HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
149. Tanggungan


__ADS_3

"Kenapa kau terus melihat wajahku?" tanya Hanaria tak nyaman, saat disadarinya Willy memperhatikan dirinya mulai ia keluar dari ruang perawatan.


"Kau terlihat lebih fresh dari sebelumnya," puji Willy jujur.


Bukannya tersipu malu, Hanaria mendelikan matanya menatap Willy. "Itu artinya secara tidak langsung kau mengatakan aku lusuh," tuduh Hanaria.


Willy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menahan senyum, mengapa ia mendapatkan seorang isteri yang tidak seperti wanita pada umumnya, merasa senang saat dipuji, lalu tersipu malu dan memberi kecupan sebagai rasa ucapan terima kasih.


Untung saja ia sudah mengenal sifat isterinya yang buruk itu mulai sebelum ada ikatan pernikahan, dan sudah membayar sangat-sangat mahal untuk menjadikannya seorang isteri. Kalau tidak, ia mungkin akan balik kanan dan minggat.


"Kenapa menahan senyum, mau mentertawakanku?" Hanaria menatap Willy yang berusaha keras menahan senyumnya.


"Sudahlah Hana, lihat, kau ditunggu kasir untuk membayar biaya perawatanmu diklinik ini," ucap Willy yang tidak mau berdebat, ia berusaha mengalihkan pembicaraan dan menunjuk ke arah ruang kasir.


"Aku?" tanya Hanaria sambil menunjuk dirinya sendiri, dengan wajah sedikit melongo.


"Iya, dirimu Hana, bukankah suamimu ini sudah miskin karena semua kartu-kartuku itu sudah mommy serahkan padamu," ucap Willy mengingatkan Hanaria akan kejadian pagi tadi setelah mereka sarapan bersama.


Hanaria yang baru teringat setelah mendengar perkataan Willy lalu segera menghampiri kasir.


"Selamat siang nona Hanaria," sapa kasir dengan sopan.


"Selamat siang, saya mau membayar tagihan perawatan yang baru saja saya lakukan." ucap Hanaria lalu memberikan salah satu kartu milik Willy pada kasir.


Hanaria membuka ponselnya, karena dirinya belum hafal pin kartu suaminya itu, saat sang kasir akan memvalidasi kartunya.


"Terima kasih atas kunjungan nona diklinik kecantikan kami. Kami akan menunggu kunjungan-kunjungan anda selanjutnya," ucap sang kasir dengan senyum ramahnya, setelah mengembalikan kartu dan print out pada Hanaria.


Hanaria hanya membalas senyuman sang kasir, ia berbalik, kembali menghampiri Willy sambil memperhatikan angka pembayaran yang tertera pada bagian bawah paling kanan print out.


Wajah Hanaria mendadak pucat, Willy yang melihatnya merasa khawatir.


"Apakah kau sakit Hana?" tanya Willy, ia berdiri dari duduknya dan mendekati Hanaria yang beberapa langkah lagi sudah sampai padanya.


"Ti-tidak," Suara Hanaria terdengar sedikit bergetar. Ia menatap Willy dengan perasaan cemas.


"Tagihannya, terlalu besar. Aku sudah menghabiskan banyak uangmu Willy." ucap Hanaria setengah berbisik agar tidak didengar oleh pegawai klinik yang ada didekat mereka. Ia memperlihatkan pada suaminya angka yang menyebabkan wajahnya pucat pasi.


Willy melirik sekilas kertas yang ditunjukan Hanaria padanya," Aku fikir kenapa, ternyata cuma nilai tagihannya saja," ucap Willy santai.


"Ayo kita pergi," Willy lalu menarik tangan Hanaria untuk meninggalkan klinik kecantikan itu.

__ADS_1


Hanaria hanya bisa terbengong-bengong saja mendengar ucapan Willy yang mengatakan 'cuma', sambil mengikuti kemana Willy membawanya pergi.


"Untuk apa kita kemari?" tanya Hanaria, saat Willy membawanya masuk ke salon nyonya Mexan.


"Memberimu less private untuk merias dirimu sendiri,"sahut Willy.


"Kita punya waktu dua jam sebelum makan malam keluarga dirumah, nanti nyonya Mexan sendiri yang akan menjadi tutormu." jelas Willy.


"Selamat sore tuan muda dan nona," sapa seorang pegawai yang menyambut kedatangan mereka.


"Selamat sore nona. Nyonya Mexan ada? Saya sudah buat janji dengannya," kata Willy.


"Silahkan duduk dulu tuan dan nona, dan mohon ditunggu sebentar," ucap pegawai itu dengan senyum ramah dan sikap hormatnya.


Tidak lama kemudian pegawai itu sudah kembali bersama nyonya Mexan.


"Selamat sore tuan muda Willy dan nona Hanaria," sapa nyonya Mexan dengan senyum ramahnya.


"Selamat sore nyonya," sahut Willy dan Hanaria hampir bersamaan sambil mengulas senyum mereka.


"Tuan muda, apakah ada yang anda butuhkan sambil menunggu nona Hanaria?" tanya nyonya Mexan.


"Baiklah, tuan muda akan dilayani oleh pegawai kami sebentar lagi," sahut nyonya Mexan.


"Apakah boleh saya membawa nona Hanaria sekarang bersama saya?" ucap nyonya Mexan sambil tersenyum penuh arti pada kedua pengantin baru itu.


"Tentu saja nyonya. Pastikan isteriku itu tetap cantik dan sudah bisa merias dirinya sendiri saat ia kembali nanti," sahut Willy, ia membalas senyum nyonya Mexan pemilik salon kecantikan itu.


"Sesuai keinginan anda tuan muda," ucap nyonya Mexan masih dengan senyum hangatnya.


"Mari nona Hana, ikutlah denganku," ajak nyonya Mexan. Hanaria menoleh sejenak kearah Willy sebelum ia pergi dan disambut anggukan dagu oleh Willy.


...***...


Willy membantu Hanaria membawa paketan alat-alat make-up isterinya itu dan menyimpannya di jok belakang.


Perlahan, mobil yang dikemudikan Willy meninggalkan area parkir salon kecantikan dan klinik kecantikan milik nyonya Mexan.


"Ada apa dengan dirimu? Sepertinya ada sesuatu yang berat, yang sedang kau fikirkan?" tanya Willy, sesaat setelah mobil yang dikemudikannya melaju dijalan raya.


"Aku, aku hari ini sudah banyak menghabiskan uangmu Willy," sahut Hanaria, ia menoleh kearah wajah Willy yang sedang berkonsentrasi pada jalan raya didepannya dengan sorot mata bersalah.

__ADS_1


"Oh, jadi kegalauan-mu itu masih menyangkut tentang tagihan lagi," ujar Willy santai tanpa menoleh kearah Hanaria.


"Kenapa kau meresponnya se-enteng itu?" Hanaria nampak heran melihat respon suaminya itu. Baginya kegiatannya hari ini di klinik kecantikan lalu less private disalon kecantikan sampai memborong beberapa paket make-up, bila dibuat perbandingan, sudah menghabiskan empat bulan gaji pribadinya, menurutnya nilai itu sangatlah besar. Namun suaminya itu hanya bersikap santai saja.


"Aku takut mommy memarahiku karena terlalu boros dan tidak bisa mengatur keuanganmu," ucap Hanaria cemas.


"Aku ingat, saat mommy mengatakan tanggungan tagihanmu banyak, tidak seharusnya aku berfoya-foya dengan uangmu, seharusnya kita berhemat," imbuh Hanaria, masih dengan wajah cemasnya.


Willy melirik sekilas kearah Hanaria yang memandang padanya dengan wajah cemasnya. Ia teringat bagaimana wanita disampingnya itu, yang kini sudah sah menjadi isterinya, begitu berani mengajukan permintaan sepuluh point yang tidak masuk akal menurutnya, sampai ia berfikir negatif tentang isterinya itu pada waktu itu.


Tapi kenapa, hanya karena nol koma nol-nol-nol sekian-sekian persen dari persyaratan itu, Hanaria yang sekarang bisa segalau itu, batin Willy. Ia sampai tidak habis fikir dengan wanita itu.


"Mommy tidak akan mungkin memarahimu Hana," sahut Willy akhirnya.


"Bagaimana kau bisa berkata seyakin itu?" Hanaria kembali menoleh kearah Willy yang duduk disampingnya.


"Kalau-pun ada yang harus dimarahin dan diomelin oleh mommy, itu pastinya bukan dirimu Hana, tapi diriku," sahut Willy lagi.


"Kenapa bisa demikian?" tanya Hanaria heran.


"Kau ingat-kan kata mommy tadi pagi, selain tagihan-tagihan itu yang menjadi tanggunganku, kau juga sudah menjadi tanggunganku," Sahut Willy.


"Jadi singkatnya, kalau kau sampai menghabiskan uangku, aku harus lebih giat lagi berkerja, supaya dapat mencukupi semua kebutuhanmu sebagai isteriku."


"Mau dikemanakan harga diriku, menghidupi satu isteri saja masakan tidak sanggup," imbuh Willy serius. Wajahnya lebih serius lagi menatap jalan raya yang ramai dihadapannya.


Hanaria menatap wajah Willy dalam, sebaik itukah pria yang kini telah menikahinya itu, batin Hanaria, seolah tidak mempercayai semua ucapan Willy yang terlalu manis dalam pendengarannya.


"Kau sepertinya berbeda?" ucap Hanaria lirih.


"Berbeda? Apanya yang berbeda?" tanya Willy, ia menyempatkan waktu sejenak untuk menoleh pada Hanaria yang duduk disampingnya ditengah keramaian lalu lintas dihadapannya.


"Tata rambutmu sudah lebih rapi, juga bulu-bulu halus diwajahmu sudah bersih," sahut Hanaria memandang tatanan rambut dan wajah Willy.


"Bukankah aku terlihat tampan?" ucap Willy sekenanya.


"Yah, kau memang terlihat lebih tampan setelah menjadi suamiku," puji Hanaria jujur dari dalam hatinya, ia menatap wajah suaminya lama.


"Terima kasih atas pujianmu, jadi aku tidak akan pernah merasa menyesal bila kau menghabiskan semua uangku." ucap Willy sambil terkekeh.


Hanaria langsung melengos, baru saja ia mulai terpikat atas kata-kata Willy beberapa detik yang lalu, kini sudah dipatahkan dengan ucapannya yang terakhir.

__ADS_1


__ADS_2