HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
302. Menguping


__ADS_3

"Tuan Hartawan, saya sering melihat putra sulung tuan Moranno menyambangi dokter Rosalia, mengajak makan siang atau menjemput pulang. Baru malam ini saya melihatnya memunculkan batang hidungnya kembali menengok setelah beberapa bulan ini jarang terlihat di area rumah sakit ini," pancing dokter Faraz.


"Billy?" Hartawan mengernyitkan dahinya berfikir sejenak.


"Sepertinya Anda salah Dok, pemuda itu bukan Billy tapi Willy, mereka kembar dan sangat mirip, dan memang sulit membedakan keduanya. Willy datang bersama Hanaria isterinya. Sedangkan Billy, pemuda itu sedang tugas diluar kota beberapa bulan yang lalu."


Giliran Faraz yang mengernyitkan dahinya, seolah memikirkan sesuatu yang janggal.


"Mungkinkah seorang suami menyuapi wanita lain begitu mesranya didepan isterinya sendiri?" tekan Faraz.


Mendengarnya, Hartawan tertawa kecil. "Mereka sahabat sejak bayi, itu hal yang biasa, Dok."pungkasnya membuat sang dokter tidak bisa berkata apa-apa lagi. Namun dalam hati kecilnya ia yakin bila laki-laki yang ia lihat itu bukanlah Willy tapi Billy, ia dapat melihat bahasa tubuh keduanya yang sangat berbeda bila dikatakan sebagai sahabat.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita ke topik awal, tentang kesehatan Rosalia, putri saya," giring Hartawan, setelah sekian menit waktu ia habiskan hanya membahas hal yang lain-lain.


"Hem, sebenarnya kondisi dokter Rosalia sudah lebih baik seperti yang saya katakan didepan ruang rawat inap tadi. Tujuan saya meminta Tuan kemari adalah--" Faraz menjedah ucapannya sejenak, ia merasa sedikit sungkan, tapi ia tidak mau menunda lagi.


Hartawan menatapnya penuh perhatian, masih menunggu kelanjutan kalimat sang dokter yang menjabat sebagai kepala rumah sakit dimana putrinya berkerja.


"Saya serius dengan perkataan saya beberapa hari yang lalu, bila saya‐-, ingin menikahi dokter Rosalia, putri Anda tuan." lanjut Faraz akhirnya.


Hartawan terpaku. Kaget? Tentu saja, walau ini sudah kali yang kedua ia mendengar pernyataan dokter Faraz ingin menikahi putri semata wayangnya.


Ia tidak menduga bila pria dihadapannya itu seserius ini menginginkan putrinya, apa dia tidak sadar kalau dirinya itu tidak seumuran dengan putrinya, maaf! Kau terlalu tua bila disandingkan dengan putriku, batinya sambil meringis didalam hati.

__ADS_1


Seketika ucapan nyonya Agatsa terlintas dalam benaknya, bila Rosalia tidak akan mau bersanding dengan pria tua. Belum lagi ia mengingat wajah dingin Rosalie isterinya yang sudah menunjukan sikap tidak sukanya pada atasan putrinya itu karena menyukai putri mereka.


"Bagaimana? Bila Tuan setuju, dalam satu atau dua hari ini saya akan datang kerumah untuk meminang, begitu dokter Rosalia keluar dari rumah sakit." Buru Faraz, saat melihat Hartawan tengah berfikir dan merenung. Ia sengaja melakukan itu supaya pria dihadapannya itu tidak punya waktu untuk menolaknya.


"Maaf Dok. Yang menikah adalah putri saya, sebaiknya kita dengar pendapatnya. Sungguh, saya sudah memberikannya keleluasaan pada putri saya untuk memilih pasangan hidupnya, karena yang menjalani biduk rumah tangga adalah dia sendiri dan pasangannya nanti." Hartawan berusaha menanggapi dengan bijaksana. Ia pun tidak ingin menyinggung perasaan Faraz yang adalah atasan putrinya.


"Kadang anak muda memilih sesuai kata hatinya saja, tidak memikirkan apa cocok untuk masa depannya nanti. Setidaknya pasangan kita harus memiliki bibit, bobot, bebet yang mumpuni. Ya, seperti saya dulu Tuan, salah menikah akhirnya kandas ditengah jalan." ungkap Faraz tenang. Pria itu memandang Hartawan, berharap ada secercah harapan, bila apa yang ia utarakan setidaknya diberi sedikit ruang untuk dirinya bisa mendekati dokter muda dan cantik itu.


Hanaria gegas beranjak, tidak ingin keberadaannya diketahui oleh kedua pria berumur itu. Ia tidak sengaja mendengar topik penting obrolan itu, kala ingin mengambil buah tangannya yang sempat tertinggal dimobil untuk diberikan pada Rosalia.


Sambil berjalan menjauh, Hanaria merogoh ponsel dalam jas kerjanya, mengetik beberapa baris kalimat yang mewakili apa yang telah ia dengar. Begitu selesai, ia lalu mengirimkannya pada kakak iparnya.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2