HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
290. Itu Salah Komplotan Sekutumu


__ADS_3

"Oma!" dengan tergesa-gesa Willy menghambur masuk ke ruang kerja neneknya dengan raut kesal. Nyonya Agatsa dan Moranno yang sedang terlibat pembicaraan serius dibuat kaget olehnya.


"Kalau masuk ketuk pintu dulu Willy! Bikin kaget saja," omel nyonya Agatsa dari belakang mejanya.


"Oma serius menjadikan Stefhany sekretarisku?" Seruduk Willy tanpa basa basi, lalu menggelar kertas yang ia bawa diatas meja, menunjukannya pada sang Oma.


"Tidak-tidak! Oma tidak boleh seenaknya! Setidaknya Oma kompromi atau bertanya dulu padaku, mau atau tidaknya aku Oma," protes Willy menaikan nada suaranya.


"Lihat, anakmu itu mirip sekali denganmu Moranno, selalu protes apa yaang menjadi keputusan Mommy," nyonya Agatsa melirik Moranno yang duduk di sofa.


"Mom, Willy mungkin memerlukan sekretaris, karena setelah sekretaris Morin yang dipenjara dua tahun lalu sampai sekarang dia tidak punya sekretaris lagi, dia memang sering menyusahkan asisten Rudi, jadi lebih baik Stefhany jadi sekretaris Willy saja. Aku sudah ada asisten Rudy yang selalu setia membantuku," ucap Moranno melanjutkan obrolannya yang sempat tertunda gara-gara kedatangan putranya itu.


"Tidak bisa begitu Dad," Willy buru-buru menginterupsi.


"Kalau Oma bersikeras Stefhany berkerja di perusahaan ini, kenapa Stefhany tidak bekerja saja di divisi arsitektur, bukankah ketika ia magang bersama Edrine disini ikut dalam team divisi arsitektur?"

__ADS_1


"Cukup! Sesuai surat penempatan dari Manager HRD yang kau bawa ini," tunjuk nyonya Agatsa pada lembaran surat yang dibawa Willy. "Stefhany tetap menjadi sekretaris kalian berdua," putusnya.


"Dan itu adalah hak prerogatif Oma. Sekarang kau Willy, juga Daddy-mu boleh keluar dan kembali berkerja seperti biasa," nyonya Agatsa berdiri dari kursi kebesarannya.


Willy dan Moranno memandang nyonya Agatsa yang berjalan menuju pintu, membukanya dengan lebar dan mempersilahkan keduanya keluar. "Oma akan menerima tamu, kalian berdua silahkan keluar."


"Tapi Mom--" Moranno mendekati ibunya dan masih berusaha membujuk.


"Tidak ada tapi-tapian. Semalam kita sudah membicarakan semuanya dengan sangat jelas bukan? Sekarang cepat keluar, sudah waktunya Mommy akan menerima tamu penting lagi," nyonya Agatsa memberi isyarat dengan jari telunjuknya yang mengarah keluar pintu supaya putra dan cucunya itu segera keluar dari ruangannya.


"Selamat pagi Daddy," sapa Hanaria begitu melihat ayah mertuanya yang keluar lebih dulu dari ruang kerja nyonya Agatsa sambil membungkuk hormat diikuti seseorang disebelahnya.


Sesaat, Moranno menatap eksistensi menantunya yang tengah berdiri berdampingan dengan seorang gadis indo yang sudah tidak asing lagi dilihatnya. Berpenampilan menarik, dengan wajah khas bule, dengan tinggi badan setara Hanaria.


Pilihan ibunya, Yurina, juga Hanaria untuk calon isteri Billy memang tidak perlu diragukan lagi, gadis itu memang sangat cantik, Moranno membatin. Namun dilubuk hatinya, ia tetap ingin Rosalia-lah yang menjadi pasangan putra sulungnya itu.

__ADS_1


"Pagi juga Hana, apa kau ingin bertemu Mommy?" tanya Moranno, ia sekilas melirik kearah Stefhany, gadis indo yang menjadi perdebatan antara dirinya, ibunya, juga Willy pagi itu.


"Iya Dad, tadi Oma.memintaku kemari dulu sebelum aku berangkat ke kantorku," sahut Hanaria sopan, sementara Stefhany yang tidak diajak berbicara hanya berdiam diri sambil tetap menunduk.


"Baiklah kalau begitu, Daddy tinggal dulu," pamit Moranno, ia bergegas tanpa melihat lagi kearah Stefhany.


"Sayang, tumben kau kekantor?" Willy mendekati isterinya itu lalu memberi kecupan pada keningnya.


"Aku mengantarkan titipan makan siang untukmu dan juga Daddy dari Mommy. Aku menaruhnya di meja sofa dalam ruang kerjamu Sayang," sahut Hanaria sembari mengulas senyum manisnya setelah Willy memberi kecupan singkatnya.


"Apa yang kau lihat? Dada dan bo*ongnya?" Hanaria memajukan wajahnya dan berbisik pelan ditelinga suaminya sambil mencubit perut Willy kuat saat menyadari mata suaminya melirik Stefhany disebelahnya.


"Bukan salahku bila terjadi sesuatu yang tidak pernah aku rencanakan jauh sebelumya. Ini semua salah kau, dan komplotan sekutumu itu Sayang." balas Willy pelan, rasa perih pada perutnya membuat wajahnya sedikit meringis. Setelahnya, ia bergegas meninggalkan tempat itu tanpa menoleh apalagi berbicara pada Stefhany.


Bersambung...👍

__ADS_1


__ADS_2