah, tapi disini belum....." Sahut ibu Muri ramah.


"Nak Willy, kita makan siang bersama ya..... Kebetulan ibu bawa bekal banyak dari rumah tadi pagi." Ujar Ibu Muri lagi sambil membuka bekal makanannya lalu menghidangkannya dihadapan mereka.


"Aduh, saya jadi tidak enak kalau begini, ikut numpang makan siang......" Ucap Willy yang benar - benar merasa sungkan dan tidak enak pada kedua orang tua Hanaria itu.


"Tidak usah merasa sungkan nak Willy..... Kita kan sudah saling mengenal. Ayo kita makan sama - sama. Memang makanannya tidak seenak dan semewah makanan nak Willy dikota." Pak Muri ikut menawarkan.

__ADS_1


Willy memperhatikan menu makan siang yang telah tersaji dihadapannya. Sup ikan tawar, ikan goreng, dan ikan bakar. Ada tumis daun pepaya dipadu bunganya. Ya, pantas saja Hanaria selalu mengkonsumsi ikan dan sayuran, ternyata begitulah menu keluarganya dikampung ini, fikirnya didalam hati.


"Biar saya ambil sendiri bu....." Ucap Willy, saat ibu Muri akan mengambil makanan untuknya.


__ADS_2