HANARIA Wanita Sejuta Rasaku

HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
294. UCAPAN OTORITER


__ADS_3

Isakan tangis bayi dari ruang persalinan terdengar sangat nyaring dan cukup mengagetkan. Rosalie tersenyum senang mendengarnya, itu artinya operasi caesar berjalan lancar didalam sana.


"Papah dengar suara itu?" Rosalie menepuk pelan lengan Hartawan yang duduk disebelahnya. Laki-laki itu mengangguk pelan, matanya sedari tadi masih terus mengawasi pintu ruang operasi.


"Andai saja suara tangisan itu adalah bayi Rosa, betapa bahagianya kita bisa menjadi Opa dan Oma?" Rosalie menatap suaminya, namun tidak sepatah katapun keluar dari mulut suaminya itu.


Hartawan hanya mematung, menatap keluarga pasien yang terlihat sangat bahagia atas kelahiran anggota baru keluarga mereka. Begitu dokter keluar, beberapa perawat lainnya ikut keluar sambil mendorong brankar, memindahkah pasien ke ruang rawat inap, sedang bayinya dibawa ke ruang perawatan bayi untuk menjalani beberapa test.


"Ayo Pah, kita lihat apa yang terjadi pada putri kita," Rosalie gegas berdiri, menyeret lengan kekar Hartawan mengikutinya menuju ruang operasi.


Belum sempat kaki keduanya melangkah memasuki ruang operasi, dokter Faraz sudah muncul didepan pintu.


"Tuan Hartawan, dokter Rosalie, Anda berdua masih disini?"


"Tentu saja kami masih di sini Dok, kami mencemaskan putri kami Rosalia," Hartawan terlihat tidak senang mendengar pertanyaan dokter Faraz.


"Pah, jangan salah faham," biisik Rosalie lembut.


"Maafkan saya tuan Hartawan, bukan maksud saya--" dokter itu terlihat tidak nyaman, memandang kearah Hartawan dengan tulus memohon maaf.


"Tidak mengapa Dokter, kami juga minta maaf, dalam situasi seperti ini kita terkadang mudah tersinggung," ucap Rosalie cepat sambil sedikit menundukan kepala.


"Sejak tadi kami memang masih disini, kami sangat mengkhawatirkan Rosalia, bagaimana keadaannya didalam sana Dok? Apa dia baik-baik saja?"


"Mari ikutlah saya sebentar kedalam." Ketiganya segera bergegas masuk.


"Rosa!" Dengan sedikit berlari, Hartawan dan Rosalie buru-buru menghampiri putri mereka yang tengah tertidur diranjang pasien lainnya diruang operasi.


"Apa yang terjadi padanya Dok?" tanya Rosalie khawatir, napasnya terdengar memburu sambil menatap pada dokter Faraz yang berdiri disisi lain ranjang pasien.


"Jangan khawatir. Dokter Rosalia.baik-baik saja, dia sedang tertidur, kami sengaja memberinya obat tidur supaya ia bisa tidur dan beristirahat," terang dokter Faraz menenangkan.


"Kenapa harus diberi obat tidur Dok?" Sebagai seorang dokter yang sangat memahami alasan kuat pihak medis memberikan obat penenang pada pasien, menimbulkan rasa penasaran dalam benak Rosalie kenapa dokter Faraz bertindak seperti itu.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita bicara diruangan saya saja. Ini privacy dokter Rosalia," dokter Faraz menatap keduanya.


Rosalie menatap Hartawan sejenak, yang masih terlihat cemas dan mengkhawatirkan putrinya. "Baiklah. Kita bicara diruangan Dokter saja?" sahutnya setuju.


"Suster, tolong bawa dokter Rosalia keruang rawat inapnya kembali. Dan tolong ditemani sampai kedua orang tuanya kembali," pesan dokter Faraz.


"Baik Dok," sahut dua perawat itu mengerti.


"Ayo Pah, kita keruangan dokter Faraz sekarang," Rosalie kembali menggandeng lengan Hartawan, mengajak suaminya mengikuti dokter Faraz yang sudah menunggu didepan pintu.


...***...


"Nona Hanaria!"


Hanaria mendongakan wajahnya dari berkas-berkas yang tengah ia periksa. Ia menatap datar saat melihat siapa yang menyerukan namanya dan menerobos masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu.


"M-maafkan saya Nona Hana. Mereka memaksa masuk, saya sudah melarang mereka karena Nona sedang sibuk," asisten David nampak gugup, wajahnya terlihat kesal pada dua tamu yang menerobos masuk ke ruangan pimpinannya.


"Asisten David, kau tidak perlu heran. Bukankah raja badut dan ratunya sudah biasa bersikap demikian dalam setiap pertemuan kita. Tidak memiliki rasa hormat dan sopan santun," datar Hanaria, menatap dingin pada nyonya Miasa Laura dan Rudolf Bong.


"Sudah satu minggu ini kami berusaha ingin bertemu Anda Nona, tapi asisten David selalu saja beralasan Anda tidak punya waktu untuk bertemu, itu sebabnya kami melakukan hal ini," ucap Rudolf Bong membela diri.


Hanaria bangkit dari kursi kebesarannya. "Asisten David, tolong bawakan tamu kita minum." perintahnya pada asisten pribadinya itu.


"Baik Nona," Pria itu bergegas menuju pantry mini diruangan Hanaria.


"Silahkan duduk," Hanaria mempersilahkan kedua tamunya duduk disofa tamu bersama dirinya.


"Begini Nona--"


"Siapa yang mengijinkan tuan Rudolf berbicara disini?" Pria itu terkesiap. Tatapan datar dan ucapan dingin Hanaria membuat laki-laki itu kembali mengatupkan mulutnya dengan perasaan malu, kesal, dan juga marah.


"Diruangan ini, tidak ada yang berhak membuka mulutnya untuk berbicara sebelum saya mengijinkannya," kembali Hanaria mengucapkan kata otoriternya.

__ADS_1


"Ini minumannya Nona," asiten David meletakan dua cangkir teh diatas meja tamu.


"Terima kasih," Hanaria sekilas melirik asisten David, dan pria itu gegas memangguk memberi tanggapan pada rasa terima kasih Nonanya.


"Silahkan diminum tuan Rudolf Bong dan nyonya Miasa Laura," Hanaria beralih pada kedua tamunya lagi, dan mempersilahkan keduanya.


"Terima kasih. Kami tidak minum," kali ini nyonya Miasa Laura yang bersuara, menatap Hanaria dengan ekspresi seperti biasanya, datar dan angkuh


Hanaria tertawa sinis.


"Saya tidak mungkin meracuni Nyonya dan Tuan diruangan saya sendiri." ucapnya setelah menyelesaikan tawanya.


"Sama seperti perkataan saya sebelumnya. Diruangan ini, tidak seorangpun berhak membuka atau menutup mulutnya tanpa se-izin saya. Jadi, tidak ada penolakan saat saya menawarkan sesuatu. Silahkan diminum, karena ini perintah," Hanaria memberi tatapan dinginnya lagi pada dua tamunya.


Tidak seperti sebelumnya, tanpa berdalih lagi keduanya langsung meraih cangkir teh yang ada diatas meja. Asisten David yang berdiri tidak jauh dari ketiganya, hanya bisa menahan senyum menyaksikannya.


"Habiskan," suruh Hanaria lagi, saat keduanya meletakan cangkir teh yang belum mereka kosongkan. Tanpa bantahan, keduanya kembali mengangkat cangkir tehnya masing-masing, kembali menyesapnya dengan hati-hati karena masih sangat panas.


Dengan menyilangkan kedua tangan diatas pangkuannya, Hanaria masih memperhatikan kedua tamunya itu hingga mereka menghabiskan isi cangkir tehnya.


"Tuan Bong, dan Nyonya Laura, silahkan sampaikan tujuan Anda berdua datang menemui saya," ucap Hanaria kemudian, menatap keduanya yang nampak bekeringat setelah meminum secangkir teh panas, padahal suhu diruangan itu sudah cukup dingin menurut asisten David yang turut memperhatikan keduanya.


"To the point saja, waktu saya sangat berharga ," pungkasnya. Baik tuan Rudolf Bong maupun nyonya Miasa Laura, keduanya sama-sama mengutuk didalam hati, benci mendengar perkataan Hanaria yang dianggap sombong.


"Kau saja yang bicara tuan Bong," nyonya Miasa Laura menyikut pelan lengan pria tua disebelahnya. Sementara Hanaria masih memperhatikan dua tamunya itu datar tanpa ekspresi.


"Mengenai saham milik kami--" pria itu menjedah ucapannya, sesungguhnya ia sangat ragu mengatakannya bila tidak dibawah tekanan wanita yang duduk disebelahnya ini.


"Lanjutkan, jangan ragu bila itu penting. Ingat, waktu saya sangat berharga." Hanaria kembali mengulang ucapannya yang membuat dua tamunya seketika mual tanpa sebab.


Bukannya tidak tahu, Hanaria bahkan sengaja melakukannya.


"Kami tidak jadi menjual saham milik kami," lanjut tuan Rudolf Bong akhirnya. Wajahnya terlihat sedikit menegang dan rona merah terlihat jelas pada wajahnya yang berkulit putih dan brewokan.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2