HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
239. Bertemu Warga


__ADS_3

Sebelum masuk dan duduk dibelakang kemudi, asisten David memandang sejenak pada wanita yang tengah duduk disamping kemudi. Ia sedikit menelisik, takut salah masuk mobil. Pasalnya, sang majikannya sudah berganti pakaian, dari pakaian kantor menjadi pakaian rumahan, bahkan terkesan sangat santai.


"Ayo, cepatlah. Kita sudah kesiangan," ucap Hanaria yang sudah memasang sabuk pengamannya. Perut besarnya yang mengembung terlihat jelas dari balik daster yang baru ia kenakan.


"Baik Nona," asisten David segera menghidupkan mesin mobil lalu menjalankannya, walau sebenarnya banyak pertanyaan dalam benaknya, melihat hal-hal ganjil pada Hanaria.


Setelah keluar dari jalan perkotaan, mereka memasuki lintas pertambangan yang sepi hingga hampir dua jam perjalanan, tidak ada kegiatan apapun disana.


Dari kejauhan, Hanaria dan asisten David melihat kerumunan besar pada persimpangan jalan tambang dan jalan warga desa sekitar tambang.


"Nona, sebaiknya kita berbalik saja, saya merasa ada yang tidak beres," asisten David memelankan laju mobil lalu berhenti ditepi jalan.


"Perjalanan tetap lanjut, ganti bajumu sekarang juga asisten David," Hanaria mengambil paper bag dari dalam dashboard didepannya lalu menyerahkannya pada asisten David.


"Tapi Nona--," asisten David terlihat bingung, juga malu berganti pakaian dihadapan majikannya.


"Jangan buang waktu! Lakukan sekarang!" Hanaria meninggikan suaranya.


"B-baik Nona," dengan gerak cepat asisten David melakukan apa yang dititahkan padanya sementara Hanaria memalingkan wajahnya kearah lain.


"Pakai masker dan topi itu juga," tunjuk Hanaria yang melihat asisten David tidak mengenakan semua atribut yang ada didalam paper bag.


"I-iya Nona," asisten David kembali menurut. Ia masih tidak mengerti, tapi tetap patuh.


"Jalan sekarang," perintah Hanaria lagi.

__ADS_1


"Maaf Nona, didepan sana sepertinya berbahaya, apalagi Nona sudah menolak pengawalan," ucap asisten David berusaha mengingatkan.


"Disana nanti, cukup aku yang berbicara. Kau diam saja," asisten David terpaksa menurut, walau sebenarnya tidak sesuai kata hatinya. Bahkan Nona majikannya itu tidak mengindahkan peringatannya.


Beberapa warga yang tergabung dalam kerumunan besar itu menghadang mobil asisten David dan Hanaria. Mereka lalu mengetok jendela kaca mobil supaya asisten David membukanya. Hanaria yang ditatap asisten David segera menggelengkan kepala, supaya asisten David tidak membukanya.


Tapi yang dilakukan Hanaria membuat asisten David terperangah, wanita itu membuka pintu mobil disampingnya," kau disini saja," ia lalu keluar menemui orang-orang dalam kerumunan besar itu, yang tengah sibuk menyuarakan suara mereka.


"Mohon maaf Bapak-Bapak, saya kebetulan lewat, ingin berkunjung ke desa sebelah bersilahturahim dengan keluarga."ucap Hanaria lebih dulu seraya menyatukan kedua telapak tangannya didepan dada.


"Dan, saya mau mampir diwarung itu dulu, karena saya sedang mabuk perjalanan," tunjuk Hanaria pada warung yang ada tepat dipinggir jalan persimpangan.


"Silahkan Bu," sahut salah satu dari mereka ketika dilihatnya perut besar Hanaria yang membuncit, juga wajah Hanaria yang terlihat memucat, sebenarnya ia sengaja menggunakan make-up pucat saat didalam toilet restoran sebelumnya.


Beberapa warga itu membiarkan Hanaria pergi kearah warung diikuti asisten David yang menjalankan mobilnya perlahan.


"Itu lho Bu, kabarnya sang pemilik tambang hari ini datang, rencananya para warga pengen remes-remes si pemilik itu jadi adonan kue," ujar sang bapak warung memberi penjelasan dengan raut gemes.


"Plat mobilnya KTxxxML," tenggorokan Hanaria mendadak terasa tercekat, saat bapak warung itu menyebut plat nomor mobil nyonya Mingguana yang dipakainya dan sengaja ditinggal diparkiran restoran atas anjuran Billy.


Asisten David meneguk salivanya dengan susah payah, sambil melirik kearah Hanaria yang masih terlihat tenang kembali menyesap teh hangatnya.


"Kenapa mereka berniat begitu Pak?" tanya Hanaria masih berusaha bersikap tenang, pandangannya kembali menangkap gerakan tangan seorang pria yang duduk tidak jauh darinya dan menunjukan gambar garuda emas dengan angka 3 lalu kembali menyembunyikan benda itu dibalik jacketnya.


Dalam hati, Hanaria merasa lega karena pengawalan dari Billy, kakak iparnya benar ada disekitarnya secara rahasia, hal yang sama ia lihat juga saat beberapa warga menghentikan mobilnya, dan satu diantara mereka menunjukannya secara tersembunyi, itulah sebabnya Hanaria berani keluar dari mobilnya saat itu.

__ADS_1


"Warga kesal Bu, masuknya tambang di desa kami, bukannya membantu mensejahterakan warga disekitar tambang sesuai harapan, malah memiskinkan dan meresahkan," sahutnya dengan raut kesal.


"Bukankah pihak perusahaan sudah memberi kompensasi yang sesuai Pak?" ucap Hanaria menatap serius si bapak tukang warung.


"Kalau sesuai, warga tidak akan melarat dan memutuskan untuk berdemo Bu. Ibu bisa lihat tulisan-tulisan di spanduk-spanduk para warga itu," ujar si bapak tukang warung menunjuk dengan bibirnya yang mencucu.


Hanaria memang melihat spanduk-spanduk yang diusung para warga itu dengan bantuan bambu yang mereka tancapkan di pinggir jalan hingga melintang dijalan tambang, semuanya berisi hujatan-hujatan pada sang pemilik.


Pemilik perusahaan kaya, karena pandai menipu warga lingkar tambang!


Kembalikan lahan warga!!!


Pemilik perusahan miskin! Tidak mampu membeli lahan warga!


Orang kaya Perampok!


Pura-pura masuk penjara! Untuk menghindar dari tanggung jawab!


Masih banyak hujatan lainnya, Hanaria hanya bisa menahan semuanya didalam hati, dirinya tidak menyangka bila perusahaan tambang milik nyonya Mingguana sekacau itu. Dalam hati ia merasa ngeri, bila warga tahu siapa dirinya.


"Pak, bagaimana warga bisa tahu kalau pemiliknya sedang dipenjara?" Hanaria yang penasaran kembali menanyakan isi tulisan salah satu spanduk yang ia baca.


"Itu hanya kabar burung Bu, supaya warga tidak menuntut lagi. Orang kaya memang begitu, suka BOONG!" ucap bapak warung dengan bibirnya yang kembali mancung kedepan.


Hanaria dan asisten David saling berpandangan sesaat, setelah mendengar ucapan sang bapak warung itu, ternyata para warga disana tidak tahu bila kabar yang mereka dengar bukanlah kabar burung.

__ADS_1


Bersambung...👉


.


__ADS_2