
Hanaria melambatkan mobilnya saat akan melintas pada penyebrangan jalan murid - murid SD. Pandangannya tertuju pada seorang pria yang sedang menyeberangkan seorang anak murid perempuan.
Sesampainya diseberang jalan, anak perempuan itu lalu mencium punggung tangan pria yang mengantarkannya sambil tersenyum. Lalu dengan riang ia berlari - lari kecil meninggalkan pria itu memasuki pagar sekolah yang sedang dijaga oleh seorang security.
Hanaria yang segera melintas sempat melihat wajah sang pria itu dengan jelas." Pak Paris....?" Gumamnya. "Mungkin itu putrinya..... ya, itu pasti putrinya....." Pikir Hanaria sambil mengemudikan mobilnya dengan pelan ditengah lalu lintas pagi yang lumayan macet.
Waktu menunjukan pukul 7.40 saat Hanaria tiba dikantor. Ia bergegas menuju lobby samping untuk naik menggunakan lift keruangannya.
Saat melewati parkiran khusus direktur utama. Hanaria segera membungkuk hormat saat melihat Moranno baru keluar dari mobilnya bersama Wily.
"Selamat pagi tuan Moranno dan tuan muda Willy....." Sapa Hanaria dengan sopan dan masih membungkuk hormat.
"Selamat pagi juga nona Hana...... Apakah kau sudah bisa berkerja hari ini?" Moranno balas menyapa. Ia sempat memperhatikan lengan Hanaria yang masih menggunakan perban.
"Iya tuan..... saya merasa sudah lebih baik....." Sahut Hanaria lagi.
"Baiklah..... Oh, ya..... terima kasih untuk buah - buahan pemberian dari orang tuamu. Kami sudah menikmatinya. Bahkan Willy memakan pisang rebusnya sebagai menu dietnya semalam, juga isteriku sudah membuatkan salad buah untuk kami dari buah - buhanan yang diberikan orang tuamu nona Hana."
Wajah Hanaria merona, ia tidak menyangka, orang seperti Moranno, pemilik perusahaan tempat ia berkerja bisa menyukai buah - buahan dari dusun. Padahal dirinya sempat berpikit bahwa Willy akan membuangnya ditempat sampah.
"Sama - sama tuan......" Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Hanaria sambil tetap membungkuk hormat.
"Kami duluan nona Hana....."
"Baik tuan....."
Hanaria masih membungkuk saat Moranno dan Willy mendahuluinya masuk ke lobby samping. Ia sengaja melambatkan langkahnya untuk memberi jarak pada dirinya dengan kedua majikannya itu. Walau tuannya itu bersikap ramah padanya, Hanaria tetap merasa sungkan.
Diruangan kerjanya Hanaria mulai sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk selama ia tidak masuk berkerja. Para sahabat Hanaria mendatanginya dengan kehebohannya. Namun saat melihat tuan Doffy, mereka serta - merta melarikan diri kemeja kerjanya masing - masing, karena kalau tidak, mereka harus siap mendapatkan ucapan pedas dari atasannya itu bila kedapatan bersantai di jam kerja.
Selepas makan siang Hanaria masuk keruangan tuan Doffy. Hampir saja ia menabrak pak Paris yang baru saja keluar dari ruangan tuan Doffy. Amplop yang sedang dipegang pak Paris terjatuh dari tangannya karena kaget.
__ADS_1
"Maafkan saya pak Paris, hampir saja saya menabrak anda....." Ungkap Hanaria merasa tidak enak dibarengi dengan bahasa tubuhnya yang membungkuk untuk mengambil amplop yang sempat terjatuh dilantai.
Pak Paris buru - buru mengambil amplop putih itu dari tangan Hanaria, namun gadis itu sempat melihat tulisan SP 2 dihalaman depan amplop. Hanaria berpura - pura tidak melihatnya.
"Tidak masalah nona Hana. Justru saya yang harusnya meminta maaf pada anda, karena telah menyebabkan anda kecelakaan dilokasi kerja." Ujar pak Paris sambil melihat perban yang masih membungkus luka Hanaria.
"Tidak pak Paris, ini bukan salah anda, tapi karena kecelakaan kerja saja. Saya juga sudah merasa lebih baik sekarang." Ucap Hanaria sambil tersenyum tipis.
"Tapi tetap saja nona Hana, itu semua terjadi karena keteledoran saya dalam berkerja." Ungkap pak Paris merasa bersalah.
"Oh, ya tadi pagi saya melihat pak Paris mengantarkan seorang anak perempuan kesekolah. Apakah itu anaknya pak Paris?" Tanya Hanaria berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Anak..... perempuan.....?" Wajah pak Paris terlihat gugup.
"Iya.... anak perempuan yang mengenakan seragam SD tadi pagi. Saya tidak sengaja melihat anda mengantarkannya menyeberangi jalan menuju sekolahnya. Terlihat sekali anak perempuan anda sangat dekat dengan anda pak Paris. Saya jadi teringat waktu saya masih kecil, ayah saya juga rajin mengantarkan saya kesekolah sama seperti anda pak Paris. Ya.... walau jarak rumah dan sekolah saya didusun cukup dekat, ayah saya tidak membiarkan saya kesekolah seorang diri." Ucap Hanaria sambil tersenyum tipis, kenangan masa lalu itu melintas membuat hatinya menghangat. Ya, ayahnya sangat menyanyangi dirinya demikian juga ibunya. Bukan hanya dirinya, kedua orang tuannya juga sangat menyayangi kakak laki - lakinya yang sekarang sudah menikah dan memiliki seorang anak, sehingga cucunya itulah yang kini menjadi kesayangan kakek dan neneknya.
"Oh.... anda sempat melihatnya ya nona Hana..... "
Hana menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
"Ah..... Iya pak Paris, Silahkan. Hati - hati dijalan." Sahut Hanaria. Ia sempat menangkap kegugupan diwajah pak Paris. Entahlah, Hanaria tidak dapat menebaknya.
"Masuklah Hana......" Ujar tuan Doffy saat melihat Hana yang sedang mengetuk, walau pintu sudah terbuka.
"Bagaimana keadaanmu nona Hana, apakah sudah lebih baik?" Tanya tuan Doffy saat Hanaria sudah duduk pada kursi didepannya.
"Iya tuan Doffy, saya sudah lebih baik. Luka saya ini juga sudah mulai sembuh, sengaja masih ditutup supaya tidak terpapar debu." Sahut Hanaria saat melihat tuan Doffy memperhatikan lengannya yang masih diperban.
"Syukurlah kalau begitu Hana..... Ada apa kau datang kemari?" Tanya tuan Doffy lagi.
"Ini beberapa design yang sempat tertunda beberapa hari yang lalu, yang tuan minta saya kerjakan." Hanaria mengirimkan gambar - gambar yang baru ia selesaikan lewat laptopnya.
__ADS_1
Tuan Doffy langsung melihat dan mencocokkan dengan berkas permintaan customer untuk beberapa saat lamanya.
"Nona Hana, dari empat designmu ini, hanya satu yang perlu ada perubahan. Tiga lainnya sudah sesuai permintaan. Karena tuan Jinggo Yan baru dua hari yang lalu datang kemari bersama sekretarisnya untuk meminta kita mengubah designnya. Tadi pagi aku tidak sempat memberitahumu, karena ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan dengan pak Paris." Jelas tuan Doffy. Ia lalu memperlihatkan satu berkas yang sedang dicocokkannya di mejanya dan memperlihatkannya pada Hanaria.
Tuan Doffy mulai menjelaskan, bagian - bagian apa saja yang diminta oleh pihak customer. Hanaria memperhatikan dengan seksama, sesekali dirinya mengernyitkan keningnya, namun ia tetap mendengarkannya dengan tenang.
"Bagaimana? Apa kau mengerti nona Hana?" Tanya tuan Doffy setelah menyelesaikan penjelasan yang mengacu pada dokumen yang ada dihadapan dirinya dan Hanaria.
"Tuan Doffy..... maafkan saya.....sepertinya permintaan customer kita, tuan Jinggo Yan hanya melihat dari seni keindahan bangunan saja, tidak memperhitungkan dari segi kekuatan bangunannya." Ujar Hanaria berpendapat. Tuan Doffy langsung tersenyum mendengar ucapan bawahannya itu.
"Kau benar nona Arsitek HANARIA..... itu sebabnya, para customer - customer itu membutuhkan para arsitek seperti kita yang bisa mendesain sesuai dengan syarat utama dari suatu bagunan, yaitu harus kuat, tahan lama, memiliki seni keindahan, dan kesehatan." Jelas tuan Doffy sambil memperhatikan wajah Hanaria yang duduk didepannya.
"Jadi, aku memintamu membuat dua design. Pertama sama persis seperti yang diminta tuan Jinggo Yan dan yang kedua sesuai dengan nilai - nilai yang harus ada dalam bangunan itu." Tambah tuan Doffy lagi.
"Baik tuan..... kapan deadlinenya?"
"Enam minggu kedepan. Sebab dalam waktu dekat ia akan membangun bangunan kantor barunya dan harus selesai tahun ini. Sebab diawal tahun depan, tuan Jinggo Yan akan meresmikan pembukaan cabang barunya. Dan jangan lupa disertai rencana anggaran biaya dengan harga terbaru." Jelas tuan Doffy
"Baiklah tuan, saya mengerti......"
Hanaria segera berpamitan, Ia membawa laptopnya juga berkas yang telah diperlihatkan tuan Doffy padanya kembali kemeja kerjanya.
Ponsel Hanaria berbunyi saat dirinya baru saja meletakkan laptop dan berkas ditangannya diatas meja kerjanya.
Hanaria meraih ponselnya dan segera menerima panggilan masuk dari kantor polisi.
"Iya pak..... dengan saya Hanaria....."
"Bisakah besok pagi anda kekantor polisi untuk dimintai keterangan nona Hana?"
"Maaf pak, besok pagi saya ada acara wisuda, bagaimana kalau sore harinya sekitar pukul 15.00 wita."
__ADS_1
"Baiklah nona Hana, nanti kami kirimkan hard copy nya kerumah anda. Selamat sore."
Setelah telepon terputus, Hanaria berpikir sejenak sambil membolak - balikan ponsel miliknya menggunakan tangan kirinya.