HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Episode 63 Makan Malam


__ADS_3

"Ayo ibu..... ayah..... duduk dulu disini....." Firlita menarik kursi untuk pak Muri dan ibu Muri yang sudah ia anggap seperti orang tuannya sendiri.


"Banyak sekali kau memasak untuk makan malamnya Fir..... Apakah ada hal yang istimewa?" Tanya Hanaria menatap hidangan yang sudah disajikan Firlita diatas meja.


"Iya kak Hana..... aku sengaja memasak yang banyak untuk makan malam kita. Pertama, sebagai rasa syukur atas diwisudanya kak Hana pada hari ini..... Selamat ya kak Hana....." Firlita memeluk leher Hanaria dari belakang yang sedang duduk menghadap meja makan.


"Terima kasih ya Fir....." Hanaria menyentuh sepasang tangan Firlita yang melingkar dilehernya dan mengusap tangan adik angkatnya itu dengan lembut.


"Sama - sama kak....." Firlita melepaskan pelukannya, lalu beranjak kekursinya dan duduk disana.


"Dan yang kedua..... hari ini, aku telah diterima berkerja disalon kecantikan......" Tambah Firlita lagi dengan wajah bahagia.


"Selamat ya Fir......" Ucap Hanaria beranjak dari duduknya dan memeluk Firlita erat.


"Ma kasih ya kak......" Sahut Hanaria masih dengan wajah bahagia.


"Selamat ya nak Firlita..... Semoga kau betah bekerja di tempat kerjamu yang baru." Ucap pak Muri sambil tersenyum, turut merasa bahagia.


"Terima kasih ayah....." Sahut Firlita menatap dengan senyuman pada pak Muri yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri.


"Ibu juga mengucapkan selamat ya nak..... " Ibu Muri tidak mau ketinggalan mengucapkan selamat pada Firlita sebagai dukungannya pada perempuan muda itu.


" Iya bu, terima kasih..... Ayo kita makan dulu..... nanti keburu dingin....." Ajak Firlita dengan wajah cerianya.


"Ayo..... ayah juga sudah merasa laper melihat masakanmu Firlita." Ujar pak Muri bersemangat.


Firlita membantu mengisi piring kedua orang tua Hanaria dengan hati gembira, wajahnya terus dihiasi dengan senyuman. Baginya, memiliki keluarga seperti inilah yang selalu diimpikannya sejak dirinya menyadari bahwa ia hidup sebatang kara.


"Nak Firlita suka makan ikan juga.....?" Tanya ibu Muri, saat melihat ikan bakar kakap kecap, sup ikan salmon, dan Bandeng kuah kemangi. Ya, hampir semua menu makan malam yang tersaji diatas meja berbahan dasar ikan, kecuali sayur tumis pare udang dan nasi.



Ikan Bakar Kakap kecap


__ADS_1


Sup Ikan Salmon



Bandeng Kuah Kemangi



Tumis Pare Udang


"Awalnya Firlita nggak suka ikan bu.... semenjak tinggal dengan kak Hana..... Firlita jadi suka makan ikan. Kata dokter, ikan sangat baik untuk bayi yang ada dalam kandungan Firlita." Sahutnya sambil meletakkan piring yang baru selesai ia isi kehadapan ibu Muri.


"Dimakan bu....." Firlita mempersilahkan dengan sopan.


"Mmm..... enak sekali Firlita...... bandeng kuah kemanginya, rasanya gurih dan segar......" Puji ibu Muri sambil mengunyah dengan mulut penuhnya.


"Ikan bakar kakap kecapnya juga enak bu....." Pak Muri ikut memuji. Sambil melirik sekilas kearah isterinya dan Firlita.


Firlita kembali mengulas senyum bahagianya saat mendengar pujian dari pak Muri dan isterinya. " Firlita senang kalau ayah dan ibu suka....." Ujarnya masih tersenyum.


"Kak Hana bisa saja, ini semua "kan resep dari kak Hana." Tukas Firlita sambil ikut menikmati hasil masakannya.


"Tapi memang enak sih......." Ucap Firlita kemudian sambil memejamkan matanya , menikmati kunyahan makanan yang ada didalam mulutnya. Bukan berarti dirinya memuji diri sendiri ya.😀


Hanaria, pak Muri, dan isterinya tertawa ringan melihat tingkah Firlita yang polos dan menyenangkan.


Malam itu, masakan Firlita yang cocok dilidah membuat mereka makan sampai kekenyangan.


Firlita ingin ikut bergabung diruang tamu selepas membereskan dapur saat melihat Hanaria dan kedua orang tuanya asik mengobrol.


Ia meletakkan seteko teh panas dan tiga cangkir teh diatas meja tamu.


"Tidak usah repot - repot nak Firlita, kita semua sudah kenyang saat makan malam tadi." Ujar pak Muri.


"Tidak ayah..... hanya teh saja kok....." Sahut Firlita sambil menuangkah teh panas kedalam ketiga cangkir kosong yang telah ia siapkan.

__ADS_1


"Terima kasih nak Hana....." Ucap ibu Muri sambil tersenyum hangat.


"Sama - sama buu..... " Firlita turut tersenyum hangat.


"Ayah, ibu, kak Hana...... Firlita ijin istirahat duluan ya, karena besok adalah hari pertama Firlita berkerja disalon kecantikan." Ucap Firlita memberi alasan. Ia merasakan ada hal yang sangat penting, yang sedang diperbincangkan oleh Hanaria pada kedua orang tuanya, itu terlihat dari wajah ketiganya yang nampak tegang saat dirinya baru datang menghampiri.


"Iya Fir..... kau memang harus banyak istirahat, supaya dirimu dan juga kandunganmu tetap selalu sehat." Ujar Hanaria tulus.


Firlita tersenyum......" Iya kak, terima kasih." Firlita lalu menuju kamarnya yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari ruang tamu.


Sebelum naik ketempat tidur, Firlita terlebih dahulu menyiapkan pakaiannya yang akan ia kenakan esok hari. Ia berdiri sesaat didepan lemari pakaiannya. Dari pantulan cermin didepannya, perut buncitnya sudah terlihat makin membesar.


Dielusnya perutnya perlahan. Seharusnya, dirinya dapat merasakan kebahagian. Karena didalam perutnya yang membesar itu, ada seorang bayi yang akan memanggilnya ibu saat lahir.


Tapi justru kehadiran bayi itu menjadi sumber kesedihan baginya. Ya, itulah yang dirasakan Firlita saat ini. Setiap hari, ia berusaha menutup rasa kesedihannya. Ia tidak ingin orang lain mengetahui apapun yang sedang ia rasakan. Ia berusaha menelannya seorang diri. Sejak kecil ia sering mengalami berbagai kesulitan dalam hidupnya, berjuang untuk hidup dan diakui dalam masyarakat. Pembulian?? Jangan ditanya. Sebagai anak yatim piatu, tanpa sanak dan saudara, itu kerap kali ia terima dari orang - orang yang ada disekitarnya.


Kini, kesalahan yang telah ia lakukan beberapa bulan yang lalu, dengan membiarkan dirinya terlena pada ketampanan dan kebaikan Mahendra, hingga mau tidur bersama, dan dengan mudahnya menyerahkan kegadisannya pada pada pria itu, membuatnya harus menanggung kesalahan itu seorang diri bersama bayinya.


Mahendra, pria yang ia anggap sungguh - sungguh mencintainya. Ternyata tidak sebaik yang ia pikirkan, hanya membutuhkan tubuhnya saja. Firlita hanya bisa menyesali perbuatannya itu.


Firlita memilah - milah pakaiannya yang menggantung rapi didalam lemari. Ia memilih baju yang masih muat ditubuhnya, yang semakin hari semakin berisi.


Sayup - sayup terdengar perbincangan Hanaria bersama kedua orang tuanya. Firlita tidak sengaja mendengarnya dari balik dinding kamarnya. Hatinya bertambah pedih. Air matanya keluar begitu saja, menggenangi kelopak matanya. Kemalangan yang telah menimpanya ternyata harus menyeret Hanaria, orang yang telah banyak berbuat baik padanya.


Firlita naik ketempat tidurnya, ia berusaha untuk menenangkan dirinya. "Aku harus kuat...." Gumamnya seorang diri. "Aku tidak boleh menyerah.... Aku tidak boleh lari dari kenyataan....... Aku harus menghadapinya." Firlita berusaha menguatkan hatinya sendiri.


Diatas tempat tidur, Firlita berusaha memejamkan matanya. Ia terlihat gelisah, tubuhnya sesekali berbalik kekiri, dan sesekali berbalik kekanan. Saat ini, yang paling ia butuhkan adalah tenang dan berusaha untuk segera tidur supaya besok dapat bangun pagi dan siap menjalani hari yang baru.


...•••...


"Ayah dan ibu serius mau pulang hari ini??" Tanya Hanaria memastikan.


"Iya Hana..... bukannya ibu dan ayah tidak mau berlama - lama disini untuk menemanimu. Kasihan kakakmu Jonly, dia pasti sangat kepikiran. Waktu lahiran Mizha dulu, bukan main panik dan stresnya kakakmu itu. Itupun ada ibu, dan ayah, juga ibu mertuanya." Jelas ibu Muri sambil menikmati sarapan pagi dihadapannya.


"Ibu harap kau mengerti....." Lanjut ibu Muri menatap putrinya itu.

__ADS_1


Hanaria menganggukan kepalanya pelan. Ia memang belum puas melepas rindu pada kedua orang tuannya yang hanya seminggu berada dirumahnya. Namun dirinya juga tidak ingin membuat kakak satu - satunya itu merasa ketakutan seorang diri menghadapi persalinan isterinya yang akan melahirkan anak kedua mereka.


__ADS_2