
Sepeninggalnya tuan Doffy, Edrine, dan Stefhany, Hanaria segera melihat jadwal kerja dirinya yang telah disusun dalam buku agenda dihadapannya. Hanaria mendesah, setiap kali dirinya membuka lembaran demi lembaran. Kebersamaan dirinya dengan Willy akan lebih intens terjadi dalam hal pekerjaan. Ia kembali teringat, bahwa tuan Doffy sudah mengatakannya, saat pengangkatan dirinya pada tiga hari yang lalu.
"Tok.... tok....tok......" Terdengar suara ketukan pintu. Hanaria menatap kearah pintu dan berfikir sejenak, sebelum berucap.
"Masuklah......" Seorang cleaning service masuk mendapatkan Hanaria dimejanya, ia mendorong kereta didepannya.
"Selamat pagi nona Hana?" Sapanya dengan wajah tersenyum ramah.
"Selamat pagi juga bu Nura......" Sahut Hanaria, membalas sapaan cleaning service itu.
"Ibu Sari meminta saya mengantarkan seragam baru nona Hana atas perintah tuan Doffy." Ucap cleaning service itu sambil menunjuk barang bawaannya yang ia letakan dalam kereta yang ia dorong masuk keruangan Hanaria. Hanaria segera menghampiri wanita itu, untuk melihat seragam baru yang dimaksud.
"Kata ibu Sari, supaya seragam nona Hanaria tetap rapi, harus segera saya masukan ke lemari pakaian diruang istirahat nona." Imbuhnya lagi.
"Ruang istirahat??" Hanaria nampak bingung, mendengar perkataan cleaning service itu.
"Iya nona Hana.......disana ruangannya." Tunjuk cleaning service itu. Ia sudah biasa membersihkan ruangan itu, sebelum Hanaria menempatinya sebagai ruang kerjanya yang baru.
"Maaf bu, saya tidak tahu kalau ruang kerja saya ini ada ruang khusus untuk beristirahat." Ucap Hanaria, sambil menatap kearah ruangan dengan pintu yang masih tertutup rapat. Cleaning service itu hanya tersenyum tipis saat mendengar ucapan Hanaria padanya.
"Ayo kita kesana........" Ajak Hanaria, yang merasa penasaran.
"Baik nona......" Cleaning service itu mengikuti Hanaria menuju ruangan yang mereka bicarakan barusan, sambil mendorong keretanya.
Hanaria memegang kenop pintu dan mendorongnya dengan perlahan karena tidak terkunci. Ia masuk lebih dalam dan diikuti oleh bu Nura, cleaning service itu. Selama berkerja di Agatsa Properti Group, Hanaria baru tahu bila fasilitas dalam ruang kerja seorang wakil Divisi semewah ini. Ia hanya tahu, fasilitas seperti itu hanya dimiliki oleh pemilik perusahaan.
__ADS_1
Selain ranjang tidur, Hanaria juga masuk kedalam kamar mandi dan toilet, dengan peralatan mandi yang lengkap didalamnya. Pantas saja para kepala Divisi dan Wakilnya selalu terlihat rapi dan wangi walau sudah berkerja seharian, tidak seperti pegawai biasa yang terkadang pulang dengan keadaan yang sudah kusut, pikir Hanaria.
"Nona Hanaria......." Panggil ibu Nura, yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia menunggu didepan pintu kamar mandi.
"Sebentar bu Nura......." Hanaria segera keluar dari kamar mandi, mendapatkan ibu Nura yang masih menunggunya.
"Seragam nona Hana sudah saya masukan semua didalam lemari nona." Ucap bu Nura lagi.
"Terima kasih ibu Nura......" Hanaria membuka lemari pakaian kerjanya, aroma wangi keluar dari lemari pakaian seragam yang baru keluar dari laundry. Ia melihat ada enam pakaian seragam yang telah tergantung rapi didalam lemari, itu artinya pakaian seragam itu digunakan untuk selama seminggu. Dan ia melihat ada lembaran kertas yang ditempelkan dibalik lemari pakaian kerjanya itu, jadwal hari dalam menggunakan masing - masing seragam itu.
"Apa masih ada yang nona Hana perlukan?" Tanya ibu Nura lagi.
"Sudah cukup bu, terima kasih." Sahut Hanaria sambil menutup pintu lemari pakaian seragam itu.
Hanaria kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda dimeja kerjanya yang baru. Pekerjaannya begitu menumpuk karena tidak masuk berkerja selama dua hari. Berkas - berkas dilemari dan meja kerjanya yang lama telah dipindahkan keruang barunya, saat dua hari dirinya absen.
"Kring...... kring...... kring........" Telepon dimeja kerja Hanaria tiba - tiba berbunyi. Hanaria menghentikan sejenak kesibukannya untuk mengangkat telepon yang sedang berdering.
"Haloo..... dengan Hanaria disini......." Ucap Hanaria, sesaat setelah ia mengangkat telepon.
"Nona Hana, bersiaplah....... lima menit lagi, saya dan tuan muda Willy menunggu anda diparkiran. Terdengar suara datar seorang wanita dari ujung sambungan telepon. Belum sempat Hanaria menjawab, telepon sudah terputus.
Walau pekerjaannya masih tanggung, Hanaria segera membereskan berkas - berkas diatas mejanya, dan mengembalikannya dengan rapi kedalam lemari dimana berkas itu diambil.
Hanaria mematut dirinya didepan cermin sekali lagi, untuk merapikan penampilan barunya yang menggunakan seragam baru. Sejenak ia menatap wajahnya dari pantulan cermin, perasaan tidak nyaman masih menderanya. Sekalipun ia berangkat berkerja hari ini, namun dirinya masih belum siap bila harus melihat Willy lagi, apalagi harus menemani atasannya itu. Namun dirinya bisa berbuat apa, ia harus tetap berkerja secara profesional sebagai seorang pegawai, dengan mengesampingkan segala perasaan yang masih membuat dirinya merasa tertekan akkbat ulah sang CEO nya itu.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup, Hanaria bergegas keluar dari ruang kerjanya. Ruang Divisi nampak sepi, karena semua pegawainya sedang istirahat makan siang.
Hanaria memasuki lift pegawai, menuju lantai dasar. Saat melewati lantai 4, lift berhenti sejenak, dua pegawai wanita langsung memasuki lift pegawai itu. Saat melihat Hanaria, kedua pegawai wanita itu nampak saling berbisik pada posisi berdiri sedikit lebih kebelakang. Walau Hanaria tidak mendengarkan dengan jelas, namun dari pantulan lift didepannya, ia bisa melihat kedua wanita itu melihat dirinya sambil tersenyum mencibir.
Walau hati Hanaria merasa cukup tertusuk atas ulah kedua pegawai wanita itu, ia berusaha bersikap tenang dan seolah - olah tidak melihatnya. Walau dari Divisi yang berbeda, Hanaria cukup mengenal dua pegawai wanita itu, karena sering melihat dan berpapasan dengan keduanya.
"Ting - tong.....!" Lift pegawai itu kembali terbuka, saat tiba dilantai dua.
"Permisi...... nona Wakil Kepala Divisi Arsitektur, kapan - kapan kami ingin belajar padamu, bagaimana caranya naik jabatan dalam waktu yang singkat." Ucap salah searang dari keduanya sambil tersenyum mengejek.
Kedua wanita itu segera keluar lift sambil tertawa bersama, menuju kantin dilantai dua, dengan wajah tanpa dosa. Seakan merasa puas setelah mengucapkan kata - kata itu.
Hanaria berdiri mematung didalam lift yang kembali menutup secara otomatis, ia seperti tersengat listrik, sakit rasanya. Perlakuan kedua wanita itu, sesama pegawai wanita di perusahaan tempat dirinya berkerja, sebenarnya sudah ia prediksi akan terjadi, mereka pasti akan berfikir negative tentang dirinya.
Walau sebelumnya Hanaria sudah mempersiapkan mentalnya, namun saat mendengar celaan itu, tetap saja dirinya tidak bisa menerimanya. Ya, bagaimana tidak, kesalahan yang bukan karena perbuatannya, tapi dirinya yang harus menerima segala hujatan itu. Ini sangat tidak adil!, batinya. Sekuat tenaga Hanaria berusaha menahan dirinya yang ingin menangis dan berteriak kencang.
"Ting - tong.......!" Hanaria segera keluar dari dalam lift pegawai, saat pintu lift itu terbuka dilantai dasar. Bertepatan juga dengan itu, Willy dan sekretaris Morin juga baru keluar dari lift pribadi owner. Hanaria langsung membungkuk hormat tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya pada sang majikan.
"Syukurlah nona Hana sudah tiba tepat waktu, bila tidak, mungkin saja nona Hana secara tidak sengaja akan tertinggal." Ucap sekretaris Morin dengan tersenyum tipis.
"Bila saja yang sekretaris Morin katakan itu bisa terjadi. Saya sangat berharap, diri saya benar - benar bisa tertinggal, walau disengaja sekalipun, sehingga tidak perlu menghadiri pertemuan ini." Sahut Hanaria datar, sedatar wajahnya yang tanpa ekspresi sedikitpun menatap wajah wanita didepannya.
Sekretaris Morin terhenyak, ia melirik sekilas kearah Willy yang masih berdiri didekat dirinya dan Hana. " Bukan begitu maksud saya nona Hana, saya hanya bercanda, jangan ditanggapi begitu serius." Ucap sekretaris Morin, ia begitu geram atas perkataan telak Hanaria terhadapnya.
"Sampai kapan saya harus menunggu perdebatan ini akan berakir?" Ucap Willy menyela, ia menatap kearah lain, tanpa melihat Hanaria maupun sekretaris Morin.
__ADS_1