
Hanaria menutup pintu dengan rapat dan menguncinya dari dalam.
"Hana duduklah dahulu disini dengan ayah dan ibu." Ucap pak Muri pada putrinya.
Hanaria kembali mendudukkan dirinya didekat kedua orang tuanya.
"Hana, usiamu sudah menginjak masa perak, kapan rencanamu untuk menikah?" Tanya pak Muri menatap Hanaria yang duduk dihadapannya.
"Hana..... masih belum tahu ayah....." Sahut Hanaria. Pertanyaan ini sudah kerap kali disampaikan oleh ayah dan ibunya selama 3 tahun terakhir, setelah dirinya menyelesaikan S1nya.
"Apakah di kota tempat dirimu berkerja, ada seorang laki - laki yang diam - diam menjadi calon suamimu? Jujur pada ayah dan ibu, kau tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari kedua orang tuamu ini nak...." Tanya pak Muri lagi, kali ini ia sambil menoleh pada isterinya yang duduk disampingnya. Ibu Muri yang dipandang suaminya, mendaratkan tangannya dan mengusap paha kiri suaminya lembut.
"Tidak ayah....." Sahut Yurina santai.
"Kalau tidak ada, kenapa kau menolak lamaran nak Reymon Hana?" Hanaria terdiam sejenak mendengar pertanyaan ayahnya. Ia sadar, sang ayah sangat menyukai pribadi Reymon. Pemuda itu terlalu sempurna pada pemandangan ayahnya selama ini.
"Mas Reymon..... Hana anggap seperti kakak sendiri, seperti kak Jonly. Belum ada perasaan istimewa yang lebih padanya ayah." Hanaria berusaha mengutarakan apa yang ia rasakan.
"Belum ada, bukan berati 'tidak' kan Hana...... Kenapa kau tidak memberinya kesempatan, dengan mengatakan jangan menunggumu, seolah - olah kau telah menutup pintu hatimu untuknya."
"Tidak ada yang salah pada pemuda itu nak. Dia pemuda yang sholeh, taat di agama, punya pekerjaan yang jelas, aktif dalam kegiatan kemasyarakatan dikampung kita, dan tidak pernah ribut dengan orang - orang kampung kita. Banyak gadis - gadis dikampung ini yang mau menjadi calon isterinya. Karena dia tidak memilih salah satu dari antara mereka, mereka akhirnya menikah dengan pemuda - pemuda yang mau menerima mereka." Ucap pak Muri penuh pujian. Hanaria tetap mendengarkan dengan baik semua penuturan sang ayah yang menganggap Reymon seolah idola dikampung itu.
"Ayah benar..... memang tidak ada yang salah pada mas Reymon. Hanya hati Hana saja yang belum memiliki perasaan lebih dari seorang sahabat, teman, untuk mas Reymon. Ya.... seperti itulah ayah." Sahut Hanaria masih tetap mempertahankan apa yang ia rasakan dihatinya dengan jujur.
"Hana takut memberi harapan ayah..... bila nantinya Hana masih belum bisa menerima mas Rey lebih dari sekedar teman atau sahabat, Hana takut mas Rey kecewa." Ungkap Hanaria berusaha membuat ayahnya memahami maksudnya.
"Ayah takut kau menyesal Hana, mungkin saja saat ini kau tidak menyadari perasaanmu, karena hubungan persahabatan kalian berjalan baik. Bagaimana bila ia telah mendapatkan tambatan hatinya, lalu kau baru menyadarinya, itu akan terlambat nak. Menurut ayah, bagaimana kau jalani saja, kata anak muda jaman sekarang berpacaran saja, mengenali dan menjajaki perasaan masing - masing." Ucap pak Muri memberi ide pada putri kesayangannya itu.
"Hana takut itu akan membuat mas Rey kecewa ayah." Ucap Hanaria lagi.
__ADS_1
"Ayah..... biarkan Hana menjalani pilihannya dulu, bila mereka berjodoh Tuhan akan mempertemukan dengan cara apapun...." Ibu Hanaria ikut berbicara untuk menengahi.
"Saat nak Reymon melamar putri kita malam ini, ibu sangat senang sekali. Ibu memang berangan - angan punya menantu seperti nak Rey, pribadinya sangat baik. Tidak ada pemuda dikampung ini yang sebaik dia. Tapi kita juga harus membiarkan Hana memiliki pilihannya sendiri. Bila Hana belum menyukainya, belum tentu pernikahan mereka akan langgeng ayah." Ucap ibu Muri kembali mengusap paha suaminya. Pak Muri memikirkan apa yang dikatakan isterinya itu.
"Iya, ayah pikir perkataan ibu ada benarnya juga. Kita tidak bisa memaksakan putri kita Hana. Yang menyukai pribadi nak Reymon adalah kita, bukan putri kita. Tapi yang akan menjalani pernikahan, biduk rumah tangga adalah putri kita." Ujar pak Muri sambil memandang kearah isterinya.
"Maafkan ayah Hana....." Ucap pak Muri beralih memandang Hana yang duduk dihadapan dirinya dan isterinya.
"Tidak apa - apa ayah. Hana tahu ayah menginginkan yang terbaik buat Hana. Bagi ayah dan ibu, mas Reymon lah pemuda yang paling baik buat Hana dikampung ini. Hana juga minta maaf pada ayah dan ibu. Hana belum bisa memilih mas Reymon bukan berarti Hana tidak setuju pada pendapat ayah dan ibu tentang mas Reymon."
"Kata ibu, bila kami berjodoh, Tuhan akan mempertemukan dan menyatukan kami dengan cara-Nya. Hana percaya itu." Ucap Hana mantap.
"Kalau boleh jujur Hana, sebenarnya ibu khawarir kau tinggal seorang diri dikota, kehidupan disana sangat keras. Itulah sebabnya ibu sangat menginginkan kalau kau segera menikah, ada yang bisa menjaga dan menemanimu, jadi kau tidak sendiri." Ibu Hanaria menatap putrinya, dari pancaran wajahnya terlihat jelas ia sangat mengkhawatirkan putrinya itu.
Hanaria berdiri, mendekati kedua orang tua yang sangat menyayanginya itu, lalu memeluk erat keduanya.
"Tentu saja Hana, kami orang tuamu tidak akan pernah putus - putusnya berdoa untukmu nak." Ucap ibu Muri membalas pelukan putrinya.
"Bagaimana rencanamu pulang kekota nak? Apakah jadi besok?" Tanya ayahnya, saat Hanaria telah melepaskan pelukan mereka.
"Jadi ayah, tadi Hana sudah menelpon travel yang kemarin, dia tiba disini jam 11 siang." Sahut Hanaria.
"Apa ayah dan ibu besok akan langsung ikut dengan Hana?"
"Belum nak, wisudamu masih 3 minggu lagi, 2 hari sebelum wisuda baru kami akan menyusul, maklum ada sawah yang tidak bisa ditinggal terlalu lama Hana." Ucap pak Muri memberi alasannya.
"Baiklah kalau begitu, tunggu sebentar ayah dan ibu....." Hanaria tergopoh - gopoh menuju kamarnya. Tak lama ia kembali membawa satu paper bag ditangannya.
Hanaria mengeluarkan satu benda pipih berwarna hitam gelap dan memberikannya pada ayahnya.
__ADS_1
"Benda apa ini??" Tanya pak Muri saat Hanaria memberikan benda itu ditangannya.
"Ini ponsel ayah....." Jelas Yurina.
"Kok berbeda dengan kepunyaan Jonly." Pak Muri nampak heran sambil membolak - balik benda pipih itu.
"Jelas saja berbeda ayah, ini mereknya berbeda. Dan milik ayah ini ada kameranya, sedangkan punya kak Jonly tidak."
" Bukankah dirumah kita ini tidak bisa menelpon, Jonly biasanya mengajak ayah ke gunung bila akan menelpon mu Hana." Ucap pak Muri mengingat apa yang sering dilakukannya bila akan menelpon putrinya.
"Sekarang kita sudah bisa menelpon dari rumah, karena tadi pagi saat kita kesawah, kak Jonly sudah memasang antena penguat signal atas permintaanku diatas atap rumah kita ini."
"Nah, begini caranya ayah...." Hanaria mulai mengajari ayahnya dan juga ibunya cara menelpon dan mengirim pesan.
Terdengar tawa ketiganya, saat pak Muri tidak mudah memahami apa yang diajarkan putrinya. Berbeda dengan ibu Muri, nampaknya pengajaran Hanaria mudah dipahami dan diingat olehnya.
"Nanti ibu bisa mengajari ayah lagi." Ucap Hanaria disela - sela tawa mereka.
"Nanti kalau baterai ponselnya habis ayah dan ibu harus mengisinya dengan ini, begini caranya...." Hanaria mengambil baterai penampung daya dari dalam paper bag dan menyambungkannya keponsel menggunakan cargernya.
"Lalu kalau bateri penampung dayanya habis bagaimana, dikampung ini kan belum ada listrik seperti dikampung lainnya." Tanya ibu Muri.
"Minta tolong pada kak Jonly, dikantor desa mereka kan sudah menggunakan tenaga listrik." Sahut Hanaria mengingatkan ayah dan ibunya.
" Iya kau benar Hana..... ibu lupa...." Kekeh ibu Muri.
"Baiklah, hari sudah larut malam, kita harus segera tidur, besok siang Hana akan kembali ke kota, perlu istirahat yang cukup malam ini." Ucap pak Muri yang tidak sengaja melihat kearah jam didinding yang sudah menunjukan jam satu malam.
♡♡♡ Terima kasih buat kakak pembaca yang telah meninggalkan like dan comennya. Author berusaha lebih semangat lagi up nya...😁🙏♡♡♡
__ADS_1