HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
152. Resepsi Pernikahan Kedua


__ADS_3

Selepas makan siang, Hanaria dan kedua orang tuanya sudah berangkat ke hotel tempat acara bersama Willy dan seluruh keluarga besarnya, karena pukul tiga sore, acara resepsi sudah dimulai hingga pukul sembilan malam.


Seluruh keluarga sudah bersiap diruangan acara pesta resepsi menunggu mempelai wanita yang selalu berdanda paling lama.


Undangan kehormatan keluarga Agatsa sudah berdatangan satu persatu bersama pasangan mereka, memadati ruang pesta yang megah, mewah, elegan dan sangat berkelas itu. Demikianlah pesta yang sudah dipersiapkan oleh Moranno untuk putra dan menantunya itu.


Acara pesta resepsi pernikahan eksklusif yang diusung oleh keluarga Agatsa dan keluarga Morgan dalam kemegahannya itu, tidak membiarkan ada awak media untuk meliput termasuk para undangan yang hadir hanya sekedar mengambil gambar atau poto diacara tersebut.


Hanya dari event organizer saja yang dipercayakan memegang acara itulah yang diperkenankan untuk mengambil gambar dalam setiap moment-moment yang akan berjalan dalam acara tersebut.


Penampilan pak Muri dan ibu Muri juga sudah ditata sedemikian rupa oleh para perias, sehingga tidak terlihat berbeda dengan seluruh keluarga besar Agatsa dan keluarga besar Morgan yang memiliki perhelatan akbar dihari itu.


Para kolega bisnis Moranno juga tidak ada yang berani menyentil apalagi menyinggung tentang status sosial dari besannya, saat melihat pemilik Properti Agatsa Group itu memperkenalkan kedua besannya itu pada semua undangannya yang hadir dengan rasa hormat dan bangga.


Walau semua undangan sudah tahu bahwa orang tua Hanaria adalah orang biasa yang berasal dari dusun.


Tanpa terkecuali, tuan Hartawan dan dokter Rosalie, orang tua dari dokter Rosalia juga hadir dalam perhelatan itu sambil mengobrol dengan pasangan Morano-Yurina, dan Margareth-Harry sahabat mereka.


"Hai tuan dan nyonya Harry, apa kabar?" sapa dokter Rosalie pada sahabatnya Margareth dan suami sahabatnya itu sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


"Kabar baik, bagaimana kabar mu juga Ibu dokter dan tuan Komjen Hartawan," sambut Margareth sambil menjabat erat tangan sahabatnya dokter Rosalie dan suaminya yang adalah seorang perwira tinggi. Harry suami Margareth-pun ikut berjabat tangan dan mengobrol dengan sahabat isterinya itu.


"Selamat ya nyonya Yurina dan tuan Moranno, atas pernikahan putra anda Willy," ucap dokter Rosalie beralih pada Moranno dan Yurina, dengan senyum diwajahnya sambil menjabat tangan kedua sahabatnya itu. Demikian pula tuan Hartawan, turut berjabatan tangan pula pada kedua sahabat isterinya itu.


"Terima kasih dokter Rosalie, tuan Hartawan," sahut Moranno dan Yurina hampir bersamaan.


"Kapan kakaknya Billy akan menyusul?" tanya dokter Rosalie berkelakar, mengingat putra pertama pasangan Moranno-Yurina itu sudah didahului oleh adiknya Willy.

__ADS_1


"Masih menunggu waktu yang tepat, jadi bersiaplah mulai sekarang, karena kami akan datang dengan tiba-tiba melamar putrimu Rosalia untuk putra kami Billy Ibu dokter," balas Yurina.


Mereka berenam langsung tertawa bersama saat mendengar ucapan Yurina yang berkelakar tapi sungguhan.


"Dimana calon menantu kami selanjutnya itu, apakah dia sengaja tidak mau hadir dipesta resepsi pernikahan sahabatnya?" tanya Yurina pada dokter Rosalie, sambil melihat kesana kemari mencari keberadaan Rosalia.


"Rosalia datang nyonya, mana berani tidak datang, sudah diancam Willy." kekeh dokter Rosalie.


"Tadi dia buru-buru pamit ke toilet dulu," imbuhnya lagi.


"Ayo, kami juga ingin berkenalan dengan besan nyonya dan tuan Moranno," ucap dokter Rosalie sambil menarik lengan suaminya yang sedang digandengnya mendekati pak Muri dan ibu Muri yang berdiri disebelah Yurina dan Moranno.


Firlita turut hadir, duduk bersama nenek buyut Naomi, tidak jauh dari keluarga Agatsa dan keluarga Morgan lainnya, karena dirinya yang sedang hamil tua.


Dari tempat duduknya, Firlita dapat menyaksikan semuanya itu, betapa semua tamu penting yang hadir dipesta itu sangat menghargai dan menghormati orang tua Hanaria yang notabenenya hanya orang kalangan biasa.


Seorang Hanaria, anak dusun yang merantau kekota, bisa menaikkan derajat orang tuanya, lewat prestasi yang ia raih, juga lewat pernikahannya dengan seorang tuan muda dari keluarga Agatsa, keluarga terhormat dikota itu, batin Firlita.


"Firlita?"


Firlita tersentàk saat satu suara yang sangat dikenalnya menyebut namanya dari belakang telinganya. Dengan sedikit ragu ia menoleh. Ya benar seperti dugaanya, suara itu memang milik ibu mertuanya, nyonya Mingguana Alhandra Liem.


"Nyonya?!" ucap Firlita dengan suara kagetnya dan langsung berdiri sambil membungkuk hormat pada ibu mertuanya itu.


Buyut Naomi yang melihat hal itu ikut terkejut lalu menoleh kearah nyonya Mingguana yang berdiri dibelakang mereka.


"Hei bersikaplah sopan! Apakah matamu itu tidak melihat ada wanita tua renta disini!" sentak buyut Naomi geram menatap kewajah nyonya Mingguana di belakangnya.

__ADS_1


Nyonya Mingguana tersentak, hatinya merasa panas mendengar hardikan wanita tua berambut putih full itu pada dirinya, namun emosinya langsung surut seketika saat mengenali wanita tua yang duduk dihadapannya itu.


"M-maafkan saya nyonya Naomi, maafkan kebodohan saya yang tidak melihat keberadaan anda duduk disini." ungkap nyonya Mingguana kikuk lalu membungkuk hornat.


"Eum," sahut nyonya Naomi dengan gumaman.


Firlita yang menyaksikan hal itu merasa kagum akan pengaruh yang dimiliki oleh nenek buyut dari Willy itu, sampai ibu mertuanya yang ia tahu tidak pernah takut pada siapapun begitu tunduk dan membungkuk hormat padanya.


"Firlita, duduklah, untuk apa kau berdiri mematung seperti itu, kau sedang hamil tua," suruh buyut Naomi.


"T-tapi nenek buyut-," Firlita masih merasa ragu, karena dirinya masih merasa takut pada ibu mertuanya itu.


"Tapi apa, kau takut padanya Firlita?" tanya buyut Naomi menegaskan. Firlita tidak menjawab, ia hanya menunduk diam.


"Nyonya Mingguana, suruh Firlita duduk, dia sedang hamil tua, jangan sampai dia terlalu lelah berdiri karena takut padamu," ucap buyut Naomi tanpa menoleh kearah nyonya Mingguana.


"Firlita, duduklah kembali," kata nyonya Mingguana yang terpaksa mengikuti perintah buyut Naomi yang diseganinya.


"T- terima kasih nyonya," ucap Firlita gugup, lalu duduk kembali disebelah buyut Naomi.


Moranno yang menyaksikan hal itu secara diam-diam tersenyum didalam hatinya.


"Apa hubunganmu dengan nyonya Mingguana Firlita?" tanya buyut Naomi yang tiba-tiba merasa penasaran, karena melihat wajah Firlita begitu takut dan panik saat berhadapan dengan wanita yang ia kenal licik itu.


"Nyonya-, nyonya Mingguana adalah ibu mertua saya nenek buyut," sahut Firlita nampak gugup.


"Apa?!" Buyut Naomi terlihat kaget dengan mata yang langsung melebar.

__ADS_1


"Itu artinya kau menikah dengan anak tunggalnya yang brengsek dan kurang ajar itu?!" ucap buyut Naomi masih terkejut. Firlita hanya menganggukan kepalanya pelan, tidak berani mengeluarkan satu patah kata-pun dari mulutnya.


Sementara nyonya Mingguana yang mendengar putra kesayangannya dikata-katai seenaknya didepan matanya hanya bisa membisu dan terpaksa menelan salivanya dengan kasar.


__ADS_2